Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13059
Ditya Farastuti, Victoria Henuhili
Tomat merupakan salah satu komoditas buah populer dan banyak dikonsumsimasyarakat. Petani biasanya membudidayakan tanaman tomat dengan pupuk kimia anorganikNPK, pemberian pupuk dalam jangka waktu lama dapat menurunkan kesuburan tanah. Saatini penggunaan pupuk organik seperti pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk kascingbanyak digunakan karena berpotensi menyuburkan tanah kembali dan meningkatkan produksitanaman tomat. Hal ini mendorong untuk dilakukan penelitian yang bertujuan mendapatkanjenis pupuk paling baik atau berpotensi dijadikan campuran dalam mendukung pertumbuhandan produksi tanaman tomat.Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitiandilaksanakan bulan Mei-Agustus 2015 bertempat di lahan pertanian percobaan UGM,Banguntapan, Bantul. Dosis pupuk yang digunakan yaitu 0,02 kg/m2 pupuk NPK (PU), 2kg/m2 pupuk kandang (PK), 2 kg/m2pupuk kompos (PKM), dan 2 kg/m2 pupuk kascing (PC).Setiap plot berukuran 2x2 m2berisi 16 tanaman tomat, masing-masing perlakuan mempunyai5 ulangan plot. Pengamatan dilakukan 2 minggu sekali selama 5 kali pengamatan.Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tanaman tomat untuk pengukuran reratatanaman tertinggi adalah pada plot PU 35,7cm, rerata jumlah daun terbanyak pada plot PKM86,14 helai daun/plot, dan rerata diameter batang terbesar pada plot PU 7,80cm.Perkembangan bunga pada fase anthesis tertinggi pada plot PU rerata 1,73 bunga per plot.Fase perkembangan buah pada pembesaran vesikel tertinggi pada plot PU rerata 4,15 buah perplot dan fase pematangan buah terbanyak pada plot PKM rerata 0,15 buah per plot. Datapanen tomat terbanyak pada plot PU total 15,4 kg/20m2. Pupuk yang memberikan hasilterbaik dari penelitian ini adalah PU dan PKM. Efek pengaruh variasi pupuk organik dananorganik tidak terlihat nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat,berdasarkan hasil uji analisis ragam pada pertumbuhan (Sig.0,05), sedangkan rerata jumlahbunga dan rerata jumlah buah saat panen yang tidak terpaut jauh satu sama lain.Kata kunci: Tanaman tomat, variasi jenis pupuk, pertumbuhan dan perkembangan tanaman
{"title":"PENGARUH VARIASI JENIS PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum var. Intan)","authors":"Ditya Farastuti, Victoria Henuhili","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13059","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13059","url":null,"abstract":"Tomat merupakan salah satu komoditas buah populer dan banyak dikonsumsimasyarakat. Petani biasanya membudidayakan tanaman tomat dengan pupuk kimia anorganikNPK, pemberian pupuk dalam jangka waktu lama dapat menurunkan kesuburan tanah. Saatini penggunaan pupuk organik seperti pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk kascingbanyak digunakan karena berpotensi menyuburkan tanah kembali dan meningkatkan produksitanaman tomat. Hal ini mendorong untuk dilakukan penelitian yang bertujuan mendapatkanjenis pupuk paling baik atau berpotensi dijadikan campuran dalam mendukung pertumbuhandan produksi tanaman tomat.Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitiandilaksanakan bulan Mei-Agustus 2015 bertempat di lahan pertanian percobaan UGM,Banguntapan, Bantul. Dosis pupuk yang digunakan yaitu 0,02 kg/m2 pupuk NPK (PU), 2kg/m2 pupuk kandang (PK), 2 kg/m2pupuk kompos (PKM), dan 2 kg/m2 pupuk kascing (PC).Setiap plot berukuran 2x2 m2berisi 16 tanaman tomat, masing-masing perlakuan mempunyai5 ulangan plot. Pengamatan dilakukan 2 minggu sekali selama 5 kali pengamatan.Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tanaman tomat untuk pengukuran reratatanaman tertinggi adalah pada plot PU 35,7cm, rerata jumlah daun terbanyak pada plot PKM86,14 helai daun/plot, dan rerata diameter batang terbesar pada plot PU 7,80cm.Perkembangan bunga pada fase anthesis tertinggi pada plot PU rerata 1,73 bunga per plot.Fase perkembangan buah pada pembesaran vesikel tertinggi pada plot PU rerata 4,15 buah perplot dan fase pematangan buah terbanyak pada plot PKM rerata 0,15 buah per plot. Datapanen tomat terbanyak pada plot PU total 15,4 kg/20m2. Pupuk yang memberikan hasilterbaik dari penelitian ini adalah PU dan PKM. Efek pengaruh variasi pupuk organik dananorganik tidak terlihat nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat,berdasarkan hasil uji analisis ragam pada pertumbuhan (Sig.0,05), sedangkan rerata jumlahbunga dan rerata jumlah buah saat panen yang tidak terpaut jauh satu sama lain.Kata kunci: Tanaman tomat, variasi jenis pupuk, pertumbuhan dan perkembangan tanaman","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"134 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123218004","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13058
