Pub Date : 2021-05-24DOI: 10.14421/AJIS.2021.591.%P
M. Khasan
The issue of the escalation of crime, which is increasingly varied and is getting heavier, is becoming a global concern. The development and progress of the world seems to have contributed to changes in the type and quality of crime, not only in the form and method, but also in the damage it causes. Crime trends increasingly point to collective crimes, systematic crimes, and crimes with extensive and massive excess damage. This article intends to criticize the systematic change (evolution) that has occurred in the concept of ḥirābah crime in Islamic law from a classical to contemporary perspective. The qualitative analysis of this article is focused on three fundamental issues, namely; ḥirābah interpretation, ḥirābah liability, and ḥirābah punishment. The author reveals in the conclusion that; first, based on its elements and characteristics, the definition of ḥirābah can be expanded to include new types of crimes such as; terrorism, rape, and drug trafficking and smuggling. Second, it is necessary to reconstruct the ḥirābah responsibility theory into a formulation that considers the principle of legal certainty and the principle of equality before the law. The reconstruction model, among others, is the affirmation that all people who involve themselves in the crime are perpetrators of ḥirābah (with an ishtirāk approach). Likewise, reconstruction efforts are needed to enforce equality of accountability between male and female actors. Third, as a serious crime, ḥirābah deserves a severe punishment and has a strong deterrent effect, as offered by Islamic law. However, the opportunity to give dispensation to the punishment will always be open if the perpetrator can prove his seriousness in repenting.[Eskalasi kriminalitas yang semakin beragam dan berat telah menjadi perhatian global saat ini. Pembangunan dan kemajuan dunia berkontribusi pada perubahan pola dan tingkat kriminalitas, tidak hanya bentuk dan cara, tetapi juga akibat yang ditimbulkan. Trend kriminalitas bertambah mulai dari yang berkelompok, sistematis, hingga yang kerusakannya masif dan pengaruhnya panjang. Tulisan ini mengkritisi perubahan sistematis pada konsep kriminal (ḥirābah) dalam hukum Islam dari pendekatan klasik hingga kontemporer. Analisis kualitatif dalam tulisan ini fokus pada tiga hal mendasar yaitu penafsiran, arah kecenderungan dan hukuman. Kesimpulan pertama tulisan ini adalah definisi kriminal berdasarkan unsur dan karakternya yang dapat meluas maknanya termasuk terorisme, pemerkosaan, narkoba, dan penyelundupan. Kedua, perlu rekonstruksi baru teori kriminalitas yang mempertimbangkan kepastian hukum dan kesetaraan hak dimuka hukum. Ketiga, sebagai kejahatan serius, ḥirābah pantas mendapat hukuman berat dan mempunyai efek pencegahan yang kuat seperti halnya dalam hukum Islam. Meski demikian, ada peluang dispensasi hukuman jika pelaku dapat menunjukkan kesungguhan untuk bertobat.]
犯罪的升级问题日益多样化,而且越来越严重,它正在成为一个全球性的问题。世界的发展和进步似乎促成了犯罪类型和性质的变化,不仅在形式和方法上,而且在其造成的损害上。犯罪趋势日益指向集体犯罪、系统犯罪和具有广泛和大规模过度损害的犯罪。本文拟从古典到现代的视角,批判伊斯兰教法中ḥirābah犯罪概念发生的系统变化(演变)。本文的定性分析主要集中在三个基本问题上,即;ḥirābah解释,ḥirābah责任,ḥirābah处罚。作者在结论中揭示了;首先,根据其构成要件和特点,ḥirābah的定义可以扩大,包括新的犯罪类型,如;恐怖主义,强奸,贩毒和走私。其次,有必要将ḥirābah责任理论重构为兼顾法律确定性原则和法律面前人人平等原则的提法。重建模型,除其他外,肯定了所有参与犯罪的人都是ḥirābah的肇事者(采用ishtirāk方法)。同样,需要作出重建努力,以加强男女行动者之间的责任平等。第三,ḥirābah作为一种严重的犯罪,应该受到严厉的惩罚,并具有伊斯兰教法规定的强大威慑作用。但是,如果犯罪者能够证明他的忏悔是认真的,那么免除处罚的机会将永远是开放的。[Eskalasi criminalitas yang semakin beragam dan berat telah menjadi perhatian global saat ini]。Pembangunan dan kemajuan dunia berkontribusi pada perubahan pola dan tingkat犯罪人,tidak hanya bentuk dan cara, tetapi juga akibat yang ditimbulkan。趋势犯罪学:bertambah mulai dari yang berkelompok, sistematis, hinga yang kerusakannya masif dan pengaruhnya panjang。(网址:ḥirābah)。(网址:https://www.dailymail.co.uk)。分析质量的dalam tulisan,重点是帕达尔·门达尔·亚图·潘特拉,阿克森·丹·库曼。恐怖主义、恐怖主义、恐怖主义、恐怖主义、恐怖主义。我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说。Ketiga, sebagai kejahatan serius, ḥirābah pantas mendapat hukuman berat dan mempunyai efek penegahan yang kuat seperti halnya dalam hukum Islam。[a] [a] [a] [a] [d] [a] [d] [c]
{"title":"From Textuality to Universality: The Evolution of Ḥirābah Crimes in Islamic Jurisprudence","authors":"M. Khasan","doi":"10.14421/AJIS.2021.591.%P","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2021.591.%P","url":null,"abstract":"The issue of the escalation of crime, which is increasingly varied and is getting heavier, is becoming a global concern. The development and progress of the world seems to have contributed to changes in the type and quality of crime, not only in the form and method, but also in the damage it causes. Crime trends increasingly point to collective crimes, systematic crimes, and crimes with extensive and massive excess damage. This article intends to criticize the systematic change (evolution) that has occurred in the concept of ḥirābah crime in Islamic law from a classical to contemporary perspective. The qualitative analysis of this article is focused on three fundamental issues, namely; ḥirābah interpretation, ḥirābah liability, and ḥirābah punishment. The author reveals in the conclusion that; first, based on its elements and characteristics, the definition of ḥirābah can be expanded to include new types of crimes such as; terrorism, rape, and drug trafficking and smuggling. Second, it is necessary to reconstruct the ḥirābah responsibility theory into a formulation that considers the principle of legal certainty and the principle of equality before the law. The reconstruction model, among others, is the affirmation that all people who involve themselves in the crime are perpetrators of ḥirābah (with an ishtirāk approach). Likewise, reconstruction efforts are needed to enforce equality of accountability between male and female actors. Third, as a serious crime, ḥirābah deserves a severe punishment and has a strong deterrent effect, as offered by Islamic law. However, the opportunity to give dispensation to the punishment will always be open if the perpetrator can prove his seriousness in repenting.[Eskalasi kriminalitas yang semakin beragam dan berat telah menjadi perhatian global saat ini. Pembangunan dan kemajuan dunia berkontribusi pada perubahan pola dan tingkat kriminalitas, tidak hanya bentuk dan cara, tetapi juga akibat yang ditimbulkan. Trend kriminalitas bertambah mulai dari yang berkelompok, sistematis, hingga yang kerusakannya masif dan pengaruhnya panjang. Tulisan ini mengkritisi perubahan sistematis pada konsep kriminal (ḥirābah) dalam hukum Islam dari pendekatan klasik hingga kontemporer. Analisis kualitatif dalam tulisan ini fokus pada tiga hal mendasar yaitu penafsiran, arah kecenderungan dan hukuman. Kesimpulan pertama tulisan ini adalah definisi kriminal berdasarkan unsur dan karakternya yang dapat meluas maknanya termasuk terorisme, pemerkosaan, narkoba, dan penyelundupan. Kedua, perlu rekonstruksi baru teori kriminalitas yang mempertimbangkan kepastian hukum dan kesetaraan hak dimuka hukum. Ketiga, sebagai kejahatan serius, ḥirābah pantas mendapat hukuman berat dan mempunyai efek pencegahan yang kuat seperti halnya dalam hukum Islam. Meski demikian, ada peluang dispensasi hukuman jika pelaku dapat menunjukkan kesungguhan untuk bertobat.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2021-05-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46272940","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-31DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.451-482
Abdullah Abdullah
This article examines the Islamic law situation in Qatari law based on a case study to the main concepts, and some special practical issues in Qatari Law. The paper focuses on a conceptual approach to Qatari law and Islamic law in the light of centrality of Islamic law. Furthermore this paper also focuses on the distinctive characteristics of the law compared to the other such as the concept of human behavior in such a way that it has an impact on the penalty in the legal rule as a distinct component. The analysis also pays an attention to a distinction between the legal rules and other social rules in the matter of giving an influence on structure of human behavior. As a matter of fact, this article also tries to give e light on the centrality of Islamic law on Qatari law, especially on the case of taking back of charity ( hibah ) as an example. The paper ends with conclusion that for Islamic legislation in Qatari law, Islamic Sharia is considered to be the main source and it is needed to develop a legislative and judicial orientations based on Islamic legal rules that regulate transactions in Qatari law. [Artikel ini membahas situasi hukum Islam di dalam hukum Negara Qatar berdasarkan pada studi kasus atas beberapa konsep kunci dan isu praktis dalam hukum Qatar. Tulisan ini fokus pada pendekatan konseptual hukum Qatar dan Syariah Islam berdasarkan pada sentralitas Syari’ah islam. Selain itu, artikel ini juga membahas tentang karakter khusus undang-undang dibanding dengan yang lainnya seperti teori prilaku yang mempunyai pengaruh terhadap penerapan hukumannya. Selain itu, pembahasan tersebut juga mempertimbangkan perbedaannya dibandingkan dengan hukum sosial terkait dengan pengaruh terhadap pembentukan prilaku. Artikel ini juga memberikan penekanan kajian atas sentralitas hukum Islam dan pengaruhnya terhadap konsep undang-undang seperti pengaturan tentang hak menarik kembali dana hibah dalam undang-undang di Qatar. Dalam kesimpulan, artikel ini menyatakan bahwa dalam undang-undang Qatar, hukum Islam menempati posisi yang sentral dan menjadi basis utama dalam pengembangan legislatif dan orientasi yuridis yang didasarkan pada aturan legal Islam dalam pengaturan transaksi dalam undang-undang hukum di Qatar.]
