Hipoksia kronik merupakan salah satu penyebab penyakit ginjal akibat peningkatan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dalam sel. Kombinasi ekstrak akar Acalypha indica 250 mg/KgBB (AI250) dan Centella asiatica 150 mg/kgBB (CA150) memiliki efek neuroterapi pada tikus Spraque Dawley pascahipoksia. Penelitian dilakukan untuk membuktikan manfaat kombinasi ekstrak etanol dan/atau ekstrak tunggalnya dapat memperbaiki kerusakan ginjal tikus pascahipoksia melalui mekanisme antioksidan. 28 tikus jantan dikelompokkan dalam 7 kelompok: kontrol normal; kontrol hipoksia+air; hipoksia+(AI200+CA150); hipoksia+(AI250+CA100); hipoksia+AI250; hipoksia+CA150; hipoksia+vitamin C. Hipoksia selama 7 hari dalam hypoxic chamber berisi O2 10% dan N2 90%, 1 atm. Setiap kelompok diberi perlakuan selama 7 hari. Pada akhir studi hewan diterminasi. Darah dan organ ginjal diambil untuk pemeriksaan biokimia dan histopatologi.Kombinasi (AI250+CA100) menurunkan kadar MDA ginjal dan plasma secara bermakna dibandingkan kontrol hipoksia (p=0,001 dan p=0,021) dan AI250 (p=0,003 dan 0,043). Kombinasi AI250+CA100 terjadi penurunan ekspresi relatif mRNA HIF-1α (p=0,014), kadar urea plasma (p=0,001) dan perbaikan lesi intra-glomerulus p=0,013.Kesimpulan: Kombinasi (AI250+CA100) dan tunggal AI250 memiliki aktivitas antioksidan terbaik dalam mencegah kerusakan ginjal pascahipoksia, secara biokimiawi dan histopatologinya.
{"title":"Perubahan Parameter Biokimia, Histopatologi Ginjal Tikus Spraque Dawley Pascahipoksia Oleh Ekstrak Akar Acalypha indica dan Herba Centella asiatica","authors":"Nurfitri Nurfitri, Erni Hernawati Purwaningsih, Vivian Soetikno, Adisti Dwijayanti, Novi Silvia Hardiany","doi":"10.25077/JSFK.5.3.160-168.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.160-168.2018","url":null,"abstract":"Hipoksia kronik merupakan salah satu penyebab penyakit ginjal akibat peningkatan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dalam sel. Kombinasi ekstrak akar Acalypha indica 250 mg/KgBB (AI250) dan Centella asiatica 150 mg/kgBB (CA150) memiliki efek neuroterapi pada tikus Spraque Dawley pascahipoksia. Penelitian dilakukan untuk membuktikan manfaat kombinasi ekstrak etanol dan/atau ekstrak tunggalnya dapat memperbaiki kerusakan ginjal tikus pascahipoksia melalui mekanisme antioksidan. 28 tikus jantan dikelompokkan dalam 7 kelompok: kontrol normal; kontrol hipoksia+air; hipoksia+(AI200+CA150); hipoksia+(AI250+CA100); hipoksia+AI250; hipoksia+CA150; hipoksia+vitamin C. Hipoksia selama 7 hari dalam hypoxic chamber berisi O2 10% dan N2 90%, 1 atm. Setiap kelompok diberi perlakuan selama 7 hari. Pada akhir studi hewan diterminasi. Darah dan organ ginjal diambil untuk pemeriksaan biokimia dan histopatologi.Kombinasi (AI250+CA100) menurunkan kadar MDA ginjal dan plasma secara bermakna dibandingkan kontrol hipoksia (p=0,001 dan p=0,021) dan AI250 (p=0,003 dan 0,043). Kombinasi AI250+CA100 terjadi penurunan ekspresi relatif mRNA HIF-1α (p=0,014), kadar urea plasma (p=0,001) dan perbaikan lesi intra-glomerulus p=0,013.Kesimpulan: Kombinasi (AI250+CA100) dan tunggal AI250 memiliki aktivitas antioksidan terbaik dalam mencegah kerusakan ginjal pascahipoksia, secara biokimiawi dan histopatologinya.","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"27 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83316883","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.185-190.2018
Regina Andayani, S. Rahma, M. Martinus
