Upik Pebriyani, D. Utami, Rita Agustina, Siti Mariyam
Penyakit diabetes merupakan salah satu PTM dimana terjadinya peningkatan kadar glukosa di dalam darah yang menyebabkan hiperglikemi. Diabetes dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat ataupun mempunyai riwayat genetik dari orang tua yang menderita diabetes melitus (DM). Diabetes perlu menjadi perhatian bagi dunia yang memiliki angka DM yang relatif tinggi karena dapat memicu timbulnya berbagai komplikasi, seperti penyakit jantung koroner, ulkus diabetikum, dan stroke yang menyebabkan kematian. Puskesmas Kedaton Bandar Lampung kejadian Diabetes Melitus pada tahun 2021 berjumlah 949 pasien kasus lama dan baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) BPJS kesehatan pada pasien penderita DM (diabetes melitus) di UPTD Puskesmas Kedaton Bandar Lampung. Populasi pada penelitian ini yaitu penanggung jawab pada program PROLANIS serta peserta PROLANIS, dan sampel pada penelitian ini adalah Kepala Puskesmas, Penanggung jawab PROLANIS, Penanggung jawab UKP, Penanggung jawab UKM, Masyarakat (penderita diabetes melitus anggota prolanis). Puskesmas kedaton bandar lampung di dapatkan pasien diabetes melitus terbanyak pada bulan desember yaitu sebanyak 122 orang, dan pada pasien diabetes melitus terendah pada bulan mei yaitu sebanyak 53 orang. Jumlah keseluruhan pasien diabetes melitus di UPTD puskesmas kedaton bandar lampung 2021 sebanyak 949 orang. Pelaksanaan PROLANIS masih belum maksimal, ditandai dengan masih kurangnya kehadiran peserta untuk mengikuti kegiatan PROLANIS dikarenakan waktu pelaksanaan dipagi hari.  Kata Kunci    : Diabetes Melitus, Prolanis, BPJS Kesehatan, Puskesmas.
糖尿病是非传染性疾病之一,血液中的葡萄糖水平升高导致高血糖。糖尿病可能是由于不健康的生活方式,也可能是患有糖尿病(DM)父母的遗传历史。糖尿病需要关注一个发展中国家,因为它会引发并发症,如冠心病、糖尿病溃疡和导致死亡的中风。2021年患有糖尿病的临床病例有949名新老病例。本研究的目的是了解DM患者(糖尿病)在南榜UPTD Puskesmas Kedaton的健康管理计划。该研究的人口是普罗兰尼斯项目的负责人和参与者,该研究的样本包括普斯克马斯负责人、普罗兰尼斯推动者、UKP推动者、中小社区(普罗兰尼斯糖尿病患者)负责人。每年12月,患糖尿病的人数最多的是122人,患糖尿病的人数最低的是5月53人。2021年南榜UPTD puskesmas kedaton的糖尿病患者总数为949人。截至上午实施时间,该项目的创办人仍处于初级阶段,其特点是参加者仍然缺乏参加前期活动的资格。KunciA A A:糖尿病,Prolanis,健康BPJS, Puskesmas。
{"title":"ANALISIS PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) BPJS KESEHATAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI UPTD PUSKESMAS KEDATON BANDAR LAMPUNG 2021","authors":"Upik Pebriyani, D. Utami, Rita Agustina, Siti Mariyam","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4065","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4065","url":null,"abstract":"\u0000Penyakit diabetes merupakan salah satu PTM dimana terjadinya peningkatan kadar glukosa di dalam darah yang menyebabkan hiperglikemi. Diabetes dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat ataupun mempunyai riwayat genetik dari orang tua yang menderita diabetes melitus (DM). Diabetes perlu menjadi perhatian bagi dunia yang memiliki angka DM yang relatif tinggi karena dapat memicu timbulnya berbagai komplikasi, seperti penyakit jantung koroner, ulkus diabetikum, dan stroke yang menyebabkan kematian. Puskesmas Kedaton Bandar Lampung kejadian Diabetes Melitus pada tahun 2021 berjumlah 949 pasien kasus lama dan baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) BPJS kesehatan pada pasien penderita DM (diabetes melitus) di UPTD Puskesmas Kedaton Bandar Lampung. Populasi pada penelitian ini yaitu penanggung jawab pada program PROLANIS serta peserta PROLANIS, dan sampel pada penelitian ini adalah Kepala Puskesmas, Penanggung jawab PROLANIS, Penanggung jawab UKP, Penanggung jawab UKM, Masyarakat (penderita diabetes melitus anggota prolanis). Puskesmas kedaton bandar lampung di dapatkan pasien diabetes melitus terbanyak pada bulan desember yaitu sebanyak 122 orang, dan pada pasien diabetes melitus terendah pada bulan mei yaitu sebanyak 53 orang. Jumlah keseluruhan pasien diabetes melitus di UPTD puskesmas kedaton bandar lampung 2021 sebanyak 949 orang. Pelaksanaan PROLANIS masih belum maksimal, ditandai dengan masih kurangnya kehadiran peserta untuk mengikuti kegiatan PROLANIS dikarenakan waktu pelaksanaan dipagi hari.