本文通过对伊斯兰教法在卡塔尔法律中的主要概念和一些特殊实践问题的个案分析,考察了伊斯兰教法在卡塔尔法律中的现状。本文着重于卡塔尔法律和伊斯兰法律在伊斯兰法律的中心地位的光的概念方法。此外,本文还着重讨论了与其他法律相比,法律的独特特征,如人类行为的概念,使其在法律规则中作为一个独特的组成部分对刑罚产生影响。分析还注意到法律规则和其他社会规则在对人类行为结构产生影响方面的区别。事实上,本文也试图说明伊斯兰法律在卡塔尔法律中的中心地位,特别是以收回慈善(hibah)为例。本文最后得出结论,对于卡塔尔法律中的伊斯兰立法,伊斯兰教法被认为是主要来源,需要根据伊斯兰法律规则制定立法和司法方向,规范卡塔尔法律中的交易。[Artikel ini membahas sitasi hukum Islam di dalam hukum Negara Qatar berdasarkan pada studi kasus atas beberapa konsep kunci dan isu praktis dalam hukum Qatar]。tuisan ini focus pada pendekatan konseptual hukum Qatar dan Syariah Islam berdasarkan pada centralitas Syari 'ah Islam。Selain itu, artikel ini juga的成员,有tentenang karakter khusus undang undang dibanding dunan yang lainnya perperi priilaku yang mempunyai pengaru terhadap penerapan hukummannya。Selain itu, pembahasan tersebut juga mempertimbangkan perbedaannya dibandingkan dengan hukum social terkit dengan pengaruh terhadap pembentukan priilaku。Artikel ini juga成员penekanan kajian atas centralitas hukum Islam danpengaruhnya terhadap konsep undang-undang seperti pengaruhnya tentanghak menarik kembali dana hibah dalam undang-undang di Qatar。[Dalam kespusan, artikel ini menyatakan bahwa Dalam undang-undang卡塔尔,hukum Islam menempati posisi yang中央,danmenjadi基础,utama Dalam pengembangan立法机构,danorientasyuridis yang didasarkan pada turan法律伊斯兰Dalam pengaturan transaksi Dalam undang-undang hukum di卡塔尔。]
{"title":"The Legal Impact of Islamic Law in the Identity and Provisions of Qatari Legal System: Conceptual Frame and Legislative Directions","authors":"Abdullah Abdullah","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.451-482","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.451-482","url":null,"abstract":"This article examines the Islamic law situation in Qatari law based on a case study to the main concepts, and some special practical issues in Qatari Law. The paper focuses on a conceptual approach to Qatari law and Islamic law in the light of centrality of Islamic law. Furthermore this paper also focuses on the distinctive characteristics of the law compared to the other such as the concept of human behavior in such a way that it has an impact on the penalty in the legal rule as a distinct component. The analysis also pays an attention to a distinction between the legal rules and other social rules in the matter of giving an influence on structure of human behavior. As a matter of fact, this article also tries to give e light on the centrality of Islamic law on Qatari law, especially on the case of taking back of charity ( hibah ) as an example. The paper ends with conclusion that for Islamic legislation in Qatari law, Islamic Sharia is considered to be the main source and it is needed to develop a legislative and judicial orientations based on Islamic legal rules that regulate transactions in Qatari law. [Artikel ini membahas situasi hukum Islam di dalam hukum Negara Qatar berdasarkan pada studi kasus atas beberapa konsep kunci dan isu praktis dalam hukum Qatar. Tulisan ini fokus pada pendekatan konseptual hukum Qatar dan Syariah Islam berdasarkan pada sentralitas Syari’ah islam. Selain itu, artikel ini juga membahas tentang karakter khusus undang-undang dibanding dengan yang lainnya seperti teori prilaku yang mempunyai pengaruh terhadap penerapan hukumannya. Selain itu, pembahasan tersebut juga mempertimbangkan perbedaannya dibandingkan dengan hukum sosial terkait dengan pengaruh terhadap pembentukan prilaku. Artikel ini juga memberikan penekanan kajian atas sentralitas hukum Islam dan pengaruhnya terhadap konsep undang-undang seperti pengaturan tentang hak menarik kembali dana hibah dalam undang-undang di Qatar. Dalam kesimpulan, artikel ini menyatakan bahwa dalam undang-undang Qatar, hukum Islam menempati posisi yang sentral dan menjadi basis utama dalam pengembangan legislatif dan orientasi yuridis yang didasarkan pada aturan legal Islam dalam pengaturan transaksi dalam undang-undang hukum di Qatar.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"203 1","pages":"451-482"},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77024462","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-31DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.391-418
Saifuddin Dhuhri, Tarmizi M. Jakfar
As the earliest Muslims and first known who introduced Islam in Southeast Asia, Dayah community has continuingly played a great role in retaining and spreading the Ash`arite school of theology in the region. Ash`arite theology is a major area of interest within the field of Islamic studies in Southeast Asia. The teachings of Māturīdite kalam have, however, received little attention, in particular its impact on local theology from many scholars. Furthering the legacy of Nasafi’s construction of Southeast Asian theology, this paper is an attempt to unearth Māturīdi’s significance among Southeast Asian Muslims by analyzing the content of dayah’s curriculum, explaining the intellectual network of Māturīdite ulema, and explicating the role of Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah consensus along with interviewing several key informants on the issues of Islamic theology. I craft this paper by arguing that Māturīdite kalam has considerable impacts on local theology, e.g., upholding rationality on God’s attributes, and relying on ilm mantiq method in justifying human freedom. This paper has great contributions in advancing the study of Southeast Asian Muslim theology and its relation to the concept of Islamisation of indigenous culture; like the concepts of cosmopolitanism and syncretism, and the finding of Māturīdi’s kalam in Southeast Asia. [Dayah di Aceh, institusi yang paling awal mengenalkan Islam di Asia Tenggara, hingga saat ini masih merupakan aktor yang berperan penting dalam mempertahankan dan menyebarkan mazhab Ash’ariyah di kawasan ini. Mazhab ini juga dominan dalam kajian Islam di Asia Tenggara. Pengajaran ilmu kalam Māturīdiah, meski mendapat porsi sedikit, pada khususnya berpengaruh pada teologi para ulama setempat. Artikel ini bertujuan untuk menggali signifikasi Māturīdiah dikalangan muslim Asia Tenggara melalui analisis materi kurikulum pengajaran di dayah, pemetaan jaringan ulama Māturīdiah dan mengurai peran konsensus para Aswaja. Dengan wawancara beberapa tokoh kunci dayah di Aceh, tulisan ini menunjukkan bahwa ilmu kalam Māturīdiah berpengaruh pada teologi lokal seperti; dukungan rasionalitas dalam mengenal Tuhan dan mempertimbangkan metode ilmu mantiq dalam pembenaran kebebasan manusia. Artikel ini mempunyai kontribusi penting dalam kajian teologi Islam di Asia Tenggara dan hubungan antar konsep dalam islamisasi budaya lokal seperti kosmopolitanisme, sinkretisme, dan teologi Māturīdi.]