Ayu Krisnaningsih, Suhartini Suhartini
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Jenis mikroorganisme yang terdapat pada MOL limbah buahbuahan, (2) kualitas POC dari MOL limbah buah-buahan, (3) efektivitas POC dari MOL limbah buah-buahanterhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi, (4) pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan dan produksitanaman sawi.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiridari perlakuan konsentrasi POC, jika tedapat beda nyata maka dilakukan uji lanjut Duncan dengan sig. 5%. Untukmembandingkan perlakuan media tanam dilakukan uji T Test. Perlakuan konsentrasi POC, yaitu POC 0% (kontrolnegatif), 4%, 8%, 12%, NPK (kontrol positif) masing-masing 3 ulangan. Perlakuan media tanam terdiri dari mediacampuran (kompos + tanah) dan media tanah.Hasil MOL limbah buah-buahan teridentifikasi lima jenis mikroorganisme yaitu genus Megasphaera,Enterobacter, Syntropococcus, Aspergillus dan Saccharomyces. Kualitas POC dilihat dari parameter fisik berupabau dan warna memiliki kulitas yang baik, tetapi dari parameter kimia berupa pH, C-Organik, K2O, P2O5, N total,dan C/N ratio belum memenuhi standar persyaratan minimal POC menurut Peraturan Menteri PertanianNo.70/Permentan/SR.140/10/2011. Pemberian perlakuan POC efektif untuk meningkatkan pertumbuhan danproduksi tanaman sawi. Perlakuan media tanam lebih berpengaruh pada media campuran (kompos + tanah)daripada media tanah.Kata kunci : POC, limbah buah-buahan, sawi, pertumbuhan, produksi.
{"title":"KUALITAS DAN EFEKTIVITAS POC DARI MOL LIMBAH BUAH-BUAHAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI","authors":"Ayu Krisnaningsih, Suhartini Suhartini","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13058","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13058","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Jenis mikroorganisme yang terdapat pada MOL limbah buahbuahan, (2) kualitas POC dari MOL limbah buah-buahan, (3) efektivitas POC dari MOL limbah buah-buahanterhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi, (4) pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan dan produksitanaman sawi.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiridari perlakuan konsentrasi POC, jika tedapat beda nyata maka dilakukan uji lanjut Duncan dengan sig. 5%. Untukmembandingkan perlakuan media tanam dilakukan uji T Test. Perlakuan konsentrasi POC, yaitu POC 0% (kontrolnegatif), 4%, 8%, 12%, NPK (kontrol positif) masing-masing 3 ulangan. Perlakuan media tanam terdiri dari mediacampuran (kompos + tanah) dan media tanah.Hasil MOL limbah buah-buahan teridentifikasi lima jenis mikroorganisme yaitu genus Megasphaera,Enterobacter, Syntropococcus, Aspergillus dan Saccharomyces. Kualitas POC dilihat dari parameter fisik berupabau dan warna memiliki kulitas yang baik, tetapi dari parameter kimia berupa pH, C-Organik, K2O, P2O5, N total,dan C/N ratio belum memenuhi standar persyaratan minimal POC menurut Peraturan Menteri PertanianNo.70/Permentan/SR.140/10/2011. Pemberian perlakuan POC efektif untuk meningkatkan pertumbuhan danproduksi tanaman sawi. Perlakuan media tanam lebih berpengaruh pada media campuran (kompos + tanah)daripada media tanah.Kata kunci : POC, limbah buah-buahan, sawi, pertumbuhan, produksi.","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126697072","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13024
Cahyoaji Putra Anggara, Sukiya Sukiya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan struktur morfologik permukaan kulitdan struktur histologik kulit ikan Periophthalmus gracilis dengan Blenniella bilitonensis dan untukmengetahui apakah kulit tersebut juga berperan sebagai tempat pertukaran gas pernafasan. Jenispenelitian ini adalah eksploratif. Lima sampel ikan diperoleh dari tempat yang berbeda, ikanPeriophthalmus gracilis di Hutan Mangrove Pasir Mendit, Kulon Progo, Yogyakarta dan ikanBlenniella bilitonensis di Pantai Siung, Gunung Kidul, Yogyakarta. Mendiskripsikan morfologipermukaan kulit pada kedua ikan. Tubuh ikan dibedah menjadi enam bagian diambil kulit untukpembuatan preparat histologik, pewarnaan menggunakan Hematoxylin-Eosin dengan metodeHumason. Pengamatan histologik pada struktur kulit ikan, dilakukan pengukuran ketebalan epidermis,jarak difusi, dan jumlah kapiler darah. Analisis hasil pengukuran dengan metode Independent SampleT-Test. Hasil penelitian menunjukkan permukaan kulit pada ikan Periophthalmus gracilis danBlenniella bilitonensis berlendir, halus, tidak bersisik, dan pengamatan struktur kulit mengindikasikanbahwa struktur histologik diperoleh hasil tidak berbeda nyata antara kedua ikan.Kata kunci : Periophthalmus gracilis, Blenniella bilitonensis, struktur kulit, zona intertidal, pantaisiung, hutan mangrove.
