Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.695.151-166
Odien Rosidin, Tatu Hilaliyah
AbstrakFokus penelitian ini adalah leksikon etnomedisin dalam praktik pengobatan tradisional di lingkungan masyarakat Sunda yang berada di wilayah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Penelitian ini dilatabelakangi oleh kondisi empirik masih berlangsungnya pemertahanan tradisi pengobatan tradisional berbahan tumbuhan dan hewan meskipun kehidupan sudah modern. Terjadinya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi dan perluasan permukiman menyebabkan semakin berkurang dan punahnya beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai obat sehingga leksikon etnomedisin turut terpengaruhi. Secara khusus penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan dan mengklasifikasikan leksikon nama tumbuhan, hewan, proses pembuatan atau pemanfaatan, alat yang dipakai, nama penyakit; dan faktor-faktor yang memengaruhi pemertahanan praktik etnomedisin. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan teori antropolinguistik. Penelitian ini didesain dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode observasi dan metode cakap dengan teknik pancing dan teknik cakap semuka dengan informan yang diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni (1) ahli, pelaku, atau praktisi pengobatan tradisional dan (2) warga masyarakat sebagai pasien atau yang menjalani pengobatan tradisional. Berdasarkan prosedur penelitian tersebut, terungkap bahwa dalam praktik etnomedisin di kedua wilayah ini terdapat leksikon nama tumbuhan sebanyak 57 buah dan leksikon nama hewan sebanyak 19 buah; leksikon nama proses pembuatan, pengolahan, atau pemanfaatan tumbuhan dan hewan untuk obat sebanyak 31 buah; leksikon nama alat yang dipakai dalam proses pembuatan, pengolahan, atau pemanfaatan tumbuhan dan hewan untuk dijadikan obat sebanyak 22 buah; (4) leksikon nama penyakit sebanyak 48 buah; dan (5) keberlangsungan praktik etnomedisin ditunjang oleh faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Kata kunci: leksikon, etnomedisin, masyarakat SundaAbstractThe focus of this research is the ethnomedicine lexicon in the practice of traditional medicine in the Sundanese community in the Pandeglang and Lebak districts. This research is based on the empirical condition of the ongoing preservation of traditional medicine made from plants and animals even though life is modern. The occurrence of environmental damage due to exploitation and expansion of settlements has caused the decline and extinction of several types of plants and animals that are used as medicine so that the ethnomedicine lexicon is also affected. Specifically, this research was conducted to explain and classify the lexicon of names of plants, animals, processes of manufacture or utilization, tools used, names of diseases; and factors that affect the maintenance of ethnomedicine practice. To achieve this goal, this research was conducted with an anthropolinguistics theory approach. This research was designed with a qualitative method. Data were collected through observation methods and proficient methods with fishing
{"title":"KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK LEKSIKON ETNOMEDISIN DALAM TRADISI PENGOBATAN TRADISIONAL MASYARAKAT SUNDA DI KABUPATEN LEBAK DAN KABUPATEN PANDEGLANG","authors":"Odien Rosidin, Tatu Hilaliyah","doi":"10.29255/aksara.v34i1.695.151-166","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.695.151-166","url":null,"abstract":"AbstrakFokus penelitian ini adalah leksikon etnomedisin dalam praktik pengobatan tradisional di lingkungan masyarakat Sunda yang berada di wilayah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Penelitian ini dilatabelakangi oleh kondisi empirik masih berlangsungnya pemertahanan tradisi pengobatan tradisional berbahan tumbuhan dan hewan meskipun kehidupan sudah modern. Terjadinya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi dan perluasan permukiman menyebabkan semakin berkurang dan punahnya beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai obat sehingga leksikon etnomedisin turut terpengaruhi. Secara khusus penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan dan mengklasifikasikan leksikon nama tumbuhan, hewan, proses pembuatan atau pemanfaatan, alat yang dipakai, nama penyakit; dan faktor-faktor yang memengaruhi pemertahanan praktik etnomedisin. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan teori antropolinguistik. Penelitian ini didesain dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode observasi dan metode cakap dengan teknik pancing dan teknik cakap semuka dengan informan yang diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni (1) ahli, pelaku, atau praktisi pengobatan tradisional dan (2) warga masyarakat sebagai pasien atau yang menjalani pengobatan tradisional. Berdasarkan prosedur penelitian tersebut, terungkap bahwa dalam praktik etnomedisin di kedua wilayah ini terdapat leksikon nama tumbuhan sebanyak 57 buah dan leksikon nama hewan sebanyak 19 buah; leksikon nama proses pembuatan, pengolahan, atau pemanfaatan tumbuhan dan hewan untuk obat sebanyak 31 buah; leksikon nama alat yang dipakai dalam proses pembuatan, pengolahan, atau pemanfaatan tumbuhan dan hewan untuk dijadikan obat sebanyak 22 buah; (4) leksikon nama penyakit sebanyak 48 buah; dan (5) keberlangsungan praktik etnomedisin ditunjang oleh faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Kata