作为最早的穆斯林和第一个将伊斯兰教引入东南亚的人,大雅社区在该地区保留和传播Ash 'arite神学院方面继续发挥着重要作用。阿什阿里特神学是东南亚伊斯兰研究领域的一个主要研究领域。然而,Māturīdite卡拉姆的教义很少受到关注,特别是它对许多学者的地方神学的影响。为了进一步弘扬纳萨非对东南亚神学的建构,本文试图通过分析大雅的课程内容,解释Māturīdite乌里玛的知识网络,并通过采访几位关于伊斯兰神学问题的关键消息人士,阐明Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah共识的作用,来揭示Māturīdi在东南亚穆斯林中的意义。我通过论证Māturīdite卡拉姆对当地神学有相当大的影响来撰写本文,例如,坚持上帝属性的合理性,并依靠电影曼提克方法为人类自由辩护。本文对推进东南亚穆斯林神学及其与本土文化伊斯兰化概念的关系研究有重要贡献;比如世界主义和融合主义的概念,以及在东南亚发现Māturīdi’s kalam。亚齐大雅,亚洲伊斯兰教机构,腾加拉,亚洲伊斯兰教机构,亚洲伊斯兰教机构,亚洲伊斯兰教机构,亚洲伊斯兰教机构,亚洲伊斯兰教机构,亚洲伊斯兰教机构。Mazhab ini juga dominan dalam kajian Islam di Asia Tenggara。pengaran ilmu kalam Māturīdiah, meski mendapat porsi sedikit, padadkhususnya berpengaruh padteologi para ulama setemat。Artikel ini bertujuan untuk menggali signifikasi Māturīdiah dikalangan muslim Asia Tenggara melalui分析materi kurikulum pengajaran di dayah, pemetaan jaringan ulama Māturīdiah dan mengurai peran consensus para Aswaja。Dengan wawancara beberapa tokoh kunci dayah di Aceh, tuisan ini menunjukkan bahwa ilmu kalam Māturīdiah berpengaruh padadologologii地方分离;dukungan siionalitas dalam mengenal Tuhan dan mempertimbangkan方法ilmu mantiq dalam pembenaran kebebasan manusia。[中文][Artikel ini mempunyai kontribusi penting dalam kajian teologi Islam di Asia .]
{"title":"Māturīdite Kalam among Southeast Asian Ash`Arite: A Synthesis of Māturīdite Influences on Dayah’s Theology","authors":"Saifuddin Dhuhri, Tarmizi M. Jakfar","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.391-418","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.391-418","url":null,"abstract":"As the earliest Muslims and first known who introduced Islam in Southeast Asia, Dayah community has continuingly played a great role in retaining and spreading the Ash`arite school of theology in the region. Ash`arite theology is a major area of interest within the field of Islamic studies in Southeast Asia. The teachings of Māturīdite kalam have, however, received little attention, in particular its impact on local theology from many scholars. Furthering the legacy of Nasafi’s construction of Southeast Asian theology, this paper is an attempt to unearth Māturīdi’s significance among Southeast Asian Muslims by analyzing the content of dayah’s curriculum, explaining the intellectual network of Māturīdite ulema, and explicating the role of Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah consensus along with interviewing several key informants on the issues of Islamic theology. I craft this paper by arguing that Māturīdite kalam has considerable impacts on local theology, e.g., upholding rationality on God’s attributes, and relying on ilm mantiq method in justifying human freedom. This paper has great contributions in advancing the study of Southeast Asian Muslim theology and its relation to the concept of Islamisation of indigenous culture; like the concepts of cosmopolitanism and syncretism, and the finding of Māturīdi’s kalam in Southeast Asia. [Dayah di Aceh, institusi yang paling awal mengenalkan Islam di Asia Tenggara, hingga saat ini masih merupakan aktor yang berperan penting dalam mempertahankan dan menyebarkan mazhab Ash’ariyah di kawasan ini. Mazhab ini juga dominan dalam kajian Islam di Asia Tenggara. Pengajaran ilmu kalam Māturīdiah, meski mendapat porsi sedikit, pada khususnya berpengaruh pada teologi para ulama setempat. Artikel ini bertujuan untuk menggali signifikasi Māturīdiah dikalangan muslim Asia Tenggara melalui analisis materi kurikulum pengajaran di dayah, pemetaan jaringan ulama Māturīdiah dan mengurai peran konsensus para Aswaja. Dengan wawancara beberapa tokoh kunci dayah di Aceh, tulisan ini menunjukkan bahwa ilmu kalam Māturīdiah berpengaruh pada teologi lokal seperti; dukungan rasionalitas dalam mengenal Tuhan dan mempertimbangkan metode ilmu mantiq dalam pembenaran kebebasan manusia. Artikel ini mempunyai kontribusi penting dalam kajian teologi Islam di Asia Tenggara dan hubungan antar konsep dalam islamisasi budaya lokal seperti kosmopolitanisme, sinkretisme, dan teologi Māturīdi.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"63 1","pages":"391-418"},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89227726","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-31DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.419-450
Saiful Mujani, Syarif Hidayatullah, terhadap perilaku memilih, sejauh ini juga, tidak banyak, terlihat karena, belum teruji secara sistematik, Pemilihan gubernur Dki
In voting behavior studies, the effect of religion on partisan choice relative to psychological factors and political economy has not been conclusively determined. In Indonesian politics, religion has frequently been understood as a typology of Muslim religiosity, i.e. santri versus abangan , or orthodox versus heterodox Muslim. This conception does not significantly predict election outcomes. The effect of religious identity, i.e. Islam versus other religion, on voting is not discernable so far because it has not been systematically tested. The 2017 Jakarta gubernatorial election is a rare instance in which the contestants have different religious identities in an almost homogenous society. This setting is ideal. This essay reports the results of a test from public opinion surveys prior to and an exit poll on election day. The result verified that religion explains very significantly how the Muslim candidate won. Political economy and partisanship, however, save the incumbent from a big loss. These findings have more systematically revised the existing comparative and Indonesian literature on the relationship between religion and voting behavior. [Dalam studi perilaku memilih, perbandingan pengaruh agama, faktor psikologis, maupun ekonomi politik, terhadap pilihan partai atau calon dalam pemilihan umum belum konklusif. Dalam politik Indonesia, agama sering difahami dalam tipologi keberagamaan santri versus abangan , atau Muslim puritan versus Muslim sinkretis. Konsepsi agama ini tidak punya pengaruh signifikan terhadap perilaku memilih dalam pemilihan umum sejauh ini. Sementara itu pengaruh identitas agama, yakni Islam versus agama lainnya, terhadap perilaku memilih sejauh ini juga tidak banyak terlihat karena belum teruji secara sistematik. Pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 adalah contoh kasus langka di Indonesia di mana calon-calon gubernurnya punya identitas agama berbeda sementara pemilihnya hampir homogen dilihat dari identitas agamanya. Keadaan ini ideal untuk menguji pengaruh identitas agama terhadap perilaku memilih. Artikel ini merupakan laporan hasil uji perbandingan pengaruh identitas agama, faktor psikologis, dan ekonomi-politik pada perilaku memilih gubernur, dan bersandar pada data survei opini publik sebelum dan di hari pemilihan. Hasilnya membuktikan bahwa identitas agama sangat mempengaruhi bagimana calon gubernur beragama Islam menang dalam pemilihan tersebut. Namun demikian, pengaruh ekonomi-politik dan identitas kepartaian menolong petahana yang non-Muslim dari kekalahan telak. Temuan-temuan ini merevisi referensi studi politik perbandingan dan Indonesia terkait hubungan agama dan perilaku memilih.]
