Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.244-255
S. Suharyo
Abstract This study aims to reveal the fate of the Java language on the one hand and the Indonesian language on the other hand through the selection and defense of language (Indonesia and Java) by the younger generation. How young people choose language as a means of expression in the realm of house and the realm of friendship. (A) determining the location and population and sample, (b) questionnaire distribution to a number of respondents who were then analyzed qualitatively and quantitatively, (c) nonparticipant observation in the daily life of the younger generation, (d) structured interviews and depth using snowball method which then analyzed qualitatively. The population of this research is the entire younger generation of Javanese who live in Central Java. The target population of this study is the younger generation of the various regions who live in Solo, Boyolali, Pekalongan, and Tegal, while the sample was selected randomly. The result shows that (1) the younger generation of Java uses more BI (Bahasa Indonesia) than Javanese (BJ) both in the home and friendship, (2) the young generation of Java will use 100% BI when someday have a spouse, (3) the younger generation of Java has a negative attitude towards BJ, being ignorant of BI, and not proud of BI, (4) the younger generation is more familiar with the vocabulary such as downloads, stakeholders, gadgets, than in BI, and (5) estimated BJ (especially manners) in the next 2 or 3 generations will be abandoned by the younger generation of Java. Intisari Penelitian ini bertujuan mengungkap nasib bahasa bahasa Jawa di satu sisi dan bahasa Indonesia di sisi lain melalui pemilihan dan pemertahanan bahasa (Indonesia dan Jawa) oleh generasi muda. Bagiamana kaum muda memilih bahasa sebagai alat ekspresinya pada ranah rumah dan ranah persahabatan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan (a) menentukan lokasi dan populasi serta sampel, (b) penyebaran angket ke sejumlah responden yang kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif, (c) observasi nonpartisipan pada kehidupan sehari-hari generasi muda, (d) wawancara terstruktur dan mendalam dengan menggunakan metode snowball yang kemudian dianalaisis secara kualitatif. Populasi penelitin ini adalah seluruh generasi muda Jawa yang tingal di Jawa Tengah. Adapun populasi sasaran penelitian ini adalah generasi muda dari berbagai daerah yang tinggal di Solo, Boyolali, Pekalongan, dan Tegal, sedangkan sampel dipilih secara acak. Hasilnya menunjukkan bahwa (1) generasi muda Jawa lebih banyak mengunakan BI (Bahasa Indonesia) daripada bahasa Jawa (BJ) baik pada ranah rumah maupun persahabatan, (2) generasi muda Jawa akan menggunakan 100 % BI ketika kelak memiliki pasangan hidup, (3) generasi muda Jawa memiliki sikap negatif terhadap BJ, bersikap abai terhadap BI, dan tidak bangga terhadap BI, (4) generasi muda lebih familiar terhadap kosakata-kokata seperti download, stakeholder, gadget, daripada padan katanya dalam BI, dan (5) diperkirakan BJ
本研究旨在通过年轻一代对语言(印尼语和爪哇语)的选择和防御,揭示爪哇语和印尼语的命运。年轻人如何选择语言作为一种表达方式在家庭领域和友谊领域。(A)确定地点、人口和样本;(b)向一些受访者分发问卷,然后对他们进行定性和定量分析;(c)对年轻一代的日常生活进行非参与性观察;(d)采用滚雪球法进行结构化访谈和深度分析,然后进行定性分析。这项研究的人口是居住在中爪哇的整个年轻一代爪哇人。本研究的目标人群是居住在Solo, Boyolali, Pekalongan和Tegal各个地区的年轻一代,样本是随机选择的。结果表明:(1)年轻一代的Java在家庭和友谊中使用的BI(印尼语)比Java (BJ)更多;(2)年轻一代的Java在有配偶时将100%使用BI;(3)年轻一代的Java对BJ持消极态度,对BI一无所知,不以BI为荣;(4)年轻一代对下载、利益相关者、小工具等词汇的熟悉程度高于BI。(5)预计未来2到3代的BJ(尤其是礼仪)将被年轻一代的Java所抛弃。Intisari Penelitian ini bertujuan mengungkap nasib bahasa bahasa爪哇语di satu sisi dan bahasa Indonesia di sisi lain melalui pemilihan dan pemertahanan bahasa(印度尼西亚丹爪哇语)oleh generasi muda。Bagiamana kaum muda memilih bahasa sebagai alat ekresinya pada ranah rumah dan ranah pershabatan。Untuk menjawab pertananyakan和tersebut dilakukan (a) menentukan lokasi dan populasi serta sample, (b) penebaran angket ke (sejumlah respondysan kehidupan sehari-hari generasmuda), (c) observasan nonpartipartipan pakehidupan sehari-hari generasmuda, (d) wawancara terstrukturr dan mendalam dengan menggunakan metosnowball yang kemudian dianalais secara kualitan。爪哇,爪哇,爪哇,爪哇,登加。在苏洛、博约拉利、贝加隆岸、丹泰加、塞当坎、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼、普吉拉尼。Hasilnya menunjukkan bahwa (1) generasi muda Jawa lebih banyak mengunakan BI(印度尼西亚语)daripada Bahasa Jawa (BJ) baik padranah rumah maupun pershabatan, (2) generasi muda Jawa akan menggunakan 100% BI ketika kelak memiliki pasangan hidup, (3) generasi muda Jawa memiliki sikap negf terhadap BJ, bersikap abai terhadap BI, dan tidak bangga terhadap BI, (4) generasi muda lebih familiar terhadap kosakata-kokata seperti download, stakeholder, gadget, daripada padan katanya dalam BI,丹(5)diperkirakan BJ (terutama ragam krama) pada 2 atau 3 generasi mendatang akan ditinggalkan oleh generasi muda java。
