Pub Date : 2016-06-05DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.67-92
Lukman Santoso
Artikel ini akan mengulas tentang nomenklatur dinamika hukum Islam (Islamic Law) yang merupakan hasil dialektika antara syariah dan realitassosial atau ijtihad. Proses ijtihad ini menggiring pada kenyataan adanya proses dialektika pemikiran sekaligus dialektika sosio-kultural sehingga melahirkan para mujtahid yang menumbuhkan keragaman fikih di berbagai tempat. Fikih menjadi sesuatu yang memiliki beragam varian di dalamnya. Ada banyak tawaran yang dimiliki dalam sebuah persoalan hukum. Kajian ini akan menuju konklusi pada bagaimana mekanisme dari metode dan teori yang diterapkan para mujtahid dalam menjawab persoalan umat dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda hingga dewasa ini yang mengalami pasang surut. This article will discuss about nomenklature of Islamic law dynamics that is the result of it between syariah and social reality or ijtihad. This process of ijtihad brings into the reality that there are the processes of dialectic thinking and socio-cultural dialect at once so that it bears mujtahids who needs the diversity of fikihin many places. Fikih becomes the thing that has many variants inside. There are many things to discuss in a legal issues. This study will lead to conclusionson how the mechanism of method and theory applied mujtahid in answering the question of race in a different space and time to today that have ups and downs.
{"title":"NOMENKLATUR DINAMIKA PEMIKIRAN HUKUM ISLAM","authors":"Lukman Santoso","doi":"10.21274/epis.2016.11.1.67-92","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/epis.2016.11.1.67-92","url":null,"abstract":"Artikel ini akan mengulas tentang nomenklatur dinamika hukum Islam (Islamic Law) yang merupakan hasil dialektika antara syariah dan realitassosial atau ijtihad. Proses ijtihad ini menggiring pada kenyataan adanya proses dialektika pemikiran sekaligus dialektika sosio-kultural sehingga melahirkan para mujtahid yang menumbuhkan keragaman fikih di berbagai tempat. Fikih menjadi sesuatu yang memiliki beragam varian di dalamnya. Ada banyak tawaran yang dimiliki dalam sebuah persoalan hukum. Kajian ini akan menuju konklusi pada bagaimana mekanisme dari metode dan teori yang diterapkan para mujtahid dalam menjawab persoalan umat dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda hingga dewasa ini yang mengalami pasang surut. This article will discuss about nomenklature of Islamic law dynamics that is the result of it between syariah and social reality or ijtihad. This process of ijtihad brings into the reality that there are the processes of dialectic thinking and socio-cultural dialect at once so that it bears mujtahids who needs the diversity of fikihin many places. Fikih becomes the thing that has many variants inside. There are many things to discuss in a legal issues. This study will lead to conclusionson how the mechanism of method and theory applied mujtahid in answering the question of race in a different space and time to today that have ups and downs.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"11 1","pages":"67-92"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-06-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937418","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2016-06-04DOI: 10.21274/EPIS.2016.11.1.49-66
Ismatilah A. Nu’ad
Menilik dinamika Islam, apalagi dalam konteks keindonesiaan adalah salah satu kegiatan yang menggairahkan. Sebab dalam belantika sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya menjelang reformasi sampai sekarang ini telah mengalami berbagai pergulatan. Pascareformasi, secara beruntun muncul banyak sekali gerakan Islam Kanan (MMI, HTI,FPI, gerakan Tarbiyah, Jamaah Tabligh dsb) yang sebelumnya tak berani memunculkan geliatnya. Mereka muncul untuk menawarkan solusi atas krisis multidimensi yang mendera bangsa ini dengan konsep kembali kepada al-Qur'an dan sunnah. Namun dewasa ini, gerakan Islam Kanan sudah mengalami transformasi. Perbedaan yang cukup siginifikan adalah sikap garang dan reaksionernya terhadap pluralitas bangsa Indonesia. Berangkat dari realitas tersebut, dengan berbekal literatur dan pengamatan penulis di lapangan, artikel ini akan menelisik dinamika dan orientasi gerakan Islam Kanan dan bagaimana sepak terjangnya dalam memandang demokrasi di Indonesia dewasa ini.Watch the dynamic of Islam, especially in the Indonesian context is one activity that is exciting. Because in the history of Islam in Indonesia, especially a head of the reforms have been subjected to various struggles until now. Post-reform, Islamic Rights movements (MMI, HTI, FPI, Tarbiyah Movement, Jamaah Tabligh, etc.) that appears. Previously they did not dare bring up existence.They appear to offer a solution to the multidimensional crisis be setting the nation with the concept back to the Qur'an and sunnah. But the Islamic Right movement has transformation today. The significant differences is fierce and reactionary attitude to the plurality of Indonesian. Based on this reality, sourced from literature and the author's observation in the field, this article will probe the dynamic and orientation Islamic Right movement and how his behavior was in looking at democracy in Indonesia today.