\u0000 \u0000Kata Kunci    : Diabetes Melitus, Prolanis, BPJS Kesehatan, Puskesmas.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"8 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114152566","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Nutritional status in childhood is a very important determinant of health in the future. One of the nutritional problems that gets a lot of attention in toddlers is stunting. Stunting is stated as a stunting syndrome that can cause several pathological changes, characterized by linear growth retardation, increased morbidity and reduced physical and neurodevelopmental abilities/capacities. This study aims to determine the relationship between food intake (energy intake and protein intake) with the incidence of stunting in children under five in the working area of ​​Babussalam Public Health Center, Southeast Aceh Regency. The research method is quantitative with a cross-sectional study design. The collection of samples using purposive sampling method obtained 38 samples and instruments used in the form of measuring body weight and height (microtoice) and food frequency questionnaires semiquantitative. Based on the results of statistical tests, it was found that there was a relationship between food intake (energy intake) and the incidence of stunting in children under five with p-value = 0.004 and there was a relationship between food intake (protein intake) and stunting in children under five with p-value = 0.012. So it is suggested to the community in the working area of ​​the Babussalam Public Health Center, Southeast Aceh Regency, the need to prevent stunting as early as possible, especially to families, namely mothers so that they can provide adequate nutritional intake so that they can reduce the risk of stunting in toddlers and pregnant women can maintain their diet according to balanced nutrition so that not giving birth to low birth weight babies so as to reduce the risk of stunting in toddlers.
{"title":"HUBUNGAN ASUPAN MAKANAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BABUSSALAM KABUPATEN ACEH TENGGARA","authors":"Taufik Hidayat, R. Rohani","doi":"10.31004/jkt.v3i1.3973","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.3973","url":null,"abstract":"Nutritional status in childhood is a very important determinant of health in the future. One of the nutritional problems that gets a lot of attention in toddlers is stunting. Stunting is stated as a stunting syndrome that can cause several pathological changes, characterized by linear growth retardation, increased morbidity and reduced physical and neurodevelopmental abilities/capacities. This study aims to determine the relationship between food intake (energy intake and protein intake) with the incidence of stunting in children under five in the working area of ​​Babussalam Public Health Center, Southeast Aceh Regency. The research method is quantitative with a cross-sectional study design. The collection of samples using purposive sampling method obtained 38 samples and instruments used in the form of measuring body weight and height (microtoice) and food frequency questionnaires semiquantitative. Based on the results of statistical tests, it was found that there was a relationship between food intake (energy intake) and the incidence of stunting in children under five with p-value = 0.004 and there was a relationship between food intake (protein intake) and stunting in children under five with p-value = 0.012. So it is suggested to the community in the working area of ​​the Babussalam Public Health Center, Southeast Aceh Regency, the need to prevent stunting as early as possible, especially to families, namely mothers so that they can provide adequate nutritional intake so that they can reduce the risk of stunting in toddlers and pregnant women can maintain their diet according to balanced nutrition so that not giving birth to low birth weight babies so as to reduce the risk of stunting in toddlers.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"92 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116892104","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