ABSTRAKKromium merupakan logam berat yang dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik. Efek logam kromium apabila terpapar pada kulit dapat menyebabkan dermatitis, oedema dan borok yang dapat meluas pada kulit. Analisis logam kromium (Cr) pada sediaan perona pipi (Blush On) secara Spektrofotometri Serapan Atom telah dilakukan. Masing-masing sampel didestruksi terlebih dahulu dengan cara destruksi kering, kemudian sampel dilarutkan dengan asam nitrat 6 N, larutan sampel diukur serapannya dengan alat Spektrofotometer Serapan Atom menggunakan lampu katoda berongga kromium pada panjang gelombang 357,9 nm. Hasil dari penelitian ini adalah sampel merek IZ, VV, KS, MC terdeteksi mengandung logam kromium dengan kadar berturut-turut adalah 10,05 ± 0,05 µg/g; 6,74 ± 0,02 µg/g; 28,95 ± 0,19 µg/g; 13,52 ± 0,63 µg/g. Data menunjukan bahwa adanya kromium pada semua sampel.Kata kunci: logam; kromium; perona pipi; spektrofotometri serapan atom ABSTRACTChromium is a heavy metal which is prohibited from using it in cosmetic preparations. Effects of chromium metal, when exposed to the skin, can cause dermatitis, oedema and ulcers that can extend to the skin. Analysis of chromium (Cr) metal in blush preparations by Atomic Absorption Spectrophotometry was carried out. Each sample was first destructed by dry destruction, then the sample was dissolved with 6 N nitric acid, the absorption of the sample solution was measured by an atomic absorption spectrophotometer using a chromium hollow cathode lamp at a wavelength of 357.9 nm. The results showed that all samples under the IZ, VV, KS and MC brands were detected containing chromium metal with levels of 10.05 ± 0.05 μg/g respectively; 6.74 ± 0.02 µg/g; 28.95 ± 0.19 µg/g; 13.52 ± 0.63 µg/g. Data shows that the presence of chromium in all samples.Keywords: metal; chromium; blush; atomic absorption spectrophotometry.
{"title":"Analisis Logam Kromium (Cr) Pada Sediaan Perona Pipi (Blush On) Secara Spektrofotometri Serapan Atom","authors":"Regina Andayani, S. Rahma, M. Martinus","doi":"10.25077/JSFK.5.3.185-190.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.185-190.2018","url":null,"abstract":"ABSTRAKKromium merupakan logam berat yang dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik. Efek logam kromium apabila terpapar pada kulit dapat menyebabkan dermatitis, oedema dan borok yang dapat meluas pada kulit. Analisis logam kromium (Cr) pada sediaan perona pipi (Blush On) secara Spektrofotometri Serapan Atom telah dilakukan. Masing-masing sampel didestruksi terlebih dahulu dengan cara destruksi kering, kemudian sampel dilarutkan dengan asam nitrat 6 N, larutan sampel diukur serapannya dengan alat Spektrofotometer Serapan Atom menggunakan lampu katoda berongga kromium pada panjang gelombang 357,9 nm. Hasil dari penelitian ini adalah sampel merek IZ, VV, KS, MC terdeteksi mengandung logam kromium dengan kadar berturut-turut adalah 10,05 ± 0,05 µg/g; 6,74 ± 0,02 µg/g; 28,95 ± 0,19 µg/g; 13,52 ± 0,63 µg/g. Data menunjukan bahwa adanya kromium pada semua sampel.Kata kunci: logam; kromium; perona pipi; spektrofotometri serapan atom ABSTRACTChromium is a heavy metal which is prohibited from using it in cosmetic preparations. Effects of chromium metal, when exposed to the skin, can cause dermatitis, oedema and ulcers that can extend to the skin. Analysis of chromium (Cr) metal in blush preparations by Atomic Absorption Spectrophotometry was carried out. Each sample was first destructed by dry destruction, then the sample was dissolved with 6 N nitric acid, the absorption of the sample solution was measured by an atomic absorption spectrophotometer using a chromium hollow cathode lamp at a wavelength of 357.9 nm. The results showed that all samples under the IZ, VV, KS and MC brands were detected containing chromium metal with levels of 10.05 ± 0.05 μg/g respectively; 6.74 ± 0.02 µg/g; 28.95 ± 0.19 µg/g; 13.52 ± 0.63 µg/g. Data shows that the presence of chromium in all samples.Keywords: metal; chromium; blush; atomic absorption spectrophotometry. ","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"17 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90907165","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.201-206.2018
Fatma Sri Wahyuni, I. R. Sudji, R. Amaliyah