在投票行为研究中,相对于心理因素和政治经济因素,宗教对党派选择的影响尚未得到最终确定。在印尼政治中,宗教经常被理解为穆斯林宗教的一种类型,即santri与abangan,或正统穆斯林与非正统穆斯林。这一概念并不能显著预测选举结果。宗教认同,即伊斯兰教与其他宗教,对投票的影响到目前为止还无法辨别,因为它还没有经过系统的检验。2017年雅加达省长选举是一个罕见的例子,在一个几乎同质的社会中,候选人有不同的宗教身份。这个环境很理想。这篇文章报道了选举前的民意调查和选举当天的出口调查的测试结果。结果证实,宗教在很大程度上解释了穆斯林候选人获胜的原因。然而,政治经济和党派之争使现任总统免于遭受重大损失。这些发现更系统地修正了现有的关于宗教与投票行为之间关系的比较文献和印度尼西亚文献。[Dalam studi peraku memilih, perbandingan pengaruh agama, factor psychology, maupun经济政治,terhadap pilihan partai atau calon Dalam pemilihan umum belum konklusif]。印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治,印尼的皿煮政治。Konsepsi agama ini tidak punya pengaruh signfikan terhadap peraku memilih dalam pemilihan umum sejauh ini。Sementara itu pengaruh identitas agama, yakni Islam与agama lainnya, terhadap peraku memilih sejauh ini juga tidak banyak terlihat karena belum teruji secara sistematik。Pemilihan gubernurr DKI雅加达2017 adalah contoh kasus langka di mana calon-calon gubernurnya punya identitas agama berbeda sementara pemilihnya hampir homogen dililihat dari identitas agamanya。Keadaan是一种理想的动物,它是一种理想的动物,它是一种危险的动物。Artikel ini merupakan laporan hasil uji perbandingan和pengararu身份识别,心理学因素,经济-政治因素,危险因素,地方官员,数据调查,民意调查,公众意见,sebelum和dihari pemilihan。Hasilnya membuktikan bahwa identitas agama sangat mempengaruhi bagimana calon gubernur beragama Islam menang dalam pemilihan tersebut。Namun demikian, pengaruh经济政治dan identias kepartan menonong petahana yang非穆斯林dari kekalahan telak。[题意][题意][题意].印尼政治发展的参考研究[j]。
{"title":"Religion and Voting Behavior: Evidence from the 2017 Jakarta Gubernatorial Election","authors":"Saiful Mujani, Syarif Hidayatullah, terhadap perilaku memilih, sejauh ini juga, tidak banyak, terlihat karena, belum teruji secara sistematik, Pemilihan gubernur Dki","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.419-450","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.419-450","url":null,"abstract":"In voting behavior studies, the effect of religion on partisan choice relative to psychological factors and political economy has not been conclusively determined. In Indonesian politics, religion has frequently been understood as a typology of Muslim religiosity, i.e. santri versus abangan , or orthodox versus heterodox Muslim. This conception does not significantly predict election outcomes. The effect of religious identity, i.e. Islam versus other religion, on voting is not discernable so far because it has not been systematically tested. The 2017 Jakarta gubernatorial election is a rare instance in which the contestants have different religious identities in an almost homogenous society. This setting is ideal. This essay reports the results of a test from public opinion surveys prior to and an exit poll on election day. The result verified that religion explains very significantly how the Muslim candidate won. Political economy and partisanship, however, save the incumbent from a big loss. These findings have more systematically revised the existing comparative and Indonesian literature on the relationship between religion and voting behavior. [Dalam studi perilaku memilih, perbandingan pengaruh agama, faktor psikologis, maupun ekonomi politik, terhadap pilihan partai atau calon dalam pemilihan umum belum konklusif. Dalam politik Indonesia, agama sering difahami dalam tipologi keberagamaan santri versus abangan , atau Muslim puritan versus Muslim sinkretis. Konsepsi agama ini tidak punya pengaruh signifikan terhadap perilaku memilih dalam pemilihan umum sejauh ini. Sementara itu pengaruh identitas agama, yakni Islam versus agama lainnya, terhadap perilaku memilih sejauh ini juga tidak banyak terlihat karena belum teruji secara sistematik. Pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 adalah contoh kasus langka di Indonesia di mana calon-calon gubernurnya punya identitas agama berbeda sementara pemilihnya hampir homogen dilihat dari identitas agamanya. Keadaan ini ideal untuk menguji pengaruh identitas agama terhadap perilaku memilih. Artikel ini merupakan laporan hasil uji perbandingan pengaruh identitas agama, faktor psikologis, dan ekonomi-politik pada perilaku memilih gubernur, dan bersandar pada data survei opini publik sebelum dan di hari pemilihan. Hasilnya membuktikan bahwa identitas agama sangat mempengaruhi bagimana calon gubernur beragama Islam menang dalam pemilihan tersebut. Namun demikian, pengaruh ekonomi-politik dan identitas kepartaian menolong petahana yang non-Muslim dari kekalahan telak. Temuan-temuan ini merevisi referensi studi politik perbandingan dan Indonesia terkait hubungan agama dan perilaku memilih.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"40 1","pages":"419-450"},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81361599","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-25DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.355-390
Siti Syamsiyatun
Indonesians have witnessed the rise and fall of women organizations, at both micro and macro levels. In 1928, there were at least thirty women’s organizations from various religious and regional backgrounds, and working on various issues, succeeded in holding the first Indonesian Women’s Congress. But a century later there were only three organizations that survived, one of them is ‘Aisyiyah. This current paper aims at exploring factors that contribute to the survival of the organization from a perspective of conflict resolution; it investigates what strategies they use to address intra and inter-organizational conflicts, by employing a qualitative analytical approach by way of the case study. The data were collected through interviews and documentation. From studying several cases of organizational conflicts encountered by ‘Aisyiyah at different times it is found that the organization constantly encounters intra and inter-organizational conflicts. It applies various strategies to deal with them in accordance with the situation and necessity. What is pivotal is ‘Aisyiyah’s willingness to explore possibilities to find win-win solutions, such as silence, inaction, negotiation, mediation to conflict transformation, to find islah ways. However, when foundational values are at stake, ‘Aisyiyah would not be reluctant to contend and use the strategy of threat.[Bangsa Indonesia telah menjadi saksi bermunculan dan berjatuhannya organisasi perempuan, baik tingkat nasional maupun lokal. Di tahun 1928 terdapat kurang lebih 30 organisasi perempuan yang terlibat aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama. Namun seabad kemudian hanya tersisa tiga organisasi yang bertahan, salah satunya 'Aisyiyah. Dengan pendekatan resolusi konflik, artikel ini menjelaskan faktor dan strategi pendukung untuk bertahan menghadapi ketegangan internal dan eksternal organisasi. Data yang dikumpulkan melalui wawancara dan studi arsip menunjukkan bahwa 'Aisyiyah dalam beberapa periode yang berbeda telah menghadapi persoalan di dalam dan antar organisasi yang mana membutuhkan strategi yang tepat dalam penyelesaiannya. Terpenting bagi 'Aisyiyah adalah usaha mencari solusi yang sama-sama menguntungkan menuju jalan damai seperti mendiamkan, negosiasi, mediasi hingga transformasi konflik. Namun jika nilai-nilai dasar organisasi menjadi taruhan, 'Aisyiyah tentu tak segan mengambil langkah tegas].