{"title":"Nasib Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dalam Pandangan dan Sikap Bahasa Generasi Muda Jawa","authors":"S. Suharyo","doi":"10.14710/NUSA.13.2.244-255","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.244-255","url":null,"abstract":"Abstract This study aims to reveal the fate of the Java language on the one hand and the Indonesian language on the other hand through the selection and defense of language (Indonesia and Java) by the younger generation. How young people choose language as a means of expression in the realm of house and the realm of friendship. (A) determining the location and population and sample, (b) questionnaire distribution to a number of respondents who were then analyzed qualitatively and quantitatively, (c) nonparticipant observation in the daily life of the younger generation, (d) structured interviews and depth using snowball method which then analyzed qualitatively. The population of this research is the entire younger generation of Javanese who live in Central Java. The target population of this study is the younger generation of the various regions who live in Solo, Boyolali, Pekalongan, and Tegal, while the sample was selected randomly. The result shows that (1) the younger generation of Java uses more BI (Bahasa Indonesia) than Javanese (BJ) both in the home and friendship, (2) the young generation of Java will use 100% BI when someday have a spouse, (3) the younger generation of Java has a negative attitude towards BJ, being ignorant of BI, and not proud of BI, (4) the younger generation is more familiar with the vocabulary such as downloads, stakeholders, gadgets, than in BI, and (5) estimated BJ (especially manners) in the next 2 or 3 generations will be abandoned by the younger generation of Java. Intisari Penelitian ini bertujuan mengungkap nasib bahasa bahasa Jawa di satu sisi dan bahasa Indonesia di sisi lain melalui pemilihan dan pemertahanan bahasa (Indonesia dan Jawa) oleh generasi muda. Bagiamana kaum muda memilih bahasa sebagai alat ekspresinya pada ranah rumah dan ranah persahabatan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan (a) menentukan lokasi dan populasi serta sampel, (b) penyebaran angket ke sejumlah responden yang kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif, (c) observasi nonpartisipan pada kehidupan sehari-hari generasi muda, (d) wawancara terstruktur dan mendalam dengan menggunakan metode snowball yang kemudian dianalaisis secara kualitatif. Populasi penelitin ini adalah seluruh generasi muda Jawa yang tingal di Jawa Tengah. Adapun populasi sasaran penelitian ini adalah generasi muda dari berbagai daerah yang tinggal di Solo, Boyolali, Pekalongan, dan Tegal, sedangkan sampel dipilih secara acak. Hasilnya menunjukkan bahwa (1) generasi muda Jawa lebih banyak mengunakan BI (Bahasa Indonesia) daripada bahasa Jawa (BJ) baik pada ranah rumah maupun persahabatan, (2) generasi muda Jawa akan menggunakan 100 % BI ketika kelak memiliki pasangan hidup, (3) generasi muda Jawa memiliki sikap negatif terhadap BJ, bersikap abai terhadap BI, dan tidak bangga terhadap BI, (4) generasi muda lebih familiar terhadap kosakata-kokata seperti download, stakeholder, gadget, daripada padan katanya dalam BI, dan (5) diperkirakan BJ ","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"109 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124708231","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.201-212
S. Suyanto
AbstractCentral Java Province is a speech community of Javanese language, but Sundanese language as a mother tongue in residents the Central Java area bordering with West Java. Because of Central Java as a speech community the Javanese langage, it’s as one subject of local content in this region. For residents who speak Sundanese as mothertongue, this is a difficulty in itself. It is important for us to discuss. This paper aims to analyze the use of Sundanese as a mother tongue and its implications in language teaching policy in the Province of Central Java. The data in this study were collected by literature study technique with data source, that is,TheCitizenship, Ethnicity, Religion, and Every day language Indonesia Population: Result of Population Census2010. Data analysis using statistics descriptive and descriptive qualitative.Data from the 2010 Population Census shows that 578,164 people of Central Java (age 5 and above) use Sundanese as the mother tongue of a total of 29,671,375. The number of Sundanese speakers in Central Java is spread across 14 districts in two districts, namely Brebes and Cilacap. The presence of Sundanese speakers in Central Java is due to two factors: 1) migration factors and 2) non-migration factors. Number of Sundanese speakers due to migration factor 109,428 and non-migration factors amounted to 468,736.IntisariProvinsi Jawa Tengah merupakan masyarakat tutur bahasa Jawa, namun penduduk di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat menggunakanan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu). Karena Jawa Tengah sebagai masyaratakat tutur bahasa Jawa, maka bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di wilayah ini. Bagi penduduk yang berbahasa ibu bahasa Sunda, hal ini merupakan kesulitan tersendiri. Karena itulah, hal ini penting untuk kita diskusikan. Paper ini bertujuan menganalisis pemakaian bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu) dan implikasinya dalam kebijakan pengajaran bahasa daerah di Provinsi Jawa Tengah. Data dalam studi ini dikumpulkan dengan teknik studi pustaka dengan sumber dataKewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Sensus Penduduk2010. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan deskriptif kualitatif.Data hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa578.164 jiwa penduduk Jawa Tengah (umur 5 tahun ke atas) menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dari total 29.671.375. Jumlah penutur bahasa Sunda di Jawa Tengah tersebar di 14 kecamatan dalam dua kabupaten, yakni Brebes dan Cilacap. Keberadaan penutur bahasa Sunda di Jawa Tengah karena dua faktor yaitu 1) faktor migrasi, dan 2) faktor non-migrasi. Jumlah penutur bahasa Sunda karena faktor migrasi 109.428 jiwa. Sementara itu, jumlah penutur bahasa Sunda karena faktor non-migrasi sebesar 468.736 jiwa.