Ekstrak kulit manggis telah banyak digunakan sebagai obat herbal untuk pengobatan berbagai penyakit dan pemeliharaankesehatan. Senyawa kimia utama dari ekstrak kulit manggis adalah α-mangostin. Bioaktivitas senyawa alfa mangostin telah diuji secara ekstensif pada berbagai organisme in vitro. Namun, informasi tentang efek keamanannya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau keamanan alfamangostin dengan mengevaluasi aktivitas sitotoksik dari alfa mangostin pada kultur sel leukosit normal dan aktivitas antioksidan dari α-mangostin. Evaluasi sitotoksik dilakukan dengan 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT assay)dan aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH assay). Konsentrasi alpha mangostin yang diuji yaitu: 3.125 μg/mL; 6,25 μg/mL; 12,5 μg/mL; 25 μg/mL; 50 μg/mL dan 100 μg/mL. Hasilnya menunjukkan bahwa alfa mangostintidak memiliki efek toksik padakulturselleukosit. Alfamangostin mampu memicu respon proliferasi sel leukosit pada 50 μg/mL dengan viabilitas sel 208,485 ± 21,21% dan pada 100 μg/mL dengan viabilitas sel 361.818 ± 86,37%. Alpha mangostinjuga menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC5013,57 μg/mL. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa alfa mangostin tidak toksikpada sel leukosit manusia sehingga aman untuk dikonsumsi. Sebagai senyawa antioksidan alfamangostin dapat memicu proliferasi sel leukosit dalam kultur sel leukosit.
{"title":"Evaluasi Sitotoksik Alfa Mangostin Pada Kultur Sel Leukosit Manusia Secara In Vitro dan Uji Aktivitas Antioksidan","authors":"Fatma Sri Wahyuni, I. R. Sudji, R. Amaliyah","doi":"10.25077/JSFK.5.3.201-206.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.201-206.2018","url":null,"abstract":"Ekstrak kulit manggis telah banyak digunakan sebagai obat herbal untuk pengobatan berbagai penyakit dan pemeliharaankesehatan. Senyawa kimia utama dari ekstrak kulit manggis adalah α-mangostin. Bioaktivitas senyawa alfa mangostin telah diuji secara ekstensif pada berbagai organisme in vitro. Namun, informasi tentang efek keamanannya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau keamanan alfamangostin dengan mengevaluasi aktivitas sitotoksik dari alfa mangostin pada kultur sel leukosit normal dan aktivitas antioksidan dari α-mangostin. Evaluasi sitotoksik dilakukan dengan 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT assay)dan aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH assay). Konsentrasi alpha mangostin yang diuji yaitu: 3.125 μg/mL; 6,25 μg/mL; 12,5 μg/mL; 25 μg/mL; 50 μg/mL dan 100 μg/mL. Hasilnya menunjukkan bahwa alfa mangostintidak memiliki efek toksik padakulturselleukosit. Alfamangostin mampu memicu respon proliferasi sel leukosit pada 50 μg/mL dengan viabilitas sel 208,485 ± 21,21% dan pada 100 μg/mL dengan viabilitas sel 361.818 ± 86,37%. Alpha mangostinjuga menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC5013,57 μg/mL. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa alfa mangostin tidak toksikpada sel leukosit manusia sehingga aman untuk dikonsumsi. Sebagai senyawa antioksidan alfamangostin dapat memicu proliferasi sel leukosit dalam kultur sel leukosit.","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"50 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85127566","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.233-242.2018
Yunisa Friscia Yusri, Lia Amalia, Ida Lisni
Penyakit ginjal terminal dapat menyebabkan terganggunya pengaturan keseimbangan Natrium (Na) dan Kalium (K). Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh fungsi ginjal yang menurun dan pengaruh antihipertensi golongan penghambat SRAA (Sistem Renin Angiotensin Aldosteron) seperti ACEI (Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor) dan ARB (Angiotensin Receptor Blocker). Gangguan ini dapat menyebabkan aritmia, edema otak, henti jantung hingga kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat serta pengaruh penggunaan antihipertensi ACEI dan ARB terhadap gangguan Na dan K pada kondisi pasien pradialisis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-potong lintang (cross-sectional) pada kondisi pasien pradialisis di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Dari penelitian diperoleh 22 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang memiliki hasil pengukuran kadar Na dan K pada kondisi pradialisis. Dari 22 pasien tersebut sebanyak 59,09% mengalami hiponatremia, 45,45% mengalami