kunci: leksikon, etnomedisin, masyarakat SundaAbstractThe focus of this research is the ethnomedicine lexicon in the practice of traditional medicine in the Sundanese community in the Pandeglang and Lebak districts. This research is based on the empirical condition of the ongoing preservation of traditional medicine made from plants and animals even though life is modern. The occurrence of environmental damage due to exploitation and expansion of settlements has caused the decline and extinction of several types of plants and animals that are used as medicine so that the ethnomedicine lexicon is also affected. Specifically, this research was conducted to explain and classify the lexicon of names of plants, animals, processes of manufacture or utilization, tools used, names of diseases; and factors that affect the maintenance of ethnomedicine practice. To achieve this goal, this research was conducted with an anthropolinguistics theory approach. This research was designed with a qualitative method. Data were collected through observation methods and proficient methods with fishing ","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"22 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"82968711","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.524.109-120
Dodi Oktariza, Dedi Efendi
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai budaya yang ditemukan dalam ungkapan-ungkapan idiomatis bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Metode yang dipilih dalam pengumpulan data adalah metode simak dan cakap dengan beberapa teknik pendukung diantaranya teknik simak bebas libat cakap, teknik catat, teknik pancing, dan teknik rekam. Pada tahap analisis penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan berpijak dari metode analisis kontekstual dalam menjelaskan makna dari nilai budaya yang dimaksud dari ungkapan-ungkapan idiomatis tersebut. Selanjutnya, pada tahap penyajian hasil analisis, penulis memilih menggunakan metode informal. Hasil penelitian menjelaskan bahwa dalam ungkapan idiomatis bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo mengandung nilai-nilai budaya yang telah lama berkembang di tengah-tengah masyarakat penutur bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo. Adapun nilai-nilai budaya tersebut secara prinsip mencerminkan sikap atau pandangan hidup dari masyarakat penutur bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo yang dikategorikan baik maupun tidak baik. Selain itu, ungkapan-ungkapan idiomatis yang digunakan oleh masyarakat Melayu Jambi dialek Melayu Bungo juga mengandung ajaran etika, moral, dan sopan santun.
{"title":"NILAI BUDAYA DALAM UNGKAPAN IDIOMATIS BAHASA MELAYU JAMBI DIALEK MELAYU BUNGO PERSPEKTIF ANTROPOLINGUISTIK","authors":"Dodi Oktariza, Dedi Efendi","doi":"10.29255/aksara.v34i1.524.109-120","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.524.109-120","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai budaya yang ditemukan dalam ungkapan-ungkapan idiomatis bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Metode yang dipilih dalam pengumpulan data adalah metode simak dan cakap dengan beberapa teknik pendukung diantaranya teknik simak bebas libat cakap, teknik catat, teknik pancing, dan teknik rekam. Pada tahap analisis penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan berpijak dari metode analisis kontekstual dalam menjelaskan makna dari nilai budaya yang dimaksud dari ungkapan-ungkapan idiomatis tersebut. Selanjutnya, pada tahap penyajian hasil analisis, penulis memilih menggunakan metode informal. Hasil penelitian menjelaskan bahwa dalam ungkapan idiomatis bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo mengandung nilai-nilai budaya yang telah lama berkembang di tengah-tengah masyarakat penutur bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo. Adapun nilai-nilai budaya tersebut secara prinsip mencerminkan sikap atau pandangan hidup dari masyarakat penutur bahasa Melayu Jambi dialek Melayu Bungo yang dikategorikan baik maupun tidak baik. Selain itu, ungkapan-ungkapan idiomatis yang digunakan oleh masyarakat Melayu Jambi dialek Melayu Bungo juga mengandung ajaran etika, moral, dan sopan santun.","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"49 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90553788","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.828.61-72
Aji Royan Nugroho
Peristiwa pada Revolusi Kuba telah membawa penulis Chanel Cleeton menarasikan dalam sebuah karya novel yang berjudul Next Year in Havana. Di mana jika ditilik pada novel ini maka Next Year in Havana termasuk dalam karya postmemory. Pada proses karangan novel ini terdapat transmisi memori dari generasi pertama kemudian ke generasi berikutnya yang dipicu oleh peristiwa traumatis masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana struktur memori traumatis itu terbentuk dan upaya perjalanan kembali untuk membangun memori yang tidak utuh. Selanjutnya untuk menganalis objek material tersebut peneliti menggunakan teori postmemory dari Marriane Hirsch. Hasil dari penelitian ini: 1). Terdapat struktur transmisi memori familial dari sang nenek kemudian juga transmisi afiliatif dari orang luar. 2). Keberpihakan penulis pada novel ini menampilkan tokoh presiden Batista sebagai Hypermazculine dan orang – orang Kuba sebagai Feminized. 