Pub Date : 2022-02-11DOI: 10.26740/ujc.v11n1.p77-87
D. Maharani, Nur Lailiyah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan TiO2 dan SiO2 pada komposit kitosan-ZnO terhadap sifat hidrofobik kain melalui proses pelapisan kain. Data yang didapatkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Penambahan TiO2 dan SiO2 pada Kitosan-ZnO menggunakan metode sol-gel. Pelapisan Komposit pada kain menggunakan metode dip-coating dengan perbandingan volume TiO2:ZnO 1:1 dan SiO2:ZnO 1:1. Uji hidrofobisitas menggunakan metode WCA diperoleh sudut kontak kitosan-ZnO sebesar 101o, kitosan-TiO2/ZnO sebesar 142o dan kitosan-SiO2/ZnO sebesar 127o, selanjutnya dikarakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan adanya interaksi kitosan dan ZnO ditandai adanya peak pada daerah 430 cm-1; 1556 cm-1; 1397 cm-1; 1338 cm-1; 3242 cm-1; 1052 cm-1 dan 1019 cm-1. Terbentuknya Kitosan-ZnO/TiO2 dilihat dari pergeseran gelombang dan perubahan intensitas serapan Kitosan-ZnO pada peak 3242 cm-1 menjadi 3450 cm-1; 1556 cm-1 menjadi 1548 cm-1; 1397 dan 1338 cm-1 menjadi 1400 dan 1336 cm-1; 1052 dan 1019 cm-1 menjadi 1151 dan 1023 cm-1 juga peak baru pada 850 cm-1. Terbentuknya Kitosan-ZnO/SiO2 dilihat dari pergeseran gelombang dan perubahan intensitas serapan Kitosan-ZnO pada peak 3242 cm-1 menjadi 3257 cm-1; 1556 cm-1 menjadi 1589,34 cm-1; 1397 dan 1338 cm-1 menjadi 1401 dan 1342 cm-1; 1052 dan 1019 cm-1 menjadi 1066 dan 1020 cm-1 juga peak baru 938 cm-1. Kata Kunci : Komposit Kitosan-ZnO, TiO2, SiO2, Hidrofobik
{"title":"Pengaruh Penambahan SiO2 dan TiO2 terhadap Sifat Hidrofobik Komposit Kitosan- ZnO Pada Kain","authors":"D. Maharani, Nur Lailiyah","doi":"10.26740/ujc.v11n1.p77-87","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v11n1.p77-87","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan TiO2 dan SiO2 pada komposit kitosan-ZnO terhadap sifat hidrofobik kain melalui proses pelapisan kain. Data yang didapatkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Penambahan TiO2 dan SiO2 pada Kitosan-ZnO menggunakan metode sol-gel. Pelapisan Komposit pada kain menggunakan metode dip-coating dengan perbandingan volume TiO2:ZnO 1:1 dan SiO2:ZnO 1:1. Uji hidrofobisitas menggunakan metode WCA diperoleh sudut kontak kitosan-ZnO sebesar 101o, kitosan-TiO2/ZnO sebesar 142o dan kitosan-SiO2/ZnO sebesar 127o, selanjutnya dikarakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan adanya interaksi kitosan dan ZnO ditandai adanya peak pada daerah 430 cm-1; 1556 cm-1; 1397 cm-1; 1338 cm-1; 3242 cm-1; 1052 cm-1 dan 1019 cm-1. Terbentuknya Kitosan-ZnO/TiO2 dilihat dari pergeseran gelombang dan perubahan intensitas serapan Kitosan-ZnO pada peak 3242 cm-1 menjadi 3450 cm-1; 1556 cm-1 menjadi 1548 cm-1; 1397 dan 1338 cm-1 menjadi 1400 dan 1336 cm-1; 1052 dan 1019 cm-1 menjadi 1151 dan 1023 cm-1 juga peak baru pada 850 cm-1. Terbentuknya Kitosan-ZnO/SiO2 dilihat dari pergeseran gelombang dan perubahan intensitas serapan Kitosan-ZnO pada peak 3242 cm-1 menjadi 3257 cm-1; 1556 cm-1 menjadi 1589,34 cm-1; 1397 dan 1338 cm-1 menjadi 1401 dan 1342 cm-1; 1052 dan 1019 cm-1 menjadi 1066 dan 1020 cm-1 juga peak baru 938 cm-1. \u0000 \u0000Kata Kunci : Komposit Kitosan-ZnO, TiO2, SiO2, Hidrofobik","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46137905","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-11DOI: 10.26740/ujc.v11n1.p46-52
D. Maharani, Rizka Dwi Safitri
Kebutuhan makanan segar terus mengalami peningkatan. Makanan segar memiliki umur simpan yang pendek. Hal tersebut dapat diatasi dengan kemasan aktif yang mengandung zat antimikroba. Zeolit dimodifikasi dengan pertukaran ion dengan perak, dimana perak berperan sebagai bahan antimikroba. Penelitian ini bertujuan mempelajari perubahan sifat mekanik campuran PVA/kitosan dengan penambahan zeolit-Ag dibandingkan dengan tanpa penambahan zeolit-Ag. Variasi pada penelitian ini ialah penambahan zeolit-Ag pada komposit PVA/CS yaitu (0,025; 0,05; 0,1; 0,2)%. Film yang telah dibuat dianalisis dalam hal sifat mekanik, FTIR, dan mikrostruktur morfologi permukaan. Film komposit yang memiliki kandungan zeolit-Ag menunjukkan terjadinya peningkatan kekuatan tarik serta