{"title":"PERBANDINGAN STRUKTUR KULIT IKAN Blenniella bilitonensis DAN Periophthalmus gracilis","authors":"Cahyoaji Putra Anggara, Sukiya Sukiya","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13024","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13024","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan struktur morfologik permukaan kulitdan struktur histologik kulit ikan Periophthalmus gracilis dengan Blenniella bilitonensis dan untukmengetahui apakah kulit tersebut juga berperan sebagai tempat pertukaran gas pernafasan. Jenispenelitian ini adalah eksploratif. Lima sampel ikan diperoleh dari tempat yang berbeda, ikanPeriophthalmus gracilis di Hutan Mangrove Pasir Mendit, Kulon Progo, Yogyakarta dan ikanBlenniella bilitonensis di Pantai Siung, Gunung Kidul, Yogyakarta. Mendiskripsikan morfologipermukaan kulit pada kedua ikan. Tubuh ikan dibedah menjadi enam bagian diambil kulit untukpembuatan preparat histologik, pewarnaan menggunakan Hematoxylin-Eosin dengan metodeHumason. Pengamatan histologik pada struktur kulit ikan, dilakukan pengukuran ketebalan epidermis,jarak difusi, dan jumlah kapiler darah. Analisis hasil pengukuran dengan metode Independent SampleT-Test. Hasil penelitian menunjukkan permukaan kulit pada ikan Periophthalmus gracilis danBlenniella bilitonensis berlendir, halus, tidak bersisik, dan pengamatan struktur kulit mengindikasikanbahwa struktur histologik diperoleh hasil tidak berbeda nyata antara kedua ikan.Kata kunci : Periophthalmus gracilis, Blenniella bilitonensis, struktur kulit, zona intertidal, pantaisiung, hutan mangrove.","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130692471","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13276
Afrizal Haris, I. S. Mercuriani
Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui pengaruh jus buah pisang terhadap pertumbuhan anggrekRhynchostylis retusa (R. Retusa), mengetahui konsentrasi jus buah pisang yang optimum untukmeningkatkan pertumbuhan anggrek R. retusa dan mengetahui stadium pertumbuhan anggrek R. retusapada medium dengan penambahan jus buah pisang. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu padatahap perkecambahan biji dan pada tahap pertumbuhan awal tanaman. Pada tahap perkecambahan bijidicobakan variasi medium dengan penambahan berbagai konsentrasi jus buah pisang sebesar 0, 50, 100,150, 200 gr.l-1. Pada tahap pertumbuhan awal dicobakan variasi medium dengan penambahan berbagaikonsentrasi jus buah pisang sebesar 0, 50, 100 gr.l-1. Medium dasar yang digunakan dalam penelitian iniadalah New Phalaenopsis. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan stadia pertumbuhan danpertumbuhan R. retusa. Pertumbuhan yang diamati berupa persentase perkecambahan biji, persentasepertumbuhan daun dan akar. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan biji anggrekteramati sebanyak 6 stadia, berdasar pembentukan protokorm dapat dibagi menjadi dua yaitu fasepertumbuhan awal dan fase pertumbuhan lanjut. Pada tahap perkecambahan biji persentaseperkecambahan tertinggi pada medium P0 (tanpa penambahan jus buah pisang) yaitu sebesar 57,67%sedangkan persentase perkecambahan terendah terjadi pada perlakuan P200 (penambahan 200 gr.l-1 jusbuah pisang) yaitu sebesar 35,18 %. Pada tahap pertumbuhan awal tanaman, protokorm dengan daun danakar tertinggi pada medium P0 yaitu berturut-turut sebesar 73,33 %, 16,66 % sedangkan pertumbuhanterendah pada medium P100 yaitu berturut-turut 38,89 %, 0 %.Kata kunci: In vitro, jus buah pisang, Rhynchostylis retusa
