Petugas pemadam kebakaran berulang kali dihadapkan pada stres akibat peristiwa traumatis yang disebabkan oleh pekerjaan yang sangat berbahaya, penuh tekanan, mempertaruhkan nyawa mereka, dan membantu para korban. Mereka juga mungkin terkena kekerasan di tempat kerja, seperti bahaya fisik, ancaman fisik, sosial, alkoholik dan pecandu narkoba. Dibandingkan dengan masyarakat umum, petugas pemadam kebakaran memiliki risiko masalah kesehatan, kecemasan kronis, gejala kecemasan, insomnia, gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan kesulitan kesehatan mental pascatrauma lainnya yang jauh lebih tinggi. Tujuan dari kajian literatur ini untuk mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan distress pada petugas pemadam kebakaran. Pencarian literatur digunakan untuk pengumpulan data. Dalam hasil kajian literatur ditemukan bahwa tingkat pendidikan, kebiasaan kerja, jabatan, masa kerja, masa kerja, perantuan dan asal etnis mempengaruhi situasi petugas pemadam kebakaran. Mengenai variabel jenis kelamin dan usia, studi lebih lanjut masih diperlukan (gejala somatik dan ketakutan akan kematian berkorelasi positif) karena ada perbedaan yang signifikan dalam temuan penelitian dari beberapa peneliti. Pentingnya strategi koping dan dukungan sosial dalam mengurangi stres psikologis, kecemasan, trauma bedah, gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan frekuensi emosi negatif pada petugas pemadam kebakaran dalam mengurangi gangguan tidur, penggunaan alkohol dan gejala depresi yang lebih tinggi ke tingkat risiko bunuh diri pada petugas pemadam kebakaran.
{"title":"ANALISIS FAKTOR DISTRESS PADA PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN : SISTEMATIK REVIEW","authors":"Febry Arieffani, Dadan Erwandi","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15306","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15306","url":null,"abstract":"Petugas pemadam kebakaran berulang kali dihadapkan pada stres akibat peristiwa traumatis yang disebabkan oleh pekerjaan yang sangat berbahaya, penuh tekanan, mempertaruhkan nyawa mereka, dan membantu para korban. Mereka juga mungkin terkena kekerasan di tempat kerja, seperti bahaya fisik, ancaman fisik, sosial, alkoholik dan pecandu narkoba. Dibandingkan dengan masyarakat umum, petugas pemadam kebakaran memiliki risiko masalah kesehatan, kecemasan kronis, gejala kecemasan, insomnia, gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan kesulitan kesehatan mental pascatrauma lainnya yang jauh lebih tinggi. Tujuan dari kajian literatur ini untuk mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan distress pada petugas pemadam kebakaran. Pencarian literatur digunakan untuk pengumpulan data. Dalam hasil kajian literatur ditemukan bahwa tingkat pendidikan, kebiasaan kerja, jabatan, masa kerja, masa kerja, perantuan dan asal etnis mempengaruhi situasi petugas pemadam kebakaran. Mengenai variabel jenis kelamin dan usia, studi lebih lanjut masih diperlukan (gejala somatik dan ketakutan akan kematian berkorelasi positif) karena ada perbedaan yang signifikan dalam temuan penelitian dari beberapa peneliti. Pentingnya strategi koping dan dukungan sosial dalam mengurangi stres psikologis, kecemasan, trauma bedah, gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan frekuensi emosi negatif pada petugas pemadam kebakaran dalam mengurangi gangguan tidur, penggunaan alkohol dan gejala depresi yang lebih tinggi ke tingkat risiko bunuh diri pada petugas pemadam kebakaran.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115346790","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Coronavirus Disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksi virus SARS-CoV 2 yang menyebar melalui inhalasi saat berbicara, batuk, dan bersin. Salah satu tindakan untuk mencegah penularan penyakit infeksi virus SARS-CoV 2 adalah dengan menggunakan masker. Masker digunakan dalam kehidupan sehari-hari selama berinteraksi dengan orang dan beraktifitas diluar rumah. Penggunaan masker banyak dikeluhkan oleh masyarakat karena terasa tidaknyaman dan sesak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang menilai saturasi oksigen dan ketidaknyamanan dalam penggunaan masker selama beraktivitas di kampus pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Hasil karakteristik durasi penggunaan masker pada penelitian ini, terdapat 17 orang (13,8%) menggunakan masker selama 30-100 menit dan 106 orang (86,2%) selama >100 menit. Hasil saturasi oksigen didapatkan 3 orang dengan saturasi oksigen 94%, 1 orang dengan saturasi oksigen 95%, 6 orang dengan saturasi oksigen 96%, 21 orang dengan saturasi oksigen 97%, 37 orang dengan saturasi oksigen 98%, 37 orang dengan saturasi oksigen 99%, dan 18 orang dengan saturasi oksigen 100%. Prevalensi ketidaknyamanan dengan kategori sangat terasa (skala >7) terbanyak adalah terasa panas sebanyak 37 orang (30,1%), kesulitan bernafas sebanyak 28 orang (22,8%), dan rasa sesak sebanyak 24 orang (19,5%). Dari 123 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, hasil ketidaknyamanan secara keseluruhan didapatkan kategori nyaman sebanyak 52 orang (42,3%), kategori tidaknyaman sebanyak 55 orang (44,7%), dan kategori sangat tidak nyaman sebanyak 16 orang (13%).