ABSTRAK Penyakit virus korona 2019 (Covid-19) telah memicu pandemi global yang menyebabkan efek negatif global. Virus covid-19 dapat tertular dan menularkan kepada orang lain dan kesulitan pekerjaan memiliki dampak negatif pada psikologis masyarakat luas. Kasus kematian akibat covid-19 dan tindakan isolasi dapat mempengaruhi psikologis seperti depresi, kecemasan, rasa takut berlebihan serta perubahan pola tidur masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis psikologis masyarakat berdasarkan hospital anxiety and depression scale (HADS) selama pandemi covid-19 di Desa Pulo Kemiri Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu semua masyarakat dengan usia produktif yang berjumlah 122 responden. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden dengan usia 26 – 35 tahun, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, dan hampir sebagian responden dengan jenjang pendidikan SMA. Adapun gambaran psikologis masyarakat berdasarkan hospital anxiety and depression scale (HADS) selama pandemi covid-19 di Desa Pulo Kemiri Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi secara berkelanjutan kepada masyarakat tentang covid-19 dan melatih keluarga untuk memberikan dukungan bagi anggota keluarga yang terkena dampak pandemi covid-19, sehingga menimbulkan perasaan nyaman dan kepedulian terhadap sesama.
{"title":"ANALISIS PSIKOLOGIS MASYARAKAT BERDASARKAN HOSPITAL ANXIETY AND DEPRESSION SCALE (HADS) SELAMA PANDEMI COVID-19 DI DESA PULO KEMIRI KECAMATAN BABUSSALAM KABUPATEN ACEH TENGGARA","authors":"S. Handayani, Devi Susanti","doi":"10.31004/jkt.v3i1.3975","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.3975","url":null,"abstract":"ABSTRAK \u0000Penyakit virus korona 2019 (Covid-19) telah memicu pandemi global yang menyebabkan efek negatif global. Virus covid-19 dapat tertular dan menularkan kepada orang lain dan kesulitan pekerjaan memiliki dampak negatif pada psikologis masyarakat luas. Kasus kematian akibat covid-19 dan tindakan isolasi dapat mempengaruhi psikologis seperti depresi, kecemasan, rasa takut berlebihan serta perubahan pola tidur masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis psikologis masyarakat berdasarkan hospital anxiety and depression scale (HADS) selama pandemi covid-19 di Desa Pulo Kemiri Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu semua masyarakat dengan usia produktif yang berjumlah 122 responden. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden dengan usia 26 – 35 tahun, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, dan hampir sebagian responden dengan jenjang pendidikan SMA. Adapun gambaran psikologis masyarakat berdasarkan hospital anxiety and depression scale (HADS) selama pandemi covid-19 di Desa Pulo Kemiri Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi secara berkelanjutan kepada masyarakat tentang covid-19 dan melatih keluarga untuk memberikan dukungan bagi anggota keluarga yang terkena dampak pandemi covid-19, sehingga menimbulkan perasaan nyaman dan kepedulian terhadap sesama.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"58 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133814642","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Erythroderma is a severe skin disorder that requires immediate and adequate treatment. The most common cause of erythroderma, which can be detrimental to the patient's life, is psoriasis. We describe a case of erythroderma psoriasis (EP) in a 57-year-old male patient without underlying systemic disease. The patient was diagnosed based on his medical history and physical examination. The management is interdisciplinary and comprehensive. Patients' clinical outcomes improved significantly after receiving topical and systemic corticosteroids.