{"title":"Conflicts and Islah Strategy of Muslim Women Organization: Case Study of ‘Aisyiyah in Intra and Inter-Organizational Divergence","authors":"Siti Syamsiyatun","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.355-390","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.355-390","url":null,"abstract":"Indonesians have witnessed the rise and fall of women organizations, at both micro and macro levels. In 1928, there were at least thirty women’s organizations from various religious and regional backgrounds, and working on various issues, succeeded in holding the first Indonesian Women’s Congress. But a century later there were only three organizations that survived, one of them is ‘Aisyiyah. This current paper aims at exploring factors that contribute to the survival of the organization from a perspective of conflict resolution; it investigates what strategies they use to address intra and inter-organizational conflicts, by employing a qualitative analytical approach by way of the case study. The data were collected through interviews and documentation. From studying several cases of organizational conflicts encountered by ‘Aisyiyah at different times it is found that the organization constantly encounters intra and inter-organizational conflicts. It applies various strategies to deal with them in accordance with the situation and necessity. What is pivotal is ‘Aisyiyah’s willingness to explore possibilities to find win-win solutions, such as silence, inaction, negotiation, mediation to conflict transformation, to find islah ways. However, when foundational values are at stake, ‘Aisyiyah would not be reluctant to contend and use the strategy of threat.[Bangsa Indonesia telah menjadi saksi bermunculan dan berjatuhannya organisasi perempuan, baik tingkat nasional maupun lokal. Di tahun 1928 terdapat kurang lebih 30 organisasi perempuan yang terlibat aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama. Namun seabad kemudian hanya tersisa tiga organisasi yang bertahan, salah satunya 'Aisyiyah. Dengan pendekatan resolusi konflik, artikel ini menjelaskan faktor dan strategi pendukung untuk bertahan menghadapi ketegangan internal dan eksternal organisasi. Data yang dikumpulkan melalui wawancara dan studi arsip menunjukkan bahwa 'Aisyiyah dalam beberapa periode yang berbeda telah menghadapi persoalan di dalam dan antar organisasi yang mana membutuhkan strategi yang tepat dalam penyelesaiannya. Terpenting bagi 'Aisyiyah adalah usaha mencari solusi yang sama-sama menguntungkan menuju jalan damai seperti mendiamkan, negosiasi, mediasi hingga transformasi konflik. Namun jika nilai-nilai dasar organisasi menjadi taruhan, 'Aisyiyah tentu tak segan mengambil langkah tegas].","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-12-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42924801","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-20DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.323-354
Iswandi Syahputra
This article discusses the perspective of the Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia – MUI) regarding social media activities and the 212 Movement, referring to the Aksi Bela Islam (Action to Defend Islam) in Jakarta. MUI’s perspective is of utmost importance as MUI is seen as playing an important role in triggering the 212 Movement, which was carried out as a protest against the perceived religious blasphemy committed by the Jakarta Special Capital Region Governor at the time, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). MUI’s fatwa on Ahok subsequently led to a disagreement in defending religion or defending the state, and it had been openly and unrestrictedly debated among netizens on social media. Social media activities (chiefly Twitter) relating to this case had positioned MUI’s fatwa in numerous discussions that were littered with various expressions of hatred. This article aims to contribute a novel understanding pertaining to the relations between religion, ulema, fatwa, and social media activities. [Artikel ini membahas perspektif MUI terhadap aktifitas social media yang terkait dengan Aksi Bela Islam 212 di Jakarta. Pembahasan ini penting karena MUI dianggap berperan penting dalam memicu gerakan Aksi Bela Islam, yang merupakan protes terhadap Ahok karena dianggap telah melakukan penodaan agama. Fatwa MUI tersebut berakibat pada ketidaksetujuan dalam membela agama atau membela negara dan secara terbuka dan tidak terbatas memunculkan debat netizen di media sosial (utamanya Twitter), serta menjadi bahan diskusi yang mengarah pada ekspresi kebencian. Artikel ini juga menawarkan sebuah pemahaman baru terkait hubungan antara agama, ulama, fatwa dan aktivitas dalam media sosial.]
本文讨论印尼乌里玛理事会(Majelis Ulama Indonesia - MUI)对社交媒体活动和212运动的看法,提及雅加达的Aksi Bela Islam(捍卫伊斯兰行动)。MUI的观点至关重要,因为MUI被视为在引发212运动中发挥了重要作用,该运动是为了抗议当时雅加达特别首都地区总督Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)所犯的宗教亵渎行为。MUI对Ahok的法特瓦随后导致了捍卫宗教或捍卫国家的分歧,并在社交媒体上公开和不受限制地在网民之间进行了讨论。与此案相关的社交媒体活动(主要是Twitter)将MUI的法特瓦置于众多讨论中,这些讨论充斥着各种仇恨的表达。本文旨在为宗教、乌里玛、法特瓦和社交媒体活动之间的关系提供一种新的理解。[Artikel ini成员的观点]MUI在社交媒体上的表现是,在雅加达,Aksi Bela Islam 212。Pembahasan ini郁积的林嘉欣梅dianggap berperan囚禁dalam memicu gerakan Aksi Bela伊斯兰教,杨merupakan prot terhadap Ahok林嘉欣dianggap telah melakukan penodaan蜥蜴。Fatwa MUI tersebut berakibat pada ketidaksetujuan dalam会员,agama会员,negara会员,secara会员,terbuka会员,terbatas memunculkan辩论网民,媒体社交(utamanya Twitter), serta menjadi bahan diskusi yang mengarah pada ekresi kebenian。[Artikel ini juga menawarkan sebuah pemahaman baru terkait hubungan antara agama, ulama, fatwa和aktivitas dalam媒体社交]
{"title":"Social Media Activities and the 212 Movement: The Indonesian Ulema Council’s Perspective","authors":"Iswandi Syahputra","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.323-354","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.323-354","url":null,"abstract":"This article discusses the perspective of the Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia – MUI) regarding social media activities and the 212 Movement, referring to the Aksi Bela Islam (Action to Defend Islam) in Jakarta. MUI’s perspective is of utmost importance as MUI is seen as playing an important role in triggering the 212 Movement, which was carried out as a protest against the perceived religious blasphemy committed by the Jakarta Special Capital Region Governor at the time, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). MUI’s fatwa on Ahok subsequently led to a disagreement in defending religion or defending the state, and it had been openly and unrestrictedly debated among netizens on social media. Social media activities (chiefly Twitter) relating to this case had positioned MUI’s fatwa in numerous discussions that were littered with various expressions of hatred. This article aims to contribute a novel understanding pertaining to the relations between religion, ulema, fatwa, and social media activities. [Artikel ini membahas perspektif MUI terhadap aktifitas social media yang terkait dengan Aksi Bela Islam 212 di Jakarta. Pembahasan ini penting karena MUI dianggap berperan penting dalam memicu gerakan Aksi Bela Islam, yang merupakan protes terhadap Ahok karena dianggap telah melakukan penodaan agama. Fatwa MUI tersebut berakibat pada ketidaksetujuan dalam membela agama atau membela negara dan secara terbuka dan tidak terbatas memunculkan debat netizen di media sosial (utamanya Twitter), serta menjadi bahan diskusi yang mengarah pada ekspresi kebencian. Artikel ini juga menawarkan sebuah pemahaman baru terkait hubungan antara agama, ulama, fatwa dan aktivitas dalam media sosial.] ","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-12-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48635815","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-07DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.293-322
Bahiyah Ahmad, Raihanah Azahari, A. Rahman, Mazni Abdul Wahab
Shariah mandates the criteria of kifāyah and ma’rūf in assessing maintenance for wives and children; however, these criteria currently require assesment and evaluation as maintenance is mostly influenced by society’s practices and by socioeconomic status. Consequently, Malaysia’s Islamic Family Law (Federal Territory) Act 1984 presribes that the maintenance assesment for wives and children must be based on the means (ma’rūf) and needs (kifāyah) of the parties. However, this provision is too general and there is no clear explanation of what constitutes these criteria for the parties. This provision has troubled some parties as it leaves the determination of the maintenance rate to a judge’s discretion regarding both criteria. This study, with a methodology of content analysis and in-depth interviews, determines an assessment formula for both criteria in assessing child maintenance. Hukum Islam mensyaratkan dua kriteria dalam pemberian nafkah istri dan anak yaitu kifāyah dan ma’rūf. Namun kriteria tersebut saat ini perlu ditinjau dan evaluasi lagi sesuai dengan praktik masyarakat serta keadaan social ekonomi saat ini. Seperti yang terdapat dalam hukum perundangan keluarga Islam Malaysia tahun 1984 yang menyatakan bahwa ma’rūf dan kifāyah menjadi syarat utama pemberian nafkah istri dan anak. Bagaimanapun penjelasan kriteria tersebut masih terlalu umum dan kurang jelas. Hal ini juga menyisakan beberapa persoalan akibat keputusan pengadilan yang mendasarkan pada kedua kriteria tersebut. Dengan menggunakan pendekatan analisis isi dan wawancara mendalam, kajian ini menguatkan penilaian kedua kriteria tersebut.