摘要中爪哇省是爪哇语的语言社区,但以巽他语为母语的居民在中爪哇地区与西爪哇接壤。因为中爪哇是一个语言社区爪哇语,它是这个地区本地内容的一个主题。对于以巽他语为母语的居民来说,这本身就是一个困难。这对我们来说很重要。本文旨在分析巽他语作为母语的使用及其对中爪哇省语言教学政策的影响。本研究的数据采用文献研究法收集,数据来源为《印度尼西亚人口:2010年人口普查结果》。数据分析采用统计学描述性和定性描述性。2010年人口普查的数据显示,中爪哇有578,164人(5岁及以上)使用巽他语作为母语,总人口为29,671,375人。中爪哇讲巽他语的人数分布在布雷布和奇拉卡普两个区的14个县。中爪哇有说巽他语的人有两个原因:1)移民因素和2)非移民因素。由于移民因素和非移民因素,说巽他语的人数为109,428人,达468,736人。印尼语:爪哇登加语,爪哇登加语,爪哇登加语,爪哇登加语,爪哇登加语,爪哇登加语。Karena Jawa Tengah sebagai masyaratakat tututur bahasa Jawa, maka bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran muatan local di wilayah ini。巴吉penduduk yang berbahasa ibu bahasa Sunda, hal ini merupakan kesulitan tersendiri。Karena itulah,我的名字是“我爱你”。爪哇登加省的一篇论文,题目是《爪哇登加语》,题目是《马来语》。Data dalam studi ini dikumpulkan dengan teknik studi pustaka dengan suman, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk印度尼西亚:Sensus Penduduk2010。分析数据,统计数据和质量数据。数据hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa578.164 jiwa Penduduk爪哇登加(umur 5 tahun ke atas) menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dari总计29.671.375。祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语祝福语Keberadaan penutur bahasa Sunda di Jawa Tengah karena dua factor for yitu移居者移居者和非移居者。Jumlah penutur bahasa Sunda karena faktor migras109.428 jiwa。Sementara itu, jumlah penutur bahasa Sunda karena factors for非迁移sebesar 468.736 jiwa。
{"title":"Bahasa Sunda sebagai Bahasa Ibu di Provinsi Jawa Tengah: Studi Data Sensus Penduduk 2010","authors":"S. Suyanto","doi":"10.14710/NUSA.13.2.201-212","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.201-212","url":null,"abstract":"AbstractCentral Java Province is a speech community of Javanese language, but Sundanese language as a mother tongue in residents the Central Java area bordering with West Java. Because of Central Java as a speech community the Javanese langage, it’s as one subject of local content in this region. For residents who speak Sundanese as mothertongue, this is a difficulty in itself. It is important for us to discuss. This paper aims to analyze the use of Sundanese as a mother tongue and its implications in language teaching policy in the Province of Central Java. The data in this study were collected by literature study technique with data source, that is,TheCitizenship, Ethnicity, Religion, and Every day language Indonesia Population: Result of Population Census2010. Data analysis using statistics descriptive and descriptive qualitative.Data from the 2010 Population Census shows that 578,164 people of Central Java (age 5 and above) use Sundanese as the mother tongue of a total of 29,671,375. The number of Sundanese speakers in Central Java is spread across 14 districts in two districts, namely Brebes and Cilacap. The presence of Sundanese speakers in Central Java is due to two factors: 1) migration factors and 2) non-migration factors. Number of Sundanese speakers due to migration factor 109,428 and non-migration factors amounted to 468,736.IntisariProvinsi Jawa Tengah merupakan masyarakat tutur bahasa Jawa, namun penduduk di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat menggunakanan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu). Karena Jawa Tengah sebagai masyaratakat tutur bahasa Jawa, maka bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di wilayah ini. Bagi penduduk yang berbahasa ibu bahasa Sunda, hal ini merupakan kesulitan tersendiri. Karena itulah, hal ini penting untuk kita diskusikan. Paper ini bertujuan menganalisis pemakaian bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu) dan implikasinya dalam kebijakan pengajaran bahasa daerah di Provinsi Jawa Tengah. Data dalam studi ini dikumpulkan dengan teknik studi pustaka dengan sumber dataKewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Sensus Penduduk2010. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan deskriptif kualitatif.Data hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa578.164 jiwa penduduk Jawa Tengah (umur 5 tahun ke atas) menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dari total 29.671.375. Jumlah penutur bahasa Sunda di Jawa Tengah tersebar di 14 kecamatan dalam dua kabupaten, yakni Brebes dan Cilacap. Keberadaan penutur bahasa Sunda di Jawa Tengah karena dua faktor yaitu 1) faktor migrasi, dan 2) faktor non-migrasi. Jumlah penutur bahasa Sunda karena faktor migrasi 109.428 jiwa. Sementara itu, jumlah penutur bahasa Sunda karena faktor non-migrasi sebesar 468.736 jiwa. ","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"21 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125273165","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/nusa.13.2.301-315
N. Ahmad
AbstractThe face can reflect the behavior and character of the owner. For that required expertise to read the face or face reading is known as physiognomy. This paper will discuss how to read the face according to Imam Syafii in the book Wirasat Sapii. The theory used is semiotics. The result shows that Imam Syafii who is the founder of the Syafii mazhab is known to have a high feeling, but in particular there is no work of his hunch. Furthermore in Wirasat Sapii stated that there are eight aspects of the premonition to recognize one's character is seen from the shape and color of the limbs, especially in the face. Eight aspects are head, hair, forehead, eyebrows, ears, eyes, nose, and lips. IntisariWajah bisa mencerminkan perilaku dan watak pemiliknya. Untuk itu diperlukan keahlian untuk membaca wajah atau face reading yang dikenal dengan fisiognomi. Tulisan ini akan membahas bagaimana cara membaca wajah menurut Imam Syafii di dalam kitab Wirasat Sapii. Teori yang digunakan adalah semiotika. Hasilnya menunjukkan bahwa Imam Syafii yang peletak mazhab Syafii memang dikenal mempunyai firasat tinggi, namun secara khusus tidak ada karya beliau terkait ilmu firasat. Selanjutnya di dalam Wirasat Sapii dinyatakan bahwa ada delapan aspek ilmu firasat untuk mengenal watak seseorang dilihat dari bentuk dan warna anggota tubuh, khususnya di bagian wajah. Delapan aspek tersebut adalah kepala, rambut, dahi, alis, telinga, mata, hidung, dan bibir.