hiperkalemia, dan 4,55% mengalami hipokalemia. Untuk mengatasi kondisi hiponatremia digunakan infus NaCl 3%. Sedangkan untuk mengatasi kondisi hiperkalemia digunakan furosemid, kalsium glukonat, dan kalsium polistiren sulfonat baik tunggal maupun kombinasi. Gangguan Na dan K harus segera diatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan sel. Penggunaan antihipertensi ACEI, ARB maupun kombinasi keduanya secara statistik tidak bermakna yang berarti tidak terdapat pengaruh penggunaan obat tersebut terhadap munculnya kondisi hiponatremia maupun hiperkalemia pada pasien.Kata kunci: Hiponatremia, Hiperkalemia, ACEI, ARB
{"title":"Studi Penggunaan Obat Untuk Menangani Gangguan Natrium dan Kalium Pasien Penyakit Ginjal Terminal di RS Muhammadiyah Bandung","authors":"Yunisa Friscia Yusri, Lia Amalia, Ida Lisni","doi":"10.25077/JSFK.5.3.233-242.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.233-242.2018","url":null,"abstract":"Penyakit ginjal terminal dapat menyebabkan terganggunya pengaturan keseimbangan Natrium (Na) dan Kalium (K). Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh fungsi ginjal yang menurun dan pengaruh antihipertensi golongan penghambat SRAA (Sistem Renin Angiotensin Aldosteron) seperti ACEI (Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor) dan ARB (Angiotensin Receptor Blocker). Gangguan ini dapat menyebabkan aritmia, edema otak, henti jantung hingga kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat serta pengaruh penggunaan antihipertensi ACEI dan ARB terhadap gangguan Na dan K pada kondisi pasien pradialisis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-potong lintang (cross-sectional) pada kondisi pasien pradialisis di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Dari penelitian diperoleh 22 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang memiliki hasil pengukuran kadar Na dan K pada kondisi pradialisis. Dari 22 pasien tersebut sebanyak 59,09% mengalami hiponatremia, 45,45% mengalami hiperkalemia, dan 4,55% mengalami hipokalemia. Untuk mengatasi kondisi hiponatremia digunakan infus NaCl 3%. Sedangkan untuk mengatasi kondisi hiperkalemia digunakan furosemid, kalsium glukonat, dan kalsium polistiren sulfonat baik tunggal maupun kombinasi. Gangguan Na dan K harus segera diatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan sel. Penggunaan antihipertensi ACEI, ARB maupun kombinasi keduanya secara statistik tidak bermakna yang berarti tidak terdapat pengaruh penggunaan obat tersebut terhadap munculnya kondisi hiponatremia maupun hiperkalemia pada pasien.Kata kunci: Hiponatremia, Hiperkalemia, ACEI, ARB","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"86 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83263181","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.212-217.2018
Syofyan Syofyan, H. Indra, S. Suryati, A. Almahdy
Masalah keamanan obat pada anak seringkali diabaikan oleh orang tua. Anak masih dianggap sebagai pengguna pasif padahal anak sesuai dengan perkembangannya telah memiliki otonomi dalam penggunaan obat-obatannya sendiri. Untuk itu, anak perlu diberdayakan sesuai dengan pengetahuannya dibawah pengawasan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan dan sikap orangtua tentang obat pada anak. Disain penelitian yang digunakan menggunakan disain studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Dari peneitian ini didapatkan bahwa pengetahuan orang tua siswa SD di kota Padang tentang obat dikategorikan sedang(69,20 %). Sedangkan sikap orang tua menunjukan sikap positif dengan persentase sikap positif (97,4%). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan sikap orang tua siswa SD di kota Padang. (P>0,05). Faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu uhuamur, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan tempat penyimpanan obat responden. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara semua karakteristik terhadap sikap responden. Dapat disimpulkan bahwa perlu edukasi kepada orangtua agar dapat memberikan informasi tentang keamanan obat pada anak.
