Pub Date : 2019-07-27DOI: 10.14710/IJFST.15.1.41-45
J. A. Surbakti, R. W. Sir
Pengelolaan sumberdaya ikan sangat erat kaitannya dengan pengelolaan operasi penangkapan ikan dan sasaran penangkapan ikan yang dilakukan. Perairan Oesapa merupakan lokasi kegiatan penangkapan ikan yang ada di Teluk kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis unit penangkapan yang sesuai dengan Code of Conduct Responsible for Fisheries (CCRF) di Perairan Oesapa Teluk Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik sampling quota sampling, pada bulan Juni-November 2016 . Rentang nilai 4 kategori alat tangkap ramah lingkungan alat tanggap yang dijadikan sampling, yaitu nilai 1 – 9 diaktegorikan sangat tidak ramah lingkungan, nilai 10 – 18 dikategorikan tidak ramah lingkungan, nilai 19 – 27 dikategorikan ramah lingkungan, dan nilai 28 – 36 dikategorikan sangat ramah lingkungan. Hasil yang dipereroleh dari penelitian ini yaitu alat tangkap yang masuk kategori sangat ramah 31,37 Fish resource management is very closely related to the management of fishing operations and fishing targets. Oesapa waters are the location of fishing activities in Teluk Kupang, East Nusa Tenggara Province. The purpose of this study was to analyze capture units in accordance with the Code of Conduct Responsible for Fisheries (CCRF) in the Oesapa Waters of Kupang. The research method used was descriptive method with quota sampling technique, in June-November 2016. The range of values for the 4 categories of environmentally friendly fishing gear for the response being sampled, namely the value of 1-9 categorized as very environmentally unfriendly, the value of 10-18 is categorized as environmentally unfriendly, the value of 19-27 is categorized as environmentally friendly, and the value 28-36 is very friendly environment. The results obtained from this study are fishing gear that is in the very friendly category 31.37
{"title":"TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP BAGAN DI PERAIRAN OESAPA TELUK KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR (Level of Environmental Fishing gears on Oesapa Waters of Kupang, East Nusa Tenggara)","authors":"J. A. Surbakti, R. W. Sir","doi":"10.14710/IJFST.15.1.41-45","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.41-45","url":null,"abstract":"Pengelolaan sumberdaya ikan sangat erat kaitannya dengan pengelolaan operasi penangkapan ikan dan sasaran penangkapan ikan yang dilakukan. Perairan Oesapa merupakan lokasi kegiatan penangkapan ikan yang ada di Teluk kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis unit penangkapan yang sesuai dengan Code of Conduct Responsible for Fisheries (CCRF) di Perairan Oesapa Teluk Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik sampling quota sampling, pada bulan Juni-November 2016 . Rentang nilai 4 kategori alat tangkap ramah lingkungan alat tanggap yang dijadikan sampling, yaitu nilai 1 – 9 diaktegorikan sangat tidak ramah lingkungan, nilai 10 – 18 dikategorikan tidak ramah lingkungan, nilai 19 – 27 dikategorikan ramah lingkungan, dan nilai 28 – 36 dikategorikan sangat ramah lingkungan. Hasil yang dipereroleh dari penelitian ini yaitu alat tangkap yang masuk kategori sangat ramah 31,37 Fish resource management is very closely related to the management of fishing operations and fishing targets. Oesapa waters are the location of fishing activities in Teluk Kupang, East Nusa Tenggara Province. The purpose of this study was to analyze capture units in accordance with the Code of Conduct Responsible for Fisheries (CCRF) in the Oesapa Waters of Kupang. The research method used was descriptive method with quota sampling technique, in June-November 2016. The range of values for the 4 categories of environmentally friendly fishing gear for the response being sampled, namely the value of 1-9 categorized as very environmentally unfriendly, the value of 10-18 is categorized as environmentally unfriendly, the value of 19-27 is categorized as environmentally friendly, and the value 28-36 is very friendly environment. The results obtained from this study are fishing gear that is in the very friendly category 31.37","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"66 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123209968","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-27DOI: 10.14710/IJFST.15.1.32-40
I. Maulina, I. Triarso, Kukuh Eko Prihantoko
Laut Jawa merupakan perairan dengan potensi ikan pelagis kecil yang didominasi ikan Tembang. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui pengetahuan daerah potensi penangkapan ikan. Penentuan DPI (Daerah Penangkapan Ikan) ikan pelagis oleh nelayan Pukat Cincin ( mini purse seine ) yang berbasis di PPN Pekalongan masih menggunakan cara tradisional melalui pengalaman terdahulu sehingga hasilnya kurang maksimal. Tujuan penelitian ini mengkaji nilai rata-rata suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a secara musiman selama 3 tahun (2016-2018) melalui interpretasi citra satelit Aqua Modis serta menganalisis pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan Tembang ( Sardinella fimbriata) . Sehingga didapat peta potensi DPI Ikan Tembang pada perikanan mini purse seine di Laut Jawa yang berbasis di PPN Pekalongan. Metode pengambilan data dilakukan melalui observasi lapangan. Metode penentuan daerah potensi penangkapan ikan dilakukan melalui pendekatan SPL dan konsentrasi klorofil-a dengan memperhatikan jalur penangkapan dan kedalaman perairan. Hasil yang didapat yakni rata-rata produksi ikan Tembang tertinggi pada tahun 2016 hingga 2018 di Laut Jawa didapat pada musim peralihan I dengan SPL 28,86oC dan konsentrasi klorofil-a 0,55 mg/m 3 . Analisis pengaruh SPL dan Klorofil-a terhadap hasil tangkapan dilakukan melalui regresi berganda dengan menyertakan uji asumsi klasik. Pengaruh SPL dan Klorofil-a terhadap hasil tangkapan dinilai cukup kuat terlihat dari koefisien korelasi (R) 0,795. Koefisien determinasi (R 2 ) 0,63, artinya SPL dan klorofil-a dapat menjelaskan hasil tangkapan 63%. Terdapat 3 lokasi yang berpotensi sebagai daerah penangkapan di Laut Jawa tepatnya Utara Kota Pekalongan yakni di perairan Tegal, Pemalang dan Pekalongan dengan daerah potensi terluas berada di perairan Pekalongan. The Java Sea is a water region with potential pelagic fish. Mini purse seine fisheries with fishing base on PPN Pekalongan was determined fishing ground by traditional way, so the result was not optimal. The research aims to observe seasonal variability of sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a concentration for 3 years (2016-2018) from satellite image data Aqua Modis interpretation and analyze the relationship between catch and SST as well as between catch and chlorophyll-a. Final result from this research is map of Fringe Scale Sardine (Sardinella fimbriata) fishing ground for mini purse seine fishery in the Java Sea. This research apllied the theory that fishing ground can be determined by SST and chlorophyl-a. The results showed that the highest catch value in the Java Sea during 2016 till 2018 was occurred on transitional season while SST 28,86°C and chlorophyll-a concentration 0,55 mg/m³. This research use multiple regression which start by classical assumption test to analyze the relationship between catch and SST as well as between catch and chlorophyll-a. Also obtained correlation between SST and concentration of chlorophyll-a