{"title":"Islam Kanan: Gerakan Dan Eksistensinya Di Indonesia","authors":"Ismatilah A. Nu’ad","doi":"10.21274/EPIS.2016.11.1.49-66","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2016.11.1.49-66","url":null,"abstract":"Menilik dinamika Islam, apalagi dalam konteks keindonesiaan adalah salah satu kegiatan yang menggairahkan. Sebab dalam belantika sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya menjelang reformasi sampai sekarang ini telah mengalami berbagai pergulatan. Pascareformasi, secara beruntun muncul banyak sekali gerakan Islam Kanan (MMI, HTI,FPI, gerakan Tarbiyah, Jamaah Tabligh dsb) yang sebelumnya tak berani memunculkan geliatnya. Mereka muncul untuk menawarkan solusi atas krisis multidimensi yang mendera bangsa ini dengan konsep kembali kepada al-Qur'an dan sunnah. Namun dewasa ini, gerakan Islam Kanan sudah mengalami transformasi. Perbedaan yang cukup siginifikan adalah sikap garang dan reaksionernya terhadap pluralitas bangsa Indonesia. Berangkat dari realitas tersebut, dengan berbekal literatur dan pengamatan penulis di lapangan, artikel ini akan menelisik dinamika dan orientasi gerakan Islam Kanan dan bagaimana sepak terjangnya dalam memandang demokrasi di Indonesia dewasa ini.Watch the dynamic of Islam, especially in the Indonesian context is one activity that is exciting. Because in the history of Islam in Indonesia, especially a head of the reforms have been subjected to various struggles until now. Post-reform, Islamic Rights movements (MMI, HTI, FPI, Tarbiyah Movement, Jamaah Tabligh, etc.) that appears. Previously they did not dare bring up existence.They appear to offer a solution to the multidimensional crisis be setting the nation with the concept back to the Qur'an and sunnah. But the Islamic Right movement has transformation today. The significant differences is fierce and reactionary attitude to the plurality of Indonesian. Based on this reality, sourced from literature and the author's observation in the field, this article will probe the dynamic and orientation Islamic Right movement and how his behavior was in looking at democracy in Indonesia today.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"11 1","pages":"49-66"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-06-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937338","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2016-06-03DOI: 10.21274/EPIS.2016.11.1.31-48
Amin Mudzakkir
Artikel ini akan mendiskusikan secara singkat beberapa problematika seputar hubungan antara Islam dan politik di era kontemporer. Argumen yang hendak disampaikan bahwa fenomena Islam politik memang sesuatu yang inheren dalam sejarah Islam itu sendiri, tetapi pada periode kontemporer ini menjadi sangat krusial dengan skala yang semakin global mengikuti Perubahan-Perubahan politik dan ekonomi. Dengan berbasis kajian pustaka, artikel ini akan dimulai dengan pembahasan tentangapa pengertian ‘kontemporer' itu sendiri dalam diskusi tentang Islam dan politik. Kemudian dilanjutkan dengan penggambaran tentang Perubahan-Perubahan politik global, apa itu islamisme dan bagaimana praktiknya di Indonesia. Pada bagian akhir akan meninjau beberapa kemungkinan dan peluang dalam permasalahan Islam dan politik, khususnya dalam konteks demokrasi di Indonesia.This article discuss about relationship between Islam and politic in the contemporary era. The argument to be conveyed, phenomenon of political Islam is inherent in Islamic history, but in the contemporary period it's more dynamics following the wider global political and economic change. Based on the literature studies, this article will start discussion about what the meaning of ‘contemporary' in Islam and politic context. Then forwarded to the description of changes in global political, what is islamism and how to practice in Indonesia. The final section will review some of the possibilities.
{"title":"Islam Dan Politik Di Era Kontemporer","authors":"Amin Mudzakkir","doi":"10.21274/EPIS.2016.11.1.31-48","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2016.11.1.31-48","url":null,"abstract":"Artikel ini akan mendiskusikan secara singkat beberapa problematika seputar hubungan antara Islam dan politik di era kontemporer. Argumen yang hendak disampaikan bahwa fenomena Islam politik memang sesuatu yang inheren dalam sejarah Islam itu sendiri, tetapi pada periode kontemporer ini menjadi sangat krusial dengan skala yang semakin global mengikuti Perubahan-Perubahan politik dan ekonomi. Dengan berbasis kajian pustaka, artikel ini akan dimulai dengan pembahasan tentangapa pengertian ‘kontemporer' itu sendiri dalam diskusi tentang Islam dan politik. Kemudian dilanjutkan dengan penggambaran tentang Perubahan-Perubahan politik global, apa itu islamisme dan bagaimana praktiknya di Indonesia. Pada bagian akhir akan meninjau beberapa kemungkinan dan peluang dalam permasalahan Islam dan politik, khususnya dalam konteks demokrasi di Indonesia.This article discuss about relationship between Islam and politic in the contemporary era. The argument to be conveyed, phenomenon of political Islam is inherent in Islamic history, but in the contemporary period it's more dynamics following the wider global political and economic change. Based on the literature studies, this article will start discussion about what the meaning of ‘contemporary' in Islam and politic context. Then forwarded to the description of changes in global political, what is islamism and how to practice in Indonesia. The final section will review some of the possibilities.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"11 1","pages":"31-48"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-06-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937325","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2016-06-02DOI: 10.21274/EPIS.2016.11.1.1-30