{"title":"DAMPAK SATURASI OKSIGEN DAN KETIDAKNYAMANAN DALAM PENGGUNAAN MASKER","authors":"Nurlita Safna Septianti, Hadisono Hadisono","doi":"10.31004/jkt.v4i2.16119","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.16119","url":null,"abstract":"Coronavirus Disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksi virus SARS-CoV 2 yang menyebar melalui inhalasi saat berbicara, batuk, dan bersin. Salah satu tindakan untuk mencegah penularan penyakit infeksi virus SARS-CoV 2 adalah dengan menggunakan masker. Masker digunakan dalam kehidupan sehari-hari selama berinteraksi dengan orang dan beraktifitas diluar rumah. Penggunaan masker banyak dikeluhkan oleh masyarakat karena terasa tidaknyaman dan sesak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang menilai saturasi oksigen dan ketidaknyamanan dalam penggunaan masker selama beraktivitas di kampus pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Hasil karakteristik durasi penggunaan masker pada penelitian ini, terdapat 17 orang (13,8%) menggunakan masker selama 30-100 menit dan 106 orang (86,2%) selama >100 menit. Hasil saturasi oksigen didapatkan 3 orang dengan saturasi oksigen 94%, 1 orang dengan saturasi oksigen 95%, 6 orang dengan saturasi oksigen 96%, 21 orang dengan saturasi oksigen 97%, 37 orang dengan saturasi oksigen 98%, 37 orang dengan saturasi oksigen 99%, dan 18 orang dengan saturasi oksigen 100%. Prevalensi ketidaknyamanan dengan kategori sangat terasa (skala >7) terbanyak adalah terasa panas sebanyak 37 orang (30,1%), kesulitan bernafas sebanyak 28 orang (22,8%), dan rasa sesak sebanyak 24 orang (19,5%). Dari 123 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, hasil ketidaknyamanan secara keseluruhan didapatkan kategori nyaman sebanyak 52 orang (42,3%), kategori tidaknyaman sebanyak 55 orang (44,7%), dan kategori sangat tidak nyaman sebanyak 16 orang (13%).","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115803936","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pendahuluan: Penyakit kardiovaskular merupakan jenis penyakit tidak menular yang menyumbang angka kematian tertinggi yang salah satu faktor risikonya adalah distress. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa 17 juta orang di dunia meninggal per tahunnya akibat penyakit kardiovaskular. Berdasarkan data laporan investigasi PT X, terdapat 20 kasus kematian di tempat kerja (illness fatality), 90% diantaranya disebabkan penyakit kardiovaskular. Metode: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap distress dan program penanggulangan distress di tempat kerja. penelitian ini menggunakan metode literartur review dengan menggunakan kata kunci illness fatality, distress, kardiovaskular, dan penanggulangan distress pada pekerja melalui database elektronik. Hasil: Dari penyaringan diperoleh 15 jurnal yang relevan yang dapat mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap distress dan program manajemen distress. Simpulan: Faktor risiko signifikan terhadap distress pada pekerja adalah durasi kerja, ambiguitas peran, konflik peran, kurangnya alat pelindung diri, masa kerja, beban kerja, job insecurity, iklim organisasi, pengembangan karier, work life balance, hubungan interpersonal, jenis kelamin, pendidikan dan usia. Sementara program manajemen distress dapat dilakukan melalui intervensi primer, sekunder dan tersier.