3). Upaya napak tilas dilakukan ke pelbagai situs sejarah untuk melihat pada realitas yang lebih dekat dan menjawab asumsi – asumsi atas memori yang belum lengkap.The incident of Cuban Revolution has been bringing Chanel Cleeton to narrate a masterpiece of the Novel with under the name Next Year in Havana. Indeed, this Next Year in Havana novel includes a masterpiece of postmemory. The process of this novel used memory transmission from the first generation to the next generation that is triggered by the past traumatic event. This study aimed to know how the structure of traumatic memory is formed and how returning journey can reconstruct the uncompleted memory. In doing so, the researcher used postmemory approach by Marriane Hirsch to analyze the object material. Then, the result of this study: 1). There are structure of memories transmission such as familial from the grandmother and affiliative transmission from the strangers. 2). The author takes a side on this novel that President F. Batista as the Hypermazculine and Cuban people as Feminized. 3). The mission of returning the journey has been done to look the reality closer and to answer the assumptions of uncompleted memory. Peristiwa pada Revolusi Kuba telah membawa penulis Chanel Cleeton menarasikan dalam sebuah karya novel yang berjudul Next Year in Havana. Di mana jika ditilik pada novel ini maka Next Year in Havana termasuk dalam karya postmemory. Pada proses karangan novel ini terdapat transmisi memori dari generasi pertama kemudian ke generasi berikutnya yang dipicu oleh peristiwa traumatis masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana struktur memori traumatis itu terbentuk dan upaya perjalanan kembali untuk membangun memori yang tidak utuh. Selanjutnya untuk menganalis objek material tersebut peneliti menggunakan teori postmemory dari Marriane Hirsch. Hasil dari penelitian ini: 1). Terdapat struktur transmisi memori familial dari sang nenek kemudian juga transmisi afiliatif dari orang luar. 2). Keberpihakan penulis pada novel ini menam
{"title":"POSTMEMORY: TRANSMISI MEMORI DAN REKONSILIASI DALAM NOVEL NEXT YEAR IN HAVANA KARYA CHANEL CLEETON","authors":"Aji Royan Nugroho","doi":"10.29255/aksara.v34i1.828.61-72","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.828.61-72","url":null,"abstract":" Peristiwa pada Revolusi Kuba telah membawa penulis Chanel Cleeton menarasikan dalam sebuah karya novel yang berjudul Next Year in Havana. Di mana jika ditilik pada novel ini maka Next Year in Havana termasuk dalam karya postmemory. Pada proses karangan novel ini terdapat transmisi memori dari generasi pertama kemudian ke generasi berikutnya yang dipicu oleh peristiwa traumatis masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana struktur memori traumatis itu terbentuk dan upaya perjalanan kembali untuk membangun memori yang tidak utuh. Selanjutnya untuk menganalis objek material tersebut peneliti menggunakan teori postmemory dari Marriane Hirsch. Hasil dari penelitian ini: 1). Terdapat struktur transmisi memori familial dari sang nenek kemudian juga transmisi afiliatif dari orang luar. 2). Keberpihakan penulis pada novel ini menampilkan tokoh presiden Batista sebagai Hypermazculine dan orang – orang Kuba sebagai Feminized. 3). Upaya napak tilas dilakukan ke pelbagai situs sejarah untuk melihat pada realitas yang lebih dekat dan menjawab asumsi – asumsi atas memori yang belum lengkap.The incident of Cuban Revolution has been bringing Chanel Cleeton to narrate a masterpiece of the Novel with under the name Next Year in Havana. Indeed, this Next Year in Havana novel includes a masterpiece of postmemory. The process of this novel used memory transmission from the first generation to the next generation that is triggered by the past traumatic event. This study aimed to know how the structure of traumatic memory is formed and how returning journey can reconstruct the uncompleted memory. In doing so, the researcher used postmemory approach by Marriane Hirsch to analyze the object material. Then, the result of this study: 1). There are structure of memories transmission such as familial from the grandmother and affiliative transmission from the strangers. 2). The author takes a side on this novel that President F. Batista as the Hypermazculine and Cuban people as Feminized. 3). The mission of returning the journey has been done to look the reality closer and to answer the assumptions of uncompleted memory. Peristiwa pada Revolusi Kuba telah membawa penulis Chanel Cleeton menarasikan dalam sebuah karya novel yang berjudul Next Year in Havana. Di mana jika ditilik pada novel ini maka Next Year in Havana termasuk dalam karya postmemory. Pada proses karangan novel ini terdapat transmisi memori dari generasi pertama kemudian ke generasi berikutnya yang dipicu oleh peristiwa traumatis masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana struktur memori traumatis itu terbentuk dan upaya perjalanan kembali untuk membangun memori yang tidak utuh. Selanjutnya untuk menganalis objek material tersebut peneliti menggunakan teori postmemory dari Marriane Hirsch. Hasil dari penelitian ini: 1). Terdapat struktur transmisi memori familial dari sang nenek kemudian juga transmisi afiliatif dari orang luar. 2). Keberpihakan penulis pada novel ini menam","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"24 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77820411","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.958.41-60
Tri Amanat