伊斯兰教法规定了kifāyah和ma 'rūf的标准来评估妻子和孩子的赡养费;然而,这些标准目前需要评估和评价,因为维护主要受社会实践和社会经济地位的影响。因此,马来西亚《1984年伊斯兰家庭法(联邦领土)法》规定,对妻子和子女的赡养费评估必须以双方的经济能力(ma 'rūf)和需要(kifāyah)为基础。但是,这项规定过于笼统,没有明确说明对当事方来说这些标准是什么。这一规定使一些当事人感到困扰,因为它将赡养费率的确定留给法官对这两项标准的自由裁量权。本研究采用内容分析和深度访谈的方法,确定了评估儿童抚养的两个标准的评估公式。胡库姆伊斯兰教mensyaratkan dukriteria dalam pemberian nafkah istri dan yitu kifāyah dan ma 'rūf。对社会经济发展和社会经济发展进行了评价,提出了社会经济发展和社会经济发展的标准。马来西亚伊斯兰教,1984年马来西亚伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教,伊斯兰教Bagaimanapun penjelasan标准tersebut masih teralu umum dan kurang jelas。哈尔尼juga menyisakan beberapa个人,akibat keputusan pengadilan yang mendasarkan pada kedua kriteria teresbut。登安孟古纳坎彭德克坦分析是丹瓦万拉孟德克坦,喀吉安孟古纳坎彭德克坦标准是terbut。
{"title":"Assessing the Rate of Child Maintenance (Financial Support) from a Shariah Perspective: the Case of Malaysia","authors":"Bahiyah Ahmad, Raihanah Azahari, A. Rahman, Mazni Abdul Wahab","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.293-322","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.293-322","url":null,"abstract":"Shariah mandates the criteria of kifāyah and ma’rūf in assessing maintenance for wives and children; however, these criteria currently require assesment and evaluation as maintenance is mostly influenced by society’s practices and by socioeconomic status. Consequently, Malaysia’s Islamic Family Law (Federal Territory) Act 1984 presribes that the maintenance assesment for wives and children must be based on the means (ma’rūf) and needs (kifāyah) of the parties. However, this provision is too general and there is no clear explanation of what constitutes these criteria for the parties. This provision has troubled some parties as it leaves the determination of the maintenance rate to a judge’s discretion regarding both criteria. This study, with a methodology of content analysis and in-depth interviews, determines an assessment formula for both criteria in assessing child maintenance. Hukum Islam mensyaratkan dua kriteria dalam pemberian nafkah istri dan anak yaitu kifāyah dan ma’rūf. Namun kriteria tersebut saat ini perlu ditinjau dan evaluasi lagi sesuai dengan praktik masyarakat serta keadaan social ekonomi saat ini. Seperti yang terdapat dalam hukum perundangan keluarga Islam Malaysia tahun 1984 yang menyatakan bahwa ma’rūf dan kifāyah menjadi syarat utama pemberian nafkah istri dan anak. Bagaimanapun penjelasan kriteria tersebut masih terlalu umum dan kurang jelas. Hal ini juga menyisakan beberapa persoalan akibat keputusan pengadilan yang mendasarkan pada kedua kriteria tersebut. Dengan menggunakan pendekatan analisis isi dan wawancara mendalam, kajian ini menguatkan penilaian kedua kriteria tersebut.","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"11 1","pages":"293-322"},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-12-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"72700632","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-09-03DOI: 10.14421/ajis.2020.581.209-240
Siti Ruhaini Dzuhayatin
The Struggle for achieving gender equality has been undertaken in the international and national levels through the commitment of the United Nation (UN) on 30% women quota in politics and public positions. In reality, women are far lag behind due to the so-called ‘gender glass ceiling, a metaphor of ‘invisible barriers refer to ‘glass’ through which women can see higher positions but cannot reach them which is insinuated with ‘ceiling’. The root-causes are deeply rooted in cultural values and social practices whereby patriarchy and religion are dialectically amalgamated. Unless there is a theological breakthrough to a women-friendly interpretations, glass ceiling is unbreakable. This paper aims at examining the extend to which Islamic sholars, especially women in Islamic higher education in Indonesia, contribute to dismatling patriachal biases from religious traditions upholding the glass-ceiling. Before observing the initiatives taken to break the glass ceiling, the paper discusses the phenomenon of manifestation of the existence of the gender glass ceiling and the roots of why the ceiling has been so far upheld. The study reveals that there is a positive correlation between the rising theological discourses voiced by women religious scholars and the vertical mobility of women in public positions as the pathway by then the gender glass ceiling is broken. [Perjuangan kesetaraan gender dilakukan di tingkat internasional maupun nasional dengan komitmen Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kuota 30% bagi perempuan dalam politik dan publik. Pada kenyatannya, perempuan masih tertinggal jauh karena rintangan yang disebut ‘atap kaca’, suatu perumpamaan hambatan yang tidak seperti kaca, perempuan dapat melihat posisi lebih tinggi tetapi sulit menembusnya. Akar masalahnya ada pada nilai budaya dan praktik sosial dan teologi berkelindan. Tanpa ada terobosan teologis yang ramah perempuan, fenomena ‘atap kaca’ sulit dipecahkan. Studi ini menganalisis sejauh manakah kontribusi para intelektual Islam, terutama perempuan di perguruan tinggi Islam di Indonesia mampu menggeser bias dalam tradisi agama yang menguatkan ‘atap kaca’. Sebelum mengkaji upaya-upaya yang dilakukan untuk menggeser atau meruntuhkan atap kaca bias jender, tulisan ini mendiskusikan terlebih dahulu bentuk-bentuk manifestasi keberadaan atau berdirinya atap kaca bias jender dan akar atap tersebut. Dalam studi ini ditemukan korelasi positif antara meningkatnya diskursus teologis yang disuarakan perempuan dan meningkatnya mobilitas vertikal perempuan pada posisi publik yang diharapkan dapat memecahkan atap kaca gender tersebut.]