elastisitas, dimana zeolit terkonfirmasi dapat digunakan sebagai bahan penguat dalam matriks polimer. Film komposit dengan kandungan zeolit-Ag 0,025% memiliki nilai kekuatan tarik sebesar 46,534 MPa, karena zeolit-Ag dapat terdispersi secara homogen dalam matriks polimer. Analisis FTIR menunjukan hasil bahwa campuran PVA dan kitosan terbukti tercampur secara seragam. Analisis mikrostruktur morfologi menunjukkan hasil permukaan yang homogen, tidak terlihat munculnya agregat zeolit-Ag pada film PVA/CS, sedangkan pada film yang mengandung 0,025% zeolit-Ag terdapat permukaan heterogen dan munculnya bulatan hitam yang menunjukan adanya zeolit-Ag. Kata kunci: karakterisasi, film komposit, zeolit, perak
{"title":"KARAKTERISASI FILM PVA/KITOSAN/ZEOLIT TERSUBTITUSI ION Ag+ BERPOTENSI SEBAGAI KEMASAN AKTIF","authors":"D. Maharani, Rizka Dwi Safitri","doi":"10.26740/ujc.v11n1.p46-52","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v11n1.p46-52","url":null,"abstract":"Kebutuhan makanan segar terus mengalami peningkatan. Makanan segar memiliki umur simpan yang pendek. Hal tersebut dapat diatasi dengan kemasan aktif yang mengandung zat antimikroba. Zeolit dimodifikasi dengan pertukaran ion dengan perak, dimana perak berperan sebagai bahan antimikroba. Penelitian ini bertujuan mempelajari perubahan sifat mekanik campuran PVA/kitosan dengan penambahan zeolit-Ag dibandingkan dengan tanpa penambahan zeolit-Ag. Variasi pada penelitian ini ialah penambahan zeolit-Ag pada komposit PVA/CS yaitu (0,025; 0,05; 0,1; 0,2)%. Film yang telah dibuat dianalisis dalam hal sifat mekanik, FTIR, dan mikrostruktur morfologi permukaan. Film komposit yang memiliki kandungan zeolit-Ag menunjukkan terjadinya peningkatan kekuatan tarik serta elastisitas, dimana zeolit terkonfirmasi dapat digunakan sebagai bahan penguat dalam matriks polimer. Film komposit dengan kandungan zeolit-Ag 0,025% memiliki nilai kekuatan tarik sebesar 46,534 MPa, karena zeolit-Ag dapat terdispersi secara homogen dalam matriks polimer. Analisis FTIR menunjukan hasil bahwa campuran PVA dan kitosan terbukti tercampur secara seragam. Analisis mikrostruktur morfologi menunjukkan hasil permukaan yang homogen, tidak terlihat munculnya agregat zeolit-Ag pada film PVA/CS, sedangkan pada film yang mengandung 0,025% zeolit-Ag terdapat permukaan heterogen dan munculnya bulatan hitam yang menunjukan adanya zeolit-Ag. \u0000 \u0000Kata kunci: karakterisasi, film komposit, zeolit, perak","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45639339","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-11DOI: 10.26740/ujc.v11n1.p9-17
Leny Yuanita, Kelvin Rio K
Tujuan penelitian untuk mengetahui: 1) pengaruh suplementasi sirup umbi yakon terhadap kadar kalsium tulang tikus 2) korelasi jumlah total asam lemak rantai pendek (ALRP) terhadap kadar kalsium tulang tikus. Hewan coba yang digunakan adalah 36 ekor Rattus norvegicus, terbagi 3 kelompok perlakuan suplemen: 1) perlakuan air, 2) sirup umbi yakon, 3) FOS komersial. Perlakuan selama 48 hari, tulang femur digunakan sebagai sampel yang dianalisis kadar kalsium dengan metode destruksi. Instrumen yang digunakan adalah HPLC untuk uji kadar ALRP, GC uji kadar FOS, dan AAS uji kadar kalsium.. Analisis data melalui uji Anova satu jalur (α=0,05), Post Hoc LSD, dan korelasi product moment (α=0,05). Hasil analisis menunjukkan 1) Kenaikan hasil rata-rata kadar kalsium dari kelompok K(-) terhadap P1 sebesar 1,211 mg/mL dan uji statistik post hoc antara kelompok K(-) dan P1 (p>0,05) menunjukkan tidak adanya perbedaan secara signifikan suplementasi sirup umbi yakon terhadap kadar kalsium tulang tikus. 2) Analisis korelasi menunjukkan hasil koefisien korelasi sebesar r = 0,394 sehingga terdapat hubungan yang rendah antara jumlah total ALRP dengan kadar kalsium pada tulang femur hewan coba. Kata kunci: umbi yakon, FOS, kalsium, absorpsi