Identitas budaya merupakan suatu hal yang penting dalam masyarakat tradisional seperti Mentawai. Namun, kontestasi antara subsuku seringkali menimbulkan potensi perpecahan dan friksi antara suku dan subsuku dalam masyarakat tradisonal seperti di Mentawai. Melalui sastra khususnya cerita asal-usul nenek moyang dan suku, kami mencoba menggali persoalan identitas dan demokrasi pada tujuh kelompok subsuku di Siberut Selatan. Data pokok yang digunakan dalam studi ini berasal dari cerita asal-usul, baik yang terungkap di dalam mitos, legenda, dongeng, maupun kisah-kisah sejarah yang disampaikan secara lisan. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografis, sebuah pendekatan yang mengutamakan cara pandang penutur asli di dalam memahami fenomena-fenomena budaya. Kerangka teori tentang identitas budaya dan nilai-nilai demokratis diperoleh secara selektif dari pandangan-pandangan ahli di bidangnya. Metode yang digunakan untuk melakukan analisis data berupa analisis kualitatif dengan subjek kajian tujuh subsuku di Siberut Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan cerita asal-usul nenek moyang dan suku di Siberut Selatan, dapat dijelaskan bahwa masyarakat Mentawai terbuka pada perubahan, religius di dalam menghadapi persoalan-persoalan eksistensial kehidupan, termasuk di dalam relasi mereka dengan Tuhan, sesama, dan alam. Masyarakat subsuku di Siberut Selatan melalui masa transisi dari masyarakat yang tradisional ke masyarakat semi modern yang mengusung nilai demokrasi dalam menyelesaikan konflik secara musyawarah dan mufakat atau menjauh dari konflik horizontal dengan cara membangun tempat tinggal yang baru dan subsuku yang baru. Dengan demikian, patut disadari bahwa di dalam jiwa masyarakat tradisional, telah terbangun identitas budaya dan sistem nilai demokrasi yang tidak kalah dengan masyarakat modern
{"title":"IDENTITAS BUDAYA DAN NILAI DEMOKRASI DALAM CERITA ASAL USUL TUJUH SUBSUKU MENTAWAI","authors":"Tri Amanat","doi":"10.29255/aksara.v34i1.958.41-60","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.958.41-60","url":null,"abstract":"Identitas budaya merupakan suatu hal yang penting dalam masyarakat tradisional seperti Mentawai. Namun, kontestasi antara subsuku seringkali menimbulkan potensi perpecahan dan friksi antara suku dan subsuku dalam masyarakat tradisonal seperti di Mentawai. Melalui sastra khususnya cerita asal-usul nenek moyang dan suku, kami mencoba menggali persoalan identitas dan demokrasi pada tujuh kelompok subsuku di Siberut Selatan. Data pokok yang digunakan dalam studi ini berasal dari cerita asal-usul, baik yang terungkap di dalam mitos, legenda, dongeng, maupun kisah-kisah sejarah yang disampaikan secara lisan. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografis, sebuah pendekatan yang mengutamakan cara pandang penutur asli di dalam memahami fenomena-fenomena budaya. Kerangka teori tentang identitas budaya dan nilai-nilai demokratis diperoleh secara selektif dari pandangan-pandangan ahli di bidangnya. Metode yang digunakan untuk melakukan analisis data berupa analisis kualitatif dengan subjek kajian tujuh subsuku di Siberut Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan cerita asal-usul nenek moyang dan suku di Siberut Selatan, dapat dijelaskan bahwa masyarakat Mentawai terbuka pada perubahan, religius di dalam menghadapi persoalan-persoalan eksistensial kehidupan, termasuk di dalam relasi mereka dengan Tuhan, sesama, dan alam. Masyarakat subsuku di Siberut Selatan melalui masa transisi dari masyarakat yang tradisional ke masyarakat semi modern yang mengusung nilai demokrasi dalam menyelesaikan konflik secara musyawarah dan mufakat atau menjauh dari konflik horizontal dengan cara membangun tempat tinggal yang baru dan subsuku yang baru. Dengan demikian, patut disadari bahwa di dalam jiwa masyarakat tradisional, telah terbangun identitas budaya dan sistem nilai demokrasi yang tidak kalah dengan masyarakat modern","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"29 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87439038","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.672.1-18
I. K. Sudewa, Sri Jumadiah
Abstrak Anotologi Puisi Untuk Reformasi merupakan salah satu antologi yang di dalamnya mengungkapkan tentang keadaan sosial politik di Indonesia pada zaman Orde Baru dan awal reformasi. Di dalam antologi tersebut memuat sajak-sajak dari empat penyair yang terkenal di Indonesia, yaitu: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, dan Remy Sylado. Permasalahan yang dibahas di dalam penelitian ini adalah (1) konstruksi idealisme yang diungkapkan oleh penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi dan (2) bagaimana cara penyair mengungkapkan idealismenya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik baca, simak, catat, dan interpretatif. Teori yang digunakan adalah teori semiotik dan sosiologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi mengungkapkan berbagai idealisme yang berangkat dari keadaan sosial masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru dan masa awal reformasi. Konstruksi idealisme yang terbangun di dalam antologi tersebut didasari oleh berbagai persoalan bangsa Indonesia pada masa tersebut, seperti: kebabasan/demokrasi, politik, hukum, dan degradasi kemanusiaan. Para penyair mengung kapkan persoalan-persoalan tersebut dengan cara menggunakan diksi tertentu yang memperkuat maksud yang ingin diungkapkan. Di samping menggunakan