通过联合国关于妇女在政治和公共职位上占30%的配额的承诺,实现性别平等的斗争已经在国际和国家层面进行。在现实中,由于所谓的“性别玻璃天花板”,女性远远落后,“无形障碍”的隐喻是女性可以看到更高的职位,但却无法到达,这是“天花板”的暗示。其根源在于父权与宗教辩证融合的文化价值观念和社会实践。除非在神学上有突破,对女性友好的解释,否则玻璃天花板是牢不可破的。本文旨在研究伊斯兰学者,特别是印度尼西亚接受伊斯兰高等教育的妇女,在多大程度上助长了宗教传统中维护玻璃天花板的令人沮丧的父权偏见。在观察打破玻璃天花板的举措之前,本文讨论了性别玻璃天花板存在的表现现象以及天花板迄今为止被维持的根源。研究发现,女性宗教学者所表达的神学话语与女性在公共职位上的垂直流动性之间存在正相关关系,因为女性在公共职位上的垂直流动性是打破性别玻璃天花板的途径。[Perjuangan kesetaraan gender dilakukan di tingkat international maupun national dengan komitmen] Perjuangan Bangsa-Bangsa tentang kuota 30%是perempuan dalam politik dan public。Pada kenyatannya, perempuan masih tertinggal jauh karena runtian and yang disebut ' atap kaca ', suatu perumpamaan hambatan yang tidak seperti kaca, perempuan dapat melithat possible lebih tinggi tetapi sulit menembusnya。Akar masalahnya ada ada nilai budaya dan praktik social dan technology伯克利。Tanpa ada terobosan technologiy yang ramah perempuan,现象' atap kaca ' suit dipecahkan。研究伊斯兰教的知识分子,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语。我的意思是,我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思是我的意思。[j] [Dalam studi i ditemukan korelaspositiff antara meningkatnya diskursus teologi yang disuarakan perempuan and meningkatnya mobilitas vertical perempuan pposisi publick yang diharapkan dapat memecahkan atap kaca gender tersej]。
{"title":"Gender Glass Ceiling in Indonesia: Manifestation, Roots, and Theological Breakthrough","authors":"Siti Ruhaini Dzuhayatin","doi":"10.14421/ajis.2020.581.209-240","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/ajis.2020.581.209-240","url":null,"abstract":"The Struggle for achieving gender equality has been undertaken in the international and national levels through the commitment of the United Nation (UN) on 30% women quota in politics and public positions. In reality, women are far lag behind due to the so-called ‘gender glass ceiling, a metaphor of ‘invisible barriers refer to ‘glass’ through which women can see higher positions but cannot reach them which is insinuated with ‘ceiling’. The root-causes are deeply rooted in cultural values and social practices whereby patriarchy and religion are dialectically amalgamated. Unless there is a theological breakthrough to a women-friendly interpretations, glass ceiling is unbreakable. This paper aims at examining the extend to which Islamic sholars, especially women in Islamic higher education in Indonesia, contribute to dismatling patriachal biases from religious traditions upholding the glass-ceiling. Before observing the initiatives taken to break the glass ceiling, the paper discusses the phenomenon of manifestation of the existence of the gender glass ceiling and the roots of why the ceiling has been so far upheld. The study reveals that there is a positive correlation between the rising theological discourses voiced by women religious scholars and the vertical mobility of women in public positions as the pathway by then the gender glass ceiling is broken. [Perjuangan kesetaraan gender dilakukan di tingkat internasional maupun nasional dengan komitmen Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kuota 30% bagi perempuan dalam politik dan publik. Pada kenyatannya, perempuan masih tertinggal jauh karena rintangan yang disebut ‘atap kaca’, suatu perumpamaan hambatan yang tidak seperti kaca, perempuan dapat melihat posisi lebih tinggi tetapi sulit menembusnya. Akar masalahnya ada pada nilai budaya dan praktik sosial dan teologi berkelindan. Tanpa ada terobosan teologis yang ramah perempuan, fenomena ‘atap kaca’ sulit dipecahkan. Studi ini menganalisis sejauh manakah kontribusi para intelektual Islam, terutama perempuan di perguruan tinggi Islam di Indonesia mampu menggeser bias dalam tradisi agama yang menguatkan ‘atap kaca’. Sebelum mengkaji upaya-upaya yang dilakukan untuk menggeser atau meruntuhkan atap kaca bias jender, tulisan ini mendiskusikan terlebih dahulu bentuk-bentuk manifestasi keberadaan atau berdirinya atap kaca bias jender dan akar atap tersebut. Dalam studi ini ditemukan korelasi positif antara meningkatnya diskursus teologis yang disuarakan perempuan dan meningkatnya mobilitas vertikal perempuan pada posisi publik yang diharapkan dapat memecahkan atap kaca gender tersebut.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"20 4 1","pages":"209-240"},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-09-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"78666039","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-07-31DOI: 10.14421/ajis.2020.581.171-208
Agus Moh Najib
The notion of Indonesian madhhab (school of Islamic law) is usually considered to have stopped with Hasbi and Hazairin. On the contrary, The notion of Indonesian madhhab has continued to grow and develop. Even though it has a variety of styles and trends, all of the notions of Indonesian madhhab have the same characteristics that are both contextual and formal. In addition to trying to formulate Islamic law in accordance with the context of Indonesian society, it also seeks to apply the results into statutory regulationswith formal applications. With such characteristics, the Indonesian madhhab places ‘urf (customs and community context) in a very important position as the main consideration in establishing Islamic law. Methodologically, to produce Islamic law in accordance with the Indonesian context, the Qur`anic text and the Hadith of the Prophet dialogue with Indonesian ‘urf. By using a historical approach to Islamic legal thinking, this article discusses the development of the ‘urf concept as put forward by the thinkers of Indonesian madhhab, since its emergence until now, and then discusses the influence of the notion of Indonesian madhhab regarding ‘urf in the legal products related to Islamic law in Indonesia. Following that scheme, this study found that the notion of Indonesian madhhab continues to develop along with the development of scholarly thinking about ‘urf from its thinkers. [Pemikiran tentang mazhab Indonesia biasanya dianggap telah berhenti sampai Hasbi dan Hazairin. Namun sebenarnya, pemikiran mazhab Indonesia tersebut terus mengalami perkembangan sampai dengan sekarang. Walaupun memiliki berbagai macam corak dan kecenderungan, namun semua pemikiran mazhab Indonesia tersebut memiliki karakteristik yang sama, yaitu bersifat kontekstual dan formal. Pemikiran mazhab Indonesia disamping berupaya memformulasikan hukum Islam sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia, juga berusaha untuk menjadikan hasil formulasinya tersebut sebagai aturan perundang-undangan yang berlaku secara formal. Dengan karakteristiknya yang semacam itu, mazhab Indonesia menempatkan ‘urf (adat dan konteks masyarakat) pada posisi yang sangat penting sebagai dasar pertimbangan utama dalam penetapan hukum Islam. Secara metodologis, untuk menghasilkan hukum Islam yang sesuai dengan konteks Indonesia, dalam pemikiran mazhab Indonesia, teks Qur`an dan Hadis Nabi didialogkan dengan ‘urf Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan sejarah terhadap pemikiran hukum Islam, artikel ini membahas perkembangan konsep ‘urf yang dikemukakan oleh para pemikir mazhab Indonesia, sejak mulai dicetuskannya hingga saat ini, kemudian dibahas juga pengaruh dari pemikiran mazhab Indonesia tentang ‘urf tersebut dalam produk aturan perundang-undangan yang terkait dengan hukum Islam di Indonesia. Dengan kajian tersebut, artikel ini menemukan bahwa pemikiran mazhab Indonesia terus berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran tentang ‘urf dari para tokohnya.]