{"title":"PENGARUH PEMBERIAN SIRUP UMBI YAKON TERHADAP KADAR KALSIUM TULANG FEMUR TIKUS PUTIH (Rattus Norvegicus)","authors":"Leny Yuanita, Kelvin Rio K","doi":"10.26740/ujc.v11n1.p9-17","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v11n1.p9-17","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian untuk mengetahui: 1) pengaruh suplementasi sirup umbi yakon terhadap kadar kalsium tulang tikus 2) korelasi jumlah total asam lemak rantai pendek (ALRP) terhadap kadar kalsium tulang tikus. Hewan coba yang digunakan adalah 36 ekor Rattus norvegicus, terbagi 3 kelompok perlakuan suplemen: 1) perlakuan air, 2) sirup umbi yakon, 3) FOS komersial. Perlakuan selama 48 hari, tulang femur digunakan sebagai sampel yang dianalisis kadar kalsium dengan metode destruksi. Instrumen yang digunakan adalah HPLC untuk uji kadar ALRP, GC uji kadar FOS, dan AAS uji kadar kalsium.. Analisis data melalui uji Anova satu jalur (α=0,05), Post Hoc LSD, dan korelasi product moment (α=0,05). Hasil analisis menunjukkan 1) Kenaikan hasil rata-rata kadar kalsium dari kelompok K(-) terhadap P1 sebesar 1,211 mg/mL dan uji statistik post hoc antara kelompok K(-) dan P1 (p>0,05) menunjukkan tidak adanya perbedaan secara signifikan suplementasi sirup umbi yakon terhadap kadar kalsium tulang tikus. 2) Analisis korelasi menunjukkan hasil koefisien korelasi sebesar r = 0,394 sehingga terdapat hubungan yang rendah antara jumlah total ALRP dengan kadar kalsium pada tulang femur hewan coba. \u0000Kata kunci: umbi yakon, FOS, kalsium, absorpsi","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43706667","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-11DOI: 10.26740/ujc.v11n1.p18-25
Maria Monica Sianita, Magdalena Butar Butar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah crosslinker terhadap kemampuan adsorpsi Molecularly Imprinted Polymer (MIP)-Kloramfenikol (CAP) yang dianalisis menggunakan instrumen High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan mengidentifikasi gugus fungsional –NO2 pada polimer dengan variasi jumlah crosslinker terbaik menggunakaan instrumen Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Dalam penelitian ini, MIP disintesis dengan menggunakan CAP sebagai template, etilen glikol dimetakrilat (EGDMA) sebagai crosslinker, asam metakrilat (MAA) sebagai monomer, benzoil peroksida (BPO) sebagai inisiator, dan asetonitril sebagai porogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jumlah crosslinker mempengaruhi kemampuan adsorpsi MIP dengan komposisi antara CAP: MAA: EGDMA yaitu 1:3:18 menghasilkan kemampuan adsorpsi terbesar yakni 2,2 mg/g dengan persen ekstraksi sebesar 66,11%. Hasil identifikasi gugus fungsional dengan FTIR menunjukkan bahwa NIP terdapat gugus –NO2 pada bilangan gelombang 1524,27 cm-1 sedangkan pada MIP tidak terdeteksi gugus –NO2 karena sebagian besar CAP telah berhasil diekstrak, serta PB yang dibuat sebagai polimer kontrol tanpa penambahan template CAP. Kata kunci : Kloramfenikol, Molecularly Imprinted Polymer, Crosslinker, Kemampuan Adsorpsi
{"title":"PENGARUH JUMLAH CROSSLINKER PADA SINTESIS MOLECULARLY IMPRINTED POLYMER (MIP) TERHADAP KEMAMPUAN ADSORPSI KLORAMFENIKOL","authors":"Maria Monica Sianita, Magdalena Butar Butar","doi":"10.26740/ujc.v11n1.p18-25","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v11n1.p18-25","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah crosslinker terhadap kemampuan adsorpsi Molecularly Imprinted Polymer (MIP)-Kloramfenikol (CAP) yang dianalisis menggunakan instrumen High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan mengidentifikasi gugus fungsional –NO2 pada polimer dengan variasi jumlah crosslinker terbaik menggunakaan instrumen Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Dalam penelitian ini, MIP disintesis dengan menggunakan CAP sebagai template, etilen glikol dimetakrilat (EGDMA) sebagai crosslinker, asam metakrilat (MAA) sebagai monomer, benzoil peroksida (BPO) sebagai inisiator, dan asetonitril sebagai porogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jumlah crosslinker mempengaruhi kemampuan adsorpsi MIP dengan komposisi antara CAP: MAA: EGDMA yaitu 1:3:18 menghasilkan kemampuan adsorpsi terbesar yakni 2,2 mg/g dengan persen ekstraksi sebesar 66,11%. Hasil identifikasi gugus fungsional dengan FTIR menunjukkan bahwa NIP terdapat gugus –NO2 pada bilangan gelombang 1524,27 cm-1 sedangkan pada MIP tidak terdeteksi gugus –NO2 karena sebagian besar CAP telah berhasil diekstrak, serta PB yang dibuat sebagai polimer kontrol tanpa penambahan template CAP. \u0000 \u0000Kata kunci : Kloramfenikol, Molecularly Imprinted Polymer, Crosslinker, Kemampuan Adsorpsi","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46320228","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-11-13DOI: 10.26740/ujc.v10n3.p318-325