{"title":"DAERAH POTENSI PENANGKAPAN IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) DI LAUT JAWA BERDASARKAN SATELIT AQUA MODIS (Potential Fishing Ground of Fringe Scale Sardine (Sardinella fimbriata) in the Java Sea based on Aqua Modis Satellite)","authors":"I. Maulina, I. Triarso, Kukuh Eko Prihantoko","doi":"10.14710/IJFST.15.1.32-40","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.32-40","url":null,"abstract":"Laut Jawa merupakan perairan dengan potensi ikan pelagis kecil yang didominasi ikan Tembang. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui pengetahuan daerah potensi penangkapan ikan. Penentuan DPI (Daerah Penangkapan Ikan) ikan pelagis oleh nelayan Pukat Cincin ( mini purse seine ) yang berbasis di PPN Pekalongan masih menggunakan cara tradisional melalui pengalaman terdahulu sehingga hasilnya kurang maksimal. Tujuan penelitian ini mengkaji nilai rata-rata suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a secara musiman selama 3 tahun (2016-2018) melalui interpretasi citra satelit Aqua Modis serta menganalisis pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan Tembang ( Sardinella fimbriata) . Sehingga didapat peta potensi DPI Ikan Tembang pada perikanan mini purse seine di Laut Jawa yang berbasis di PPN Pekalongan. Metode pengambilan data dilakukan melalui observasi lapangan. Metode penentuan daerah potensi penangkapan ikan dilakukan melalui pendekatan SPL dan konsentrasi klorofil-a dengan memperhatikan jalur penangkapan dan kedalaman perairan. Hasil yang didapat yakni rata-rata produksi ikan Tembang tertinggi pada tahun 2016 hingga 2018 di Laut Jawa didapat pada musim peralihan I dengan SPL 28,86oC dan konsentrasi klorofil-a 0,55 mg/m 3 . Analisis pengaruh SPL dan Klorofil-a terhadap hasil tangkapan dilakukan melalui regresi berganda dengan menyertakan uji asumsi klasik. Pengaruh SPL dan Klorofil-a terhadap hasil tangkapan dinilai cukup kuat terlihat dari koefisien korelasi (R) 0,795. Koefisien determinasi (R 2 ) 0,63, artinya SPL dan klorofil-a dapat menjelaskan hasil tangkapan 63%. Terdapat 3 lokasi yang berpotensi sebagai daerah penangkapan di Laut Jawa tepatnya Utara Kota Pekalongan yakni di perairan Tegal, Pemalang dan Pekalongan dengan daerah potensi terluas berada di perairan Pekalongan. The Java Sea is a water region with potential pelagic fish. Mini purse seine fisheries with fishing base on PPN Pekalongan was determined fishing ground by traditional way, so the result was not optimal. The research aims to observe seasonal variability of sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a concentration for 3 years (2016-2018) from satellite image data Aqua Modis interpretation and analyze the relationship between catch and SST as well as between catch and chlorophyll-a. Final result from this research is map of Fringe Scale Sardine (Sardinella fimbriata) fishing ground for mini purse seine fishery in the Java Sea. This research apllied the theory that fishing ground can be determined by SST and chlorophyl-a. The results showed that the highest catch value in the Java Sea during 2016 till 2018 was occurred on transitional season while SST 28,86°C and chlorophyll-a concentration 0,55 mg/m³. This research use multiple regression which start by classical assumption test to analyze the relationship between catch and SST as well as between catch and chlorophyll-a. Also obtained correlation between SST and concentration of chlorophyll-a ","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"13 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121052018","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-27DOI: 10.14710/IJFST.15.1.54-59
S. Hastuti, S. Subandiyono, S. Windarto, R. A. Nugroho
Kerang mutiara ( Pinctada maxima ) merupakan salah satu sumberdaya laut yang memiliki prospek untuk dikembangkan, bernilai ekonomis yaitu menghasilkan butiran mutiara yang bernilai jual tinggi. Budidaya tiram mutiara pada tahap pendederan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam usaha produksi mutiara. Pada saat ini benih hasil pendederan banyak dibutuhkan perusahaan mutiara untuk meningkatkan target produksi mutiaranya. Rendahnya angka kelangsungan hidup tiram yang disebabkan oleh kepadatan tebar dalam satu pocket net merupakan permasalahan yang perlu dipecahkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kepadatan optimum dalam pemeliharaan kerang mutiara. Penelitian dilakukan di perairan Sekotong, Lombok Barat. Penelitian ini dirancang dengan model rancangan acak lengkap (RAL). Variabel bebas yang diterapkan adalah kepadatan spat tiram mutiara ( P. Maxima ), yaitu 50, 100 dan 150 individu pocket-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepadatan kerang mutiara ( P. Maxima ) dalam sistim pemeliharaan longline berpengaruh terhadap performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Kepadatan optimum kerang mutiara dalam 1 pocket net berada pada kisaran 89 hingga 124 individu per pocket net. Pearl oyster (Pinctada maxima) is one of the marine resources that has the prospect of being developed, has high economic value, and produces pearls of pearls that have high selling value. Nursery pearl oysters is one of a series of activities in the business of pearl production. Harvest from the nursery are needed by pearl companies to increase their pearl production target at this time. The low survival rate of oysters caused by shell density in the longline nursery method is a problem that needs to be solved. This research was conducted with the aim to analyze optimum density in the cultivation of oysters. The research was conducted in Sekotong waters, West Lombok, Indonesia. This study was designed with a completely randomized design model (CRD). The independent variables applied were the density of pearl oyster spat (P. Maxima), namely 50, 100 and 150 individual pocket-1. The results showed that the density of pearl oysters (P. Maxima) in the longline system affected growth and survival performance. The optimum density of pearl oysters in 1 pocket net is in the range of 89 to 124 individuals pocket net-1. The maximum density that is still capable of supporting its life is 135 individuals pocket net-1
珍珠贝壳(Pinctada马克西姆)是一个有前景的海洋资源开发,经济价值即产生了高价值的珍珠。珍珠养殖牡蛎pendederan阶段是生产珍珠行业活动系列之一。此时pendederan结果很多种子公司需要提高目标生产珍珠的珍珠。数字低密度引起的牡蛎流口水的生存在一个口袋网是一个需要解决的问题。本研究旨在维护中获得最佳密度珍珠贝壳。在去世通,龙目岛西部水域进行研究。这项研究的设计完全随机设计模型(财富)。应用的自由变量是上一次珍珠牡蛎(P .马克西姆密度),即50、100和个人pocket-1 150公里。研究结果表明,密度维修系统的珍珠贝壳(P .马克西姆)longline影响生长和生存性能。珍珠贝壳最佳密度范围之内口袋网在89高达124个人口袋网。珍珠牡蛎(Pinctada马克西姆)是海洋生物资源的一号那讲developed展望》,有了高经济价值,珍珠和珍珠produces》那有推销价值高。苗圃珍珠oysters一号的是珍珠系列活动在商业模式》的制作。收获的季节从苗圃是需要由珍珠companies到增加珍珠制作目标在这次的结果。oysters率低生存》《longline枪舌战壳牌公司密度苗圃方法是一个问题发展到这种需要被解决了。这个研究是conducted与《耕耘》最佳aim to analyze密度oysters。沃特斯research was conducted》去世通,龙目岛西部,印度尼西亚。这个研究是设计与a完全randomized设计模型(CRD)。据英国《独立报》variables应用密度》是珍珠牡蛎(P .马克西姆),namely铲子50、100和个人pocket-1 150公里。The results那里那珍珠之密度oysters (P .马克西姆)演出《longline系统受到影响增长和生存。珍珠的最佳密度oysters》1口袋网是《太阳城》89到124座individuals口袋net-1。《maximum密度就是静止不动capable of supporting它的生活是135 individuals口袋net-1