{"title":"IDENTIFIKASI FAKTOR RISIKO DISTRESS DAN PROGRAM PENANGGULANGAN PENYAKIT KARDIOVASKULAR DI TEMPAT KERJA","authors":"Anto Yamashita Saputra Saputra, Dadan Erwandi","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15953","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15953","url":null,"abstract":"Pendahuluan: Penyakit kardiovaskular merupakan jenis penyakit tidak menular yang menyumbang angka kematian tertinggi yang salah satu faktor risikonya adalah distress. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa 17 juta orang di dunia meninggal per tahunnya akibat penyakit kardiovaskular. Berdasarkan data laporan investigasi PT X, terdapat 20 kasus kematian di tempat kerja (illness fatality), 90% diantaranya disebabkan penyakit kardiovaskular. Metode: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap distress dan program penanggulangan distress di tempat kerja. penelitian ini menggunakan metode literartur review dengan menggunakan kata kunci illness fatality, distress, kardiovaskular, dan penanggulangan distress pada pekerja melalui database elektronik. Hasil: Dari penyaringan diperoleh 15 jurnal yang relevan yang dapat mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap distress dan program manajemen distress. Simpulan: Faktor risiko signifikan terhadap distress pada pekerja adalah durasi kerja, ambiguitas peran, konflik peran, kurangnya alat pelindung diri, masa kerja, beban kerja, job insecurity, iklim organisasi, pengembangan karier, work life balance, hubungan interpersonal, jenis kelamin, pendidikan dan usia. Sementara program manajemen distress dapat dilakukan melalui intervensi primer, sekunder dan tersier.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"75 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117329717","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Anak yang pada usia saat sekolah yakni golongan individual yang memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar penyakit, salah satunya diare. Kemudian, dengan menanamkan nilai PHBS di sekolah sangat diperlukan agar anak sekolah mampu menanamkan perilaku hidup yang bersih dan juga sehat serta dengan berpartisipasi yang aktif dala membentuk suatu pribadi dan sekolah yang sehat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan PHBS dengan kejadian diare pada pelajar kelas III -VI di SDN Duren Tiga 14 pada tahun 2023. Metode penelitian yang dipakai yakni analitik observasional melalui penggunaan rumus potong lintang yang dijalankan di SDN Duren Tiga 14. Pengambilan data dijalankan melalui meminta responden untuk mengerjakan kuisioner secara langsung. Analisa data dijalankan melalui analisa bivarait dengan pengujian chi-squre yang hasilnya dideskripsikan pada tabel distribusi frekuensi. Sample dipilih secara simple random sampling. Hasil penelitian dari 194 responden terdapat 63,4% tidak mengalami diare dan 36,6% mengalami diare. Hasil penelitian memaparkan bahwa adanya hubungan diantara pengetahuan dengan p-value=<0,001, sikap dengan p-value=<0,001, serta dengan tindakan p-value=<0,001 terhadap PHBS dengan peristiwa diare. Simpulan hasil pada penelitian ini yakni didapatkan hubungan secara statistik antara pengetahuan, sikap, serta tindakan terhadap PHBS dengan peristiwa diare. Hal tersebut dapat membawa arti bahwasanya makin baik PHBS dari responden menjadikan peristiwa diare makin rendah.
{"title":"PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN PHBS DENGAN KEJADIAN DIARE PADA SISWA/I SDN DUREN TIGA 14","authors":"Riska Apriliani Hendarto, Zita Atzmardina","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15336","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15336","url":null,"abstract":"Anak yang pada usia saat sekolah yakni golongan individual yang memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar penyakit, salah satunya diare. Kemudian, dengan menanamkan nilai PHBS di sekolah sangat diperlukan agar anak sekolah mampu menanamkan perilaku hidup yang bersih dan juga sehat serta dengan berpartisipasi yang aktif dala membentuk suatu pribadi dan sekolah yang sehat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan PHBS dengan kejadian diare pada pelajar kelas III -VI di SDN Duren Tiga 14 pada tahun 2023. Metode penelitian yang dipakai yakni analitik observasional melalui penggunaan rumus potong lintang yang dijalankan di SDN Duren Tiga 14. Pengambilan data dijalankan melalui meminta responden untuk mengerjakan kuisioner secara langsung. Analisa data dijalankan melalui analisa bivarait dengan pengujian chi-squre yang hasilnya dideskripsikan pada tabel distribusi frekuensi. Sample dipilih secara simple random sampling. Hasil penelitian dari 194 responden terdapat 63,4% tidak mengalami diare dan 36,6% mengalami diare. Hasil penelitian memaparkan bahwa adanya hubungan diantara pengetahuan dengan p-value=<0,001, sikap dengan p-value=<0,001, serta dengan tindakan p-value=<0,001 terhadap PHBS dengan peristiwa diare. Simpulan hasil pada penelitian ini yakni didapatkan hubungan secara statistik antara pengetahuan, sikap, serta tindakan terhadap PHBS dengan peristiwa diare. Hal tersebut dapat membawa arti bahwasanya makin baik PHBS dari responden menjadikan peristiwa diare makin rendah.