Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.847-853
Naura Rahma Ashila, Lucia Yovita Hendrati
Background: Diphtheria is an infectious disease that attacks the throat and can be transmitted through droplets, direct contact with the secretions of the patient's respiratory tract or from carriers. The risk factors for diphtheria are the low coverage of DPT-HB-Hib 3 immunization and the availability of integrated healthcare center. Objectives: To describe the distribution of diphtheria in East Java and analyze the relationship between diphtheria and its risk factors. Methods: This research evaluated the incidence of diphtheria in 38 districts or cities in East Java. The Pearson correlation test was used to analyze secondary data from the East Java Health Profile 2019-2021. The data was processed using Health Mapper and SPSS. Results: There were a correlation between DPT-HB-Hib 3 immunization and diphtheria incidence in 2019 (0.53), 2020 (0.27), and 2021 (0.34). Then there were a correlation between the availability of integrated healthcare center and diptheria incidence in 2019 (0.34), 2020 (0.25), and 2021 (0.29). Conclusions: The coverage of DPT-HB-Hib 3 immunization and the availability of integrated healthcare center were related to diphtheria incidence in East Java in 2019 but not in 2020 and 2021.
{"title":"Diphtheria’s Risk Factors: DPT-HB-Hib 3 Immunization and The Availability of Integrated Healthcare Center","authors":"Naura Rahma Ashila, Lucia Yovita Hendrati","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.847-853","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.847-853","url":null,"abstract":"Background: Diphtheria is an infectious disease that attacks the throat and can be transmitted through droplets, direct contact with the secretions of the patient's respiratory tract or from carriers. The risk factors for diphtheria are the low coverage of DPT-HB-Hib 3 immunization and the availability of integrated healthcare center. Objectives: To describe the distribution of diphtheria in East Java and analyze the relationship between diphtheria and its risk factors. Methods: This research evaluated the incidence of diphtheria in 38 districts or cities in East Java. The Pearson correlation test was used to analyze secondary data from the East Java Health Profile 2019-2021. The data was processed using Health Mapper and SPSS. Results: There were a correlation between DPT-HB-Hib 3 immunization and diphtheria incidence in 2019 (0.53), 2020 (0.27), and 2021 (0.34). Then there were a correlation between the availability of integrated healthcare center and diptheria incidence in 2019 (0.34), 2020 (0.25), and 2021 (0.29). Conclusions: The coverage of DPT-HB-Hib 3 immunization and the availability of integrated healthcare center were related to diphtheria incidence in East Java in 2019 but not in 2020 and 2021.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"72 6 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139199452","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.758-765
Rochma Ashifa Affayani
Latar Belakang: Pencegahan penyebaran penyakit perlu melalui berbagai langkah salah satunya adalah dengan mengetahui potensi sebaran penyakit yang dimaksud. Salah satu penyakit berbahaya yang masih terjadi dalam jumlah yang tinggi di Indonesia adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Masih terdapat berbagai kekurangan dalam pengendalian DBD, diantaranya adalah sistem penyampaian informasi mengenai kasus DBD yang belum efektif dan belum merepresentasikan sebaran DBD di berbagai wilayah secara akurat. Dalam upaya memperoleh informasi-informasi geografis terkait dengan sebaran kasus DBD dapat memanfaatkan teknologi informasi yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan: Untuk memanfaatkan Sistem Informasi Geografis dalam menggambarkan sebaran data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan menganalisis faktor yang mempengaruhi jumlah kasus DBD di Kabupaten Kediri tahun 2019. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh kecamatan di Kabupaten Kediri tahun 2019, yaitu sebanyak 26 kecamatan. Sampel penelitian menggunakan seluruh total populasi yang tersedia. Sumber data yang digunakan berasal dari data sekunder yaitu berupa peta Kabupaten Kediri dan Profil Kesehatan Kabupaten Kediri tahun 2019. Hasil: Hasil pengujian lanjutan terkait hubungan antara kepadatan penduduk terhadap jumlah kasus DBD tidak berpengaruh signifikan dengan p-value sebesar 0,69076, variabel sebaran persentase sarana air minum memenuhi syarat tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD dengan p-value sebesar 0,90729, variabel sebaran jumlah tempat tempat umum memenuhi syarat kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD dengan p-value sebesar 0,54618, dan variabel sebaran jumlah keluarga dengan akses jamban sehat berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD dengan p-value sebesar 0,00013. Kesimpulan: Variabel kepadatan penduduk, variabel sebaran persentase sarana air minum memenuhi syarat, dan variabel sebaran jumlah tempat tempat umum memenuhi syarat kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Kediri tahun 2019. Sedangkan, variabel sebaran jumlah keluarga dengan akses jamban sehat berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD di Kabupaten Kediri tahun 2019.