Adib Hasani
Perkembangan kelompok Islam eksklusif yang mengklaim keimanan dan ideologinya paling benar ketimbang yang lainnya semakin merebak dewasa ini. Kelompok itu tidak hanya terwujud dalam gerakan kultural saja, akan tetapi juga mewujud dalam gerakan politik. Di Indonesia, gerakan ini digaungkan oleh kelompok-kelompok yang mempropagandakan berlakunya syariat Islam sebagai undang-undang dan khilafah Islamiyah sebagai sistem negara. Artikel ini berusaha untuk membahas tentang pemikiran politik Sayyid Quthb yang dinilai sebagai seorang inspirator para pemikir politik Islam eksklusif setelahnya. Dengan menggunakan metode kritik intern dan ekstern, penulis menyimpulkan bahwa pemikiran Sayyid Quthb sebenarnya sangat dipengaruhi oleh dominasi konteks konflik lokal Mesir maka dari itu masih perlu dipertanyakan tentang keuniversalan konsep-konsepnya. Dalam mengikuti manhaj al-Qur’an dan para Salaf al-salih, Sayyid Quthb kurang kritis tentang mengapa manhaj tersebut digunakan sehingga dalam pergerakan politiknya ia menggunakan manhaj yang tidak relevan bila dibawa ke zaman modern. The development of Islamic exclusive sect who claim truest faith and ideology than the another is more wide spread today. The sect is not only manifested in the cultural movement, but also manifests themselves in political movements. This movement spread by sect that propagate into force of Islamic law as the law and the Islamic khilafah as a state system in Indonesia. This article discusses about the political thought of Sayyid Quthb considered as an inspiration exclusive Islamic political thinkers there after. By using internal and external criticism method, the authors conclude that the thought of Sayyid Quthb in factstrongly influenced by the dominance of the Egyptian context of local conflicts and therefore still need to be questioned about the universality of concept. Infollowing the Qur’an and the manhaj of the Salaf al-salih, Sayyid Quthbless critical about why the manhaj used. So in the political movement, he usesthe irrelevant manhaj to applied in the modern era.
今天,伊斯兰教排他性团体的发展比其他团体更加普遍。这个群体不仅体现在文化运动中,而且体现在政治运动中。在印度尼西亚,这些运动是由宣传伊斯兰教作为法律和伊斯兰哈里发国作为国家制度的组织发起的。这篇文章试图讨论Sayyid Quthb的政治思想,他被认为是伊斯兰政治独创思想家的灵感来源。作者使用内部和外部批评方法得出结论,赛义德·库特布(Sayyid Quthb)的思想实际上受到了埃及本土冲突背景的支配,因此该概念的普性值得质疑。在遵循伊斯兰教manhaj 'an及其Salaf al-salih, Sayyid qutub缺乏关于为什么这个manhaj使用的关键,不相关的政治运动中,他用manhaj如果带到现代。伊斯兰极端教派的发展,他们声称信仰和理想比其他教派更广泛。教派不仅在文化运动中展示,而且在政治行动中展示自己。这项运动是由一种传播到伊斯兰法律的力量作为法律和伊斯兰哈里发国的国家系统的教派传播的。这篇关于赛义德政治思想的文章被认为是后来的伊斯兰政治思想的灵感来源。通过使用内部和外部的方法,权威得出结论,赛义德的想法在事实上受到当地冲突的控制,因此仍然需要质疑这一普遍观念。跟随《古兰经》和萨拉夫·萨里布的曼哈吉》,我很高兴地对《曼哈吉》的用途进行了恰当的批判。所以在政治运动中,他使用了与manhaj在现代时代的应用无关的工具。
{"title":"Kontradiksi Dalam Konsep Politik Islam Eksklusif Sayyid Quthb","authors":"Adib Hasani","doi":"10.21274/EPIS.2016.11.1.1-30","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2016.11.1.1-30","url":null,"abstract":"Perkembangan kelompok Islam eksklusif yang mengklaim keimanan dan ideologinya paling benar ketimbang yang lainnya semakin merebak dewasa ini. Kelompok itu tidak hanya terwujud dalam gerakan kultural saja, akan tetapi juga mewujud dalam gerakan politik. Di Indonesia, gerakan ini digaungkan oleh kelompok-kelompok yang mempropagandakan berlakunya syariat Islam sebagai undang-undang dan khilafah Islamiyah sebagai sistem negara. Artikel ini berusaha untuk membahas tentang pemikiran politik Sayyid Quthb yang dinilai sebagai seorang inspirator para pemikir politik Islam eksklusif setelahnya. Dengan menggunakan metode kritik intern dan ekstern, penulis menyimpulkan bahwa pemikiran Sayyid Quthb sebenarnya sangat dipengaruhi oleh dominasi konteks konflik lokal Mesir maka dari itu masih perlu dipertanyakan tentang keuniversalan konsep-konsepnya. Dalam mengikuti manhaj al-Qur’an dan para Salaf al-salih, Sayyid Quthb kurang kritis tentang mengapa manhaj tersebut digunakan sehingga dalam pergerakan politiknya ia menggunakan manhaj yang tidak relevan bila dibawa ke zaman modern. The development of Islamic exclusive sect who claim truest faith and ideology than the another is more wide spread today. The sect is not only manifested in the cultural movement, but also manifests themselves in political movements. This movement spread by sect that propagate into force of Islamic law as the law and the Islamic khilafah as a state system in Indonesia. This article discusses about the political thought of Sayyid Quthb considered as an inspiration exclusive Islamic political thinkers there after. By using internal and external criticism method, the authors conclude that the thought of Sayyid Quthb in factstrongly influenced by the dominance of the Egyptian context of local conflicts and therefore still need to be questioned about the universality of concept. Infollowing the Qur’an and the manhaj of the Salaf al-salih, Sayyid Quthbless critical about why the manhaj used. So in the political movement, he usesthe irrelevant manhaj to applied in the modern era.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"11 1","pages":"1-30"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-06-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937832","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2016-06-01DOI: 10.21274/EPIS.2016.11.1.93-116