{"title":"PERFORMA BIOLOGIS TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN KEPADATAN BERBEDA MENGGUNAKAN SISTIM LONGLINE (The Biological Performance Of Pearl Oysters (Pinctada Maxima) Which Are Cultured In Different Densities Uses A Longline System)","authors":"S. Hastuti, S. Subandiyono, S. Windarto, R. A. Nugroho","doi":"10.14710/IJFST.15.1.54-59","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.54-59","url":null,"abstract":"Kerang mutiara ( Pinctada maxima ) merupakan salah satu sumberdaya laut yang memiliki prospek untuk dikembangkan, bernilai ekonomis yaitu menghasilkan butiran mutiara yang bernilai jual tinggi. Budidaya tiram mutiara pada tahap pendederan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam usaha produksi mutiara. Pada saat ini benih hasil pendederan banyak dibutuhkan perusahaan mutiara untuk meningkatkan target produksi mutiaranya. Rendahnya angka kelangsungan hidup tiram yang disebabkan oleh kepadatan tebar dalam satu pocket net merupakan permasalahan yang perlu dipecahkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kepadatan optimum dalam pemeliharaan kerang mutiara. Penelitian dilakukan di perairan Sekotong, Lombok Barat. Penelitian ini dirancang dengan model rancangan acak lengkap (RAL). Variabel bebas yang diterapkan adalah kepadatan spat tiram mutiara ( P. Maxima ), yaitu 50, 100 dan 150 individu pocket-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepadatan kerang mutiara ( P. Maxima ) dalam sistim pemeliharaan longline berpengaruh terhadap performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Kepadatan optimum kerang mutiara dalam 1 pocket net berada pada kisaran 89 hingga 124 individu per pocket net. Pearl oyster (Pinctada maxima) is one of the marine resources that has the prospect of being developed, has high economic value, and produces pearls of pearls that have high selling value. Nursery pearl oysters is one of a series of activities in the business of pearl production. Harvest from the nursery are needed by pearl companies to increase their pearl production target at this time. The low survival rate of oysters caused by shell density in the longline nursery method is a problem that needs to be solved. This research was conducted with the aim to analyze optimum density in the cultivation of oysters. The research was conducted in Sekotong waters, West Lombok, Indonesia. This study was designed with a completely randomized design model (CRD). The independent variables applied were the density of pearl oyster spat (P. Maxima), namely 50, 100 and 150 individual pocket-1. The results showed that the density of pearl oysters (P. Maxima) in the longline system affected growth and survival performance. The optimum density of pearl oysters in 1 pocket net is in the range of 89 to 124 individuals pocket net-1. The maximum density that is still capable of supporting its life is 135 individuals pocket net-1","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130110332","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-27DOI: 10.14710/IJFST.15.1.46-53
Dewi Pertiwi Nusantara, P. W. Purnomo, S. Supriharyono
Intensitas cahaya merupakan faktor penting terhadap biota karang dalam mendukung pertumbuhan karang, atau sebaliknya dapat menyebabkan bleaching Zooxanthellae dari polyp karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas dan lamanya pemaparan pencahayaan UV terhadap laju pelepasan Zooxanthellae pada karang Acropora sp serta recovery nya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 – Januari 2019, di Laboratorium Histopatologi BBPBAP Jepara. Spesimen karang Acropora sp. diberikan perlakuan penyinaran secara Fotoperiode dan terus-menerus dengan lampu uv 10 watt, 15 watt dan kondisi normal; dengan ulangan tiga kali. Sampel karang Acropora sp. diambil dari perairan Pulau Panjang Jepara. Pengamatan dilakukan pada interval waktu ke- 0, 12, 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Parameter utama yang diamati adalah laju pelepasan Zooxanthellae dan peubah pendukung yaitu kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pelepasan Zooxanthellae, semakin tinggi dan pencahayaan yang terus menerus mengakibatkan bleaching total Zooxanthellae pada Acropora sp. Pelepasan Zooxanthellae pencahayaan UV secara terus-menerus lebih besar dari pada perlakuan secara fotoperiode (1881 sel/jam > 731 sel/jam). The light intensity is an important factor for polyp coral in supporting coral growth, or otherwise can cause bleaching of coral. The aims of this research are to evaluate the influence of intensity and the length of ultra violet lighting exposure to the rate of the release of Zooxanthellae in Acropora sp. and their recovery. The research was carried out in December 2018 to January 2019, in the Histopatologi Laboratory of BBPBAP Jepara. Coral Acropora sp. Was given continuous and fotoperiode light treatment with ultra violet lights 10 watts, 15 watts and normally condition; with three times replications. Samples of Acropora sp. were taken from Panjang Island Jepara. The periode of observation are 0 , 12 , 24 , 36 , 48 , 60 , and 72 hours. The main parameters observed are the release of Zooxanthellae and water quality as supporting variables. The result showed that the intensity of ultra violet lighting influence significantly on the release of Zooxanthellae. The higher of intensity and continuous lighting caused total bleaching of Zooxanthellae in Acropora sp. The continuous release of Zooxanthellae UV lighting is greater than photoperiod treatment (1881 cells / hour> 731 cells / hour).
{"title":"PENGARUH INTENSITAS PENCAHAYAAN UV TERHADAP PELEPASAN Zooxanthellae PADA KARANG Acropora sp. dalam SKALA LABORATORIUM (The Effect of Ultra Violet Intensity on the Release of Zooxanthellae in Coral Acropora sp. in Laboratory Scale)","authors":"Dewi Pertiwi Nusantara, P. W. Purnomo, S. Supriharyono","doi":"10.14710/IJFST.15.1.46-53","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.46-53","url":null,"abstract":"Intensitas cahaya merupakan faktor penting terhadap biota karang dalam mendukung pertumbuhan karang, atau sebaliknya dapat menyebabkan bleaching Zooxanthellae dari polyp karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas dan lamanya pemaparan pencahayaan UV terhadap laju pelepasan Zooxanthellae pada karang Acropora sp serta recovery nya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 – Januari 2019, di Laboratorium Histopatologi BBPBAP Jepara. Spesimen karang Acropora sp. diberikan perlakuan penyinaran secara Fotoperiode dan terus-menerus dengan lampu uv 10 watt, 15 watt dan kondisi normal; dengan ulangan tiga kali. Sampel karang Acropora sp. diambil dari perairan Pulau Panjang Jepara. Pengamatan dilakukan pada interval waktu ke- 0, 12, 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Parameter utama yang diamati adalah laju pelepasan Zooxanthellae dan peubah pendukung yaitu kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pelepasan Zooxanthellae, semakin tinggi dan pencahayaan yang terus menerus mengakibatkan bleaching total Zooxanthellae pada Acropora sp. Pelepasan Zooxanthellae pencahayaan UV secara terus-menerus lebih besar dari pada perlakuan secara fotoperiode (1881 sel/jam > 731 sel/jam). The light intensity is an important factor for polyp coral in supporting coral growth, or otherwise can cause bleaching of coral. The aims of this research are to evaluate the influence of intensity and the length of ultra violet lighting exposure to the rate of the release of Zooxanthellae in Acropora sp. and their recovery. The research was carried out in December 2018 to January 2019, in the Histopatologi Laboratory of BBPBAP Jepara. Coral Acropora sp. Was given continuous and fotoperiode light treatment with ultra violet lights 10 watts, 15 watts and normally condition; with three times replications. Samples of Acropora sp. were taken from Panjang Island Jepara. The periode of observation are 0 , 12 , 24 , 36 , 48 , 60 , and 72 hours. The main parameters observed are the release of Zooxanthellae and water quality as supporting variables. The result showed that the intensity of ultra violet lighting influence significantly on the release of Zooxanthellae. The higher of intensity and continuous lighting caused total bleaching of Zooxanthellae in Acropora sp. The continuous release of Zooxanthellae UV lighting is greater than photoperiod treatment (1881 cells / hour> 731 cells / hour).","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"18 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122217240","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-17DOI: 10.14710/IJFST.15.1.26-31