{"title":"PERTUMBUHAN ANGGREK Rhynchostylis retusa PADA MEDIUM KULTUR In Vitro DENGAN PENAMBAHAN JUS BUAH PISANG","authors":"Afrizal Haris, I. S. Mercuriani","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13276","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13276","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui pengaruh jus buah pisang terhadap pertumbuhan anggrekRhynchostylis retusa (R. Retusa), mengetahui konsentrasi jus buah pisang yang optimum untukmeningkatkan pertumbuhan anggrek R. retusa dan mengetahui stadium pertumbuhan anggrek R. retusapada medium dengan penambahan jus buah pisang. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu padatahap perkecambahan biji dan pada tahap pertumbuhan awal tanaman. Pada tahap perkecambahan bijidicobakan variasi medium dengan penambahan berbagai konsentrasi jus buah pisang sebesar 0, 50, 100,150, 200 gr.l-1. Pada tahap pertumbuhan awal dicobakan variasi medium dengan penambahan berbagaikonsentrasi jus buah pisang sebesar 0, 50, 100 gr.l-1. Medium dasar yang digunakan dalam penelitian iniadalah New Phalaenopsis. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan stadia pertumbuhan danpertumbuhan R. retusa. Pertumbuhan yang diamati berupa persentase perkecambahan biji, persentasepertumbuhan daun dan akar. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan biji anggrekteramati sebanyak 6 stadia, berdasar pembentukan protokorm dapat dibagi menjadi dua yaitu fasepertumbuhan awal dan fase pertumbuhan lanjut. Pada tahap perkecambahan biji persentaseperkecambahan tertinggi pada medium P0 (tanpa penambahan jus buah pisang) yaitu sebesar 57,67%sedangkan persentase perkecambahan terendah terjadi pada perlakuan P200 (penambahan 200 gr.l-1 jusbuah pisang) yaitu sebesar 35,18 %. Pada tahap pertumbuhan awal tanaman, protokorm dengan daun danakar tertinggi pada medium P0 yaitu berturut-turut sebesar 73,33 %, 16,66 % sedangkan pertumbuhanterendah pada medium P100 yaitu berturut-turut 38,89 %, 0 %.Kata kunci: In vitro, jus buah pisang, Rhynchostylis retusa","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121802808","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13061
Nabila Sekar Wilis, A. Rahmawati
Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri dan konsentrasi optimal pada variasi konsentrasi senyawa pinostrobin dari ekstrak temu kunci (Boesenbergia rotunda) terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 11229 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923. Jenis penelitian adalah eksperimen. Penelitian dilaksanakan bulan Maret – Juli 2017 di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA UNY. Variabel bebas penelitian adalah konsentrasi pinostrobin dari ekstrak temu kunci sebesar 0,5 ppm; 5 ppm; 50 ppm; 250 ppm; dan 500 ppm. Parameter yang diukur adalah nilai zona hambat. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro menggunakan metode difusi agar (Kirby Bauer). Penelitian ini menggunakan kloramfenikol sebagai kontrol positif dan DMSO (dimethylsulfoxide) sebagai kontrol negatif. Pengamatan dilakukan setiap 6 jam sekali selama 24 jam dengan tiga pengulangan pada setiap konsentrasinya. Data dianalisis menggunakan two way ANOVA, menunjukkan bahwa senyawa pinostrobin ekstrak temu kunci dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli ATCC 11229 maupun S. aureus ATCC 25923. Konsentrasi yang menunjukkan aktivitas antibakteri terbesar pada bakteri E. coli ATCC 11229 sebesar 250 ppm sedangkan pada bakteri S. aureus ATCC 25923 sebesar 500 ppm.Kata kunci : antibakteri, pinostrobin, ekstrak temu kunci, Escherichia coli, Staphylococcus aureus