印度尼西亚的madhhab(伊斯兰教法学派)的概念通常被认为止于Hasbi和Hazairin。相反,印度尼西亚的madhhab概念继续增长和发展。尽管它有各种各样的风格和趋势,但印度尼西亚madhhab的所有概念都具有相同的特征,即上下文和形式。除了试图根据印尼社会的背景制定伊斯兰法律外,它还寻求将结果应用于正式适用的法定法规。具有这样的特点,印尼的madhhab将urf(习俗和社区背景)作为制定伊斯兰法律的主要考虑因素放在非常重要的位置。在方法上,根据印度尼西亚的情况、《古兰经》文本和《先知圣训》编写伊斯兰法律,并与印度尼西亚的urf对话。本文通过对伊斯兰法律思想的历史研究,探讨了印尼伊斯兰教法思想者提出的“urf”概念自产生至今的发展过程,并探讨了印尼伊斯兰教法的“urf”概念在印尼伊斯兰教法相关法律产品中的影响。按照这一思路,本研究发现,印尼madhhab的概念随着其思想家对' urf '的学术思考的发展而继续发展。[Pemikiran tentang mazhab印度尼西亚biasanya dianggap telah berhenti sampai Hasbi dan Hazairin]。Namun sebenarnya, pemikiran mazhab印度尼西亚tersebut terus mengalami perkembangan sampai dengan sekarang。Walaupun memoriliki berbagai macam corak dan kecenderungan, namun semua pemikiran mazhab Indonesia tersebut memoriliki karakteristik yang sama, yitu bersifat kontekstual dan formal。印度尼西亚,juga berusaha untuk menjadikan hasil formulasinya tersebut sebagai aturan perundang-undangan yang berlaku secara formal。在印尼,我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子:我们有一个很好的例子。Secara methodology, untuk menghasilkan hukum Islam yang sesuai dengan konteks Indonesia, dalam pemikiran mazhab Indonesia, teks古兰经dan Hadis Nabi didialogkan dengan ' f Indonesia。印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚。[endan kajian tersebut, artikel ini menemukan bahwa pemikiran mazhab印度尼西亚terus berkembang seing Dengan perkembangan pemikiran tentang ' urf dari para tokohnya]
{"title":"Reestablishing Indonesian Madhhab: ‘Urf and the Contribution of Intellectualism","authors":"Agus Moh Najib","doi":"10.14421/ajis.2020.581.171-208","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/ajis.2020.581.171-208","url":null,"abstract":"The notion of Indonesian madhhab (school of Islamic law) is usually considered to have stopped with Hasbi and Hazairin. On the contrary, The notion of Indonesian madhhab has continued to grow and develop. Even though it has a variety of styles and trends, all of the notions of Indonesian madhhab have the same characteristics that are both contextual and formal. In addition to trying to formulate Islamic law in accordance with the context of Indonesian society, it also seeks to apply the results into statutory regulationswith formal applications. With such characteristics, the Indonesian madhhab places ‘urf (customs and community context) in a very important position as the main consideration in establishing Islamic law. Methodologically, to produce Islamic law in accordance with the Indonesian context, the Qur`anic text and the Hadith of the Prophet dialogue with Indonesian ‘urf. By using a historical approach to Islamic legal thinking, this article discusses the development of the ‘urf concept as put forward by the thinkers of Indonesian madhhab, since its emergence until now, and then discusses the influence of the notion of Indonesian madhhab regarding ‘urf in the legal products related to Islamic law in Indonesia. Following that scheme, this study found that the notion of Indonesian madhhab continues to develop along with the development of scholarly thinking about ‘urf from its thinkers. [Pemikiran tentang mazhab Indonesia biasanya dianggap telah berhenti sampai Hasbi dan Hazairin. Namun sebenarnya, pemikiran mazhab Indonesia tersebut terus mengalami perkembangan sampai dengan sekarang. Walaupun memiliki berbagai macam corak dan kecenderungan, namun semua pemikiran mazhab Indonesia tersebut memiliki karakteristik yang sama, yaitu bersifat kontekstual dan formal. Pemikiran mazhab Indonesia disamping berupaya memformulasikan hukum Islam sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia, juga berusaha untuk menjadikan hasil formulasinya tersebut sebagai aturan perundang-undangan yang berlaku secara formal. Dengan karakteristiknya yang semacam itu, mazhab Indonesia menempatkan ‘urf (adat dan konteks masyarakat) pada posisi yang sangat penting sebagai dasar pertimbangan utama dalam penetapan hukum Islam. Secara metodologis, untuk menghasilkan hukum Islam yang sesuai dengan konteks Indonesia, dalam pemikiran mazhab Indonesia, teks Qur`an dan Hadis Nabi didialogkan dengan ‘urf Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan sejarah terhadap pemikiran hukum Islam, artikel ini membahas perkembangan konsep ‘urf yang dikemukakan oleh para pemikir mazhab Indonesia, sejak mulai dicetuskannya hingga saat ini, kemudian dibahas juga pengaruh dari pemikiran mazhab Indonesia tentang ‘urf tersebut dalam produk aturan perundang-undangan yang terkait dengan hukum Islam di Indonesia. Dengan kajian tersebut, artikel ini menemukan bahwa pemikiran mazhab Indonesia terus berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran tentang ‘urf dari para tokohnya.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":"50 1","pages":"171-208"},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81462784","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-07-30DOI: 10.14421/AJIS.2020.582.241-292
N. Moosa
This paper is the second part of the two articles that discuss the controversy over the conversion of religion in the family of Shaykh Yusuf of Makassar after being exiled in South Africa during the Dutch colonial period at the end of the seventeenth century. This second part provides a critical and holistic analysis of the historical sources and historians’ initial arguments regarding the two families, Shaykh Yusuf and his in-laws. This paper also tries to review the main arguments of this paper so as not to get caught up in excessive demystification. In addition, it also discusses the implementation of the Dutch colonial policies as well as the issue of poverty and the practice of marriage policies that have contributed to settling this conversion problem.[Tulisan ini adalah bagian kedua dari dua tulisan yang membahas kontroversi pindah agama pada keluarga Syekh Yusus Makassar selepas diasingkan di Afrika Selatan pada masa kolonial Belanda akhir abad 17. Bagian kedua ini menyajikan analisis kritis dan holistik mengenai sumber-sumber sejarah dan argumen-argumen awal para sejarahwan mengenai dua keluarga tersebut. Tulisan ini juga mencoba meninjau kembali argumen utama dari tulisan ini agar tidak terjebak dalam demistikasi yang berlebihan. Selain itu juga membahas pelaksanaan kebijakan kolonial Belanda serta soal kemiskinan dan praktik kebijaksanaan pernikahan yang berkontribusi mengendapkan persoalan konversi ini.]
{"title":"Part Two: Debunking Prevailing Scholarly Views Pertaining to the Apostasy of Alleged Descendants of Shaykh Yusuf of Makassar","authors":"N. Moosa","doi":"10.14421/AJIS.2020.582.241-292","DOIUrl":"https://doi.org/10.14421/AJIS.2020.582.241-292","url":null,"abstract":"This paper is the second part of the two articles that discuss the controversy over the conversion of religion in the family of Shaykh Yusuf of Makassar after being exiled in South Africa during the Dutch colonial period at the end of the seventeenth century. This second part provides a critical and holistic analysis of the historical sources and historians’ initial arguments regarding the two families, Shaykh Yusuf and his in-laws. This paper also tries to review the main arguments of this paper so as not to get caught up in excessive demystification. In addition, it also discusses the implementation of the Dutch colonial policies as well as the issue of poverty and the practice of marriage policies that have contributed to settling this conversion problem.[Tulisan ini adalah bagian kedua dari dua tulisan yang membahas kontroversi pindah agama pada keluarga Syekh Yusus Makassar selepas diasingkan di Afrika Selatan pada masa kolonial Belanda akhir abad 17. Bagian kedua ini menyajikan analisis kritis dan holistik mengenai sumber-sumber sejarah dan argumen-argumen awal para sejarahwan mengenai dua keluarga tersebut. Tulisan ini juga mencoba meninjau kembali argumen utama dari tulisan ini agar tidak terjebak dalam demistikasi yang berlebihan. Selain itu juga membahas pelaksanaan kebijakan kolonial Belanda serta soal kemiskinan dan praktik kebijaksanaan pernikahan yang berkontribusi mengendapkan persoalan konversi ini.]","PeriodicalId":42231,"journal":{"name":"Al-Jamiah-Journal of Islamic Studies","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.3,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46067420","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}