Aristi Dian Purnama Fitri, Herry Boesono, K. Prihantoko, D. Y. Gautama, D. E. Dewi, Fajar Adiyanto
Electro Shield System (ESS) adalah suatu perangkat elektronik sebagai alat bantu untuk mencegah tertangkapnya biota lasmobranchii yang umumnya sebagai bycatch pada saat operasi penangkapan bottom set gill net . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh frekuensi ESS ( Electro Shield System ) sebesar 55 Hz dan 100 Hz selama operasi penangkapan pada jaring insang dasar ( bottom set Gill net ) terhadap biota elasmobranch. Metode penelitian adalah eksperimental fishing, dilakukan di perairan Tanjung Pandan, Bangka. Kepulauan Belitung di Indonesia dari bulan Maret hingga Mei, 2017. Variabel perlakuan adalah operasi penangkapan bottom set gill net yang dipasang alat ESS frekuensi ESS 55 Hz dan 100 Hz dibandingkan dengan bottom set gill net tanpa dipasang ESS (kontrol) untuk mengetahui hasil tangkapan elasmobranchii . Tangkapan Elasmobranch pada bottom set Gill net dengan ESS 55 Hz lebih rendah jumlahnya (5,26%) dibandingkan dengan tangkapan dengan ESS 100 Hz (6,21%) dan tanpa ESS (7,08%). Analisis statistik ANOVA (tanda 0,05) menunjukkan perbedaan yang signifikan antara bottom set gill net dengan dan tanpa ESS 55 Hz dan 100 Hz. Hal ini menunjukkan bahwa ESS dengan frekuensi 55 Hz dapat dideteksi oleh biota elasmobranch dalam organ ampullae lorenzini , sehingga tidak terperangkap pada bottom set Gill net . Electro Shield System (ESS) was an electronic device as a tool to prevent the capture of common lasmobranchii biota as a by-catch during a bottom set gill net capture operation. The aim of research was analysed the effect of ESS (Electro Shield System ) frequency of 55 Hz and 100 Hz during the capture operation on bottom set Gill net against elasmobranch biota. The research method was an experimental fishing, conducted in the Tanjung Pandan waters of the Bangka. Belitung Islands in Indonesia from March to May, 2017. The treatment variable was the bottom set gill net capture operation that is installed ESS 55 Hz and 100 Hz frequency compared to without ESS (control) to find out the elasmobranch catch . Elasmobranch catches on set bottom set Gill nets with ESS 55 Hz were lower (5.26%) compared to catches with 100 Hz (7.08%) and without ESS (7.08 %). Statistical analysis of ANOVA (sign 0.05) shows a significant difference between bottom set Gill nets with and without ESS 55 Hz and 100 Hz. This indicates that an Electro Shield System with a frequency of 55 Hz can be detected by elasmobranch biota in the organs of ampullae lorenzini, so as not to be caught on the bottom set Gill net .
电子系统是一种工具,用来防止拉斯莫布兰奇生物的被捕。这项研究的目的是分析在基本鳃网(elasmobranch biota)捕获吉尔网络(bottom set Gill net)时,其电子盾系统(Electro Shield System)的频率为55赫兹和100赫兹。研究方法是在邦加的丹戎潘丹水里进行的实验钓鱼。印度尼西亚的勿里通群岛,2017年3月至5月。治疗变量是捕获一个位于ESS频率为55 Hz和100 Hz的底层操作,这与不安装ESS网络以了解elasmobranchii捕获的结果相比。Elasmobranch在ginet的底部以ESS 55 Hz的数量为5.26%,比ESS 100 Hz(6.21%)和无ESS(7.08%)的渔数要低得多。ANOVA的统计分析(0.05分)显示了gif net底端与ESS 55赫兹和100赫兹之间的显著区别。这表明,f2h频率55赫兹的ESS可以被lorenzini的ampulta elasmobranch器官检测到,所以它不会被困在ginet的底部。电子系统是一种电子工具,用来预防常见的拉斯莫branchii生物的捕获,就像在吉尔网捕获行动中捕获的那样。研究的目标是分析5hz和100 Hz在对elasmobranch生物的捕获过程中捕获的吉尔网的底部作用。这项研究的方法是一种实验,是在好汉角潘丹水域发现的。2017年3月到5月,印度尼西亚的勿里通群岛。这种变化的治疗是由位于255 Hz和100 Hz的频率所捕获的。Elasmobranch catch在set bottom set with ESS 55 Hz是lower(5.26%),比较低100 Hz(7.08%)和无ESS(7.08%)。ANOVA统计分析(标志0.05)对底网网的有效区分有5hz和100 Hz。这是一个具有55 Hz频率的电子盾系统,可以由lorenzini大西洋风琴中的elasmobranch生物发现,所以我们不会被Gill net的底部底部发现。
{"title":"PENGARUH ELECTRO SHIELD SYSTEM (EES) PADA BOTTOM SET GILL NET TERHADAP HASIL TANGKAPAN ELASMOBRANCHII DI PERAIRAN TANJUNG PANDAN, KEPULAUAN BANGKA BELITUNG","authors":"Aristi Dian Purnama Fitri, Herry Boesono, K. Prihantoko, D. Y. Gautama, D. E. Dewi, Fajar Adiyanto","doi":"10.14710/IJFST.15.1.26-31","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.26-31","url":null,"abstract":"Electro Shield System (ESS) adalah suatu perangkat elektronik sebagai alat bantu untuk mencegah tertangkapnya biota lasmobranchii yang umumnya sebagai bycatch pada saat operasi penangkapan bottom set gill net . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh frekuensi ESS ( Electro Shield System ) sebesar 55 Hz dan 100 Hz selama operasi penangkapan pada jaring insang dasar ( bottom set Gill net ) terhadap biota elasmobranch. Metode penelitian adalah eksperimental fishing, dilakukan di perairan Tanjung Pandan, Bangka. Kepulauan Belitung di Indonesia dari bulan Maret hingga Mei, 2017. Variabel perlakuan adalah operasi penangkapan bottom set gill net yang dipasang alat ESS frekuensi ESS 55 Hz dan 100 Hz dibandingkan dengan bottom set gill net tanpa dipasang ESS (kontrol) untuk mengetahui hasil tangkapan elasmobranchii . Tangkapan Elasmobranch pada bottom set Gill net dengan ESS 55 Hz lebih rendah jumlahnya (5,26%) dibandingkan dengan tangkapan dengan ESS 100 Hz (6,21%) dan tanpa ESS (7,08%). Analisis statistik ANOVA (tanda 0,05) menunjukkan perbedaan yang signifikan antara bottom set gill net dengan dan tanpa ESS 55 Hz dan 100 Hz. Hal ini menunjukkan bahwa ESS dengan frekuensi 55 Hz dapat dideteksi oleh biota elasmobranch dalam organ ampullae lorenzini , sehingga tidak terperangkap pada bottom set Gill net . Electro Shield System (ESS) was an electronic device as a tool to prevent the capture of common lasmobranchii biota as a by-catch during a bottom set gill net capture operation. The aim of research was analysed the effect of ESS (Electro Shield System ) frequency of 55 Hz and 100 Hz during the capture operation on bottom set Gill net against elasmobranch biota. The research method was an experimental fishing, conducted in the Tanjung Pandan waters of the Bangka. Belitung Islands in Indonesia from March to May, 2017. The treatment variable was the bottom set gill net capture operation that is installed ESS 55 Hz and 100 Hz frequency compared to without ESS (control) to find out the elasmobranch catch . Elasmobranch catches on set bottom set Gill nets with ESS 55 Hz were lower (5.26%) compared to catches with 100 Hz (7.08%) and without ESS (7.08 %). Statistical analysis of ANOVA (sign 0.05) shows a significant difference between bottom set Gill nets with and without ESS 55 Hz and 100 Hz. This indicates that an Electro Shield System with a frequency of 55 Hz can be detected by elasmobranch biota in the organs of ampullae lorenzini, so as not to be caught on the bottom set Gill net .","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122011120","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-17DOI: 10.14710/IJFST.15.1.1-10
S. Syahrial, Fahriansyah Fahriansyah, Anna Lilian, Arbaeyah Arbaeyah, Cahyani Fitrah Tanjung, Nila Sari Lubis