{"title":"Fisiognomi Imam Syafii dalam Naskah Wirasat Sapii","authors":"N. Ahmad","doi":"10.14710/nusa.13.2.301-315","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/nusa.13.2.301-315","url":null,"abstract":"AbstractThe face can reflect the behavior and character of the owner. For that required expertise to read the face or face reading is known as physiognomy. This paper will discuss how to read the face according to Imam Syafii in the book Wirasat Sapii. The theory used is semiotics. The result shows that Imam Syafii who is the founder of the Syafii mazhab is known to have a high feeling, but in particular there is no work of his hunch. Furthermore in Wirasat Sapii stated that there are eight aspects of the premonition to recognize one's character is seen from the shape and color of the limbs, especially in the face. Eight aspects are head, hair, forehead, eyebrows, ears, eyes, nose, and lips. IntisariWajah bisa mencerminkan perilaku dan watak pemiliknya. Untuk itu diperlukan keahlian untuk membaca wajah atau face reading yang dikenal dengan fisiognomi. Tulisan ini akan membahas bagaimana cara membaca wajah menurut Imam Syafii di dalam kitab Wirasat Sapii. Teori yang digunakan adalah semiotika. Hasilnya menunjukkan bahwa Imam Syafii yang peletak mazhab Syafii memang dikenal mempunyai firasat tinggi, namun secara khusus tidak ada karya beliau terkait ilmu firasat. Selanjutnya di dalam Wirasat Sapii dinyatakan bahwa ada delapan aspek ilmu firasat untuk mengenal watak seseorang dilihat dari bentuk dan warna anggota tubuh, khususnya di bagian wajah. Delapan aspek tersebut adalah kepala, rambut, dahi, alis, telinga, mata, hidung, dan bibir.","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127837374","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.256-264
Agus Irianto
AbstractThe development of traditional art is the development of artistic values and art appreciation in order to increase the artist and community's friendship. Ideally the arts as part of the national culture derive its meaning in terms of understanding and appreciation of cultural values. Therefore, to improve the resilience of the nation's culture, then the national development needs to be dotted from the efforts of art development that can give birth to "cultural value-added". Artistic gifts (local and national) are essentially necessary, because they are rooted in the culture of society. However, it is possible for decomposition, reconstruction, recoreography, renovation, revitalization, refunctionalization, along with improvisations with various ornaments. This is where local art becomes cultural property and socio-cultural "capital" of society. For this reason, a strategy is needed so that regional art can be placed as a means of creating a nation's cultural resilience. One of them is to revitalize the art of wayang culture through television shows. IntisariPengembangan kesenian tradisonal adalah pembangunan nilai-nilai seni dan apresiasi seni demi meningkatkan kemartabatan seniman dan masyarakat. Idealnya kesenian sebagai bagian dari kebudayaan nasional memperoleh maknanya dalam kaitan dengan pemahaman dan apresiasi nilai-nilai kultural. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketahanan budaya bangsa, maka pembangunan nasional perlu bertitik-tolak dari upaya-upaya pengembangan kesenian yang mampu melahirkan “nilai-tambah kultural”. Pakem-pakem kesenian (lokal dan nasional) pada dasarnya tetap diperlukan, karena ia berakar dalam budaya masyarakat. Akan tetapi, ia dimungkinkan untuk dekomposisi, rekonstruksi, rekoreografi, renovasi, revitalisasi, refungsionalisasi, disertai improvisasi dengan aneka hiasan. Di sinilah kesenian daerah menjadi kekayaan budaya dan “modal sosial-kultural” masyarakat. Untuk itulah,diperlukan sebuah strategi agar kesenian daerah dapat ditempatkan sebagai sarana menciptakan ketahanan budaya suatu bangsa. Salah satu di antaranya adalah dengan melakukan revitalitasi seni budaya wayang melalui tayangan televisi
摘要传统艺术的发展是艺术价值和艺术鉴赏的发展,以增进艺术家与社会的友谊。理想情况下,艺术作为民族文化的一部分,其意义来源于对文化价值的理解和欣赏。因此,要提高民族文化的韧性,那么国家的发展就需要从艺术发展的努力中点缀出来,才能孕育出“文化增值”。艺术天赋(地方的和国家的)是必不可少的,因为它们根植于社会文化。然而,它可以进行分解、重建、修复、翻新、振兴、再功能化,以及各种装饰的即兴创作。这就是地方艺术成为社会的文化财产和社会文化“资本”的地方。因此,需要制定一项战略,使地域艺术成为创造一个国家文化弹性的手段。其中之一是通过电视节目振兴大阳文化艺术。IntisariPengembangan kesenian传统的adalah pembangunan nilai-nilai seni dan apressiasi seni demi meningkatkan kemartabatan seniman dan masyarakat。理想上,尼泊尔kesenian sebagai bagian dari kebudayaan国家成员maknanya dalam kaitan dengan pemahaman danapresiasi nilai-nilai文化。我想说的是,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国。Pakem-pakem kesenian(地方民族),paddansya tetap diperlukan, karena ia berakar dalam budaya masyarakat。Akan tetapi, ia dimungkinkan untuk dekomposisi, rekonstruksi, rekoreografi, renovasi, reviisasi, refunsionalisasi, disertai improvisasdengan和aneka hiasan。Di sinilah kesenian daerah menjadi kekayaan budaya dan“模式社会文化”masyarakat。我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是。他说:“萨拉赫是一名青年,他是一名青年,他是一名青年,他是一名青年,他是一名青年。
{"title":"Revitalisasi Seni Budaya Wayang melalui Tayangan Televisi","authors":"Agus Irianto","doi":"10.14710/NUSA.13.2.256-264","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.256-264","url":null,"abstract":"AbstractThe development of traditional art is the development of artistic values and art appreciation in order to increase the artist and community's friendship. Ideally the arts as part of the national culture derive its meaning in terms of understanding and appreciation of cultural values. Therefore, to improve the resilience of the nation's culture, then the national development needs to be dotted from the efforts of art development that can give birth to \"cultural value-added\". Artistic gifts (local and national) are essentially necessary, because they are rooted in the culture of society. However, it is possible for decomposition, reconstruction, recoreography, renovation, revitalization, refunctionalization, along with improvisations with various ornaments. This is where local art becomes cultural property and socio-cultural \"capital\" of society. For this reason, a strategy is needed so that regional art can be placed as a means of creating a nation's cultural resilience. One of them is to revitalize the art of wayang culture through television shows. IntisariPengembangan kesenian tradisonal adalah pembangunan nilai-nilai seni dan apresiasi seni demi meningkatkan kemartabatan seniman dan masyarakat. Idealnya kesenian sebagai bagian dari kebudayaan nasional memperoleh maknanya dalam kaitan dengan pemahaman dan apresiasi nilai-nilai kultural. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketahanan budaya bangsa, maka pembangunan nasional perlu bertitik-tolak dari upaya-upaya pengembangan kesenian yang mampu melahirkan “nilai-tambah kultural”. Pakem-pakem kesenian (lokal dan nasional) pada dasarnya tetap diperlukan, karena ia berakar dalam budaya masyarakat. Akan tetapi, ia dimungkinkan untuk dekomposisi, rekonstruksi, rekoreografi, renovasi, revitalisasi, refungsionalisasi, disertai improvisasi dengan aneka hiasan. Di sinilah kesenian daerah menjadi kekayaan budaya dan “modal sosial-kultural” masyarakat. Untuk itulah,diperlukan sebuah strategi agar kesenian daerah dapat ditempatkan sebagai sarana menciptakan ketahanan budaya suatu bangsa. Salah satu di antaranya adalah dengan melakukan revitalitasi seni budaya wayang melalui tayangan televisi","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126771381","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.180-189