{"title":"UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SENYAWA PINOSTROBIN (5-hidroksi-7-metoksiflavanon) DARI EKSTRAK TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli ATCC 11229 DAN Staphylococcus aureus ATCC 25923","authors":"Nabila Sekar Wilis, A. Rahmawati","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13061","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13061","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri dan konsentrasi optimal pada variasi konsentrasi senyawa pinostrobin dari ekstrak temu kunci (Boesenbergia rotunda) terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 11229 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923. Jenis penelitian adalah eksperimen. Penelitian dilaksanakan bulan Maret – Juli 2017 di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA UNY. Variabel bebas penelitian adalah konsentrasi pinostrobin dari ekstrak temu kunci sebesar 0,5 ppm; 5 ppm; 50 ppm; 250 ppm; dan 500 ppm. Parameter yang diukur adalah nilai zona hambat. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro menggunakan metode difusi agar (Kirby Bauer). Penelitian ini menggunakan kloramfenikol sebagai kontrol positif dan DMSO (dimethylsulfoxide) sebagai kontrol negatif. Pengamatan dilakukan setiap 6 jam sekali selama 24 jam dengan tiga pengulangan pada setiap konsentrasinya. Data dianalisis menggunakan two way ANOVA, menunjukkan bahwa senyawa pinostrobin ekstrak temu kunci dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli ATCC 11229 maupun S. aureus ATCC 25923. Konsentrasi yang menunjukkan aktivitas antibakteri terbesar pada bakteri E. coli ATCC 11229 sebesar 250 ppm sedangkan pada bakteri S. aureus ATCC 25923 sebesar 500 ppm.Kata kunci : antibakteri, pinostrobin, ekstrak temu kunci, Escherichia coli, Staphylococcus aureus","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130985082","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13060
Elsa Violeta, Tri Harjana
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji kedelai putih (Glycine max L.)terhadap spermatogenesis tikus putih (Rattus norvegicus L.). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen satufaktor. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 16 ekor tikus putih jantan murni dari galur wistar,berumur 2 bulan, dan memiliki berat rata-rata 165 gram. Tikus tersebut dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrol(tanpa pemberian ekstrak biji kedelai putih), 50 mg/kgBB. 100 mg/kgBB, dan 150 mg/kgBB. Variabel tergayutdalam penelitian ini adalah spermatogenesis dengan indikator jumlah spermatogonium, spermatosit primer,spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa. Pembuatan ekstrak biji kedelai putih dengan metode maserasi.Perlakuan dilakukan selama 48 hari. Testis tikus putih dibuat preparat histologik dengan menggunakan pewarnaHematoxylin. Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x, data yangdiperoleh dengan satuan jumlah/96.250 µm2. Data dianalisis dengan analisis statistik One Way Anova untukmengetahui ada tidaknya perbedaan pengaruh antara kelompok kontrol dan perlakuan. Uji Duncan’s MultipleRange Test (DMRT) dilakukan jika terdapat pengaruh nyata untuk membedakan antara kelompok perlakuan danantar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji kedelai putih (Glycine max, L.)memberikan pengaruh sangat nyata (P0,01) meningkatkan spermatogenesis tikus putih (Rattus norvegicus, L.).Dosis optimal dalam meningkatkan spermatogenesis berdasarkan hasil penelitian terdapat pada pemberian dosis100 mg/kgBB.Kata kunci: ekstrak biji kedelai putih, spermatogenesis, tikus putih.