Hutan mangrove memiliki lingkungan yang sangat kompleks, dimana di dalam dan antar lokasi habitat mangrove saling berbeda. Kajian karakteristik lingkungan penentu distribusi dan kepadatan fauna makro bentik serta hubungannya (studi kasus gastropoda dan kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu) telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Hal ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan yang berperan terhadap distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura serta untuk mengetahui hubungan antara karakteristik lingkungan dengan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Pengukuran karakteristik lingkungan dilakukan dengan cara insitu, sedangkan data gastropoda dan kepiting brachyura dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove terluar) dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Faktor-faktor lingkungan yang menentukan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA), sedangkan hubungannya digunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil kajian memperlihatkan bahwa karakteristik lingkungan yang paling menentukan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu adalah parameter pH. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi pH perairan, maka kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura juga semakin tinggi. Begitu sebaliknya, semakin rendah konsentrasi pH perairan, maka kepadatan gastropoda dan kepiting brachyura juga semakin menurun. Mangrove forests have a very complex environment, where in and between locations mangrove habitats are different. The study of environmental characteristics determining the distribution and density of benthic macrofauna and their relationship (a case study of gastropods and crab brachyurans in the Seribu Islands mangrove reforestation area) was conducted in March 2014. The research aims to determine environmental factors that contribute to the distribution and density of gastropods and brachyurans crabs and to determine the relationship between environmental characteristics and the distribution and density of gastropods and crab brachyurans in the Seribu Islands mangrove reforestation area. Measurements of environmental characteristics were carried out by insitu method, while data on gastropods and crab brachyurans were collected by making line transects and plots drawn from the reference point (outermost mangrove stands) and perpendicular to the coastline to the mainland. Environmental factors that determine the distribution and density of gastropods and crab brachyurans were analyzed using the Principle Component Analysis (PCA), while the relationship used simple linear regression analysis. The results of the study show that the environmental characteristics that most determine the distribution and density o
{"title":"KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PENENTU DISTRIBUSI DAN KEPADATAN FAUNA MAKRO BENTIK SERTA HUBUNGANNYA: STUDI KASUS GASTROPODA DAN KEPITING BRACHYURA DI KAWASAN REBOISASI MANGROVE KEPULAUAN SERIBU","authors":"S. Syahrial, Fahriansyah Fahriansyah, Anna Lilian, Arbaeyah Arbaeyah, Cahyani Fitrah Tanjung, Nila Sari Lubis","doi":"10.14710/IJFST.15.1.1-10","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.1-10","url":null,"abstract":"Hutan mangrove memiliki lingkungan yang sangat kompleks, dimana di dalam dan antar lokasi habitat mangrove saling berbeda. Kajian karakteristik lingkungan penentu distribusi dan kepadatan fauna makro bentik serta hubungannya (studi kasus gastropoda dan kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu) telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Hal ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan yang berperan terhadap distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura serta untuk mengetahui hubungan antara karakteristik lingkungan dengan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Pengukuran karakteristik lingkungan dilakukan dengan cara insitu, sedangkan data gastropoda dan kepiting brachyura dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove terluar) dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Faktor-faktor lingkungan yang menentukan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA), sedangkan hubungannya digunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil kajian memperlihatkan bahwa karakteristik lingkungan yang paling menentukan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu adalah parameter pH. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi pH perairan, maka kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura juga semakin tinggi. Begitu sebaliknya, semakin rendah konsentrasi pH perairan, maka kepadatan gastropoda dan kepiting brachyura juga semakin menurun. Mangrove forests have a very complex environment, where in and between locations mangrove habitats are different. The study of environmental characteristics determining the distribution and density of benthic macrofauna and their relationship (a case study of gastropods and crab brachyurans in the Seribu Islands mangrove reforestation area) was conducted in March 2014. The research aims to determine environmental factors that contribute to the distribution and density of gastropods and brachyurans crabs and to determine the relationship between environmental characteristics and the distribution and density of gastropods and crab brachyurans in the Seribu Islands mangrove reforestation area. Measurements of environmental characteristics were carried out by insitu method, while data on gastropods and crab brachyurans were collected by making line transects and plots drawn from the reference point (outermost mangrove stands) and perpendicular to the coastline to the mainland. Environmental factors that determine the distribution and density of gastropods and crab brachyurans were analyzed using the Principle Component Analysis (PCA), while the relationship used simple linear regression analysis. The results of the study show that the environmental characteristics that most determine the distribution and density o","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115373132","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-17DOI: 10.14710/IJFST.15.1.19-25
Helmy Mustafida, Y. S. Darmanto, A. D. Anggo
“ Kekian ” merupakan salah satu produk diversifikasi perikanan. Kekian yang baik memiliki tekstur yang kenyal dan mudah dikunyah, sehingga perlu gelling agen t (bahan pembentuk gel) untuk bisa membuat gel kekian tersebut tetap baik. Gelatin memiliki sifat sebagai penstabil dan pembentuk gel sehingga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kekuatan gel dan memperbaiki tekstur dari kekian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik gelatin dari berbagai jenis kulit ikan dan mengetahui pengaruh penambahan gelatin kulit ikan tersebut terhadap mutu produk kekian . Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian adalah penambahan gelatin kulit ikan yang berbeda yaitu ikan patin, ikan cobia, dan ikan payus, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah gel strength , kadar air, kadar protein, kadar lemak, hedonik, uji gigit, uji lipat, dan uji derajat putih. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Beda Nyata Jujur, sedangkan data non-parametrik dianalisis menggunakan Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney Test . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekian dengan penambahan gelatin kulit ikan patin, cobia, dan payus mempunyai pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap kualitas kekuatan gel, kadar air, kadar protein, kadar lemak, hedonik (tekstur dan warna), uji gigit, uji lipat dan uji derajat putih. Formulasi kekian terbaik pada penelitian ini dengan penambahan gelatin kulit ikan cobia dinilai dari gel strength (1886,14 g.cm); nilai kadar air (51,75 %); nilai kadar protein (25,91%); nilai kadar lemak (9,21%); nilai hedonik (7,46<µ<7,73); nilai uji gigit (8,36); nilai uji lipat (4,46) dan nilai derajat putih (69,51). “ Kekian” is one of the fisheries diversification products. Good kekian has a chewy texture and is easy to chew, so it needs a gelling agent to make the gel remain good. Gelatine has the properties of a stabilizer and gel formation, so it has the ability to increase gel strength and improve texture from kekian. The purpose of this research is to know the characteristics of gelatine from various types of fish skin and determaine the effect gelatine addition of fish skin on the quality of product. The research method used was experimental laboratories using a Completely Randomized Design (CRD). The treatments were addition of different skin fish gelatine, namely catfish, cobia fish, and payus fish, each treatment was repeated in three replications. The parameters observed were gel strength, water content, protein content, fat content, hedonic, bite test, folding test, and degree of whiteness. Parametric data were analyzed using ANOVA and Honestly Significant Difference, while non-parametric data were analyzed using Kruskall-Wallis and Mann-Whitney test. The results showed that the kekian with the addition of fish skin gelatine had a significantly different effect (P<0.05) on the quality of