M. M. Rasyid
Islam adalah agama rahmat untuk semesta alam. Agama yang telah melewati pelbagai tahapan ujian di dunia, mulai dari ujian zaman jahiliah, hingga zaman teknologi. Posisinya sebagai agama yang merahmati seluruh alam sekaligus sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya menjadikan Islam istimewa. Salah satu tokoh yang mampu melihat dan memetik keistimewaan Islam itu adalah KH. Hasyim Muzadi. Dengan mengusung gagasan Islam Rahmatan lil Alamin, ia berhasil menampilkan wajah Islam yang khas, komprehensif, holistik dan building in Qur'an, dibandingkan istilah Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Nusantara dan lain sebagainya. Ada tiga metode yang ia gunakan dalam mengampanyekan konsep tersebut: pendekatan dakwah, pendekatan hukum dan pendekatan politik. Ketiganya, dapat membawa Islam dengan rahmat, damai dan lemah lembut, di negara-bangsayang multi-agama, suku, etnis dan budaya.Islam is the grace religion for the universe. It's religion has gone through various stages of examination at the world, start from jahiliah era, until theage of technology. The position of Islam as the religion grace on the wholeof nature as well as complement the previous religions makes it special. One of the figures who is able to watch and reap the privileges of Islam is KH. Hasyim Muzadi. By campaigning the idea of Islam Rahmatan lil Alamin, he managed to show the face of Islam typical, comprehensive, holistic and building in the Qur'an, than Liberal Islam, Progressive Islam, Islam Nusantara etc. There are three methods used in the campaign of this concept: dakwah, law and a political approach. The third approach, can carry Islam with grace, peace and gentleness, in the multi-religion nation-state, ethnicity and culture.
伊斯兰教是一种对宇宙仁慈的宗教。宗教经历了世界上从无知到技术的各个阶段的考验。他作为一个赞美全世界的宗教,以及作为以前宗教的完美,使伊斯兰教变得特别。其中一个可以看到并引用伊斯兰教特权的人物是哈希姆·穆扎迪。与伊斯兰自由派、进步派、伊斯兰努桑塔拉派等术语相比,他在《古兰经》中表达了伊斯兰教“自然之恩”的概念,从而展示了伊斯兰教的特殊、全面、全面和建设性。它有三种方法来传达这一概念:起诉、法律和政治方法。第三,它可以在自豪的多宗教、部落、民族和文化国家带来仁慈、和平与柔软的伊斯兰教。伊斯兰教是宇宙的恩典宗教。它的宗教在世界上经历了不同的检验阶段,从伊斯兰时代开始,直到技术时代。伊斯兰教作为宗教对整个自然的恩典以及对以往宗教的补充,使其具有特殊性。哈西姆·穆扎迪是能够观看并获得伊斯兰教特权的人物之一。通过宣传伊斯兰教Rahmatan lil Alamin的理念,他成功地在《古兰经》中展示了伊斯兰教的典型、全面、整体和建设的面貌,而不是自由伊斯兰教、进步伊斯兰教、伊斯兰教Nusantara等。在宣传这一理念时使用了三种方法:dakwah、法律和政治方法。第三种方法,可以在多宗教的民族国家、种族和文化中,优雅、和平、温和地传播伊斯兰教。
{"title":"ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN PERSPEKTIF KH. HASYIM MUZADI","authors":"M. M. Rasyid","doi":"10.21274/EPIS.2016.11.1.93-116","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2016.11.1.93-116","url":null,"abstract":"Islam adalah agama rahmat untuk semesta alam. Agama yang telah melewati pelbagai tahapan ujian di dunia, mulai dari ujian zaman jahiliah, hingga zaman teknologi. Posisinya sebagai agama yang merahmati seluruh alam sekaligus sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya menjadikan Islam istimewa. Salah satu tokoh yang mampu melihat dan memetik keistimewaan Islam itu adalah KH. Hasyim Muzadi. Dengan mengusung gagasan Islam Rahmatan lil Alamin, ia berhasil menampilkan wajah Islam yang khas, komprehensif, holistik dan building in Qur'an, dibandingkan istilah Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Nusantara dan lain sebagainya. Ada tiga metode yang ia gunakan dalam mengampanyekan konsep tersebut: pendekatan dakwah, pendekatan hukum dan pendekatan politik. Ketiganya, dapat membawa Islam dengan rahmat, damai dan lemah lembut, di negara-bangsayang multi-agama, suku, etnis dan budaya.Islam is the grace religion for the universe. It's religion has gone through various stages of examination at the world, start from jahiliah era, until theage of technology. The position of Islam as the religion grace on the wholeof nature as well as complement the previous religions makes it special. One of the figures who is able to watch and reap the privileges of Islam is KH. Hasyim Muzadi. By campaigning the idea of Islam Rahmatan lil Alamin, he managed to show the face of Islam typical, comprehensive, holistic and building in the Qur'an, than Liberal Islam, Progressive Islam, Islam Nusantara etc. There are three methods used in the campaign of this concept: dakwah, law and a political approach. The third approach, can carry Islam with grace, peace and gentleness, in the multi-religion nation-state, ethnicity and culture.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"11 1","pages":"93-116"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-06-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937429","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2016-06-01DOI: 10.21274/EPIS.2016.11.1.185-200
S. SusmiyatiS
Program sertifikasi guru di negeri ini telah berlangsung selama sepuluh tahun, dimulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. Namun demikian hasilnya belum sesuai dengan harapan untuk mewujudkan guru profesional dengan indikasi masih rendahnya kinerja guru. Rendahnya kinerja guru sekaligus juga menunjukkan masih rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian tentang kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Dengan menggunakan metode kuantitatif penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah kepemimpinan transformasional dan kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung? Apakah kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kompetensi manajerialnya secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung Berdasarkan hasil analisis data, kesimpulannya adalah kepemimpinan transformasional dan kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung dan kepemimpinan transformasional serta kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung.Teacher certification program in this country has been going on for ten years, since its inception in 2005. However, the results were not in line with expectations to achieve a professional teacher with an indication of the low performance of teachers. The low performance of teachers and also showed the low quality of education in this country. By using quantitative methods, this research is trying to answer questions such as, what is the transformational leadership and managerial competencies principals significantly affect the performance of teachers in Madrasah Aliyah Negeri throughout Tulungagung?What is transformational leadership principals and managerial competencies principals simultaneously significant effect on the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung? Based on the results of data analysis concluded both transformational leadership principals and competence managerial principals significantly influence the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung, and transformational leadership and managerial competencies principals simultaneously significant effect on the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung.
{"title":"Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Dan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru Di Madrasah Aliyah Negeri Se-kabupaten Tulungagung","authors":"S. SusmiyatiS","doi":"10.21274/EPIS.2016.11.1.185-200","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2016.11.1.185-200","url":null,"abstract":"Program sertifikasi guru di negeri ini telah berlangsung selama sepuluh tahun, dimulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. Namun demikian hasilnya belum sesuai dengan harapan untuk mewujudkan guru profesional dengan indikasi masih rendahnya kinerja guru. Rendahnya kinerja guru sekaligus juga menunjukkan masih rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian tentang kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Dengan menggunakan metode kuantitatif penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah kepemimpinan transformasional dan kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung? Apakah kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kompetensi manajerialnya secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung Berdasarkan hasil analisis data, kesimpulannya adalah kepemimpinan transformasional dan kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung dan kepemimpinan transformasional serta kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung.Teacher certification program in this country has been going on for ten years, since its inception in 2005. However, the results were not in line with expectations to achieve a professional teacher with an indication of the low performance of teachers. The low performance of teachers and also showed the low quality of education in this country. By using quantitative methods, this research is trying to answer questions such as, what is the transformational leadership and managerial competencies principals significantly affect the performance of teachers in Madrasah Aliyah Negeri throughout Tulungagung?What is transformational leadership principals and managerial competencies principals simultaneously significant effect on the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung? Based on the results of data analysis concluded both transformational leadership principals and competence managerial principals significantly influence the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung, and transformational leadership and managerial competencies principals simultaneously significant effect on the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"11 1","pages":"185-200"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-06-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937317","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2015-12-19DOI: 10.21274/epis.2015.10.2.457-475
A. Rofiq
Proses reproduksi wanita menurut ilmu pengetahuan modern yang selama ini diyakini oleh para ilmuwan Barat ternyata sudah dijelaskan puluhan abad silam oleh al-Qur’an dan hadis. Teori reproduksi dan penciptaan manusia dari sudut pandang Islam dan sains ternyata tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi satu dengan yang lain. Hadis nabi yang menjelaskan reproduksi wanita dan proses penciptaan manusia merupakan penjelas dari al-Qur’an dan diperkuat oleh data-data ilmiah sains teknologi. Berangkat dari itulah, artikel ini coba mengkaji tentang reproduksi wanita dengan pendekatan hadis tematik. Sebab pembahasan tematik ini sangat urgen untuk mengembangkan wawasan tentang hadis dalam membahas satu tema tertentu secara tuntas. Female reproduction processes according to modern science that had been believed by Western scientists were already described dozens of centuries ago by the Qur’an and hadith. Theory of reproduction and the creation of man from the viewpoint of Islam and science were not at odds, even complement each other. Hadith which describes a woman’s reproduction and the process of creation of man is explanatory of the Qur’an and reinforced by scientific data science technology. Start from it, this article try to examines the female reproductive with thematic hadith approach. For the thematic discussion is very urgent to develop an insight into the traditions in discussing a particular theme completely.