{"title":"PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI KEDELAI PUTIH (Glycine max, L.) TERHADAP SPERMATOGENESIS TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus, L.)","authors":"Elsa Violeta, Tri Harjana","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13060","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13060","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji kedelai putih (Glycine max L.)terhadap spermatogenesis tikus putih (Rattus norvegicus L.). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen satufaktor. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 16 ekor tikus putih jantan murni dari galur wistar,berumur 2 bulan, dan memiliki berat rata-rata 165 gram. Tikus tersebut dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrol(tanpa pemberian ekstrak biji kedelai putih), 50 mg/kgBB. 100 mg/kgBB, dan 150 mg/kgBB. Variabel tergayutdalam penelitian ini adalah spermatogenesis dengan indikator jumlah spermatogonium, spermatosit primer,spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa. Pembuatan ekstrak biji kedelai putih dengan metode maserasi.Perlakuan dilakukan selama 48 hari. Testis tikus putih dibuat preparat histologik dengan menggunakan pewarnaHematoxylin. Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x, data yangdiperoleh dengan satuan jumlah/96.250 µm2. Data dianalisis dengan analisis statistik One Way Anova untukmengetahui ada tidaknya perbedaan pengaruh antara kelompok kontrol dan perlakuan. Uji Duncan’s MultipleRange Test (DMRT) dilakukan jika terdapat pengaruh nyata untuk membedakan antara kelompok perlakuan danantar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji kedelai putih (Glycine max, L.)memberikan pengaruh sangat nyata (P0,01) meningkatkan spermatogenesis tikus putih (Rattus norvegicus, L.).Dosis optimal dalam meningkatkan spermatogenesis berdasarkan hasil penelitian terdapat pada pemberian dosis100 mg/kgBB.Kata kunci: ekstrak biji kedelai putih, spermatogenesis, tikus putih.","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"13 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126729338","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13057
Ulfia Nurul Khikmah, Evyta Yulianti
Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan DNA anggrek Rhynchostylis retusa dengan metode Castillo yang telah dimodifikasi. Sumber DNA genom pada penelitian ini adalah delapan sampel daun muda anggrek R. retusa yang berasal dari beberapa daerah. Satu sampel berasal dari Temanggung, dua sampel berasal dari Tulungagung, dua sampel berasal dari Semeru, dan tiga sampel berasal dari Yogyakarta. Sampel daun dipilih secara acak tanpa memperhatikan aspek posisi atau letak daun pada tanaman anggrek. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang dilakukan di Laboratorium Biologi Dasar FMIPA UNY. Isolasi DNA dilakukan dengan metode Castillo dilanjutkan dengan purifikasi DNA hasil isolasi. Pengecekan kualitas DNA hasil isolasi dan purifikasi dilakukan dengan metode elektroforesis dengan agarose 1,5% menggunakan tegangan 100 Volt selama 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan sampel DNA R. retusa yang berhasil diisolasi mempunyai kualitas yang cukup baik.Kata Kunci: R. retusa, Isolasi DNA, Purifikasi DNA
{"title":"Analisis Variasi Genetik Anggrek Rhynchostylis retusa (L.) Blume dengan Marka Molekuler RAPD","authors":"Ulfia Nurul Khikmah, Evyta Yulianti","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13057","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13057","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan DNA anggrek Rhynchostylis retusa dengan metode Castillo yang telah dimodifikasi. Sumber DNA genom pada penelitian ini adalah delapan sampel daun muda anggrek R. retusa yang berasal dari beberapa daerah. Satu sampel berasal dari Temanggung, dua sampel berasal dari Tulungagung, dua sampel berasal dari Semeru, dan tiga sampel berasal dari Yogyakarta. Sampel daun dipilih secara acak tanpa memperhatikan aspek posisi atau letak daun pada tanaman anggrek. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang dilakukan di Laboratorium Biologi Dasar FMIPA UNY. Isolasi DNA dilakukan dengan metode Castillo dilanjutkan dengan purifikasi DNA hasil isolasi. Pengecekan kualitas DNA hasil isolasi dan purifikasi dilakukan dengan metode elektroforesis dengan agarose 1,5% menggunakan tegangan 100 Volt selama 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan sampel DNA R. retusa yang berhasil diisolasi mempunyai kualitas yang cukup baik.Kata Kunci: R. retusa, Isolasi DNA, Purifikasi DNA","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129803319","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-31DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13062
Suryo Arif Setyawan, Tien Aminatun