{"title":"PENGARUH BERBAGAI JENIS GELATIN KULIT IKAN TERHADAP KARAKTERISTIK KEKIAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) (The Effect of Various Types of Skin Fish Gelatine to Fish Kekian Characteristics from Tilapia (Oreochromis niloticus))","authors":"Helmy Mustafida, Y. S. Darmanto, A. D. Anggo","doi":"10.14710/IJFST.15.1.19-25","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.19-25","url":null,"abstract":"“ Kekian ” merupakan salah satu produk diversifikasi perikanan. Kekian yang baik memiliki tekstur yang kenyal dan mudah dikunyah, sehingga perlu gelling agen t (bahan pembentuk gel) untuk bisa membuat gel kekian tersebut tetap baik. Gelatin memiliki sifat sebagai penstabil dan pembentuk gel sehingga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kekuatan gel dan memperbaiki tekstur dari kekian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik gelatin dari berbagai jenis kulit ikan dan mengetahui pengaruh penambahan gelatin kulit ikan tersebut terhadap mutu produk kekian . Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian adalah penambahan gelatin kulit ikan yang berbeda yaitu ikan patin, ikan cobia, dan ikan payus, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah gel strength , kadar air, kadar protein, kadar lemak, hedonik, uji gigit, uji lipat, dan uji derajat putih. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Beda Nyata Jujur, sedangkan data non-parametrik dianalisis menggunakan Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney Test . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekian dengan penambahan gelatin kulit ikan patin, cobia, dan payus mempunyai pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap kualitas kekuatan gel, kadar air, kadar protein, kadar lemak, hedonik (tekstur dan warna), uji gigit, uji lipat dan uji derajat putih. Formulasi kekian terbaik pada penelitian ini dengan penambahan gelatin kulit ikan cobia dinilai dari gel strength (1886,14 g.cm); nilai kadar air (51,75 %); nilai kadar protein (25,91%); nilai kadar lemak (9,21%); nilai hedonik (7,46<µ<7,73); nilai uji gigit (8,36); nilai uji lipat (4,46) dan nilai derajat putih (69,51). “ Kekian” is one of the fisheries diversification products. Good kekian has a chewy texture and is easy to chew, so it needs a gelling agent to make the gel remain good. Gelatine has the properties of a stabilizer and gel formation, so it has the ability to increase gel strength and improve texture from kekian. The purpose of this research is to know the characteristics of gelatine from various types of fish skin and determaine the effect gelatine addition of fish skin on the quality of product. The research method used was experimental laboratories using a Completely Randomized Design (CRD). The treatments were addition of different skin fish gelatine, namely catfish, cobia fish, and payus fish, each treatment was repeated in three replications. The parameters observed were gel strength, water content, protein content, fat content, hedonic, bite test, folding test, and degree of whiteness. Parametric data were analyzed using ANOVA and Honestly Significant Difference, while non-parametric data were analyzed using Kruskall-Wallis and Mann-Whitney test. The results showed that the kekian with the addition of fish skin gelatine had a significantly different effect (P<0.05) on the quality of","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"15 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130727602","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-07-17DOI: 10.14710/IJFST.15.1.11-18
Brenda Sabrina Marsha Putri, C. Ain, S. Rudiyanti
Pantai Karang Jahe (PKJ) merupakan obyek wisata yang memiliki potensi, seperti air laut yang jernih, pasir laut yang putih, terumbu karang serta hamparan pohon cemara, sehingga membuat banyak wisatawan berkunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui valuasi ekonomi serta persepsi wisatawan terhadap PKJ. Penelitian dilakukan di PKJ Jl. Rembang-Lasem, Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada Desember 2017. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan survey kepada 100 wisatawan. Pengumpulan data dari responden (dengan kuesioner) teknik sampling accidental sampling , sedangkan analisis valuasi ekonomi nilai biaya wisata menggunakan pendekatan Travel Cost Method . Tipologi wisatawan mayoritas pelajar/mahasiswa, datang berkelompok, tujuan berlibur, ber-pendapatan kurang dari Rp.500.000/bulan dan berasal dari wilayah Rembang. Hasil penelitian menunjukkan total biaya perjalanan yang dikeluarkan wisatawan selama berwisata di PKJ pada tahun 2017 sebesar Rp.136.651.504.395,00; 2016 Rp.93.880.800.000,00; 2015 Rp. 88.050.900.000,00; dan 2014 Rp. 1.535.734.440,00. Nilai total ekonomi pariwisata dipengaruhi oleh jumlah wisatawan dan laju inflasi. Persepsi wisatawan terhadap PKJ masuk kedalam 2 kategori yaitu kurang baik dan tidak baik. Persepsi wisatawan mengenai potensi wisata kuliner, wahana wisata, pelayanan pengelola pantai PKJ yaitu tidak baik. Wisata pantai, fasilitas umum, potensi kenyamanan mendapatkan nilai kurang baik, sehingga wisatawan cukup berkeinginan untuk datang kembali The Karang Jahe Beach (KJB) is a tourist destination with many potentials such as clear sea water, white sand, coral reefs and pine trees. Those potential lead a lot of tourists visit to KJB. The aims of this research were to determine the economic valuation and the tourists perception. The research was conducted at KJB Jl. Rembang-Lasem, Punjulharjo, Rembang Sub-district, Rembang Regency, Central Java in December 2017. The research used quantitative method, with a survey conducted to 100 tourists as a respondents. Accidental sampling is used for data collection using questionnaire. The economic valuation analysis of the tour’s cost value Travel Cost Method approach. Typologies of tourists are mostly students coming from Rembang, in a group for holiday, having incomes of less than Rp.500.000/month. The results showed the total travel cost spent tourists during the trip is Rp.136.651.504.395 in 2017; Rp.93.880.800.000,00 in 2016; Rp.88.050.900.000,00 in 2015; and Rp.1.535.734.440,00 in 2014. The total value of the tourism affected by the number of tourist and rate of inflation. Tourists perception about KJB fall into two categories these are not good enough good and not good. Tourists perception about the potential of culinary tourism, tourist rides and beach management service are not good. Coastal tourism, public facilities, and comfort potential getting less attractive scores to anable tourists to return again in the future.