{"title":"PROSES REPRODUKSI WANITA DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI","authors":"A. Rofiq","doi":"10.21274/epis.2015.10.2.457-475","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/epis.2015.10.2.457-475","url":null,"abstract":"Proses reproduksi wanita menurut ilmu pengetahuan modern yang selama ini diyakini oleh para ilmuwan Barat ternyata sudah dijelaskan puluhan abad silam oleh al-Qur’an dan hadis. Teori reproduksi dan penciptaan manusia dari sudut pandang Islam dan sains ternyata tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi satu dengan yang lain. Hadis nabi yang menjelaskan reproduksi wanita dan proses penciptaan manusia merupakan penjelas dari al-Qur’an dan diperkuat oleh data-data ilmiah sains teknologi. Berangkat dari itulah, artikel ini coba mengkaji tentang reproduksi wanita dengan pendekatan hadis tematik. Sebab pembahasan tematik ini sangat urgen untuk mengembangkan wawasan tentang hadis dalam membahas satu tema tertentu secara tuntas. Female reproduction processes according to modern science that had been believed by Western scientists were already described dozens of centuries ago by the Qur’an and hadith. Theory of reproduction and the creation of man from the viewpoint of Islam and science were not at odds, even complement each other. Hadith which describes a woman’s reproduction and the process of creation of man is explanatory of the Qur’an and reinforced by scientific data science technology. Start from it, this article try to examines the female reproductive with thematic hadith approach. For the thematic discussion is very urgent to develop an insight into the traditions in discussing a particular theme completely.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"10 1","pages":"457-475"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937807","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2015-12-18DOI: 10.21274/EPIS.2015.10.2.435-456
Ngainun Naim
Rekonstruksi Pancasila dari pemikiran cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid memiliki peran penting terhadap penguatan ideologi Pancasila. Pancasila sebagai ideologi negara telah mengalami kemunduran pemahaman dan peran aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Munculnya berbagai persoalan sosial kebangsaan membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang melibatkan semua pihak. Salah satu bentuk kontribusi yang dapat dilakukan adalah kontribusi pemikiran dengan merekonstruksi nilai-nilai Pancasila dari pemikiran Nurcholish Madjid. Data yang disajikan berasal dari telaah pustaka dan penelusuran literatur dari berbagai sumber yang relevan. Di samping itu, metode analisis kritis dilakukan untuk mengkaji dan merekonstruksi pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid yang telah terpetakan. Argumen yang hendak dibangun adalah rekonstruksi nilai-nilai Pancasila merupakan sarana penting untuk penguatan ideologi Pancasila. Selain itu, pemikiran-pemikiran Pancasila Nurcholish Madjid memiliki relevansi untuk dikembangkan dan disosialisasikan dalam kerangka penguatan ideologi Pancasila. Pancasila reconstruction of Nurcholish Madjid thought has an important role to strengthen the ideology of Pancasila. As the state ideology, Pancasila has suffered a setback understanding and applicative role in daily life. The emergence of various nationalities social issues require serious attention and handling that involves all parties. One form of the contribution that can be done is contribute ideas to reconstruct the values of Pancasila from Nurcholish Madjid thought. The data presented comes from the literature search and review of the literature from a variety of relevant sources. In addition, the method of critical analysis conducted to assess and reconstruct the thoughts that have been mapped Nurcholish Madjid. The argument that will be built is the reconstruction of the values of Pancasila is an important means for strengthening the ideology of Pancasila. Moreover, the ideas of Pancasila Nurcholish Madjid has relevance for developed and disseminated within the framework of the strengthening of the ideology of Pancasila.
{"title":"Islam Dan Pancasila: Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid","authors":"Ngainun Naim","doi":"10.21274/EPIS.2015.10.2.435-456","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2015.10.2.435-456","url":null,"abstract":"Rekonstruksi Pancasila dari pemikiran cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid memiliki peran penting terhadap penguatan ideologi Pancasila. Pancasila sebagai ideologi negara telah mengalami kemunduran pemahaman dan peran aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Munculnya berbagai persoalan sosial kebangsaan membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang melibatkan semua pihak. Salah satu bentuk kontribusi yang dapat dilakukan adalah kontribusi pemikiran dengan merekonstruksi nilai-nilai Pancasila dari pemikiran Nurcholish Madjid. Data yang disajikan berasal dari telaah pustaka dan penelusuran literatur dari berbagai sumber yang relevan. Di samping itu, metode analisis kritis dilakukan untuk mengkaji dan merekonstruksi pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid yang telah terpetakan. Argumen yang hendak dibangun adalah rekonstruksi nilai-nilai Pancasila merupakan sarana penting untuk penguatan ideologi Pancasila. Selain itu, pemikiran-pemikiran Pancasila Nurcholish Madjid memiliki relevansi untuk dikembangkan dan disosialisasikan dalam kerangka penguatan ideologi Pancasila. Pancasila reconstruction of Nurcholish Madjid thought has an important role to strengthen the ideology of Pancasila. As the state ideology, Pancasila has suffered a setback understanding and applicative role in daily life. The emergence of various nationalities social issues require serious attention and handling that involves all parties. One form of the contribution that can be done is contribute ideas to reconstruct the values of Pancasila from Nurcholish Madjid thought. The data presented comes from the literature search and review of the literature from a variety of relevant sources. In addition, the method of critical analysis conducted to assess and reconstruct the thoughts that have been mapped Nurcholish Madjid. The argument that will be built is the reconstruction of the values of Pancasila is an important means for strengthening the ideology of Pancasila. Moreover, the ideas of Pancasila Nurcholish Madjid has relevance for developed and disseminated within the framework of the strengthening of the ideology of Pancasila.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"10 1","pages":"435-456"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937772","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2015-12-16DOI: 10.21274/EPIS.2015.10.2.385-404