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"15 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132033556","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pratik kerja dalam pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi para guru, siswa, teknisi serta dapat berdampak terhadap masyarakat sekitar. Kecelakaan kerja yang terjadi paling banyak disaat pembelajaran di sekolah yaitu cedera akibat mesin dan peralatan, electrical shock, limb cuts, benda jatuh, terbakar, jatuh dari ketinggian, faktor biologis dan keracunan serta belum terdapat data yang komprehensif mengenai implementasi K3 dan budaya K3. Penelitian ini akan mengkaji mengenai budaya K3 di enam SMK Kota Bekasi tahun 2023. Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan pendekatan The Egg Aggregated Model (TEAM) guna menggambarkan budaya K3 yang terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi organisasi, dimensi teknologi dan dimensi manusia. Data pengukuran dimensi organisasi menggunakan pedoman wawancara, dimensi organisasi menggunakan observasi dan dimensi manusia menggunakan kuesioner online yang berisi pernyataan pengetahuan 5 butir, persepsi 10 butir, sikap 10 butir dan kesadaran berperilaku K3 10 butir. Kuesinoer telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Responden penelitian ini terdiri dari 1.505 siswa, 63 guru dan 6 tenaga pendidikan, sedangkan informan kunci yaitu kepala sekolah atau kepala program jurusan di SMK berjumlah 6 orang. Dalam penelitin ini, dimensi budaya K3 dikategorikan menjadi baik, cukup baik atau kurang baik. Penelitian ini menemukan bahwa budaya K3 di enam SMK Kota Bekasi sudah cukup baik untuk semua dimensi budaya K3. Dari 31 sub-dimensi yang belum dipenuhi seluruh sekolah yang diteliti adalah staf K3 dan penilaian risiko untuk dimensi organisasi serta petunjuk titik kumpul untuk dimensi teknologi.
{"title":"BUDAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) KOTA BEKASI TAHUN 2023","authors":"Cahyo Ari Prastiyo, Mila Tejamaya","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15560","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15560","url":null,"abstract":"Pratik kerja dalam pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi para guru, siswa, teknisi serta dapat berdampak terhadap masyarakat sekitar. Kecelakaan kerja yang terjadi paling banyak disaat pembelajaran di sekolah yaitu cedera akibat mesin dan peralatan, electrical shock, limb cuts, benda jatuh, terbakar, jatuh dari ketinggian, faktor biologis dan keracunan serta belum terdapat data yang komprehensif mengenai implementasi K3 dan budaya K3. Penelitian ini akan mengkaji mengenai budaya K3 di enam SMK Kota Bekasi tahun 2023. Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan pendekatan The Egg Aggregated Model (TEAM) guna menggambarkan budaya K3 yang terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi organisasi, dimensi teknologi dan dimensi manusia. Data pengukuran dimensi organisasi menggunakan pedoman wawancara, dimensi organisasi menggunakan observasi dan dimensi manusia menggunakan kuesioner online yang berisi pernyataan pengetahuan 5 butir, persepsi 10 butir, sikap 10 butir dan kesadaran berperilaku K3 10 butir. Kuesinoer telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Responden penelitian ini terdiri dari 1.505 siswa, 63 guru dan 6 tenaga pendidikan, sedangkan informan kunci yaitu kepala sekolah atau kepala program jurusan di SMK berjumlah 6 orang. Dalam penelitin ini, dimensi budaya K3 dikategorikan menjadi baik, cukup baik atau kurang baik. Penelitian ini menemukan bahwa budaya K3 di enam SMK Kota Bekasi sudah cukup baik untuk semua dimensi budaya K3. Dari 31 sub-dimensi yang belum dipenuhi seluruh sekolah yang diteliti adalah staf K3 dan penilaian risiko untuk dimensi organisasi serta petunjuk titik kumpul untuk dimensi teknologi.\u0000 ","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124351136","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kebakaran dapat terjadi di kota-kota dan berpotensi menyebar dengan cepat ke gedung-gedung di sekitarnya. Kepadatan dan kualitas bangunan, perambatan api, dan kepadatan penduduk merupakan faktor yang meningkatkan risiko kerawanan kebakaran. Kebakaran dapat menyebabkan kerusakan pada rumah, sekolah, kendaraan, dan bangunan komersial. Analisis risiko kebakaran diperlukan untuk mengurangi tingkat keparahan, kerusakan, dan mencegah risiko serius akibat kebakaran di wilayah perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis risiko kerawanan kebakaran dan memetakan risiko kebakaran di Jakarta Timur. Metodologi yang digunakan dalam makalah ini adalah stratified sampling dan cross-sectional dengan menggunakan kuesioner pemetaan risiko yang diberikan kepada RW dan Focus Group Discussion (FGD) di sektor terkait. Parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerawanan kebakaran perkotaan adalah kepadatan penduduk dan bangunan, kualitas bangunan dan tingkat kekumuhan, frekuensi kejadian kebakaran, luas dan kerugian, penjalaran api dan hambatan yang dihadapi oleh stasiun pemadam kebakaran. Pendataan dilakukan di 10 kecamatan dan 65 kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kerentanan yang paling berpengaruh terhadap risiko kebakaran di Jakarta Timur adalah kepadatan penduduk dengan skor rata-rata 4,3%, sedangkan aspek yang paling rendah pengaruhnya adalah frekuensi kejadian kebakaran dengan skor rata-rata 1,2%. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan sebagai strategi mitigasi risiko kebakaran perkotaan di Jakarta Timur yaitu aspek kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan.