{"title":"Pengetahuan dan Sikap tentang Obat pada Orangtua Siswa SD di Kota Padang","authors":"Syofyan Syofyan, H. Indra, S. Suryati, A. Almahdy","doi":"10.25077/JSFK.5.3.212-217.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.212-217.2018","url":null,"abstract":"Masalah keamanan obat pada anak seringkali diabaikan oleh orang tua. Anak masih dianggap sebagai pengguna pasif padahal anak sesuai dengan perkembangannya telah memiliki otonomi dalam penggunaan obat-obatannya sendiri. Untuk itu, anak perlu diberdayakan sesuai dengan pengetahuannya dibawah pengawasan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan dan sikap orangtua tentang obat pada anak. Disain penelitian yang digunakan menggunakan disain studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Dari peneitian ini didapatkan bahwa pengetahuan orang tua siswa SD di kota Padang tentang obat dikategorikan sedang(69,20 %). Sedangkan sikap orang tua menunjukan sikap positif dengan persentase sikap positif (97,4%). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan sikap orang tua siswa SD di kota Padang. (P>0,05). Faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu uhuamur, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan tempat penyimpanan obat responden. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara semua karakteristik terhadap sikap responden. Dapat disimpulkan bahwa perlu edukasi kepada orangtua agar dapat memberikan informasi tentang keamanan obat pada anak. ","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"13 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"73997622","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.207-211.2018
Suryati Suryati, Elidahanum Husni, W. Astuti, Nasty Ranura
Tumbuhan Jeruju (Acanthus illicifolius) merupakan salah satu tumbuhan mangrove yang banyak ditemukan di daerah tepi pantai di Sumatera Barat. Masyarakat di daerah Ketaping dan Pariaman Sumatera Barat mengkonsumsi buahnya untuk mengobati kanker. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi dan menentukan, aktivitas sitotoksik ekstrak etanol dan fraksi jeruju (Acanthus illicifolius) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Daun dimaserasi dengan etanol 70% selama 3 hari, kemudian difraksinasi dengan n-heksana, etil asetat dan butanol. Hasil penelitian mendapatkan susut pengeringan simplisia 12,78%, kadar abu total 10,05%, kadar abu tidak larut asam 1,01%, sari larut air 17,76%, sari larut etanol 7,1%. Rendemen ekstrak etanol diperoleh 2,6%. Kadar air 25,4%, kadar abu total 15,6% dan kadar abu tidak larut asam 0,74%. Skrining fitokimia ekstrak menunjukkan ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin. Fraksi heksana menunjukkan aktivitas sitotoksik dengan nilai LC50 242,25 ppm. Sedangkan, ekstrak etanol dan fraksi etil asetat dan butanol dari daun jeruju tidak menunjukkan efek sitotoksik dengan nilai LC50 lebih dari 1000 ppm.
{"title":"Karakterisasi dan Uji Sitotoksik Daun Jeruju (Acanthus illicifolius)","authors":"Suryati Suryati, Elidahanum Husni, W. Astuti, Nasty Ranura","doi":"10.25077/JSFK.5.3.207-211.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.207-211.2018","url":null,"abstract":"Tumbuhan Jeruju (Acanthus illicifolius) merupakan salah satu tumbuhan mangrove yang banyak ditemukan di daerah tepi pantai di Sumatera Barat. Masyarakat di daerah Ketaping dan Pariaman Sumatera Barat mengkonsumsi buahnya untuk mengobati kanker. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi dan menentukan, aktivitas sitotoksik ekstrak etanol dan fraksi jeruju (Acanthus illicifolius) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Daun dimaserasi dengan etanol 70% selama 3 hari, kemudian difraksinasi dengan n-heksana, etil asetat dan butanol. Hasil penelitian mendapatkan susut pengeringan simplisia 12,78%, kadar abu total 10,05%, kadar abu tidak larut asam 1,01%, sari larut air 17,76%, sari larut etanol 7,1%. Rendemen ekstrak etanol diperoleh 2,6%. Kadar air 25,4%, kadar abu total 15,6% dan kadar abu tidak larut asam 0,74%. Skrining fitokimia ekstrak menunjukkan ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin. Fraksi heksana menunjukkan aktivitas sitotoksik dengan nilai LC50 242,25 ppm. Sedangkan, ekstrak etanol dan fraksi etil asetat dan butanol dari daun jeruju tidak menunjukkan efek sitotoksik dengan nilai LC50 lebih dari 1000 ppm.","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"22 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87725020","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) adalah salah satu penyebab akseptor menghentikan penggunaan kontrasepsi. Penghentian kontrasepsi dapat meningkatkan kejadian kehamilan yang tidak dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kejadian ROTD dari penggunaan kontrasepsi suntik tunggal (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dan kontrasepsi suntik kombinasi (MPA/Estradiol Sipionat). Desain penelitian adalah cross sectional uji dua populasi. Jumlah sampel sebanyak 65 akseptor kontrasepsi suntik tunggal dan 62 akseptor kontrasepsi suntik kombinasi. Kejadian ROTD dianalisis menggunakan Chi-Square dan uji regresi logistik multivariat. Hasil penelitian menunjukkan kejadian ROTD gangguan menstruasi lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (89.2%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (38.7%) dengan P-value <0.001. Kejadian ROTD mudah marah lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (67.7%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (46.8%) dengan P-value 0.017. Kejadian ROTD kurang gairah seksual lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (56.9%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (37.1%) dengan P-value 0.025. Kejadian ROTD sakit kepala lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (56.9%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (50.0%), akan tetapi perbandingannya tidak signifikan (P-value 0.434). Kejadian ROTD gangguan menstruasi 13 kali lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal dibanding kombinasi.