S. Hakam
Dalam artikel ini saya akan membahas tiga topik: Idul Fitri, tradisi halal bi halal dan sejarah islamisasi di Jawa. Berdasarkan gagasan Robert Redfied tentang tradisi besar dan kecil, saya ingin mengatakan bahwa festival Idul Fitri di Jawa lebih menyenangkan, ceria dan menggembirakan daripada di negara asal karena di masa lalu para intelektual yang menyebarkan Islam tidak mencoba untuk mengubah secara radikal tradisi lokal, namun mereka memilih untuk melanjutkan-tradisi kuno dengan agama baru dari tradisi besar Islam. Itu adalah gerakan yang sangat halus dan pintar sebab mereka menghidupkan kembali tradisi kuno dengan memadukannya dengan Islam. In this paper I will discuss three topic: the origin of Idul Fitri, the halal bi halal tradition and the history of Islamization in Java. Based on Robert Redfied’s notion of great tradition and little tradition, I want to argue that the festival of Idul Fitri in Java is more happy, cheery, and merry rather than in the origin country because in the past the intellectuals who propagated Islam did not try to change radically the local traditions, however they preferred to recontinue the ancient traditions with a new religion from great tradition, Islam. It was a very smooth and smart movement because they revive the ancient traditions by Islamizing the ancient tradition.
{"title":"HALAL BI HALAL, A FESTIVAL OF IDUL FITRI AND IT’S RELATION WITH THE HISTORY OF ISLAMIZATION IN JAVA","authors":"S. Hakam","doi":"10.21274/EPIS.2015.10.2.385-404","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2015.10.2.385-404","url":null,"abstract":"Dalam artikel ini saya akan membahas tiga topik: Idul Fitri, tradisi halal bi halal dan sejarah islamisasi di Jawa. Berdasarkan gagasan Robert Redfied tentang tradisi besar dan kecil, saya ingin mengatakan bahwa festival Idul Fitri di Jawa lebih menyenangkan, ceria dan menggembirakan daripada di negara asal karena di masa lalu para intelektual yang menyebarkan Islam tidak mencoba untuk mengubah secara radikal tradisi lokal, namun mereka memilih untuk melanjutkan-tradisi kuno dengan agama baru dari tradisi besar Islam. Itu adalah gerakan yang sangat halus dan pintar sebab mereka menghidupkan kembali tradisi kuno dengan memadukannya dengan Islam. In this paper I will discuss three topic: the origin of Idul Fitri, the halal bi halal tradition and the history of Islamization in Java. Based on Robert Redfied’s notion of great tradition and little tradition, I want to argue that the festival of Idul Fitri in Java is more happy, cheery, and merry rather than in the origin country because in the past the intellectuals who propagated Islam did not try to change radically the local traditions, however they preferred to recontinue the ancient traditions with a new religion from great tradition, Islam. It was a very smooth and smart movement because they revive the ancient traditions by Islamizing the ancient tradition.","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"49 1","pages":"385-404"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937633","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2015-12-15DOI: 10.21274/EPIS.2015.10.2.353-384
Nunu Burhanuddin
Seiring dengan menguatnya ideologi nasionalis-sekuler pascakemerdekaan, muncullah konsep nasionalisme berdasarkan sejumlah sumber yang bertolak belakang satu sama lain. Itulah nasionalisme eklektik ala Soekarno yang menerapkan analisis Marxis tentang penindasan imperialisme dan pada saat yang sama, menggunakan sikap permusuhan kaum Muslimin terhadap penjajah kafir. Ia menggelindingkan konsep Nasakom untuk menyimbolkan kesatuan nasionalisme, agama dan komunisme. Dalam konteks ini, penulis melihat permasalahan kompleks ideologi Nasakom sehingga banyak tokoh, ulama dan ilmuwan Muslim yang mengambil jarak dengan tokoh nomor wahid di Indonesia saat itu, seperti Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Muhammad Hatta dan Hamka. Tokoh yang disebut belakangan, yakni Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) inilah yang menjadi perhatian penulis terkait konsep nasionalisme yang diusungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi pemikiran nasionalisme-religius Hamka dalam karya-karya sastranya, seperti Si Sabariah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Merantau ke Deli. Data-data yang diperoleh dari novel-novel di atas dianalisis melalui teori hermeneutika, suatu pendekatan ilmiah yang menghubungkan antara pembaca (qari) dengan teks (al-Maqru’). Along with the strengthening of secular-nationalist ideology post-independence, there arose the concept of nationalism based on a number of sources are opposite to each other. That nationalism eclectic style Soekarno applying Marxist analysis of the oppression of imperialism and at the same time, using the hostility of the Muslims against the infidel invaders. He rolled Nasakom concept to symbolize the unity of nationalism, religion and communism. In this context, the authors look at the complex issue of ideology Nasakom so many leaders, scholars and Moslem scientists who take distance with the figure number one in Indonesia at the time, like Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta and Hamka. The latter figure, namely Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) which is the author’s attention related to the concept of nationalism carried. This study aims to determine the construction of nationalism-religious thought Hamka in literary works, such as Si Sabariah, Under the Protection Ka’bah, Sinking Ship Van Der Wijck, and Going away to Deli. The data obtained from the novels above were analyzed through the theory of hermeneutics, a scientific approach that connects the reader (reciter) with texts (al-Maqru‘).