{"title":"ERYTHRODERMIC PSORIASIS IN ADULT MALE PATIENT TREATED WITH SYSTEMIC CORTICOSTEROID : A CASE REPORT","authors":"P. M. Susanto","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4269","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4269","url":null,"abstract":"Erythroderma is a severe skin disorder that requires immediate and adequate treatment. The most common cause of erythroderma, which can be detrimental to the patient's life, is psoriasis. We describe a case of erythroderma psoriasis (EP) in a 57-year-old male patient without underlying systemic disease. The patient was diagnosed based on his medical history and physical examination. The management is interdisciplinary and comprehensive. Patients' clinical outcomes improved significantly after receiving topical and systemic corticosteroids.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"116 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125298893","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Hipertensi merupakan salah satu penyaki tidak menular (PTM) yang sangat berbahaya (Silent Killer) penyakit ini juga disebut sebagai suatu kondisi dimana terjadi kenaikan tekanan darah sistolik mencapai angka di atas sama dengan 140 mmHg dan diastolik diatas sama dengan 90 mmHg. Penurunan kualitas hidup penderita, manajemenhipertensi yang sangat mahal merupakan faktor yang memaksa indonesia mengadopsi sistem seperti di Amerika dan Inggris. Sistem tersebut adalah BPLB (Blood Pressure Leadership Board) guna memberikan pelayanan khusus pada pasien hipertensi pada pelayanan kesehatan primer. Program nasional di Indonesia diberi nama program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) yang berada di bawah naungan BPJS Kesehatan. Keberhasilan suatu pelaksanaan program dipengaruhi oleh kepatuhan penderita hipertensi dalam melaksanakan terapi. Kepatuhan merupakan kemampuan seseorang untuk tetap melaksanakan tindakan terapi yang telah diberikan oleh penyedia pelayanan kesehatan. Melakukan gambaran kepatuhan pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) BPJS kesehatan pada pasien hipertensi di uptd puskesmas kedaton kota bandar lampung 2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian dengan menjelaskan situasi karakteristik responden. Data yang diambil adalah data kuesioner. Didapatkan sampel penelitian sejumlah 73 responden. Karakteristik pasien hipertensi yaitu usia pasien hipertensi terbanyak adalah sebanyak 45 orang (62%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 56 orang (77%),dan status pasien hipertensi adalah hipertensi tidak terkontrol sebanyak 43 orang (59%). Untuk tingkat kepatuhan paling banyak adalah tingkat patuh sebanyak 44  orang (60%).  Kata Kunci     : Kepatuhan,Prolanis,Hipertensi Â
{"title":"GAMBARAN KEPATUHAN PELAKSANAAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) BPJS KESEHATAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI UPTD PUSKESMAS KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG 2022","authors":"Upik Pebriyani, Rakhmi Rafie, Rita Agustina, Nida Zakariya","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4101","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4101","url":null,"abstract":"Hipertensi merupakan salah satu penyaki tidak menular (PTM) yang sangat berbahaya (Silent Killer) penyakit ini juga disebut sebagai suatu kondisi dimana terjadi kenaikan tekanan darah sistolik mencapai angka di atas sama dengan 140 mmHg dan diastolik diatas sama dengan 90 mmHg. Penurunan kualitas hidup penderita, manajemenhipertensi yang sangat mahal merupakan faktor yang memaksa indonesia mengadopsi sistem seperti di Amerika dan Inggris. Sistem tersebut adalah BPLB (Blood Pressure Leadership Board) guna memberikan pelayanan khusus pada pasien hipertensi pada pelayanan kesehatan primer. Program nasional di Indonesia diberi nama program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) yang berada di bawah naungan BPJS Kesehatan. Keberhasilan suatu pelaksanaan program dipengaruhi oleh kepatuhan penderita hipertensi dalam melaksanakan terapi. Kepatuhan merupakan kemampuan seseorang untuk tetap melaksanakan tindakan terapi yang telah diberikan oleh penyedia pelayanan kesehatan. Melakukan gambaran kepatuhan pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) BPJS kesehatan pada pasien hipertensi di uptd puskesmas kedaton kota bandar lampung 2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian dengan menjelaskan situasi karakteristik responden. Data yang diambil adalah data kuesioner. Didapatkan sampel penelitian sejumlah 73 responden. Karakteristik pasien hipertensi yaitu usia pasien hipertensi terbanyak adalah sebanyak 45 orang (62%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 56 orang (77%),dan status pasien hipertensi adalah hipertensi tidak terkontrol sebanyak 43 orang (59%). Untuk tingkat kepatuhan paling banyak adalah tingkat patuh sebanyak 44  orang (60%).