diksi masing-masing penyair yang menjadi ciri khasnya juga dominan menggunakan gaya hiperbola, repetisi, metafora, dan sisnisme. bahasa Kata kunci: konstruksi, idealisme, sosial, politik one of the anthologies in which it reveals the socio-political situation in Indonesia during the Orde Baru era and the beginning of reform. In the anthology includes poems from four famous poets in Indonesia, namely: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, and Remy Sylado. The problems discussed in this research are: (1) the construction of idealism expressed by the poet in the anthology of Poetry for Reform and (2) how the poet expresses his idealism.The research method used is a qualitative method through literature study. Research techniques used are reading, note taking, and interpretive techniques. The theory used is the theory of semiotics and sociology of literature.The results showed that the poet in the anthology of Poetry for Reform expressed various ideals that departed from the social conditions of the Indonesian people during the Orde Baru era and the biginning of reform. The construction of idealism built in the anthology is based on various problems of the Indonesian nation at that time, such as freedom / democracy, politics, laws, and human degradation. The poets express these problems by using certain diction which reinforces the intention to be expressed. In addition to using the diction of each poet who is his trademark, he also uses hyperbole, repetition, metaphor, and sisnism. Keywords: construction, idealism, social, politics
改革诗歌的抽象叙事是揭示新秩序和新秩序开始时印尼社会政治状况的选集之一。这四首诗包含了印度尼西亚著名诗人W.S . Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi和Remy Sylado的诗歌。在这个研究中所讨论的问题是:(1)建筑所表达的理想诗人在诗歌《团结和(2)如何改革的诗人表达了这些理想。研究方法是通过研究文献提供的定性方法。所使用的研究技术包括阅读、听、记录和解释。所使用的理论是符号学理论和文学社会学。研究表明,诗人在宗教改革诗集的选集中表达了从印尼新秩序和改革初期社会状态出发的理想主义。在这些专集中建立起来的理想主义的结构是由当时印尼人民的问题构成的,比如:麻木不仁/民主、政治、法律和人性的堕落。诗人用一种加强表达意图的措辞来揭示这些问题。除了使用具有其独特特征的每一个诗人的措辞,也主要使用夸张、影射、隐喻和sisnism。关键字语言:建设、理想主义、社会、政治印度尼西亚著名诗人namely的宗谱诗包括W.S . Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi和Remy Sylado。这项研究提出的问题:(1)诗歌在诗歌的起源上表达的理想主义的基础;(2)诗歌如何表达他的理想主义。研究方法过去是识字研究的合格方法。研究技术已经被使用,记录和解释技术。过去的理论是符号学和社会文学的理论。最近的民意调查表明,在新秩序和新秩序的新时代,诗人反对印尼人民的社会条件。当时,构成意识形态的基础是印度尼西亚民族的各种问题,比如自由、政治、法律和人类妥协。诗人通过使用确定的减少来揭示这些问题。此外,利用每一篇文章的剧情,他还使用uses、重复、比喻和sisnism。基石:建筑,意识形态,社会,政治
{"title":"KONSTRUKSI IDEALISME DI DALAM ANTOLOGI PUISI UNTUK REFORMASI","authors":"I. K. Sudewa, Sri Jumadiah","doi":"10.29255/aksara.v34i1.672.1-18","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.672.1-18","url":null,"abstract":"Abstrak Anotologi Puisi Untuk Reformasi merupakan salah satu antologi yang di dalamnya mengungkapkan tentang keadaan sosial politik di Indonesia pada zaman Orde Baru dan awal reformasi. Di dalam antologi tersebut memuat sajak-sajak dari empat penyair yang terkenal di Indonesia, yaitu: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, dan Remy Sylado. Permasalahan yang dibahas di dalam penelitian ini adalah (1) konstruksi idealisme yang diungkapkan oleh penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi dan (2) bagaimana cara penyair mengungkapkan idealismenya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik baca, simak, catat, dan interpretatif. Teori yang digunakan adalah teori semiotik dan sosiologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi mengungkapkan berbagai idealisme yang berangkat dari keadaan sosial masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru dan masa awal reformasi. Konstruksi idealisme yang terbangun di dalam antologi tersebut didasari oleh berbagai persoalan bangsa Indonesia pada masa tersebut, seperti: kebabasan/demokrasi, politik, hukum, dan degradasi kemanusiaan. Para penyair mengung kapkan persoalan-persoalan tersebut dengan cara menggunakan diksi tertentu yang memperkuat maksud yang ingin diungkapkan. Di samping menggunakan diksi masing-masing penyair yang menjadi ciri khasnya juga dominan menggunakan gaya hiperbola, repetisi, metafora, dan sisnisme. bahasa Kata kunci: konstruksi, idealisme, sosial, politik one of the anthologies in which it reveals the socio-political situation in Indonesia during the Orde Baru era and the beginning of reform. In the anthology includes poems from four famous poets in Indonesia, namely: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, and Remy Sylado. The problems discussed in this research are: (1) the construction of idealism expressed by the poet in the anthology of Poetry for Reform and (2) how the poet expresses his idealism.The research method used is a qualitative method through literature study. Research techniques used are reading, note taking, and interpretive techniques. The theory used is the theory of semiotics and sociology of literature.The results showed that the poet in the anthology of Poetry for Reform expressed various ideals that departed from the social conditions of the Indonesian people during the Orde Baru era and the biginning of reform. The construction of idealism built in the anthology is based on various problems of the Indonesian nation at that time, such as freedom / democracy, politics, laws, and human degradation. The poets express these problems by using certain diction which reinforces the intention to be expressed. In addition to using the diction of each poet who is his trademark, he also uses hyperbole, repetition, metaphor, and sisnism. Keywords: construction, idealism, social, politics","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"106 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79323520","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.408.73-82