{"title":"Perbandingan Kejadian Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki Antara Kontrasepsi Suntik Tunggal dan Kombinasi di Kota Bengkulu","authors":"Yona Harianti Putri, Retnosari Andrajati, Arry Yanuar","doi":"10.25077/JSFK.5.3.154-159.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.154-159.2018","url":null,"abstract":"Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) adalah salah satu penyebab akseptor menghentikan penggunaan kontrasepsi. Penghentian kontrasepsi dapat meningkatkan kejadian kehamilan yang tidak dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kejadian ROTD dari penggunaan kontrasepsi suntik tunggal (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dan kontrasepsi suntik kombinasi (MPA/Estradiol Sipionat). Desain penelitian adalah cross sectional uji dua populasi. Jumlah sampel sebanyak 65 akseptor kontrasepsi suntik tunggal dan 62 akseptor kontrasepsi suntik kombinasi. Kejadian ROTD dianalisis menggunakan Chi-Square dan uji regresi logistik multivariat. Hasil penelitian menunjukkan kejadian ROTD gangguan menstruasi lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (89.2%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (38.7%) dengan P-value <0.001. Kejadian ROTD mudah marah lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (67.7%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (46.8%) dengan P-value 0.017. Kejadian ROTD kurang gairah seksual lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (56.9%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (37.1%) dengan P-value 0.025. Kejadian ROTD sakit kepala lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (56.9%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (50.0%), akan tetapi perbandingannya tidak signifikan (P-value 0.434). Kejadian ROTD gangguan menstruasi 13 kali lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal dibanding kombinasi.","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"33 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87145671","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.169-175.2018
Rahmi Yosmar, Nadia Putri Inanta, Yelly Oktavia Sari
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolisme lemak, protein dan karbohidrat yang banyak dijumpai pada masyarakat. Terapi farmakologi diabetes melitus tipe 2 salah satunya dilakukan dengan pemberian obat hipoglikemik oral (OHO) yang dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya Adverse Drug Reactions (ADRs). Jenis ADRs yang umum terjadi adalah reaksi tipe A (Augmented) yaitu reaksi yang diperkirakan sebelumnya dan bergantung pada dosis obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sosiodemografis pasien dan mengevaluasi angka kejadian serta jenis ADRs yang ditimbulkan oleh obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Juli – September 2018. Metode yang digunakan adalah observasional dengan pengumpulan data secara prospektif. Setiap ADRs aktual yang terjadi dihitung probabilitasnya dengan menggunakan algoritma Naranjo scale. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 37 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, dimana 51,35% berjenis kelamin wanita dan berusia >56 tahun sebanyak 59,46%. Pola penggunaan obat hipoglikemik oral yang paling banyak digunakan adalah kombinasi metformin dengan glimepirid sekitar 32,43 %. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 8,1 % pasien mengalami kasus ADRs. Obat hipoglikemik oral yang diduga menjadi penyebab timbulnya ADRs tersebut adalah metformin dan metformin-glimepirid dapat menyebabkan mual dengan kategori possible ADRs serta metformin-glimepirid-acarbose yang menyebabkan terjadinya flatulensi dengan kategori probable ADRs.