Elma Alfianti Indri Lestari, Pirim Setiarso
Penelitian ini dilakukan untuk menggali dan memanfaatkan umbi bit segar sebagai bahan baku pewarna alami pada DSSC. DSSC (Dye Sensitized Solar Cell) merupakan sel fotovoltaik yang dapat mengkonversi sinar matahari menjadi listrik menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan biaya produksi yang rendah.Pada penelitian ini, DSSC dibuat dengan menggunakan metode doctor blade dengan menggunakan pewarna alami yang berasal dari ekstrak betalain umbi bit. Pewarna alami dipilih karena mudah didapatkan, serta murah dan ramah lingkungan. Betalain dari umbi bit diestraksi secara maserasi dengan pelarut ethanol. Karakterisasi pewarna alami dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Visible untuk mengetahui serapan panjang gelombang, karakterisasi elektrokimia pewarna dilakukan menggunakan voltametri siklik, dan untuk mengetahui efisiensi pada DSSC dilakukan dengan karakterisasi I–V. Pada penelitian ini dihasilkan serapan panjang gelombang yaitu pada 534 nm yang menunjukkan serapan pigmen betasianin. Karakterisasi elektrokimia menunjukkan bahwa energi HOMO (Highest Occupied Molecular Orbital) pada pewarna sebesar -5,00 eV. Energi LUMO (Lowest Unoccupied Molecular Orbital) pada pewarna sebesar -3,71 eV. Analisis celah pita energi (energi gap) pewarna menghasilkan 1,29 eV artinya dye yang dipreparasi dapat digunakan sebagai sensitizer pada DSSC. Karakterisasi I-V menunjukkan nilai efisiensi DSSC dengan pewarna alami umbi bit sebesar 0,004 %. Hasil ini menunjukkan bahwa pewarna alami ekstrak betalain umbi bit dapat digunakan sebagai zat warna alami pada DSSC. Kata kunci : betalain, DSSC, elektrokimia
{"title":"STUDI ELEKTROKIMIA EKSTRAK BETALAIN UMBI BIT SEBAGAI PEWARNA ALAMI DSSC (DYE SENSITIZED SOLAR CELL)","authors":"Elma Alfianti Indri Lestari, Pirim Setiarso","doi":"10.26740/ujc.v10n3.p318-325","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p318-325","url":null,"abstract":"Penelitian ini dilakukan untuk menggali dan memanfaatkan umbi bit segar sebagai bahan baku pewarna alami pada DSSC. DSSC (Dye Sensitized Solar Cell) merupakan sel fotovoltaik yang dapat mengkonversi sinar matahari menjadi listrik menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan biaya produksi yang rendah.Pada penelitian ini, DSSC dibuat dengan menggunakan metode doctor blade dengan menggunakan pewarna alami yang berasal dari ekstrak betalain umbi bit. Pewarna alami dipilih karena mudah didapatkan, serta murah dan ramah lingkungan. Betalain dari umbi bit diestraksi secara maserasi dengan pelarut ethanol. Karakterisasi pewarna alami dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Visible untuk mengetahui serapan panjang gelombang, karakterisasi elektrokimia pewarna dilakukan menggunakan voltametri siklik, dan untuk mengetahui efisiensi pada DSSC dilakukan dengan karakterisasi I–V. Pada penelitian ini dihasilkan serapan panjang gelombang yaitu pada 534 nm yang menunjukkan serapan pigmen betasianin. Karakterisasi elektrokimia menunjukkan bahwa energi HOMO (Highest Occupied Molecular Orbital) pada pewarna sebesar -5,00 eV. Energi LUMO (Lowest Unoccupied Molecular Orbital) pada pewarna sebesar -3,71 eV. Analisis celah pita energi (energi gap) pewarna menghasilkan 1,29 eV artinya dye yang dipreparasi dapat digunakan sebagai sensitizer pada DSSC. Karakterisasi I-V menunjukkan nilai efisiensi DSSC dengan pewarna alami umbi bit sebesar 0,004 %. Hasil ini menunjukkan bahwa pewarna alami ekstrak betalain umbi bit dapat digunakan sebagai zat warna alami pada DSSC. \u0000 \u0000Kata kunci : betalain, DSSC, elektrokimia","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44102920","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-11-13DOI: 10.26740/ujc.v10n3.p356-366
Lailatul Wakhidah, Mirwa Adiprahara Anggarani