姜珊瑚海滩(PKJ)是一个有潜力的旅游景点,如清澈的海水、白色的沙滩、珊瑚礁和云杉林地,使许多游客参观。这项研究的目的是评估经济评估以及游客对PKJ的看法。研究是在PKJ Jl.进行的。2017年12月,爪哇省雷邦省卜德拉邦省。一项名为“定量方法”的研究对100名游客进行了调查。从受访者(问卷调查)采样技术收集数据(通过问卷调查),而旅游价值评估分析则采用旅行方式。大多数学生的旅游类学,群体旅行,度假目的地,收入不到每月50万卢比,来自伦邦地区。研究结果显示,游客在PKJ旅游期间的总费用为$ 136,651,504,395.00;2016年93.880.800.000,00卢比;2015 Rp. 88,050,900.000.00;2014卢比1535.73440.00卢比。旅游业的总价值受到游客数量和通货膨胀率的影响。游客对PKJ的看法分为两类,即差和差。游客对烹饪、旅游和PKJ海滩管理服务的潜在看法是不好的。沿海旅游、公共设施、潜在的舒适被认为是没有价值的,所以游客们非常想回到姜海滩,那里有许多像清水、白沙、珊瑚reefs和松树树一样的旅游景点。这可能导致大量的旅游参观KJB。这项研究的条件是确定经济评估和旅游假设。研究是在KJB路受托的。remban, parenlharjo,次区Rembang, Central Java in 2017年12月。研究使用的量量方法,调查结果为100名回应者提供建议。意外采样用于数据收集使用问题问题。巡回演唱会的经济评估分析旅游团的Typologies主要是为了节日而从Rembang来的,结果不到50万卢比/一个月。结果显示,旅游期间总旅游费用为136,651,504,395卢比;2016年93,880,800.000.00卢比;2015年8月88,050,90万;2014年1.55万35.7344.40万卢比。游客游客数量和利率影响的旅游总值。对两种方法的假设还不够好,也不够好。对目前的旅行、旅行和海滩管理服务的潜在设想并不好。共同的旅游、公共利益和舒适都有可能得不到吸引力的分数,以具有可再生的吸引力来回报未来。
{"title":"VALUASI EKONOMI DAN PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP POTENSI WISATA PANTAI KARANG JAHE KABUPATEN REMBANG (Economic Valuation and Tourist Perception in Karang Jahe Beach Tourism Potential Rembang Regency)","authors":"Brenda Sabrina Marsha Putri, C. Ain, S. Rudiyanti","doi":"10.14710/IJFST.15.1.11-18","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.1.11-18","url":null,"abstract":"Pantai Karang Jahe (PKJ) merupakan obyek wisata yang memiliki potensi, seperti air laut yang jernih, pasir laut yang putih, terumbu karang serta hamparan pohon cemara, sehingga membuat banyak wisatawan berkunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui valuasi ekonomi serta persepsi wisatawan terhadap PKJ. Penelitian dilakukan di PKJ Jl. Rembang-Lasem, Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada Desember 2017. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan survey kepada 100 wisatawan. Pengumpulan data dari responden (dengan kuesioner) teknik sampling accidental sampling , sedangkan analisis valuasi ekonomi nilai biaya wisata menggunakan pendekatan Travel Cost Method . Tipologi wisatawan mayoritas pelajar/mahasiswa, datang berkelompok, tujuan berlibur, ber-pendapatan kurang dari Rp.500.000/bulan dan berasal dari wilayah Rembang. Hasil penelitian menunjukkan total biaya perjalanan yang dikeluarkan wisatawan selama berwisata di PKJ pada tahun 2017 sebesar Rp.136.651.504.395,00; 2016 Rp.93.880.800.000,00; 2015 Rp. 88.050.900.000,00; dan 2014 Rp. 1.535.734.440,00. Nilai total ekonomi pariwisata dipengaruhi oleh jumlah wisatawan dan laju inflasi. Persepsi wisatawan terhadap PKJ masuk kedalam 2 kategori yaitu kurang baik dan tidak baik. Persepsi wisatawan mengenai potensi wisata kuliner, wahana wisata, pelayanan pengelola pantai PKJ yaitu tidak baik. Wisata pantai, fasilitas umum, potensi kenyamanan mendapatkan nilai kurang baik, sehingga wisatawan cukup berkeinginan untuk datang kembali The Karang Jahe Beach (KJB) is a tourist destination with many potentials such as clear sea water, white sand, coral reefs and pine trees. Those potential lead a lot of tourists visit to KJB. The aims of this research were to determine the economic valuation and the tourists perception. The research was conducted at KJB Jl. Rembang-Lasem, Punjulharjo, Rembang Sub-district, Rembang Regency, Central Java in December 2017. The research used quantitative method, with a survey conducted to 100 tourists as a respondents. Accidental sampling is used for data collection using questionnaire. The economic valuation analysis of the tour’s cost value Travel Cost Method approach. Typologies of tourists are mostly students coming from Rembang, in a group for holiday, having incomes of less than Rp.500.000/month. The results showed the total travel cost spent tourists during the trip is Rp.136.651.504.395 in 2017; Rp.93.880.800.000,00 in 2016; Rp.88.050.900.000,00 in 2015; and Rp.1.535.734.440,00 in 2014. The total value of the tourism affected by the number of tourist and rate of inflation. Tourists perception about KJB fall into two categories these are not good enough good and not good. Tourists perception about the potential of culinary tourism, tourist rides and beach management service are not good. Coastal tourism, public facilities, and comfort potential getting less attractive scores to anable tourists to return again in the future.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"70 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116530980","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-19DOI: 10.14710/IJFST.14.2.136-140
Rizky Amalia Ramadayanti, F. Swastawati, S. Suharto
Lele dumbo merupakan salah satu komoditas penting perikanan budidaya di Indonesia. Perkembangan pengolahan ikan sekarang lebih variatif seperti pengolahan menjadi dendeng. Penambahan asap cair pada proses pembuatan dendeng dapat meningkatkan keawetan dendeng serta memberikan karakteristik sensori. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi asap cair yang berbeda terhadap kualitas dendeng. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap). Perlakuan meliputi penambahan asap cair 0% sebagai kontrol, 1%, 3%, dan 5%. Parameter uji yang diamati adalah profil asam amino, kadar air, kadar protein, kadar fenol serta uji hedonik (kenampakan, bau, rasa, dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dendeng dengan penambahan asap cair tetap memiliki asam amino yang lengkap. Lisin dan leusin dominan pada asam amino esensial dengan nilai 39702,77 - 51736,24 mg/kg, serta pada asam amino non esensial asam glutamat mendominasi dengan nilai 59915,6 - 64478,57 mg/kg. Perbedaan konsentrasi asap cair pada dendeng giling ikan lele dumbo memberikan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kadar air, kenaikan protein dan fenol serta hedonik dendeng. Semakin besar konsentrasi yang digunakan, dendeng tidak diterima oleh panelis (p < 0,05). Catfish is one of nutritionally important aquaculture species in Indonesia. Nowadays, the development of its processed method becomes more various such as the production of jerked meat. Addition of liquid smoke could increase shelf life of catfish and give sensory characteristics. This study aimed to determine the effect addition liquid smoke with different concentration on quality characteristics of jerked meat. The research method used Completely Randomized Design (CRD) with four treatments such as addition of 0% liquid smoke as control, 1%, 3%, and 5%. Parameters test observed are amino acid profiles, moisture content, protein content, and phenol content also hedonic test. Jerked meat processed with liquid smoke still have a complete amino acid . Lysine and leucine dominated on essential amino acid with range 39702,77 – 51736,24 mg/kg, while glutamic acid dominated on non essential amino acid with range 59915,6 – 64478,57 mg/kg. Meanwhile, addition of liquid smoke gave a significantly different to the moisture content, protein content, phenol content also appearance, odor, flavor, and texture of catfish jerked meat (p < 0,05).