M. Suryadi
AbstractThe purpose of this study is to describe lingual aspects that strengthen the speech of the clergy of Java Coastal community in Semarang City. This greeting remarks as a glue of the socioal harmony and horizontal conflict absorbers, as well as a feature of uniqueness in the connection of social intimacy in the coastal region.Research location in Semarang City. Selection of respondents and informants using purposive sampling system. Data collection methods were conducted through structured interviews, in-depth interviews, and focus group discs. The method of data analysis using the separation of components on speech by greeting sad lingual aspects contained in the speech.There are three lingual aspects that influence the power of speech: speech sauce, variety, and formIntisariTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aspek lingual yang memperkuat tuturan tegur-sapa social masyarakat Jawa Pesisir di Kota Semarang. Tuturan bertegur-sapa ini sebagai perekat harmoni sosioal dan peredam konflik horizontal, sekaligus sebagai fitur keunikan dalam pertalian keakraban sosial di wilayah pesisiran. Lokasi penelitian di Kota Semarang. Pemilihan responden dan informan menggunakan sistem purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, wawancara mendalam, dan focus group discus.Metode analisis data menggunakan pemilahan komponen pada tuturan bertegur-sapa melalui aspek-aspek lingual yang terdapat pada tuturan. Ditemukan tiga aspek lingual yang mempengaruhi kekuatan tuturan bertegur sapa social, yakni kecap ujaran,ragam, dan bentuk.
摘要本研究的目的是描述三宝垄市爪哇海岸社区神职人员加强言语的语言方面。这种问候语是社会和谐的粘合剂和横向冲突的吸收剂,也是沿海地区社会亲密联系的独特特征。研究地点在三宝垄市。采用有目的抽样制度选择受访者和举报人。数据收集方法采用结构化访谈、深度访谈和焦点小组问卷。数据分析的方法是利用语音成分的分离,通过问候语言中包含的悲伤语言方面对语音进行分析。影响说话能力的语言方面有三个方面:说话的酱料、种类和形式。mintisaritujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aspeturan tegur-sapa social masyarakat Jawa Pesisir di Kota Semarang。Tuturan berteguri -sapa ini sebagai perekat harmoni social dan peredam konflik horizontal, sekaligus sebagai fitur keunikan dalam pertalan keakraban social di wilayah pesisiran。Lokasi penelitian di Kota三宝垄。受访者为孟古纳坎系统有目的的抽样调查。方法:人口统计学数据:人口统计学数据,人口统计学数据,人口统计学数据,焦点小组讨论。方法分析数据menggunakan penilahan komponen pada tuturan bertegur-sapa melalui aspk - aspk language yang terdapat pada tuturan。Ditemukan tiga语言yang mempengaruhi kekuatan tuturan bertegur sapa social, yakni kecap ujaran,ragam, dan bentuk。
{"title":"Aspek Lingual Tegursapa Sosial Masyarakat Jawa Kota Semarang","authors":"M. Suryadi","doi":"10.14710/NUSA.13.2.180-189","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.180-189","url":null,"abstract":"AbstractThe purpose of this study is to describe lingual aspects that strengthen the speech of the clergy of Java Coastal community in Semarang City. This greeting remarks as a glue of the socioal harmony and horizontal conflict absorbers, as well as a feature of uniqueness in the connection of social intimacy in the coastal region.Research location in Semarang City. Selection of respondents and informants using purposive sampling system. Data collection methods were conducted through structured interviews, in-depth interviews, and focus group discs. The method of data analysis using the separation of components on speech by greeting sad lingual aspects contained in the speech.There are three lingual aspects that influence the power of speech: speech sauce, variety, and formIntisariTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aspek lingual yang memperkuat tuturan tegur-sapa social masyarakat Jawa Pesisir di Kota Semarang. Tuturan bertegur-sapa ini sebagai perekat harmoni sosioal dan peredam konflik horizontal, sekaligus sebagai fitur keunikan dalam pertalian keakraban sosial di wilayah pesisiran. Lokasi penelitian di Kota Semarang. Pemilihan responden dan informan menggunakan sistem purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, wawancara mendalam, dan focus group discus.Metode analisis data menggunakan pemilahan komponen pada tuturan bertegur-sapa melalui aspek-aspek lingual yang terdapat pada tuturan. Ditemukan tiga aspek lingual yang mempengaruhi kekuatan tuturan bertegur sapa social, yakni kecap ujaran,ragam, dan bentuk.","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"44 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115594125","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.316-328
Pariyati Pariyati
AbstractThe concept of Islamic religious education such as kalam and fiqih is more directed towards the development of affective capable of experiencing multicultural realities, so that the spirit of Sufi teachings that develop multicultural morality through two things: the first "al sidq ma'a Allah" (honest with God), second "Husn al mu'amalah ma'a al nas" (behave well with fellow human beings). This research includes the type of library research (library research) with the analysis used is descriptive analytical. The role of Sufistic-Based Multicultural Multicultural Education for Student Character Building lies in the learning process that emphasizes intellectual intelligence, emotional and spiritual intelligence in every process undertaken by emphasizing appreciation of the individual's individuality of the students and promoting affection in teaching students as parents to their natural children, there is no favoritism in giving treatment to every student, all students are treated and educated according to their ability and emphasized to mutual respect difference with other friend, so in the end student will have akhlakul karimah as nature of Allah SWT in everyday life with emphasize at power qalb on student self.IntisariKonsep pendidikan agama Islam seperti kalam dan fiqih lebih diarahkan pada pengembangan afektif yang mampu merasakan berbagai realitas yang bersifat multicultural, sehingga semangat ajaran sufistik yang mengembangkan moralitas multikultural melalui dua hal: pertama “al sidq ma’a Allah” (jujur bersama Allah), kedua “husn al mu’amalah ma’a al nas” (berperilaku baik dengan sesama manusia).Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan analisis yang digunakan adalah deskriptif analitis. Peran Pendidikan Multikultural Berbasis Afektif Sufistik bagi Pembentukan Karakter Siswa terletak pada proses pembelajaran yang mengedepankan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan spiritual dalam setiap proses yang dilakukan dengan menekankan pada penghargaan terhadap keberagamaan setiap individu siswa dan mengedepankan kasih sayang dalam mengajar siswa sebagaimana orang tua terhadap anak kandungnya, tidak ada pilih kasih dalam memberikan perlakuan kepada setiap siswa, semua siswa diperlakukan dan dididik sesuai kemampuannya dan ditekankan untuk saling menghargai perbedaan dengan teman lainnya, sehingga pada akhirnya siswa akan memiliki akhlakul karimah sebagaimana sifat Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari dengan menekankan pada kekuatan qalb pada diri siswa.
摘要伊斯兰教的卡拉姆(kalam)和菲奇(fiqih)等宗教教育理念更倾向于培养体验多元文化现实的情感能力,因此苏菲教义的精神是通过两件事来发展多元文化道德:第一是“对真主诚实”(al sidq ma’a Allah),第二是“与人和睦相处”(Husn al mu’amalah ma’a al nas)。本研究包括图书馆研究的类型(library research),使用的分析方法是描述性分析。唯我独尊的多元文化多元文化教育对学生性格塑造的作用在于,在每一个学习过程中都强调智力、情感和精神的智能,在教育学生的过程中强调对学生个体个性的欣赏,在教育学生的过程中提倡亲情,作为父母对待自己的亲生子女,不偏袒对待每一个学生。所有的学生都被根据他们的能力来对待和教育,并强调与其他朋友相互尊重差异,所以最终学生将在日常生活中拥有akhlakul karimah作为安拉SWT的本质,强调学生自我的权力质量。IntisariKonsep pendidikan agama Islam seperti kalam dan fiqih lebih diarahkan pada pengembangan afektif yang mampu merasakan berbagai realitas yang bersifat multicultural, sehinga semangat ajaransufistik yang mengembangkan moralitas multicultural melalui dua hal: pertama“al sidq ma 'a Allah”(jujur bersama Allah), kedua“husnonal mu 'amalah ma 'a al nas”(berperperaku baik dengan sesama manusia)。图书馆研究,图书馆分析,图书馆分析,图书馆分析,图书馆分析。Peran Pendidikan多元文化组织Afektif Sufistik bagi Pembentukan Karakter siwa terletak padpadproses penbelajan yang menggedepankan kecerdasan知识分子,kecerdaan an情感和精神上的dalam seppakakan an情感和精神上的dalam seppakakan an个人,siwa danmengedepankan kasian dalam mengajar siwa sebagaimana orang anak kandungnya, tiak ada piilih kasih dalam成员,perlakan kepadidikan kasian这句话的意思是:“我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说。”
{"title":"Pendidikan Multikultural Berbasis Afektif Sufistik bagi Pembentukan Karakter","authors":"Pariyati Pariyati","doi":"10.14710/NUSA.13.2.316-328","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.316-328","url":null,"abstract":"AbstractThe concept of Islamic religious education such as kalam and fiqih is more directed towards the development of affective capable of experiencing multicultural realities, so that the spirit of Sufi teachings that develop multicultural morality through two things: the first \"al sidq ma'a Allah\" (honest with God), second \"Husn al mu'amalah ma'a al nas\" (behave well with fellow human beings). This research includes the type of library research (library research) with the analysis used is descriptive analytical. The role of Sufistic-Based Multicultural Multicultural Education for Student Character Building lies in the learning process that emphasizes intellectual intelligence, emotional and spiritual intelligence in every process undertaken by emphasizing appreciation of the individual's individuality of the students and promoting affection in teaching students as parents to their natural children, there is no favoritism in giving treatment to every student, all students are treated and educated according to their ability and emphasized to mutual respect difference with other friend, so in the end student will have akhlakul karimah as nature of Allah SWT in everyday life with emphasize at power qalb on student self.IntisariKonsep pendidikan agama Islam seperti kalam dan fiqih lebih diarahkan pada pengembangan afektif yang mampu merasakan berbagai realitas yang bersifat multicultural, sehingga semangat ajaran sufistik yang mengembangkan moralitas multikultural melalui dua hal: pertama “al sidq ma’a Allah” (jujur bersama Allah), kedua “husn al mu’amalah ma’a al nas” (berperilaku baik dengan sesama manusia).Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan analisis yang digunakan adalah deskriptif analitis. Peran Pendidikan Multikultural Berbasis Afektif Sufistik bagi Pembentukan Karakter Siswa terletak pada proses pembelajaran yang mengedepankan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan spiritual dalam setiap proses yang dilakukan dengan menekankan pada penghargaan terhadap keberagamaan setiap individu siswa dan mengedepankan kasih sayang dalam mengajar siswa sebagaimana orang tua terhadap anak kandungnya, tidak ada pilih kasih dalam memberikan perlakuan kepada setiap siswa, semua siswa diperlakukan dan dididik sesuai kemampuannya dan ditekankan untuk saling menghargai perbedaan dengan teman lainnya, sehingga pada akhirnya siswa akan memiliki akhlakul karimah sebagaimana sifat Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari dengan menekankan pada kekuatan qalb pada diri siswa.","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"56 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129342659","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.213-222
Mujid Farihul Amin
AbstractThe type of borderline adverbs in Indonesian is not just two - as stated in the Indonesian Book Language Book (1993) -, but four. The four types of border adverbs are verb-limiting adverbs, adjective adjuster adverbs, nomina-limiting adverbs, and numerical delimiter adverbs. Although in the discussion we can see a barrier adverb that can be used more than one type, but it will not weaken the description that has been obtained. Keywords: borderline adverbs, Indonesian.IntisariJenis adverbia pewatas dalam bahasa Indonesia bukan hanya dua — seperti dinyatakan dalam Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia (1993) —, melainkan empat. Keempat jenis adverbia pewatas itu adalah adverbia pewatas verba, adverbia pewatas adjektiva, adverbia pewatas nomina, dan adverbia pewatas numeralia. Meskipun dalam pembahasan dapat dilihat adanya adverbia pewatas yang dapat dipakai lebih dari satu jenis, namun hal itu tidak akan melemahkan deskripsi yang telah diperoleh.