Irwan Syah
Penelitian ini berjudul “Modalitas dalam Pidato Joko Widodo “Optimis Indonesia Maju” dan Prabowo Subianto “Indonesia Menang”: Analisis Wacana Kritis”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemakaian modalitas dari kedua calon Presiden periode 2019-2024. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modalitas menurut Halliday (1994) dan Fairclough (Santosa, 2012). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berparadigma kritis, yaitu melakukan pemaparan dan penilaian terhadap data kebahasaan melalui teori modalitas sebagai analisis. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada teks pidato yang dinyatakan oleh kubu pasangan calon Presiden 01 Joko Widodo, penggunaan modalitas sebanyak 156 kali dari pasangan lawan yakni sebesar 121 modalitas yang dinyatakan oleh calon presiden 2019-2024 yaitu Prabowo Subianto. Hasil tersebut mempengaruhi presentase, calon presiden nomer urut 1 presentasenya sebesar 93,42%, sementara itu nomor urut 2 sebesar 81,76%. Hal ini menandakan calon presiden dengan nomor urut 1 dalam upaya mengukuhkan kekuasaanya sebagai petahana agar dapat memenangkan kembali pilpres 2019-2014. Pasangan calon Presiden nomer 2 yaitu Prabowo juga mempunyai upaya untuk merebut kekuasaan dan memenangkan pilpres 2019-2024. Ditunjang dengan teori Fairclough (2012) yang mana modalitas yang digunakan oleh Joko Widodo mengandung modalitas ekspresif (kemungkinan), relasional (perintah), relasional (kesanggupan), relasional (permintaan), ekspresif (kewajiban). Sementara itu, modalitas yang digunakan Prabowo menurut teori Fairclough (2012) ialah modalitas relasional (ajakan), relasional (keharusan), relasional (permintaan), ekspresif (kepastian) dan ekspresif (kemungkinan).
{"title":"MODALITAS DALAM PIDATO JOKO WIDODO \"OPTIMIS INDONESIA MAJU\" DAN PRABOWO \"INDONESIA MENANG\": ANALISIS WACANA KRITIS","authors":"Irwan Syah","doi":"10.29255/aksara.v34i1.408.73-82","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.408.73-82","url":null,"abstract":"Penelitian ini berjudul “Modalitas dalam Pidato Joko Widodo “Optimis Indonesia Maju” dan Prabowo Subianto “Indonesia Menang”: Analisis Wacana Kritis”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemakaian modalitas dari kedua calon Presiden periode 2019-2024. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modalitas menurut Halliday (1994) dan Fairclough (Santosa, 2012). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berparadigma kritis, yaitu melakukan pemaparan dan penilaian terhadap data kebahasaan melalui teori modalitas sebagai analisis. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada teks pidato yang dinyatakan oleh kubu pasangan calon Presiden 01 Joko Widodo, penggunaan modalitas sebanyak 156 kali dari pasangan lawan yakni sebesar 121 modalitas yang dinyatakan oleh calon presiden 2019-2024 yaitu Prabowo Subianto. Hasil tersebut mempengaruhi presentase, calon presiden nomer urut 1 presentasenya sebesar 93,42%, sementara itu nomor urut 2 sebesar 81,76%. Hal ini menandakan calon presiden dengan nomor urut 1 dalam upaya mengukuhkan kekuasaanya sebagai petahana agar dapat memenangkan kembali pilpres 2019-2014. Pasangan calon Presiden nomer 2 yaitu Prabowo juga mempunyai upaya untuk merebut kekuasaan dan memenangkan pilpres 2019-2024. Ditunjang dengan teori Fairclough (2012) yang mana modalitas yang digunakan oleh Joko Widodo mengandung modalitas ekspresif (kemungkinan), relasional (perintah), relasional (kesanggupan), relasional (permintaan), ekspresif (kewajiban). Sementara itu, modalitas yang digunakan Prabowo menurut teori Fairclough (2012) ialah modalitas relasional (ajakan), relasional (keharusan), relasional (permintaan), ekspresif (kepastian) dan ekspresif (kemungkinan).","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"52 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"75146725","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.560.125-150
I. K. Wardana
Acoustic investigation on Balinese vowel of non-fluent aphasia (NFA) has not been previously paid attention yet. Thus, this study examined the acoustic abnormalities of vowel articulation for patients with NFA. Therefore, spectral and temporal charateristic of their vowel sound are essentially searched by comparing the formant value and prosodic features with the normal vowel articulation. Speech output of two patients were observed and analyzed by using Praat and the data were described by implementing the theory of clinical phonetics and acoustics. The spectral analysis showed that the inaccurate constriction of the tongue in vowel articulation affected the range of oral tract (F2), pharynx space (F1), and shape of the lips (F3). Furthermore, the lesion in Broca’s area affected the temporal features of the sounds, such as the lower pitch, lower intensity and longer timing especially voicing environment. The vowels preceded by voiced consonants were significantly longer than those preceded by voiceless ones. So, the highly complex vowels tend to be articulated inaccurately due to articulatory implementation deficit. This finding is consistent with previous results that the spectral and temporal distortion are primarily phonetics rather than phonological planning program.