{"title":"KERENTANAN KEBAKARAN DAERAH PERKOTAAN: ANALISIS RISIKO DAN PEMETAAN DI JAKARTA TIMUR, INDONESIA","authors":"Ridha Amini Insyania Saragih, Fatmawati Lestari","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15311","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15311","url":null,"abstract":"Kebakaran dapat terjadi di kota-kota dan berpotensi menyebar dengan cepat ke gedung-gedung di sekitarnya. Kepadatan dan kualitas bangunan, perambatan api, dan kepadatan penduduk merupakan faktor yang meningkatkan risiko kerawanan kebakaran. Kebakaran dapat menyebabkan kerusakan pada rumah, sekolah, kendaraan, dan bangunan komersial. Analisis risiko kebakaran diperlukan untuk mengurangi tingkat keparahan, kerusakan, dan mencegah risiko serius akibat kebakaran di wilayah perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis risiko kerawanan kebakaran dan memetakan risiko kebakaran di Jakarta Timur. Metodologi yang digunakan dalam makalah ini adalah stratified sampling dan cross-sectional dengan menggunakan kuesioner pemetaan risiko yang diberikan kepada RW dan Focus Group Discussion (FGD) di sektor terkait. Parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerawanan kebakaran perkotaan adalah kepadatan penduduk dan bangunan, kualitas bangunan dan tingkat kekumuhan, frekuensi kejadian kebakaran, luas dan kerugian, penjalaran api dan hambatan yang dihadapi oleh stasiun pemadam kebakaran. Pendataan dilakukan di 10 kecamatan dan 65 kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kerentanan yang paling berpengaruh terhadap risiko kebakaran di Jakarta Timur adalah kepadatan penduduk dengan skor rata-rata 4,3%, sedangkan aspek yang paling rendah pengaruhnya adalah frekuensi kejadian kebakaran dengan skor rata-rata 1,2%. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan sebagai strategi mitigasi risiko kebakaran perkotaan di Jakarta Timur yaitu aspek kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133836356","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pekerja di pabrik pembuatan sepatu di negara berkembang setiap hari terpapar campuran kompleks pelarut organic. Proses produksi pembuatan sepatu dimulai dengan proses memotong, mengelem, menjahit, mewarnai dan melapisi sepatu. Risiko terbesar terhadap toksisitas akibat kerja terdapat dalam proses pengeleman karena adanya pajanan pelarut organik. Salah satu pelarut organik yang sering digunakan di pabrik pembuatan sepatu salah satunya adalah metil etil keton (MEK). Paparan bahan kimia metil etil keton di tempat kerja dapat menimbulkan bahaya Kesehatan, penilaian risiko Kesehatan melalui inhalasi menggunakan metode SQRA Singapura diperlukan untuk menilai jumlah risiko paparan bahan kimia terhadap kesehatan pekerja di PT. X. The German Q18 Questionnaire merupakan kuisioner yang digunakan untuk mengumpulkan data keluhan kesehatan pekerja PT.X terhadap gejala neurotoksik. Informasi tentang bahan kimia dari website Pubchem serta Echa Europe digunakan untuk menentukan tingkat bahaya. Adapun tingkat pajanan didapatkan dari faktor pajanan dan indeks pajanan, data tersebut diperuntukan untuk penetapan tingkat risiko. Tingkat pajanan dari Metil etil keton (MEK) adalah 3,1 dan memiliki tingkat risiko 3 (risiko moderat). Sebanyak 33,3% (3 responden) memiliki gejala neurotoksik positif dan 66,7% (6 responden) lainnya memiliki gejala neurotoksik negatif.