{"title":"Studi Prospektif Adverse Drug Reactions (ADRS) Obat Hipoglikemik Oral Terhadap Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Suatu Rumah Sakit, Padang","authors":"Rahmi Yosmar, Nadia Putri Inanta, Yelly Oktavia Sari","doi":"10.25077/JSFK.5.3.169-175.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.169-175.2018","url":null,"abstract":"Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolisme lemak, protein dan karbohidrat yang banyak dijumpai pada masyarakat. Terapi farmakologi diabetes melitus tipe 2 salah satunya dilakukan dengan pemberian obat hipoglikemik oral (OHO) yang dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya Adverse Drug Reactions (ADRs). Jenis ADRs yang umum terjadi adalah reaksi tipe A (Augmented) yaitu reaksi yang diperkirakan sebelumnya dan bergantung pada dosis obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sosiodemografis pasien dan mengevaluasi angka kejadian serta jenis ADRs yang ditimbulkan oleh obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Juli – September 2018. Metode yang digunakan adalah observasional dengan pengumpulan data secara prospektif. Setiap ADRs aktual yang terjadi dihitung probabilitasnya dengan menggunakan algoritma Naranjo scale. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 37 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, dimana 51,35% berjenis kelamin wanita dan berusia >56 tahun sebanyak 59,46%. Pola penggunaan obat hipoglikemik oral yang paling banyak digunakan adalah kombinasi metformin dengan glimepirid sekitar 32,43 %. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 8,1 % pasien mengalami kasus ADRs. Obat hipoglikemik oral yang diduga menjadi penyebab timbulnya ADRs tersebut adalah metformin dan metformin-glimepirid dapat menyebabkan mual dengan kategori possible ADRs serta metformin-glimepirid-acarbose yang menyebabkan terjadinya flatulensi dengan kategori probable ADRs. ","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"42 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"74819742","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Stroke iskemik merupakan penyakit vaskular yang terjadi ketika pasokan darah ke otak berkurang akibat penyumbatan pembuluh darah. Pengobatan stroke menggunakan beberapa obat seperti antiplatelet, antihipertensi dan antihiperlipidemia. Salah satu masalah penggunaan obat adalah timbulnya efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek samping obat pada pasien stroke iskemik di instalasi rawat inap Neurologi suatu rumah sakit pemerintah di Padang. Penelitian dilakukan secara prospektif selama 3 bulan. Data diambil dari rekam medis pasien dan hasil wawancara dengan pasien stroke iskemik yang telah menggunakan obat selama lebih dari 3 hari dan terdapat 32 orang pasien termasuk dalam kriteria inklusi. Obat-obat yang diamati adalah aspirin, klopidogrel, amlodipin, bisoprolol dan simvastatin. Efek samping obat yang dicurigai dianalisis dengan algoritma Naranjo dan disesuaikan dengan skala potensi efek samping obat. Hasil penelitian menunjukkan 11 pasien yang diduga mengalami efek samping obat. Terdapat 6 pasien (54,5 %) mengalami anemia, urtikaria, nausea dan insomnia yang disebabkan penggunaan obat aspirin, 3 pasien (27,3 %) mengalami nausea, edema dan insomnia yang disebabkan penggunaan obat amlodipin, 1 pasien (9,1 %) mengalami rash yang disebabkan penggunaan obat klopidogrel dan 1 pasien (9,1 %) mengalami dispnea yang disebabkan penggunaan obat bisoprolol. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 6 dugaan efek samping obat termasuk kategori possible dan 5 dugaan efek samping obat kategori probable.