{"title":"SPECTRAL AND TEMPORAL PROCESSING IN BALINESE VOWEL OF NON-FLUENT APHASIA","authors":"I. K. Wardana","doi":"10.29255/aksara.v34i1.560.125-150","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.560.125-150","url":null,"abstract":"Acoustic investigation on Balinese vowel of non-fluent aphasia (NFA) has not been previously paid attention yet. Thus, this study examined the acoustic abnormalities of vowel articulation for patients with NFA. Therefore, spectral and temporal charateristic of their vowel sound are essentially searched by comparing the formant value and prosodic features with the normal vowel articulation. Speech output of two patients were observed and analyzed by using Praat and the data were described by implementing the theory of clinical phonetics and acoustics. The spectral analysis showed that the inaccurate constriction of the tongue in vowel articulation affected the range of oral tract (F2), pharynx space (F1), and shape of the lips (F3). Furthermore, the lesion in Broca’s area affected the temporal features of the sounds, such as the lower pitch, lower intensity and longer timing especially voicing environment. The vowels preceded by voiced consonants were significantly longer than those preceded by voiceless ones. So, the highly complex vowels tend to be articulated inaccurately due to articulatory implementation deficit. This finding is consistent with previous results that the spectral and temporal distortion are primarily phonetics rather than phonological planning program.","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"12 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87544618","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.685.29-40
Lovinea Mega Putri, Wiyatmi Wiyatmi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami karakter tokoh Kartini dan konstruksi femininitas tokoh Kartini dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Analisis data dilakukan dengan kategorisasi, tabelisasi, dan interpretasi yang kemudian dideskripsikan. Keabsahan data diperoleh dari melalui pembacaan berulang-ulang hingga menemukan data yang valid. Validitas tersebut kemudian diuji dengan teknik analisis yang disesuaikan dengan teori yang digunakan. Hasil penelitian adalah (1) penggambaran karakter tokoh Kartini yang secara fisik cantik dan memiliki tubuh yang proporsional; secara psikologis cerdas, tegas, dan mudah tersinggung; secara sosiologis Kartini adalah seorang penganut Marxisme, kaya raya, sempat bersekolah di MULO, dan merupakan aktivis sosial dan politik, (2) wujud konstruksi femininitas tokoh Kartini dalam Atheis menujukkan bahwa kecantikan dan kecerdasan Kartini dikontruksi berdasarkan mitos perempuan Sunda; Kartini diidentifikasi sebagai seorang perempuan double burden; melalui aspek-aspek sosial, Kartini mampu mempengaruhi Hasan hingga menjadi atheis.
这项研究旨在描述和理解Kartini的性格和Kartini在无神论小说《Achdiat K. Mihardja》中的女性特质和女性结构。本研究采用了一种基于Achdiat K. Mihardja的基本数据来源的定性描述性方法。数据分析是通过分类、标签化和解释来进行的。数据的有效性来自于反复阅读,直到找到有效的数据。然后用一种与理论相适应的分析技术测试了有效性。研究结果是(1)卡尔蒂尼性格的描述,她的身体很漂亮,身材匀称;心理上聪明,果断,易怒;在社会学上,Kartini是马克思主义者,富有,曾在MULO上学,是一名社会和政治活动人士。Kartini被认为是双burden妇女;通过社会的某些方面,卡蒂尼能够影响哈桑成为一名无神论者。
{"title":"KONSTRUKSI FEMININITAS TOKOH KARTINI DALAM NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT K. MIHARDJA","authors":"Lovinea Mega Putri, Wiyatmi Wiyatmi","doi":"10.29255/aksara.v34i1.685.29-40","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.685.29-40","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami karakter tokoh Kartini dan konstruksi femininitas tokoh Kartini dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Analisis data dilakukan dengan kategorisasi, tabelisasi, dan interpretasi yang kemudian dideskripsikan. Keabsahan data diperoleh dari melalui pembacaan berulang-ulang hingga menemukan data yang valid. Validitas tersebut kemudian diuji dengan teknik analisis yang disesuaikan dengan teori yang digunakan. Hasil penelitian adalah (1) penggambaran karakter tokoh Kartini yang secara fisik cantik dan memiliki tubuh yang proporsional; secara psikologis cerdas, tegas, dan mudah tersinggung; secara sosiologis Kartini adalah seorang penganut Marxisme, kaya raya, sempat bersekolah di MULO, dan merupakan aktivis sosial dan politik, (2) wujud konstruksi femininitas tokoh Kartini dalam Atheis menujukkan bahwa kecantikan dan kecerdasan Kartini dikontruksi berdasarkan mitos perempuan Sunda; Kartini diidentifikasi sebagai seorang perempuan double burden; melalui aspek-aspek sosial, Kartini mampu mempengaruhi Hasan hingga menjadi atheis.","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"110 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87682035","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-14DOI: 10.29255/aksara.v34i1.681.19-28