\u0000 \u0000Kata Kunci     : Kepatuhan,Prolanis,Hipertensi\u0000 ","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"27 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125307973","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Penyebab stunting berkaian dengan masalah gizi dan kesehatan pada periode 1000 hari pertama kelahiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah riwayat ibu hamil dengan KEK, berat bayi lahir rendah, dan ASI eksklusif yang tidak cukup berpengaruh terhadap kejadian stunting. Metode: jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain case-control. Sebagai kasus adalah balita yang stunting dan kontrol adalah balita tidak stunting. Populasi penelitian adalah balita umur 12-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tatah Makmur Kabupaten Banjar, Provinsi Kalsel. Sampel penelitian berjumlah 128 orang terdiri dari 64 orang kasus dan 64 orang kontrol. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: angka KEK pada ibu hamil adalah 47,7%, BBLR 13,3% dan ASI ekslusif 48,4%. Ibu hamil KEK berpengaruh signifikan terhadap stunting (OR=3,8), BBLR berpengaruh terhadap stunting (OR=14,2%), dan pemberian ASI esklusif berpengaruh terhadap stunting (OR=4,2). Kesimpulan: ibu hamil KEK, berat bayi lahir rendah, dan ibu tidak memberikan ASI eksklusif merupakan faktor risiko stunting. Disarankan agar Puskesmas mengotimalkan kelas ibu hamil, peningkatan pembinaan gizi pada remaja, dan konseling pemberian makan bayi dan anak.
{"title":"IBU HAMIL KEK, BERAT BAYI LAHIR RENDAH DAN TIDAK ASI EKSLUSIF SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA STUNTING","authors":"Wilis Agustina, Fathurrahman Fathur","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4015","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4015","url":null,"abstract":"Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Penyebab stunting berkaian dengan masalah gizi dan kesehatan pada periode 1000 hari pertama kelahiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah riwayat ibu hamil dengan KEK, berat bayi lahir rendah, dan ASI eksklusif yang tidak cukup berpengaruh terhadap kejadian stunting. Metode: jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain case-control. Sebagai kasus adalah balita yang stunting dan kontrol adalah balita tidak stunting. Populasi penelitian adalah balita umur 12-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tatah Makmur Kabupaten Banjar, Provinsi Kalsel. Sampel penelitian berjumlah 128 orang terdiri dari 64 orang kasus dan 64 orang kontrol. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: angka KEK pada ibu hamil adalah 47,7%, BBLR 13,3% dan ASI ekslusif 48,4%. Ibu hamil KEK berpengaruh signifikan terhadap stunting (OR=3,8), BBLR berpengaruh terhadap stunting (OR=14,2%), dan pemberian ASI esklusif berpengaruh terhadap stunting (OR=4,2). Kesimpulan: ibu hamil KEK, berat bayi lahir rendah, dan ibu tidak memberikan ASI eksklusif merupakan faktor risiko stunting. Disarankan agar Puskesmas mengotimalkan kelas ibu hamil, peningkatan pembinaan gizi pada remaja, dan konseling pemberian makan bayi dan anak.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"15 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128185684","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Excessive and inappropriate use of antibiotics in some cases can cause antibiotic resistance problems, increase treatment costs, and side effects of antibiotics. To prevent the emergence of antibiotic resistance, it is necessary to rationalize the administration of antibiotics. The purpose of this study was to determine the rationality of prescribing antibiotics at the Telkomedika Health Center Clinic in the period October-December 2020. This study used a descriptive observational method. Retrospective data collection used 160 samples of prescriptions and medical records of patients with a diagnosis of bacterial infection and a prescription for antibiotics. The data were analyzed descriptively based on rationality of prescribing including the right diagnosis, the right indication, the right choice of drug and the right dose, the right way of administering the drug, the right duration of drug administration, the right patient with theguidelines Drug Information