随着民族主义意识形态在独立后的发展,民族主义的概念出现在许多相互冲突的来源的基础上。这就是苏加诺式的兼顾马克思主义分析帝国主义,同时利用穆斯林对异教徒侵略者的敌意。他推动了Nasakom的概念,象征着民族主义、宗教和共产主义的统一。在这种背景下,作家认为纳萨克姆意识形态的复杂问题是如此之大,以至于许多穆斯林学者和学者与当时的印尼数字人物穆罕默德·纳萨尔(Muhammad Natsir)、哈吉·阿古斯·萨利姆(Haji Agus Salim)、穆罕默德·哈塔(Muhammad Hatta)和哈姆卡(Hamka)保持距离。后者是哈吉·阿卜杜勒·马利克·本·阿卜杜勒·卡里姆·阿姆鲁拉(hamrullah),这引起了作者对他所倡导的民族主义概念的关注。这项研究的目的是要弄清楚哈姆卡在其文学作品中的民族主义思想的结构,比如萨巴拉亚,在保护下,从上述小说中获得的数据是通过解释学理论分析的,这是一种将读者(qari)和文本(al-Maqru ')联系起来的科学方法。在安全国家意识形态的力量下,有一种民族主义的概念,这种观念是建立在一大堆资源对彼此有利的基础上的。这种民族主义的eekarno应用马克思主义评估方法利用了穆斯林对入侵者的敌意。他提倡民族主义、宗教和共产主义的统一。在这个背景下,当局看到的是如此多的领导人、学者和穆斯林学者的复杂问题,他们当时持有印尼第一人物的人物,比如穆罕默德·纳萨尔(Muhammad Natsir)、哈吉斯·萨利姆(Haji Agus Salim)、穆罕默德·哈玛塔(Mohammad Hatta)和哈姆卡(Hamka)。后者的形象,namely朝觐Malik bin Abdul Karim Amrullah (hamrullah),这与古巴国家问题的概念有关。这项研究旨在确定文学作品中汉卡的建设,这样,在保护克尔巴,铸造范德威克的船,然后去熟食店。从上面的小说中获取的数据是对解释性理论的分析,对读者和文本的读者进行了科学验证。
{"title":"KONSTRUKSI NASIONALISME RELIGIUS: Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka","authors":"Nunu Burhanuddin","doi":"10.21274/EPIS.2015.10.2.353-384","DOIUrl":"https://doi.org/10.21274/EPIS.2015.10.2.353-384","url":null,"abstract":"Seiring dengan menguatnya ideologi nasionalis-sekuler pascakemerdekaan, muncullah konsep nasionalisme berdasarkan sejumlah sumber yang bertolak belakang satu sama lain. Itulah nasionalisme eklektik ala Soekarno yang menerapkan analisis Marxis tentang penindasan imperialisme dan pada saat yang sama, menggunakan sikap permusuhan kaum Muslimin terhadap penjajah kafir. Ia menggelindingkan konsep Nasakom untuk menyimbolkan kesatuan nasionalisme, agama dan komunisme. Dalam konteks ini, penulis melihat permasalahan kompleks ideologi Nasakom sehingga banyak tokoh, ulama dan ilmuwan Muslim yang mengambil jarak dengan tokoh nomor wahid di Indonesia saat itu, seperti Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Muhammad Hatta dan Hamka. Tokoh yang disebut belakangan, yakni Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) inilah yang menjadi perhatian penulis terkait konsep nasionalisme yang diusungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi pemikiran nasionalisme-religius Hamka dalam karya-karya sastranya, seperti Si Sabariah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Merantau ke Deli. Data-data yang diperoleh dari novel-novel di atas dianalisis melalui teori hermeneutika, suatu pendekatan ilmiah yang menghubungkan antara pembaca (qari) dengan teks (al-Maqru’). Along with the strengthening of secular-nationalist ideology post-independence, there arose the concept of nationalism based on a number of sources are opposite to each other. That nationalism eclectic style Soekarno applying Marxist analysis of the oppression of imperialism and at the same time, using the hostility of the Muslims against the infidel invaders. He rolled Nasakom concept to symbolize the unity of nationalism, religion and communism. In this context, the authors look at the complex issue of ideology Nasakom so many leaders, scholars and Moslem scientists who take distance with the figure number one in Indonesia at the time, like Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta and Hamka. The latter figure, namely Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) which is the author’s attention related to the concept of nationalism carried. This study aims to determine the construction of nationalism-religious thought Hamka in literary works, such as Si Sabariah, Under the Protection Ka’bah, Sinking Ship Van Der Wijck, and Going away to Deli. The data obtained from the novels above were analyzed through the theory of hermeneutics, a scientific approach that connects the reader (reciter) with texts (al-Maqru‘).","PeriodicalId":31250,"journal":{"name":"Episteme Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman","volume":"10 1","pages":"353-384"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"67937624","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}