{"title":"Ciri-ciri dan Jenis Adverbia Pewatas dalam Bahasa Indonesia","authors":"Mujid Farihul Amin","doi":"10.14710/NUSA.13.2.213-222","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.213-222","url":null,"abstract":"AbstractThe type of borderline adverbs in Indonesian is not just two - as stated in the Indonesian Book Language Book (1993) -, but four. The four types of border adverbs are verb-limiting adverbs, adjective adjuster adverbs, nomina-limiting adverbs, and numerical delimiter adverbs. Although in the discussion we can see a barrier adverb that can be used more than one type, but it will not weaken the description that has been obtained. Keywords: borderline adverbs, Indonesian.IntisariJenis adverbia pewatas dalam bahasa Indonesia bukan hanya dua — seperti dinyatakan dalam Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia (1993) —, melainkan empat. Keempat jenis adverbia pewatas itu adalah adverbia pewatas verba, adverbia pewatas adjektiva, adverbia pewatas nomina, dan adverbia pewatas numeralia. Meskipun dalam pembahasan dapat dilihat adanya adverbia pewatas yang dapat dipakai lebih dari satu jenis, namun hal itu tidak akan melemahkan deskripsi yang telah diperoleh.","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"37 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127748815","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.273-282
Moh. Muzakka Mussaif
AbstractThe presence of a text can not be free from the preceding texts. Because, the presence of a new text is very affected from the texts that already exist. This is called intertextual relationships. The presence of tajwid text in Javanese must be strongly influenced by the Arabic text. Because, tajwid text is the domain of Arabic. This study aims to see the intertextual relations Tanwiru ‘-Qari’ derived from the Javanese text with Tuchfatu ‘l-Athfal derived originating from Arabic texts. The results show that Tanwiru ‘l-Qari' text structure is a transformation of the Tuchfatu ‘l-Athfal text. It appears in the narrative structure, the formal structure, and the ideas of the two texts. IntisariKehadiran sebuah teks tidak bisa terbebas dari teks-teks sebelumnya. Sebab, hadirnya sebuah teks baru sangat terpengaruh dari teks-teks yang sudah ada. Inilah yang disebut dengan hubungan intertekstual. Hadirnya teks tajwid di Jawa pasti sangat dipengaruhi oleh teks Arab. Sebab, teks tajwid itu merupakan ranah bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan intertekstual Tanwiru ‘l-Qari’ yang berasal dari teks Jawa dengan Tuchfatu ‘l-Athfal yang berasal yang berasal dari teks Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur teks Tanwiru ‘l-Qari’ merupakan transformasi dari teks Tuchfatu ‘l-Athfal. Hal itu tampak pada struktur naratifnya, struktur formal, dan gagasan kedua teks.