Handbook, then calculated in percentage form and presented in tabular form. Research results The rationale for prescribing antibiotics to patients at the Telkomedika Health Center Clinic in Yogyakarta for the period October - December 2020 is 100% Correct Diagnosis, 100% Correct Indication, 100% Correct Selection of Drugs, 100% Correct Dosage, 100% Correct Method of Drug Administration, 100% Correct Duration of Drug Administration. These results indicate that the prescription screening conducted at the Telkomedika Health Center Clinic in Yogyakarta has been carried out very well and according to the quality standards that have been set. Keywords : rationality, antibiotics, prescribing
{"title":"RATIONALITY OF PRESCRIBING ANTIBIOTICS TO PATIENTS AT THE HEALTH CENTER TELKOMEDIKA CLINIC, YOGYAKARTA","authors":"Dwi Puspita Ekasari, D. Hastuti","doi":"10.31004/jkt.v3i1.3993","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.3993","url":null,"abstract":"Excessive and inappropriate use of antibiotics in some cases can cause antibiotic resistance problems, increase treatment costs, and side effects of antibiotics. To prevent the emergence of antibiotic resistance, it is necessary to rationalize the administration of antibiotics. The purpose of this study was to determine the rationality of prescribing antibiotics at the Telkomedika Health Center Clinic in the period October-December 2020. \u0000This study used a descriptive observational method. Retrospective data collection used 160 samples of prescriptions and medical records of patients with a diagnosis of bacterial infection and a prescription for antibiotics. The data were analyzed descriptively based on rationality of prescribing including the right diagnosis, the right indication, the right choice of drug and the right dose, the right way of administering the drug, the right duration of drug administration, the right patient with theguidelines Drug Information Handbook, then calculated in percentage form and presented in tabular form. \u0000Research results The rationale for prescribing antibiotics to patients at the Telkomedika Health Center Clinic in Yogyakarta for the period October - December 2020 is 100% Correct Diagnosis, 100% Correct Indication, 100% Correct Selection of Drugs, 100% Correct Dosage, 100% Correct Method of Drug Administration, 100% Correct Duration of Drug Administration. These results indicate that the prescription screening conducted at the Telkomedika Health Center Clinic in Yogyakarta has been carried out very well and according to the quality standards that have been set. \u0000Keywords : rationality, antibiotics, prescribing","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"77 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131924824","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Gangguan tidur sering dialami oleh pasien kanker payudara hal ini karena pasien yang mendapatkan perawatan kanker payudara dan dilakukan kemoterapi memang lebih rentan untuk mengalami kelelahan sehingga memerlukan waktu tidur yang lebih panjang, namun sebagian besar pasien kanker justru merasakan hal yang sebaliknya, yakni tidak bisa tidur nyenyak. Untuk mengetahui hubungan stadium kanker payudara dengan insomnia pada penderita kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif analitik dengan studi cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah penderita kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2021 sebanyak 68 orang.Sebagian besar responden mengalami insomnia sedang sebanyak 45.6%, sebagian responden berada pada stadium 3 kanker payudara sebanyak 45.6%. Terdapat hubungan yang signifikan antara stadium kanker payudara dengan insomnia (p-value=0,000) dan juga menampilkan nilai korelasi sebesar 0.650.  Kata Kunci    : Stadium Kanker Payudara, Insomnia, Kemoterapi
{"title":"HUBUNGAN STADIUM KANKER PAYUDARA DENGAN INSOMNIA PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA YANG SEDANG MENJALANI KEMOTERAPI DI RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG","authors":"Senklin Andini, Andi Siswandi, Anggunan Anggunan, Octa Reni Setiawati","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4034","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4034","url":null,"abstract":"\u0000Gangguan tidur sering dialami oleh pasien kanker payudara hal ini karena pasien yang mendapatkan perawatan kanker payudara dan dilakukan kemoterapi memang lebih rentan untuk mengalami kelelahan sehingga memerlukan waktu tidur yang lebih panjang, namun sebagian besar pasien kanker justru merasakan hal yang sebaliknya, yakni tidak bisa tidur nyenyak. Untuk mengetahui hubungan stadium kanker payudara dengan insomnia pada penderita kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif analitik dengan studi cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah penderita kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2021 sebanyak 68 orang.Sebagian besar responden mengalami insomnia sedang sebanyak 45.6%, sebagian responden berada pada stadium 3 kanker payudara sebanyak 45.6%. Terdapat hubungan yang signifikan antara stadium kanker payudara dengan insomnia (p-value=0,000) dan juga menampilkan nilai korelasi sebesar 0.650.