Bawang putih adalah tanaman dari genus Allium yang banyak ditemukan di daerah pegunungan Probolinggo. Potensi kandungan bioaktif dari produk local ini belum diteliti untuk dikembangkan dalam pengembangan diversifikasi produk bawang putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen bioaktif, kadar fenol, kadar flavonoid serta aktivitas antioksidan pada umbi bawang putih di Probolinggo. Metode dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yakni proses ekstraksi dan pengujian sampel. Proses ekstraksi menggunakan metode bertingkat dengan tiga macam pelarut yakni diklorometana (non polar), etil asetat (semi polar), dan etanol (polar). Pengujian sampel yang dilakukan meliputi analisis senyawa bioaktif, kadar fenol menggunakan metode Folin Ciocalteu, kadar flavonoid menggunakan metode AlCl3, serta aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil dari penelitian ekstrak umbi bawang putih Probolinggo dengan pelarut diklorometana dan etil asetat mengandung senyawa bioaktif steroid dan triterpenoid sedangkan dengan pelarut etanol mengandung senyawa bioaktif flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid dan fenolik. Ekstrak umbi bawang putih dengan pelarut etanol memiliki total fenolik sebesar 28,756 mg GAE/g dan total flavonoid sebesar 21,601 mg QE/g. Nilai IC50 pada ekstrak diklorometana, etil asetat, dan etanol berturut-turut sebesar 421.9643 µg/mL, 310.5998 µg/mL, 257.7503 µg/mL. Dari sisi komponen flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid dan fenolik, ekstrak umbi bawang putih memiliki nilai aktivitas antioksidan yang tergolong sangat lemah. Kata kunci : umbi bawang putih, senyawa bioaktif, aktivitas antioksidan.
{"title":"ANALISIS SENYAWA BIOAKTIF DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium Sativum L.) PROBOLINGGO","authors":"Lailatul Wakhidah, Mirwa Adiprahara Anggarani","doi":"10.26740/ujc.v10n3.p356-366","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p356-366","url":null,"abstract":"Bawang putih adalah tanaman dari genus Allium yang banyak ditemukan di daerah pegunungan Probolinggo. Potensi kandungan bioaktif dari produk local ini belum diteliti untuk dikembangkan dalam pengembangan diversifikasi produk bawang putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen bioaktif, kadar fenol, kadar flavonoid serta aktivitas antioksidan pada umbi bawang putih di Probolinggo. Metode dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yakni proses ekstraksi dan pengujian sampel. Proses ekstraksi menggunakan metode bertingkat dengan tiga macam pelarut yakni diklorometana (non polar), etil asetat (semi polar), dan etanol (polar). Pengujian sampel yang dilakukan meliputi analisis senyawa bioaktif, kadar fenol menggunakan metode Folin Ciocalteu, kadar flavonoid menggunakan metode AlCl3, serta aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil dari penelitian ekstrak umbi bawang putih Probolinggo dengan pelarut diklorometana dan etil asetat mengandung senyawa bioaktif steroid dan triterpenoid sedangkan dengan pelarut etanol mengandung senyawa bioaktif flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid dan fenolik. Ekstrak umbi bawang putih dengan pelarut etanol memiliki total fenolik sebesar 28,756 mg GAE/g dan total flavonoid sebesar 21,601 mg QE/g. Nilai IC50 pada ekstrak diklorometana, etil asetat, dan etanol berturut-turut sebesar 421.9643 µg/mL, 310.5998 µg/mL, 257.7503 µg/mL. Dari sisi komponen flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid dan fenolik, ekstrak umbi bawang putih memiliki nilai aktivitas antioksidan yang tergolong sangat lemah. \u0000 \u0000Kata kunci : umbi bawang putih, senyawa bioaktif, aktivitas antioksidan.","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45672983","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-11-13DOI: 10.26740/ujc.v10n3.p348-355
Ika Novianti Safitri, Nuniek Herdyastuti