{"title":"Pengembangan Instrumen Pemantauan Efek Samping Obat: Efek Samping Obat Pada Pasien Strok Iskemik","authors":"Dedy Almasdy, Yelly Oktavia Sari, Habibie Tifan Ilahi, Nina Kurniasih","doi":"10.25077/JSFK.5.3.225-232.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.225-232.2018","url":null,"abstract":"Stroke iskemik merupakan penyakit vaskular yang terjadi ketika pasokan darah ke otak berkurang akibat penyumbatan pembuluh darah. Pengobatan stroke menggunakan beberapa obat seperti antiplatelet, antihipertensi dan antihiperlipidemia. Salah satu masalah penggunaan obat adalah timbulnya efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek samping obat pada pasien stroke iskemik di instalasi rawat inap Neurologi suatu rumah sakit pemerintah di Padang. Penelitian dilakukan secara prospektif selama 3 bulan. Data diambil dari rekam medis pasien dan hasil wawancara dengan pasien stroke iskemik yang telah menggunakan obat selama lebih dari 3 hari dan terdapat 32 orang pasien termasuk dalam kriteria inklusi. Obat-obat yang diamati adalah aspirin, klopidogrel, amlodipin, bisoprolol dan simvastatin. Efek samping obat yang dicurigai dianalisis dengan algoritma Naranjo dan disesuaikan dengan skala potensi efek samping obat. Hasil penelitian menunjukkan 11 pasien yang diduga mengalami efek samping obat. Terdapat 6 pasien (54,5 %) mengalami anemia, urtikaria, nausea dan insomnia yang disebabkan penggunaan obat aspirin, 3 pasien (27,3 %) mengalami nausea, edema dan insomnia yang disebabkan penggunaan obat amlodipin, 1 pasien (9,1 %) mengalami rash yang disebabkan penggunaan obat klopidogrel dan 1 pasien (9,1 %) mengalami dispnea yang disebabkan penggunaan obat bisoprolol. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 6 dugaan efek samping obat termasuk kategori possible dan 5 dugaan efek samping obat kategori probable.","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"95 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77090670","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-08DOI: 10.25077/JSFK.5.3.218-224.2018
Deni Noviza, Rara Monisah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penggilingan pada asiklovir terhadap sifat fisikokimia dan penetrasi dari cream asiklovir. Penggilingan asiklovir menggunakan alat ball mill dengan variasi lama penggilingan 1, 3 dan 6 jam. Asiklovir kemudian diformulasikan menjadi cream dan dilakukan evaluasi sifat fisikokimia dan penetrasinya. Sebagai pembanding digunakan basis cream tanpa zat aktif dan cream asiklovir yang sudah beredar. Uji pelepasan dilakukan dengan menggunakan sel difusi Franz jenis horizontal dan kadar asiklovir yang terpenetrasi diukur menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang serapan maksimum 254 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan cream yang dihasilkan homogen, dengan pH antara 7-7,5, type cream M/A, Sediaan cream mudah tercuci dan tidak menyebabkan iritasi. Proses penggilingan 1 dan 3 jam menyebabkan terjadinya penurunan ukuran partikel sehingga meningkatkan jumlah asiklovir yang terpenetrasi, sedangkan penggilingan 6 jam menyebabkan terbentuknya agregat dengan ukuran partikel lebih besar, sehingga menyebabkan jumlah asiklovir yang terpenetrasi lebih rendah dibandingkan cream asiklovir tanpa penggilingan. Proses penggilingan terhadap asiklovir tidak mempengaruhi sifat dari cream tapi semakin lama proses penggilingan menyebabkan penurunan jumlah zat yang terpenetrasi
{"title":"Pengaruh Penggilingan Terhadap Penetrasi Cream Asiklovir","authors":"Deni Noviza, Rara Monisah","doi":"10.25077/JSFK.5.3.218-224.2018","DOIUrl":"https://doi.org/10.25077/JSFK.5.3.218-224.2018","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penggilingan pada asiklovir terhadap sifat fisikokimia dan penetrasi dari cream asiklovir. Penggilingan asiklovir menggunakan alat ball mill dengan variasi lama penggilingan 1, 3 dan 6 jam. Asiklovir kemudian diformulasikan menjadi cream dan dilakukan evaluasi sifat fisikokimia dan penetrasinya. Sebagai pembanding digunakan basis cream tanpa zat aktif dan cream asiklovir yang sudah beredar. Uji pelepasan dilakukan dengan menggunakan sel difusi Franz jenis horizontal dan kadar asiklovir yang terpenetrasi diukur menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang serapan maksimum 254 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan cream yang dihasilkan homogen, dengan pH antara 7-7,5, type cream M/A, Sediaan cream mudah tercuci dan tidak menyebabkan iritasi. Proses penggilingan 1 dan 3 jam menyebabkan terjadinya penurunan ukuran partikel sehingga meningkatkan jumlah asiklovir yang terpenetrasi, sedangkan penggilingan 6 jam menyebabkan terbentuknya agregat dengan ukuran partikel lebih besar, sehingga menyebabkan jumlah asiklovir yang terpenetrasi lebih rendah dibandingkan cream asiklovir tanpa penggilingan. Proses penggilingan terhadap asiklovir tidak mempengaruhi sifat dari cream tapi semakin lama proses penggilingan menyebabkan penurunan jumlah zat yang terpenetrasi","PeriodicalId":17687,"journal":{"name":"Jurnal Sains Farmasi & Klinis","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"80456052","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}