Haalin Mawaddah
Penelitian ini membahas mengenai upaya perempuan Jawa untuk mendapatkan eksistensinya di ranah domestik maupun publik. Novel Sri Sumarah karya Umar Kayam merupakan salah satu kasrya sastra berbentuk novelet yang di dalamnya terdapat kisah mengenai perempuan Jawa. Pada penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Simone De Beauvoir (1949) dan Phutnam Rosemarie Tong (2016) dengan menggunakan pendekatan feminis eksistensialis. Hasil dari penelitian ini yaitu perempuan dapat menciptakan eksistensi dirinya melalui usaha-usaha yang dilakukannya. Tokoh perempuan Jawa dalam novel Sri Sumarah karya Umar Kayam dapat membuktikan dirinya mampu untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, mereka dapat membuktikan bahwa mereka memiliki pandangan luas (intelektual), serta bisa menjadi perempuan mandiri untuk mencapai transformasi sosialis di masyarakat.
{"title":"EKSISTENSI PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL SRI SUMARAH KARYA UMAR KAYAM","authors":"Haalin Mawaddah","doi":"10.29255/aksara.v34i1.681.19-28","DOIUrl":"https://doi.org/10.29255/aksara.v34i1.681.19-28","url":null,"abstract":"Penelitian ini membahas mengenai upaya perempuan Jawa untuk mendapatkan eksistensinya di ranah domestik maupun publik. Novel Sri Sumarah karya Umar Kayam merupakan salah satu kasrya sastra berbentuk novelet yang di dalamnya terdapat kisah mengenai perempuan Jawa. Pada penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Simone De Beauvoir (1949) dan Phutnam Rosemarie Tong (2016) dengan menggunakan pendekatan feminis eksistensialis. Hasil dari penelitian ini yaitu perempuan dapat menciptakan eksistensi dirinya melalui usaha-usaha yang dilakukannya. Tokoh perempuan Jawa dalam novel Sri Sumarah karya Umar Kayam dapat membuktikan dirinya mampu untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, mereka dapat membuktikan bahwa mereka memiliki pandangan luas (intelektual), serta bisa menjadi perempuan mandiri untuk mencapai transformasi sosialis di masyarakat.","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"14 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"75015950","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-09-01DOI: 10.37905/aksara.8.3.1831-1840.2022
Jansen Parlaungan, M. Loihala, Reflin Mansen, Sulastri G P Tambunan
Usia dini (0 - 6 tahun) atau yang dikenal dengan “golden period” merupakan periode yang sangat mendasar bagi perkembangan individu karena pada masa ini terjadi pembentukan kepribadian dasar individu, penuh dengan kejadian-kejadian penting dan unik yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang pada masa dewasa. Oleh karena itu, lembaga PAUD dan lembaga pendidikan sederajat lainnya merupakan sasaran strategis untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak usia dini, serta memperkenalkan dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Peran guru PAUD dalam pendidikan (PHBS) anak usia dini sangatlah penting karena hubungan guru PAUD dengan anak usia dini di lingkungan PAUD terjalin dengan akrab dan dekat, dapat membantu dalam penyampaian pesan PHBS pada anak PAUD.
{"title":"Pemberdayaan Guru Paud Dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Anak Usia 3-5 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Sorong Timur Tahun 2022","authors":"Jansen Parlaungan, M. Loihala, Reflin Mansen, Sulastri G P Tambunan","doi":"10.37905/aksara.8.3.1831-1840.2022","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/aksara.8.3.1831-1840.2022","url":null,"abstract":"Usia dini (0 - 6 tahun) atau yang dikenal dengan “golden period” merupakan periode yang sangat mendasar bagi perkembangan individu karena pada masa ini terjadi pembentukan kepribadian dasar individu, penuh dengan kejadian-kejadian penting dan unik yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang pada masa dewasa. Oleh karena itu, lembaga PAUD dan lembaga pendidikan sederajat lainnya merupakan sasaran strategis untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak usia dini, serta memperkenalkan dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Peran guru PAUD dalam pendidikan (PHBS) anak usia dini sangatlah penting karena hubungan guru PAUD dengan anak usia dini di lingkungan PAUD terjalin dengan akrab dan dekat, dapat membantu dalam penyampaian pesan PHBS pada anak PAUD.","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"13 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-09-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79169618","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}