Bawang hitam merupakan produk bawang putih segar yang telah dipanaskan selama dua minggu pada suhu yang terkontrol (65-90oC). Bawang hitam memiliki warna, bau, dan rasa yang berbeda dengan bawang putih. Kadar air yang cukup tinggi dari bawang putih dan bawang hitam menyebabkan bahan pangan ini mudah membusuk. Teknik pengeringan dengan oven dapat memperpanjang umur simpan bawang tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh suhu pengeringan terhadap kandungan fenolik total dan aktivitas antioksidan bawang putih bubuk dan bawang hitam bubuk. Bawang putih dan bawang hitam dikeringkan pada suhu 60, 70, 80, dan 90oC. Kandungan fenolik total ditentukan dengan reagen Folin-Ciocalteu dan aktivitas antioksidan diukur dengan metode 2,2-diphenyl-1-picryhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan terbaik pada bawang putih yaitu suhu 60oC yang memiliki kandungan fenolik total 0,178 mg gallic acid equivalent (GAE)/g dan sifat antioksidan sedang dengan nilai IC50 105,01 ppm; sedangkan suhu pengeringan terbaik pada bawang hitam yaitu suhu 80oC yang memiliki kandungan fenolik total 2,957 mg gallic acid equivalent (GAE)/g dan sifat antioksidan kuat dengan nilai IC50 67,32 ppm. Kata kunci : bawang hitam, bawang putih, fenolik, antioksidan
{"title":"PENGARUH SUHU TERHADAP KANDUNGAN FENOLIK TOTAL DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BAWANG PUTIH BUBUK DAN BAWANG HITAM BUBUK","authors":"Ika Novianti Safitri, Nuniek Herdyastuti","doi":"10.26740/ujc.v10n3.p348-355","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p348-355","url":null,"abstract":"Bawang hitam merupakan produk bawang putih segar yang telah dipanaskan selama dua minggu pada suhu yang terkontrol (65-90oC). Bawang hitam memiliki warna, bau, dan rasa yang berbeda dengan bawang putih. Kadar air yang cukup tinggi dari bawang putih dan bawang hitam menyebabkan bahan pangan ini mudah membusuk. Teknik pengeringan dengan oven dapat memperpanjang umur simpan bawang tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh suhu pengeringan terhadap kandungan fenolik total dan aktivitas antioksidan bawang putih bubuk dan bawang hitam bubuk. Bawang putih dan bawang hitam dikeringkan pada suhu 60, 70, 80, dan 90oC. Kandungan fenolik total ditentukan dengan reagen Folin-Ciocalteu dan aktivitas antioksidan diukur dengan metode 2,2-diphenyl-1-picryhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan terbaik pada bawang putih yaitu suhu 60oC yang memiliki kandungan fenolik total 0,178 mg gallic acid equivalent (GAE)/g dan sifat antioksidan sedang dengan nilai IC50 105,01 ppm; sedangkan suhu pengeringan terbaik pada bawang hitam yaitu suhu 80oC yang memiliki kandungan fenolik total 2,957 mg gallic acid equivalent (GAE)/g dan sifat antioksidan kuat dengan nilai IC50 67,32 ppm. \u0000Kata kunci : bawang hitam, bawang putih, fenolik, antioksidan","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46081011","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-11-13DOI: 10.26740/ujc.v10n3.p295-306
Dhini Tri Wilujeng, Mirwa Adiprahara Anggarani
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat mengakibatkan terjadinya stres oksidatif. Stres oksidatif dapat memicu kerusakan sel, jaringan, hingga organ yang kemudian akan menyebabkan penyakit degeneratif. Stres oksidatif dapat dikurangi dengan cara meningkatkan imunitas tubuh melalui antioksidan, dimana antioksidan ini dapat ditemukan pada salah satu bahan alam yaitu bawang lanang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi bawang lanang impor dengan berbagai pelarut sebagai sumber antioksidan alami berdasarkan kadar total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Metode Follin-ciocalteu digunakan untuk menentukan total fenol, flavonoid total ditentukan secara kolorimetri dengan AlCl3, dan aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picryhydrazyl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total fenolik ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan diklorometan secara beturut-turut adalah 13,77 (tergolong sedang); 26,60 (tergolong sedang); dan 6,36 (tergolong rendah) mgGAE/gr ekstrak. Total flavonoid ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan diklorometan secara berturut-turut adalah 0,97; 2,88; dan 0,47 mgQE/gr ekstrak. Sementara itu, aktivitas antioksidan (nilai IC50) untuk ekstrak etanol 96% yaitu 339,69 ppm (tergolong lemah), untuk ekstrak etil asetat sebesar 174,03 ppm (tergolong sedang), dan untuk ekstrak diklorometan sebesar 430,48 ppm (tergolong lemah). Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa bawang lanang impor dengan ketiga pelarut memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami, namun hasil uji tidak lebih baik daripada total fenolik, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan bawang lanang lokal. Kata kunci: Fenolik total, flavonoid total, antioksidan, bawang lanang