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui : 1. dinamika populasi Xylaria spp., 2. jenis substrat yang ditumbuhiXylaria spp., 3. kondisi mikroklimat saat Xylaria spp. membentuk badan buah, 4. kandungan C, N, Selulosa, kadarair, dan pH substrat yang ditumbuhi Xylaria spp., dan 5. faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap dinamikapopulasi Xylaria spp..Penelitian ini merupakan penelitian observasi, dilakukan selama musim hujan. Pengamatanjumlah populasi, kondisi mikroklimat, dan substrat dilakukan 2 minggu sekali. Data yang diambil berupa jumlahpopulasi Xylaria spp, suhu udara, kelembaban udara, kadar air substrat, suhu, intensitas cahaya, dan kandungan kimiasubstrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika populasi Xylaria spp. fluktuatif, tertinggi pada plot 3pengamatan ke-2 dan terendah pada plot 6 pengamatan ke-7. Substrat yang ditumbuhi Xylaria spp.berupa sisa batangpohon Podachaenium sp. dan Mallotus paniculatus. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap dinamikapopulasi Xylaria spp. yaitu suhu, kelembaban, dan kadar air.Kata Kunci: Dinamika populasi, karakteristik habitat, Xylaria spp., Hutan Turgo
{"title":"DINAMIKA POPULASI DAN KARAKTERISTIK HABITAT Xylaria spp. DI KAWASAN HUTAN ALAM TURGO","authors":"Suryo Arif Setyawan, Tien Aminatun","doi":"10.21831/kingdom.v7i6.13062","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i6.13062","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini adalah mengetahui : 1. dinamika populasi Xylaria spp., 2. jenis substrat yang ditumbuhiXylaria spp., 3. kondisi mikroklimat saat Xylaria spp. membentuk badan buah, 4. kandungan C, N, Selulosa, kadarair, dan pH substrat yang ditumbuhi Xylaria spp., dan 5. faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap dinamikapopulasi Xylaria spp..Penelitian ini merupakan penelitian observasi, dilakukan selama musim hujan. Pengamatanjumlah populasi, kondisi mikroklimat, dan substrat dilakukan 2 minggu sekali. Data yang diambil berupa jumlahpopulasi Xylaria spp, suhu udara, kelembaban udara, kadar air substrat, suhu, intensitas cahaya, dan kandungan kimiasubstrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika populasi Xylaria spp. fluktuatif, tertinggi pada plot 3pengamatan ke-2 dan terendah pada plot 6 pengamatan ke-7. Substrat yang ditumbuhi Xylaria spp.berupa sisa batangpohon Podachaenium sp. dan Mallotus paniculatus. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap dinamikapopulasi Xylaria spp. yaitu suhu, kelembaban, dan kadar air.Kata Kunci: Dinamika populasi, karakteristik habitat, Xylaria spp., Hutan Turgo","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"34 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128829704","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-29DOI: 10.21831/kingdom.v7i4.12542
Yohana Puji Lestari, Tien Aminatun
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi biomassa Hydrilla verticillata, biomassa Hydrillaverticillata yang paling efektif, dan mengetahui kualitas limbah batik setelah proses fitoremediasi. Limbah batikberasal dari CV. Batik Indah Rara Djonggrang, Yogyakarta. Variasi biomassa Hydrilla verticillata yang digunakanyaitu 200, 250, 300 gram dengan konsentrasi limbah 50%. Parameter yang diukur meliputi : suhu, pH, BOD, COD,kandungan krom (Cr), biomassa tanaman, daya hidup ikan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan pH dari 11menjadi 9 (kontrol) dan 8 (perlakuan). Hasil pengukuran suhu yaitu antara 27,9°C - 29,7°C. Nilai ini telahmemenuhi baku mutu sesuai Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2016 tentang BakuMutu Air Limbah (industri batik). Nilai COD kontrol, Hydrilla 200 gram, 250 gram, 300 gram setelah perlakuanmasing-masing yaitu 160,5; 593,0; 205,5; 215,5 mg/L, sedangkan nilai BOD yaitu 36,1; 30,2; 24,5; 33,5 mg/L.Kandungan logam berat limbah batik awal dan akhir penelitian yaitu 0,0213 mg/L. Kandungan logam berattanaman mengalami penurunan dari 8,225 mg/kg menjadi 4,569 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian, variasibiomassa tanaman Hydrilla verticillata berpengaruh dalam menurunkan nilai COD dan BOD. Biomassa tanamanHydrilla verticillata 250 gram adalah yang paling efektif dalam fitoremediasi limbah batik.Kata kunci : Fitoremediasi, Biomassa, Hydrilla verticillata, Logam Berat krom (Cr), Limbah Batik