{"title":"Hubungan Intertekstual Tanwiru ‘l-qori dengan Tuchfatu ‘l-athfal","authors":"Moh. Muzakka Mussaif","doi":"10.14710/NUSA.13.2.273-282","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.273-282","url":null,"abstract":"AbstractThe presence of a text can not be free from the preceding texts. Because, the presence of a new text is very affected from the texts that already exist. This is called intertextual relationships. The presence of tajwid text in Javanese must be strongly influenced by the Arabic text. Because, tajwid text is the domain of Arabic. This study aims to see the intertextual relations Tanwiru ‘-Qari’ derived from the Javanese text with Tuchfatu ‘l-Athfal derived originating from Arabic texts. The results show that Tanwiru ‘l-Qari' text structure is a transformation of the Tuchfatu ‘l-Athfal text. It appears in the narrative structure, the formal structure, and the ideas of the two texts. IntisariKehadiran sebuah teks tidak bisa terbebas dari teks-teks sebelumnya. Sebab, hadirnya sebuah teks baru sangat terpengaruh dari teks-teks yang sudah ada. Inilah yang disebut dengan hubungan intertekstual. Hadirnya teks tajwid di Jawa pasti sangat dipengaruhi oleh teks Arab. Sebab, teks tajwid itu merupakan ranah bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan intertekstual Tanwiru ‘l-Qari’ yang berasal dari teks Jawa dengan Tuchfatu ‘l-Athfal yang berasal yang berasal dari teks Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur teks Tanwiru ‘l-Qari’ merupakan transformasi dari teks Tuchfatu ‘l-Athfal. Hal itu tampak pada struktur naratifnya, struktur formal, dan gagasan kedua teks.","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"134 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114669492","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-05-31DOI: 10.14710/NUSA.13.2.190-200
S. Astuti
AbstractThe purpose of darma students come to Indonesia was to learn the language and culture of Indonesia. In the context of Indonesian disrup students of darma students are still experiencing difficulties because Indonesian is a foreign language for them. The purpose of this research is to describe the error of composing sentence of darma students of Diponegoro University in 2017. Samples taken in this research was darma students. This research focuses on language errors, especially writing skills. This research is a qualitative descriptive study. The data source of this research is the writings of advanced students of Diponegoro University in 2017. Data collection used purposive sampling technique. Data analysis was conducted by identifying sentence errors and then classifies by mistake. The result of the research showed that the errors found are the use of affixes, the use of conjunctions and prepositions, the arrangement of sentences is too long, the sentence structure is incomplete, the improper use of diction, the errors of spelling, and the use of the word redundant.IntisariTujuan mahasiswa darma siswa datang ke Indonesia yaitu belajar bahasa dan budaya Indonesia. Dalam mempelajari bahasa Indonesia diduga mahasiswa darma siswa masih megalami kesulitan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa asing bagi mereka. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesalahan penyusunan kalimat mahasiswa darma siswa Universitas Diponegoro tahun 2017. Sampel yang diambil dalam penelitian ini mahasiswa darma siswa tingkat lanjut. Penelitian ini memfoluskan pada kesalahan berbahasa terutama keterampilan menulis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa tulisan mahasiswa darma siswa Universitas Diponegoro tingkat lanjut tahun 2017. Pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi kesalahan kalimat kemudian mengklasifikasikan berdasarkan kesalahanmya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan yaitu kesalahan pemakaian afiks, pemakaian konjungsi dan preposisi, susunan kalimat terlalu panjang, struktur kalimat tidak lengkap, pemakaian diksi yang kurang tepat, kesalahan pemakaian ejaan, dan pemakaian kata mubazir
【摘要】留学生来印尼的目的是学习印尼的语言和文化。在印尼语混乱的背景下,由于印尼语对他们来说是一门外语,达摩学生仍然遇到困难。本研究的目的是描述Diponegoro大学2017年语法学生的造句错误。本研究的样本是法律系学生。这项研究的重点是语言错误,尤其是写作技巧。本研究为定性描述性研究。本研究的数据来源是Diponegoro大学2017年进修生的写作。数据收集采用目的性抽样技术。数据分析是通过识别句子错误,然后进行错误分类。研究结果表明,发现的错误是词缀的使用,连词和介词的使用,句子的排列太长,句子结构不完整,用词不当,拼写错误以及使用冗余词。IntisariTujuan mahasiswa darma siswa datang ke Indonesia yitu belajar bahasa dan budaya Indonesia。印尼语,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语,印尼语。杜鹃penelitian ini adalah mendeskripsikan kesalahan penyusunan kalimat mahasiswa darma siswa university Diponegoro, tahun 2017。桑普尔杨diambil dalam penelitian ini mahasiswa darma siswa tingkat lanjut。Penelitian ini memfoluskan pada kesalahan berbahasa terutama keterampilan menulis。Penelitian ini merupakan Penelitian deskscriptif quality。四川大学学报(自然科学版),2017年6月。彭甘比兰数据孟古纳肯技术有目的抽样。分析资料:dilakukan dengan mengidentifikasi kesalahan kalimat kemudian mengklasifikasikan berdasarkan kesalahanmya。Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan yaitu kesalahan pemakaian afiks, pemakaian konjungsi dan preposisi, susunan kalimat terlalu panjang, strukturr kalimat tidak lengkap, pemakaian diksi yang kurang tepat, kesalahan pemakaian ejaan, dan pemakaian kata mubazir
{"title":"Penyusunan Kalimat Studi Kasus Mahasiswa Darma Siswa Universitas Diponegoro","authors":"S. Astuti","doi":"10.14710/NUSA.13.2.190-200","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/NUSA.13.2.190-200","url":null,"abstract":"AbstractThe purpose of darma students come to Indonesia was to learn the language and culture of Indonesia. In the context of Indonesian disrup students of darma students are still experiencing difficulties because Indonesian is a foreign language for them. The purpose of this research is to describe the error of composing sentence of darma students of Diponegoro University in 2017. Samples taken in this research was darma students. This research focuses on language errors, especially writing skills. This research is a qualitative descriptive study. The data source of this research is the writings of advanced students of Diponegoro University in 2017. Data collection used purposive sampling technique. Data analysis was conducted by identifying sentence errors and then classifies by mistake. The result of the research showed that the errors found are the use of affixes, the use of conjunctions and prepositions, the arrangement of sentences is too long, the sentence structure is incomplete, the improper use of diction, the errors of spelling, and the use of the word redundant.IntisariTujuan mahasiswa darma siswa datang ke Indonesia yaitu belajar bahasa dan budaya Indonesia. Dalam mempelajari bahasa Indonesia diduga mahasiswa darma siswa masih megalami kesulitan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa asing bagi mereka. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesalahan penyusunan kalimat mahasiswa darma siswa Universitas Diponegoro tahun 2017. Sampel yang diambil dalam penelitian ini mahasiswa darma siswa tingkat lanjut. Penelitian ini memfoluskan pada kesalahan berbahasa terutama keterampilan menulis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa tulisan mahasiswa darma siswa Universitas Diponegoro tingkat lanjut tahun 2017. Pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi kesalahan kalimat kemudian mengklasifikasikan berdasarkan kesalahanmya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan yaitu kesalahan pemakaian afiks, pemakaian konjungsi dan preposisi, susunan kalimat terlalu panjang, struktur kalimat tidak lengkap, pemakaian diksi yang kurang tepat, kesalahan pemakaian ejaan, dan pemakaian kata mubazir","PeriodicalId":229358,"journal":{"name":"Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122114419","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}