{"title":"PENILAIAN RISIKO KESEHATAN PAJANAN PELARUT ORGANIK MEK DENGAN METODE SQRA PADA PEKERJA INDUSTRI ALAS KAKI PT. X","authors":"Ratu Aam Amaliyah, Sjahrul M Nasri","doi":"10.31004/jkt.v4i2.16010","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.16010","url":null,"abstract":"Pekerja di pabrik pembuatan sepatu di negara berkembang setiap hari terpapar campuran kompleks pelarut organic. Proses produksi pembuatan sepatu dimulai dengan proses memotong, mengelem, menjahit, mewarnai dan melapisi sepatu. Risiko terbesar terhadap toksisitas akibat kerja terdapat dalam proses pengeleman karena adanya pajanan pelarut organik. Salah satu pelarut organik yang sering digunakan di pabrik pembuatan sepatu salah satunya adalah metil etil keton (MEK). Paparan bahan kimia metil etil keton di tempat kerja dapat menimbulkan bahaya Kesehatan, penilaian risiko Kesehatan melalui inhalasi menggunakan metode SQRA Singapura diperlukan untuk menilai jumlah risiko paparan bahan kimia terhadap kesehatan pekerja di PT. X. The German Q18 Questionnaire merupakan kuisioner yang digunakan untuk mengumpulkan data keluhan kesehatan pekerja PT.X terhadap gejala neurotoksik. Informasi tentang bahan kimia dari website Pubchem serta Echa Europe digunakan untuk menentukan tingkat bahaya. Adapun tingkat pajanan didapatkan dari faktor pajanan dan indeks pajanan, data tersebut diperuntukan untuk penetapan tingkat risiko. Tingkat pajanan dari Metil etil keton (MEK) adalah 3,1 dan memiliki tingkat risiko 3 (risiko moderat). Sebanyak 33,3% (3 responden) memiliki gejala neurotoksik positif dan 66,7% (6 responden) lainnya memiliki gejala neurotoksik negatif.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"57 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132262042","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Laboratorium merupakan tempat kerja dengan potensi bahaya yang tinggi. Kegiatan laboratorium tidak terbatas pada pekerjaan pengujian namun juga aktivitas pengambilan contoh uji. Penilaian risiko kesehatan pada petugas pengambil contoh perlu diidentifikasi, dievaluasi, dan dikendalikan untuk memastikan pekerja terhindar dari penyakit akibat kerja. Studi ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor risiko kesehatan terkait stresor lingkungan kerja Petugas Pengambil Contoh di Laboratorium Lingkungan PT X. Metode: Penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional berdasarkan waktu penelitiannya. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan laporan yang disajikan dalam bentuk tabel dan diagram kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Terdapat 3 jenis aktivitas pekerjaan, yaitu pengambilan contoh uji udara emisi, pengambilan contoh uji udara ambien dan pengambilan contoh uji air dengan hasil identifikasi bahaya stresor lingkungan kerja 4 faktor fisika, 8 faktor kimia dan 3 faktor biologi. Berdasarkan hasil penilaian risiko, terdapat 2 diantaranya termasuk kategori risiko tinggi, 5 termasuk kategori risiko sedang dan 7 termasuk kategori risiko rendah. Simpulan: Pendekatan higien industri dengan metode exposure assessment dapat digunakan untuk menilai risiko kesehatan dari stresor lingkungan kerja
{"title":"PENILAIAN RISIKO KESEHATAN TERKAIT STRESOR LINGKUNGAN KERJA FAKTOR FISIKA, KIMIA DAN BIOLOGI PADA PETUGAS PENGAMBIL CONTOH DI LABORATORIUM LINGKUNGAN PT X","authors":"Dian Komalasari, Sjahrul M Nasri","doi":"10.31004/jkt.v4i2.16048","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.16048","url":null,"abstract":"Laboratorium merupakan tempat kerja dengan potensi bahaya yang tinggi. Kegiatan laboratorium tidak terbatas pada pekerjaan pengujian namun juga aktivitas pengambilan contoh uji. Penilaian risiko kesehatan pada petugas pengambil contoh perlu diidentifikasi, dievaluasi, dan dikendalikan untuk memastikan pekerja terhindar dari penyakit akibat kerja. Studi ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor risiko kesehatan terkait stresor lingkungan kerja Petugas Pengambil Contoh di Laboratorium Lingkungan PT X. Metode: Penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional berdasarkan waktu penelitiannya. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan laporan yang disajikan dalam bentuk tabel dan diagram kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Terdapat 3 jenis aktivitas pekerjaan, yaitu pengambilan contoh uji udara emisi, pengambilan contoh uji udara ambien dan pengambilan contoh uji air dengan hasil identifikasi bahaya stresor lingkungan kerja 4 faktor fisika, 8 faktor kimia dan 3 faktor biologi. Berdasarkan hasil penilaian risiko, terdapat 2 diantaranya termasuk kategori risiko tinggi, 5 termasuk kategori risiko sedang dan 7 termasuk kategori risiko rendah. Simpulan: Pendekatan higien industri dengan metode exposure assessment dapat digunakan untuk menilai risiko kesehatan dari stresor lingkungan kerja","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"261 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122686860","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2022 mencapai 207 per 100.000 kelahiran hidup. sedangkan Angka Kematian Bayi neonatal (usia 0-28 hari) mencapai 11,7 dari 1.000 bayi lahir hidup pada 2021. AKI ini berada di atas target Renstra yaitu 190 per 100.000 kelahiran hidup. Sebanyak 62% kedua kasus tersebut terjadi di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Meski masih memprihatikan namun ini menjadi penanda bahwa akses terhadap fasilitas kesehatan sudah lebih baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh status ekonomi keluarga, kepemilikan jaminan kesehatan dan faktor lainnya dalam keputusan keluarga menentukan tempat ibu bersalin. Sampel pada penelitian ini adalah wanita usia 10 – 54 tahun; berstatus kawin atau pernah kawin. Sebanyak 43.545 responden diambil dari data Susenas tahun 2019. Maximum Likelihood digunakan sebagai estimator dalam analisis yang dilakukan dengan model logit. Hasil penelitian menunjukkan secara bersama-sama variabel status ekonomi keluarga, kepemilikan jaminan kesehatan, usia, status kawin, pendidikan, lama pendidikan ibu, pekerjaan, wilayah tempat tinggal dan kepemilikan rumah signifikan berpengaruh terhadap pemilihan fasilitas kesehatan sebagai tempat bersalin dengan nilai p-value < 0,05 pada hasil uji logit. Pemilihan faskes sebagai tempat bersalin 1,728 kali lebih tinggi pada wanita yang memiliki jaminan kesehatan (? = 0,000; 95% CI 1,641 – 1,819). Keputusan memilih faskes untuk tempat bersalin dipengaruhi cukup signifikan oleh faktor ada tidaknya jaminan kesehatan yang dimiliki oleh ibu. Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah usia, pendidikan, jumlah tahun menjalani pendidikan, wilayah tempat tinggal, status bekerja, kepemilikan rumah, status kawin dan status ekonomi keluarga yang dibagi menjadi 5 kuintil.
{"title":"PEMILIHAN FASILITAS KESEHATAN TEMPAT BERSALIN DI ERA JKN: ANALISA DATA SUSENAS 2019","authors":"Andre Yunianto, Atik Nurwahyuni","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15559","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15559","url":null,"abstract":"Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2022 mencapai 207 per 100.000 kelahiran hidup. sedangkan Angka Kematian Bayi neonatal (usia 0-28 hari) mencapai 11,7 dari 1.000 bayi lahir hidup pada 2021. AKI ini berada di atas target Renstra yaitu 190 per 100.000 kelahiran hidup. Sebanyak 62% kedua kasus tersebut terjadi di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Meski masih memprihatikan namun ini menjadi penanda bahwa akses terhadap fasilitas kesehatan sudah lebih baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh status ekonomi keluarga, kepemilikan jaminan kesehatan dan faktor lainnya dalam keputusan keluarga menentukan tempat ibu bersalin. Sampel pada penelitian ini adalah wanita usia 10 – 54 tahun; berstatus kawin atau pernah kawin. Sebanyak 43.545 responden diambil dari data Susenas tahun 2019. Maximum Likelihood digunakan sebagai estimator dalam analisis yang dilakukan dengan model logit. Hasil penelitian menunjukkan secara bersama-sama variabel status ekonomi keluarga, kepemilikan jaminan kesehatan, usia, status kawin, pendidikan, lama pendidikan ibu, pekerjaan, wilayah tempat tinggal dan kepemilikan rumah signifikan berpengaruh terhadap pemilihan fasilitas kesehatan sebagai tempat bersalin dengan nilai p-value < 0,05 pada hasil uji logit. Pemilihan faskes sebagai tempat bersalin 1,728 kali lebih tinggi pada wanita yang memiliki jaminan kesehatan (? = 0,000; 95% CI 1,641 – 1,819). Keputusan memilih faskes untuk tempat bersalin dipengaruhi cukup signifikan oleh faktor ada tidaknya jaminan kesehatan yang dimiliki oleh ibu. Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah usia, pendidikan, jumlah tahun menjalani pendidikan, wilayah tempat tinggal, status bekerja, kepemilikan rumah, status kawin dan status ekonomi keluarga yang dibagi menjadi 5 kuintil.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"285 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132554692","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Di industri konstruksi, stres kerja merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Stres kerja tidak hanya memberikan dampak negatif pada pekerja, namun juga pada perusahaan tempat mereka bekerja. Stres dapat memberikan efek negatif pada tubuh, mengganggu kerja sistem dalam tubuh, mempengaruhi kondisi mental, menyebabkan unsafe action, penurunan produktivitas, dan penurunan kepuasan kerja. Hal ini menuntut perhatian berbagai pihak untuk mengatasinya. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan untuk melihat secara sistematis kumpulan pengetahuan yang ada tentang faktor risiko terkait stres kerja (stresor) dalam proyek konstruksi. Artikel ini mengulas 18 artikel yang diterbitkan antara tahun 2014-2023. Artikel dipilih dari berbagai jurnal terakreditasi. Hasil penelitian mengidentifikasi 30 stresor di industri konstruksi. 5 penyebab stres teratas adalah "beban kerja berlebih" (7 artikel), "jam kerja panjang" (6 artikel), "konflik pekerjaan-keluarga" (6 artikel), "kompensasi/ penghargaan tidak sesuai" (5 artikel), dan "konflik peran” (5 artikel). Berdasarkan model stres kerja Davidson dan Cooper (1981), 4 dari 5 stresor berasal dari arena kerja dan 1 stresor berasal dari arena rumah. Semua stresor tersebut dapat mempengaruhi munculnya stres secara langsung maupun tidak langsung. Dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor risiko terkait stres kerja di industri konstruksi. Faktor risiko tersebut dapat berasal dari dalam lingkungan kerja maupun dari luar lingkungan kerja. Untuk mengendalikan stres kerja secara efektif dan efisien, diperlukan informasi tentang faktor risiko terkait stres kerja dan kerjasama berbagai pihak.
{"title":"FAKTOR RISIKO TERKAIT STRES KERJA DI INDUSTRI KONSTRUKSI: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS","authors":"Resty Wulandari, Robiana Modjo","doi":"10.31004/jkt.v4i2.15135","DOIUrl":"https://doi.org/10.31004/jkt.v4i2.15135","url":null,"abstract":"Di industri konstruksi, stres kerja merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Stres kerja tidak hanya memberikan dampak negatif pada pekerja, namun juga pada perusahaan tempat mereka bekerja. Stres dapat memberikan efek negatif pada tubuh, mengganggu kerja sistem dalam tubuh, mempengaruhi kondisi mental, menyebabkan unsafe action, penurunan produktivitas, dan penurunan kepuasan kerja. Hal ini menuntut perhatian berbagai pihak untuk mengatasinya. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan untuk melihat secara sistematis kumpulan pengetahuan yang ada tentang faktor risiko terkait stres kerja (stresor) dalam proyek konstruksi. Artikel ini mengulas 18 artikel yang diterbitkan antara tahun 2014-2023. Artikel dipilih dari berbagai jurnal terakreditasi. Hasil penelitian mengidentifikasi 30 stresor di industri konstruksi. 5 penyebab stres teratas adalah \"beban kerja berlebih\" (7 artikel), \"jam kerja panjang\" (6 artikel), \"konflik pekerjaan-keluarga\" (6 artikel), \"kompensasi/ penghargaan tidak sesuai\" (5 artikel), dan \"konflik peran” (5 artikel). Berdasarkan model stres kerja Davidson dan Cooper (1981), 4 dari 5 stresor berasal dari arena kerja dan 1 stresor berasal dari arena rumah. Semua stresor tersebut dapat mempengaruhi munculnya stres secara langsung maupun tidak langsung. Dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor risiko terkait stres kerja di industri konstruksi. Faktor risiko tersebut dapat berasal dari dalam lingkungan kerja maupun dari luar lingkungan kerja. Untuk mengendalikan stres kerja secara efektif dan efisien, diperlukan informasi tentang faktor risiko terkait stres kerja dan kerjasama berbagai pihak.","PeriodicalId":380921,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Tambusai","volume":"81 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115835327","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}