{"title":"PENENTUAN FENOLIK TOTAL, FLAVONOID TOTAL, DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BAWANG LANANG (Allium sativum L.)","authors":"Dhini Tri Wilujeng, Mirwa Adiprahara Anggarani","doi":"10.26740/ujc.v10n3.p295-306","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p295-306","url":null,"abstract":"Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat mengakibatkan terjadinya stres oksidatif. Stres oksidatif dapat memicu kerusakan sel, jaringan, hingga organ yang kemudian akan menyebabkan penyakit degeneratif. Stres oksidatif dapat dikurangi dengan cara meningkatkan imunitas tubuh melalui antioksidan, dimana antioksidan ini dapat ditemukan pada salah satu bahan alam yaitu bawang lanang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi bawang lanang impor dengan berbagai pelarut sebagai sumber antioksidan alami berdasarkan kadar total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Metode Follin-ciocalteu digunakan untuk menentukan total fenol, flavonoid total ditentukan secara kolorimetri dengan AlCl3, dan aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picryhydrazyl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total fenolik ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan diklorometan secara beturut-turut adalah 13,77 (tergolong sedang); 26,60 (tergolong sedang); dan 6,36 (tergolong rendah) mgGAE/gr ekstrak. Total flavonoid ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan diklorometan secara berturut-turut adalah 0,97; 2,88; dan 0,47 mgQE/gr ekstrak. Sementara itu, aktivitas antioksidan (nilai IC50) untuk ekstrak etanol 96% yaitu 339,69 ppm (tergolong lemah), untuk ekstrak etil asetat sebesar 174,03 ppm (tergolong sedang), dan untuk ekstrak diklorometan sebesar 430,48 ppm (tergolong lemah). Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa bawang lanang impor dengan ketiga pelarut memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami, namun hasil uji tidak lebih baik daripada total fenolik, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan bawang lanang lokal. \u0000 \u0000Kata kunci: Fenolik total, flavonoid total, antioksidan, bawang lanang","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44021611","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-11-13DOI: 10.26740/ujc.v10n3.p209-219
Excel Aida Fransiska, Maria Monica Sianita
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pada sintesis Molecularly Imprinted Polymer (MIP) terhadap kemampuan adsorpsi kloramfenikol serta menganalisis gugus fungsional dari polimer terbaik yang telah dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR). Pada penelitian ini telah dibuat MIP dengan variasi suhu sebesar 60oC, 70oC, dan 80oC menggunakan metode presipitasi dengan kloramfenikol (CAP) sebagai template, ethyleneglycol dimethacrylate (EDGMA) sebagai crosslinker, asam meakriat (MAA) sebagai monomer, asetonitril sebagai porogen, dan Benzoil Peroksida (BPO) sebagai initiator. Perbandingan CAP:MAA:EDGMA adalah 1:3:18 dengan 30 mL porogen asetonitril. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu 80oC menghasilkan nilai Q adsorpsi terbaik yaitu sebesar 4,286 mg/g dengan nilai imprinting factor (IF) sebesar 5,977 dan persen ekstraksi sebesar 96,66%. Karakterisasi FTIR menunjukkan pada Non-Imprinted Polymer (NIP) terdapat serapan gugus -NO2 pada bilangan gelombang 1521.77 cm-1, sedangkan pada MIP dan Polimer Blanko (PB) tidak didapatkan serapan gugus -NO2. Kata kunci : Molecularly Imprinted Polymer, kloramfenikol, metode presipitasi, suhu