{"title":"EFEKTIVITAS VARIASI BIOMASSA TANAMAN Hydrilla verticillata DALAM FITOREMEDIASI LIMBAH BATIK","authors":"Yohana Puji Lestari, Tien Aminatun","doi":"10.21831/kingdom.v7i4.12542","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i4.12542","url":null,"abstract":"Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi biomassa Hydrilla verticillata, biomassa Hydrillaverticillata yang paling efektif, dan mengetahui kualitas limbah batik setelah proses fitoremediasi. Limbah batikberasal dari CV. Batik Indah Rara Djonggrang, Yogyakarta. Variasi biomassa Hydrilla verticillata yang digunakanyaitu 200, 250, 300 gram dengan konsentrasi limbah 50%. Parameter yang diukur meliputi : suhu, pH, BOD, COD,kandungan krom (Cr), biomassa tanaman, daya hidup ikan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan pH dari 11menjadi 9 (kontrol) dan 8 (perlakuan). Hasil pengukuran suhu yaitu antara 27,9°C - 29,7°C. Nilai ini telahmemenuhi baku mutu sesuai Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2016 tentang BakuMutu Air Limbah (industri batik). Nilai COD kontrol, Hydrilla 200 gram, 250 gram, 300 gram setelah perlakuanmasing-masing yaitu 160,5; 593,0; 205,5; 215,5 mg/L, sedangkan nilai BOD yaitu 36,1; 30,2; 24,5; 33,5 mg/L.Kandungan logam berat limbah batik awal dan akhir penelitian yaitu 0,0213 mg/L. Kandungan logam berattanaman mengalami penurunan dari 8,225 mg/kg menjadi 4,569 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian, variasibiomassa tanaman Hydrilla verticillata berpengaruh dalam menurunkan nilai COD dan BOD. Biomassa tanamanHydrilla verticillata 250 gram adalah yang paling efektif dalam fitoremediasi limbah batik.Kata kunci : Fitoremediasi, Biomassa, Hydrilla verticillata, Logam Berat krom (Cr), Limbah Batik","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128734590","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-29DOI: 10.21831/kingdom.v7i4.13238
Heny Susanti, Ciptono Ciptono
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun Binahong terhadapperubahan jumlah folikel ovarium tikus putih dan mengetahui dosis paling optimal pemberian ekstrak daunBinahong terhadap perubahan jumlah folikel ovarium tikus putih.Penelitian ini merupakan penelitian ekperimendengan rancangan acak lengkap (RAL). Tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus umur 2 bulandengan berat badan 150 gram sebanyak 20 ekor. Dosis yang digunakan pada penelitian ini adalah 0 mg/Kg BB,17,1 mg/Kg BB, 21,37 mg/Kg BB, dan 25,65 mg/Kg BB. Ekstrak daun Binahong diberikan secara oral selama 21hari. Data dianalisis menggunakan One Way Anova untuk mengetahui adanya pengaruh terhadap perubahan jumlahfolikel ovarium. Dilanjutkan Uji LSD (Least Signifikasinificant Difference) untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Hasil penilitian pengaruh ekstrak daun Binahong (Anredera cordifolia) terhadap perubahan jumlahfolikel ovarium tikus putih (Rattus norvegicus) dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun Binahong tidakberpengaruh pada jenis folikel primer, sekunder, de Graff dan korpus luteum, sedangkan pada folikel tersier danfolikel atresia memberikan pengaruh secara signifikasinifikan. Pemberian dosis 25,65 mg/Kg BB merupakanpemberian dosis terbaik dalam mempengaruhi perubahan jumlah folikel tersier dan folikel atresia.Kata kunci: Ekstrak, Binahong, folikel, Tikus, betina.
{"title":"PENGARUH EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) TERHADAP PERUBAHAN JUMLAH FOLIKEL OVARIUM TIKUS PUTIH BETINA (Rattus norvegicus, L.)","authors":"Heny Susanti, Ciptono Ciptono","doi":"10.21831/kingdom.v7i4.13238","DOIUrl":"https://doi.org/10.21831/kingdom.v7i4.13238","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun Binahong terhadapperubahan jumlah folikel ovarium tikus putih dan mengetahui dosis paling optimal pemberian ekstrak daunBinahong terhadap perubahan jumlah folikel ovarium tikus putih.Penelitian ini merupakan penelitian ekperimendengan rancangan acak lengkap (RAL). Tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus umur 2 bulandengan berat badan 150 gram sebanyak 20 ekor. Dosis yang digunakan pada penelitian ini adalah 0 mg/Kg BB,17,1 mg/Kg BB, 21,37 mg/Kg BB, dan 25,65 mg/Kg BB. Ekstrak daun Binahong diberikan secara oral selama 21hari. Data dianalisis menggunakan One Way Anova untuk mengetahui adanya pengaruh terhadap perubahan jumlahfolikel ovarium. Dilanjutkan Uji LSD (Least Signifikasinificant Difference) untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Hasil penilitian pengaruh ekstrak daun Binahong (Anredera cordifolia) terhadap perubahan jumlahfolikel ovarium tikus putih (Rattus norvegicus) dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun Binahong tidakberpengaruh pada jenis folikel primer, sekunder, de Graff dan korpus luteum, sedangkan pada folikel tersier danfolikel atresia memberikan pengaruh secara signifikasinifikan. Pemberian dosis 25,65 mg/Kg BB merupakanpemberian dosis terbaik dalam mempengaruhi perubahan jumlah folikel tersier dan folikel atresia.Kata kunci: Ekstrak, Binahong, folikel, Tikus, betina.","PeriodicalId":166938,"journal":{"name":"Kingdom (The Journal of Biological Studies)","volume":"38 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133393784","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}