\u0000 \u0000Kata Kunci    : Stadium Kanker Payudara, Insomnia, Kemoterapi","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"38 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129386160","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Preeclampsia is the onset of hypertension with proteinuria at gestational age of more than 20 weeks or immediately after delivery. Preeclampsia is a multisystem disorder in pregnancy that is characterized by endothelial dyspuncture, increased blood pressure, and proteinuria. due to glomerular failure, and edema due to increased vascular permeability. Objective: to determine the weight gain of third trimester pregnant women with the incidence of preeclampsia at the Umbunasi Health Center UPTD. Research Methods: The design of this research is an analytic survey with a cross-sectional approach in which data collection for the independent and dependent variables is carried out at the same time. The cross sectional study aims to determine the risk factors that can cause health problems in the community. In this study, researchers wanted to know the factors associated with preeclampsia in pregnant women at the UPTD Umbunasi Health Center in 2021. Results: Based on Table 4.1. It is known that from 70 respondents of third trimester pregnant women, 25 (35%) pregnant women did not gain weight, while 45 (45%) pregnant women experienced weight gain. From the results of the statistical test, it was obtained that = 0.0505, because p value = 0.0505 > 0.05, it can be concluded
{"title":"HUBUNGAN KENAIKAN BERAT BADAN IBU HAMIL TRIMESTER KETIGA DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DI UPTD PUSKESMAS UMBUNASI","authors":"Mastiur Julianti B","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4003","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4003","url":null,"abstract":"Preeclampsia is the onset of hypertension with proteinuria at gestational age of more than 20 weeks or immediately after delivery. Preeclampsia is a multisystem disorder in pregnancy that is characterized by endothelial dyspuncture, increased blood pressure, and proteinuria. due to glomerular failure, and edema due to increased vascular permeability. Objective: to determine the weight gain of third trimester pregnant women with the incidence of preeclampsia at the Umbunasi Health Center UPTD. Research Methods: The design of this research is an analytic survey with a cross-sectional approach in which data collection for the independent and dependent variables is carried out at the same time. The cross sectional study aims to determine the risk factors that can cause health problems in the community. In this study, researchers wanted to know the factors associated with preeclampsia in pregnant women at the UPTD Umbunasi Health Center in 2021. Results: Based on Table 4.1. It is known that from 70 respondents of third trimester pregnant women, 25 (35%) pregnant women did not gain weight, while 45 (45%) pregnant women experienced weight gain. From the results of the statistical test, it was obtained that = 0.0505, because p value = 0.0505 > 0.05, it can be concluded","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"3 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130930258","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar Belakang: Peningkatan kasus Covid-19 di indonesia mengakibatkan kecemasan di kalangan ibu hamil, karena yang dikhawatirkan tidak hanya kesehatan pada ibu nya, tetapi juga pada janinnya. Salah satu strategi untuk mencegah penyebaran Covid-19 adalah dengan cara Isolasi mandiri yaitu upaya seseorang yang terpapar Covid-19 untuk mencegah penyebaran infeksi dengan melakukan isolasi mandiri. Isolasi mandiri adalah upaya seseorang yang terpapar Covid-19, tanpa gejala atau dengan gejala ringan, untuk mencegah penyebaran infeksi dengan melakukan isolasi dirinya sendiri. Ibu hamil yang tunduk pada isolasi mandiri harus selalu menerima saran isolasi mandiri di rumah dengan pedoman berdasarkan protokol isolasi mandiri dalam pengobatan Covid-19 yang mengacu kepada Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/202/2020 Tahun 2020 yaitu tentang protokol isolasi mandiri dalam penanganan Coronavirus Disease (COVID-19). Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara faktor-faktor pengetahuan terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai isolasi mandiri Covid-19 di Puskesmas Simpur Tahun 2021. Metode Penelitian: Desain Penelitian yang digunakan yaitu analitik dengan metode kuantitatif, dengan desain penelitian yang dipilih yaitu cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai isolasi mandri Covid-19 yaitu sebanyak 56 ibu hamil ( 75,7%), diikuti responden dengan tingkat pengetahuan cukup baik sebanyak 7 ibu hamil (9,5%), dan tingkat pengetahuan ibu hamil kurang baik sebanyak 11 ibu hamil (14,5%). Adanya hubungan yang spesifik antara faktor pendidikan, media massa/informasi, sosial ekonomi, dukungan orang sekitar, dan usia dengan tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai isolasi mandiri Covid-19. Namun tidak adanya hubungan yang spesifik antara faktor pengalaman dengan tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai isolasi mandiri Covid-19. Kesimpulan: Faktor-faktor pengetahuan dengan pengetahuan ibu hamil Covid-19 terdiri dari pengtahuan baik, pendidikan sarjana, sumber informasi melalui tenaga kesehatan, sosial ekonomi ≥2,653,222, dukungan orang sekitar banyak yang mendukung, dengan banyak yang tidak berpengalaman Covid-19 sebelumnya, dan dengan rentang usia 21-30 tahun. Kata kunci : Faktor-Faktor, Tingkat Pengetahuan, Covid-19, Ibu Hamil
{"title":"ANALISIS FAKTOR FAKTOR PENGETAHUAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL MENGENAI ISOLASI MANDIRI COVID-19 DI PUSKESMAS SIMPUR BANDAR LAMPUNG","authors":"Fonda Octarianingsih Shariff, Ratna Purwaningrum, Achmad Farich, Rahma Fauzia Al Erza","doi":"10.31004/jkt.v3i1.4014","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v3i1.4014","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Peningkatan kasus Covid-19 di indonesia mengakibatkan kecemasan di kalangan ibu hamil, karena yang dikhawatirkan tidak hanya kesehatan pada ibu nya, tetapi juga pada janinnya. Salah satu strategi untuk mencegah penyebaran Covid-19 adalah dengan cara Isolasi mandiri yaitu upaya seseorang yang terpapar Covid-19 untuk mencegah penyebaran infeksi dengan melakukan isolasi mandiri. Isolasi mandiri adalah upaya seseorang yang terpapar Covid-19, tanpa gejala atau dengan gejala ringan, untuk mencegah penyebaran infeksi dengan melakukan isolasi dirinya sendiri. Ibu hamil yang tunduk pada isolasi mandiri harus selalu menerima saran isolasi mandiri di rumah dengan pedoman berdasarkan protokol isolasi mandiri dalam pengobatan Covid-19 yang mengacu kepada Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/202/2020 Tahun 2020 yaitu tentang protokol isolasi mandiri dalam penanganan Coronavirus Disease (COVID-19). \u0000Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara faktor-faktor pengetahuan terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai isolasi mandiri Covid-19 di Puskesmas Simpur Tahun 2021. \u0000Metode Penelitian: Desain Penelitian yang digunakan yaitu analitik dengan metode kuantitatif, dengan desain penelitian yang dipilih yaitu cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. \u0000Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai isolasi mandri Covid-19 yaitu sebanyak 56 ibu hamil ( 75,7%), diikuti responden dengan tingkat pengetahuan cukup baik sebanyak 7 ibu hamil (9,5%), dan tingkat pengetahuan ibu hamil kurang baik sebanyak 11 ibu hamil (14,5%). Adanya hubungan yang spesifik antara faktor pendidikan, media massa/informasi, sosial ekonomi, dukungan orang sekitar, dan usia dengan tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai isolasi mandiri Covid-19. Namun tidak adanya hubungan yang spesifik antara faktor pengalaman dengan tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai isolasi mandiri Covid-19. \u0000Kesimpulan: Faktor-faktor pengetahuan dengan pengetahuan ibu hamil Covid-19 terdiri dari pengtahuan baik, pendidikan sarjana, sumber informasi melalui tenaga kesehatan, sosial ekonomi ≥2,653,222, dukungan orang sekitar banyak yang mendukung, dengan banyak yang tidak berpengalaman Covid-19 sebelumnya, dan dengan rentang usia 21-30 tahun. \u0000 \u0000Kata kunci : Faktor-Faktor, Tingkat Pengetahuan, Covid-19, Ibu Hamil","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130628908","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}