{"title":"PROFIL ASAM AMINO DENDENG GILING IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) DENGAN PENAMBAHAN KONSENTRASI ASAP CAIR YANG BERBEDA (Amino Acid Profiles of Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) Jerked Meat Processed with Different Concentration of Liquid Smoke)","authors":"Rizky Amalia Ramadayanti, F. Swastawati, S. Suharto","doi":"10.14710/IJFST.14.2.136-140","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.14.2.136-140","url":null,"abstract":"Lele dumbo merupakan salah satu komoditas penting perikanan budidaya di Indonesia. Perkembangan pengolahan ikan sekarang lebih variatif seperti pengolahan menjadi dendeng. Penambahan asap cair pada proses pembuatan dendeng dapat meningkatkan keawetan dendeng serta memberikan karakteristik sensori. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi asap cair yang berbeda terhadap kualitas dendeng. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap). Perlakuan meliputi penambahan asap cair 0% sebagai kontrol, 1%, 3%, dan 5%. Parameter uji yang diamati adalah profil asam amino, kadar air, kadar protein, kadar fenol serta uji hedonik (kenampakan, bau, rasa, dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dendeng dengan penambahan asap cair tetap memiliki asam amino yang lengkap. Lisin dan leusin dominan pada asam amino esensial dengan nilai 39702,77 - 51736,24 mg/kg, serta pada asam amino non esensial asam glutamat mendominasi dengan nilai 59915,6 - 64478,57 mg/kg. Perbedaan konsentrasi asap cair pada dendeng giling ikan lele dumbo memberikan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kadar air, kenaikan protein dan fenol serta hedonik dendeng. Semakin besar konsentrasi yang digunakan, dendeng tidak diterima oleh panelis (p < 0,05). Catfish is one of nutritionally important aquaculture species in Indonesia. Nowadays, the development of its processed method becomes more various such as the production of jerked meat. Addition of liquid smoke could increase shelf life of catfish and give sensory characteristics. This study aimed to determine the effect addition liquid smoke with different concentration on quality characteristics of jerked meat. The research method used Completely Randomized Design (CRD) with four treatments such as addition of 0% liquid smoke as control, 1%, 3%, and 5%. Parameters test observed are amino acid profiles, moisture content, protein content, and phenol content also hedonic test. Jerked meat processed with liquid smoke still have a complete amino acid . Lysine and leucine dominated on essential amino acid with range 39702,77 – 51736,24 mg/kg, while glutamic acid dominated on non essential amino acid with range 59915,6 – 64478,57 mg/kg. Meanwhile, addition of liquid smoke gave a significantly different to the moisture content, protein content, phenol content also appearance, odor, flavor, and texture of catfish jerked meat (p < 0,05).","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122728561","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-14DOI: 10.14710/ijfst.14.2.86-90
A. Asriyana, Agus Kurnia, La Ode Alirman, A. Nurdiana
Kelurahan Bungkutoko termasuk wilayah administrasi Kota Kendari yang daratannya terpisah karena merupakan wilayah kepulauan. Potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki sangat melimpah sehingga menjadi peluang usaha bagi warga setempat dalam peningkatan perekonomian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis kelayakan usaha kerajinan tangan yang berbahan dasar kerang kerangan di Kelurahan Bungkutoko. Metode analisis kelayakan finansial meliputi NPV (net present value), IRR (internal rate of return), Net B/C ratio (Net Benefit Cost Ratio), PBP (Pay Back Period), dan BEP (Break Event Point). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai seluruh kriteria kelayakan finansial yang digunakan menghasilkan nilai yang menunjukkan kategori layak (NPV sebesar Rp10.459.436,-, IRR sebesar 35%, Net B/C 2,03, PBP 12 bulan serta BEP sebesar Rp4.260.943,- dan 154 unit). Hal ini mengindikasikan bahwa usaha kerajinan tangan yang dilakukan oleh wanita nelayan di Kelurahan Bungkutoko layak untuk dilanjutkan Bungkutoko village is included in the administrative area of Kendari City whose land is separated because it is an archipelago. The potential of fisheries resources owned is very abundant so that it becomes a business opportunity for local residents in improving the family's economy. The research aims to analyze the feasibility of a handicraft business based on shellfish shells in Bungkutoko Village. The methods of financial feasibility analysis are NPV (net present value), IRR (internal rate of return), Net B/C ratio (Net Benefit Cost Ratio), PBP (Pay Back Period), and BEP (Break Event Point). The results show that all financial feasibility criteria shows a feasible category (NPV is Rp 10,459,436,-; IRR is 35%; Net B/C 2.03; PBP is 12 months; and BEP is Rp 4,260,943,; and 154 units). It’s indicated that the handicraft business by fishermen women in Bungkutoko Village is feasible to continue.
{"title":"ANALISIS KELAYAKAN USAHA KERAJINAN TANGAN DARI KULIT KERANG DI KELURAHAN BUNGKUTOKO KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA (Feasibility Study of Handycrafts from Shellfish in Bungkutoko Village, Kendari City, Southeast Sulawesi)","authors":"A. Asriyana, Agus Kurnia, La Ode Alirman, A. Nurdiana","doi":"10.14710/ijfst.14.2.86-90","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/ijfst.14.2.86-90","url":null,"abstract":"Kelurahan Bungkutoko termasuk wilayah administrasi Kota Kendari yang daratannya terpisah karena merupakan wilayah kepulauan. Potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki sangat melimpah sehingga menjadi peluang usaha bagi warga setempat dalam peningkatan perekonomian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis kelayakan usaha kerajinan tangan yang berbahan dasar kerang kerangan di Kelurahan Bungkutoko. Metode analisis kelayakan finansial meliputi NPV (net present value), IRR (internal rate of return), Net B/C ratio (Net Benefit Cost Ratio), PBP (Pay Back Period), dan BEP (Break Event Point). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai seluruh kriteria kelayakan finansial yang digunakan menghasilkan nilai yang menunjukkan kategori layak (NPV sebesar Rp10.459.436,-, IRR sebesar 35%, Net B/C 2,03, PBP 12 bulan serta BEP sebesar Rp4.260.943,- dan 154 unit). Hal ini mengindikasikan bahwa usaha kerajinan tangan yang dilakukan oleh wanita nelayan di Kelurahan Bungkutoko layak untuk dilanjutkan Bungkutoko village is included in the administrative area of Kendari City whose land is separated because it is an archipelago. The potential of fisheries resources owned is very abundant so that it becomes a business opportunity for local residents in improving the family's economy. The research aims to analyze the feasibility of a handicraft business based on shellfish shells in Bungkutoko Village. The methods of financial feasibility analysis are NPV (net present value), IRR (internal rate of return), Net B/C ratio (Net Benefit Cost Ratio), PBP (Pay Back Period), and BEP (Break Event Point). The results show that all financial feasibility criteria shows a feasible category (NPV is Rp 10,459,436,-; IRR is 35%; Net B/C 2.03; PBP is 12 months; and BEP is Rp 4,260,943,; and 154 units). It’s indicated that the handicraft business by fishermen women in Bungkutoko Village is feasible to continue.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"35 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127258205","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}