{"title":"PENGARUH SUHU PADA SINTESIS MOLECULARLY IMPRINTED POLYMER (MIP) TERHADAP KEMAMPUAN ADSORPSI KLORAMFENIKOL","authors":"Excel Aida Fransiska, Maria Monica Sianita","doi":"10.26740/ujc.v10n3.p209-219","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p209-219","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pada sintesis Molecularly Imprinted Polymer (MIP) terhadap kemampuan adsorpsi kloramfenikol serta menganalisis gugus fungsional dari polimer terbaik yang telah dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR). Pada penelitian ini telah dibuat MIP dengan variasi suhu sebesar 60oC, 70oC, dan 80oC menggunakan metode presipitasi dengan kloramfenikol (CAP) sebagai template, ethyleneglycol dimethacrylate (EDGMA) sebagai crosslinker, asam meakriat (MAA) sebagai monomer, asetonitril sebagai porogen, dan Benzoil Peroksida (BPO) sebagai initiator. Perbandingan CAP:MAA:EDGMA adalah 1:3:18 dengan 30 mL porogen asetonitril. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu 80oC menghasilkan nilai Q adsorpsi terbaik yaitu sebesar 4,286 mg/g dengan nilai imprinting factor (IF) sebesar 5,977 dan persen ekstraksi sebesar 96,66%. Karakterisasi FTIR menunjukkan pada Non-Imprinted Polymer (NIP) terdapat serapan gugus -NO2 pada bilangan gelombang 1521.77 cm-1, sedangkan pada MIP dan Polimer Blanko (PB) tidak didapatkan serapan gugus -NO2. Kata kunci : Molecularly Imprinted Polymer, kloramfenikol, metode presipitasi, suhu","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46628663","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-11-13DOI: 10.26740/ujc.v10n3.p257-267
Ainun Rachmatina Atqa, Maria Monica Sianita
Penelitian ini bertujuan untuk mensisntesis Molecularly Imprinted Polymer (MIP) yang dapat digunakan sebagai adsorben pada adsorpsi kloramfenikol (CAP). Kinerja adsorben MIP diuji adsorpsinya dengan variasi konsentrasi CAP awal. Konsentrasi CAP yang digunakan yaitu 10, 25, dan 50 ppm. Karakterisasi Polimer MIP, Non-Imprinted Polimer (NIP), dan Polimer Blanko (PB) yang dihasilkan dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), untuk mengetahui gugus -NO2. Hasil penelitian menunjukkan semakin besar konsentrasi CAP awal maka kemampuan adsorpsi semakin meningkat pada MIP dan PB. Kemampuan adsorpsi terbesar pada penelitian ini untuk MIP yaitu 16,54 mg/g dan PB yaitu 8,78 mg/g pada konsentrasi 50 ppm. MIP memiliki kemampuan adsorpsi lebih tinggi daripada PB karena adsorpsi MIP yang spesifik terhadap CAP. Nilai imprinting factor (IF) yang didapatkan sebesar 1,88. Hasil FTIR menunjukkan adanya gugus –NO2 pada bilangan gelombang 1560,62 cm-1 pada MIP dengan intensitas yang lebih rendah daripada NIP. Hal tersebut menunjukkan adanya CAP yang telah terelusi pada proses ekstraksi. Kata kunci : Molecularly Imprinted Polymer, kloramfenikol, adsorpsi
{"title":"PENGARUH KONSENTRASI KLORAMFENIKOL TERHADAP ADSORPSI POLIMER CETAK MOLEKUL DENGAN METODE PRESIPITASI","authors":"Ainun Rachmatina Atqa, Maria Monica Sianita","doi":"10.26740/ujc.v10n3.p257-267","DOIUrl":"https://doi.org/10.26740/ujc.v10n3.p257-267","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mensisntesis Molecularly Imprinted Polymer (MIP) yang dapat digunakan sebagai adsorben pada adsorpsi kloramfenikol (CAP). Kinerja adsorben MIP diuji adsorpsinya dengan variasi konsentrasi CAP awal. Konsentrasi CAP yang digunakan yaitu 10, 25, dan 50 ppm. Karakterisasi Polimer MIP, Non-Imprinted Polimer (NIP), dan Polimer Blanko (PB) yang dihasilkan dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), untuk mengetahui gugus -NO2. Hasil penelitian menunjukkan semakin besar konsentrasi CAP awal maka kemampuan adsorpsi semakin meningkat pada MIP dan PB. Kemampuan adsorpsi terbesar pada penelitian ini untuk MIP yaitu 16,54 mg/g dan PB yaitu 8,78 mg/g pada konsentrasi 50 ppm. MIP memiliki kemampuan adsorpsi lebih tinggi daripada PB karena adsorpsi MIP yang spesifik terhadap CAP. Nilai imprinting factor (IF) yang didapatkan sebesar 1,88. Hasil FTIR menunjukkan adanya gugus –NO2 pada bilangan gelombang 1560,62 cm-1 pada MIP dengan intensitas yang lebih rendah daripada NIP. Hal tersebut menunjukkan adanya CAP yang telah terelusi pada proses ekstraksi. \u0000 \u0000Kata kunci : Molecularly Imprinted Polymer, kloramfenikol, adsorpsi","PeriodicalId":53369,"journal":{"name":"UNESA Journal of Chemistry","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49151402","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}