{"title":"Sistem Informasi Geografis pada Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Kediri Tahun 2019","authors":"Rochma Ashifa Affayani","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.758-765","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.758-765","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Pencegahan penyebaran penyakit perlu melalui berbagai langkah salah satunya adalah dengan mengetahui potensi sebaran penyakit yang dimaksud. Salah satu penyakit berbahaya yang masih terjadi dalam jumlah yang tinggi di Indonesia adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Masih terdapat berbagai kekurangan dalam pengendalian DBD, diantaranya adalah sistem penyampaian informasi mengenai kasus DBD yang belum efektif dan belum merepresentasikan sebaran DBD di berbagai wilayah secara akurat. Dalam upaya memperoleh informasi-informasi geografis terkait dengan sebaran kasus DBD dapat memanfaatkan teknologi informasi yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan: Untuk memanfaatkan Sistem Informasi Geografis dalam menggambarkan sebaran data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan menganalisis faktor yang mempengaruhi jumlah kasus DBD di Kabupaten Kediri tahun 2019. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh kecamatan di Kabupaten Kediri tahun 2019, yaitu sebanyak 26 kecamatan. Sampel penelitian menggunakan seluruh total populasi yang tersedia. Sumber data yang digunakan berasal dari data sekunder yaitu berupa peta Kabupaten Kediri dan Profil Kesehatan Kabupaten Kediri tahun 2019. Hasil: Hasil pengujian lanjutan terkait hubungan antara kepadatan penduduk terhadap jumlah kasus DBD tidak berpengaruh signifikan dengan p-value sebesar 0,69076, variabel sebaran persentase sarana air minum memenuhi syarat tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD dengan p-value sebesar 0,90729, variabel sebaran jumlah tempat tempat umum memenuhi syarat kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD dengan p-value sebesar 0,54618, dan variabel sebaran jumlah keluarga dengan akses jamban sehat berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD dengan p-value sebesar 0,00013. Kesimpulan: Variabel kepadatan penduduk, variabel sebaran persentase sarana air minum memenuhi syarat, dan variabel sebaran jumlah tempat tempat umum memenuhi syarat kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Kediri tahun 2019. Sedangkan, variabel sebaran jumlah keluarga dengan akses jamban sehat berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD di Kabupaten Kediri tahun 2019.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139202325","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.743-752
Intan Nur Ayuni, Sri Sumarmi
Latar Belakang: Stunting diidentifikasi sebagai salah satu masalah gizi kronis di Indonesia karena asupan gizi yang inadekuat sehingga berimplikasi terhadap kondisi kognitif anak. Stunting dapat mempengaruhi performa dan kemampuan belajar yang berdampak terhadap prestasi belajar anak di sekolah. Tujuan: Menganalisis perbedaan asupan energi, protein, zink, dan prestasi belajar pada anak stunting dan non stunting usia sekolah dasar di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Metode: Penelitian berjenis observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel anak dengan status gizi stunting sebanyak 70 orang dan non stunting sebanyak 70 orang dari 6 sekolah dasar di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban yang diambil secara acak menggunakan dengan teknik simple random sampling. Data diambil melalui pengukuran antropometri, wawancara dengan SQ-FFQ, dan nilai rapot untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan SPSS dengan uji independent sample t-test. Hasil: Terdapat perbedaan asupan energi (nilai p = 0,006), protein (nilai p = 0,001), zink (nilai p = 0,001), prestasi belajar pada mata pelajaran Matematika (nilai p = 0,000) dan Bahasa Indonesia (nilai p = 0,008) antara kelompok siswa stunting dan non stunting di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Kesimpulan: Asupan energi dan protein pada kelompok stunting mayoritas dalam kategori defisit sedang, sementara zink dalam kategori kurang. Asupan energi, protein dan zink pada kelompok non-stunting mayoritas dalam kategori cukup. Prestasi belajar untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia pada kelompok stunting sebagian besar dalam kategori cukup, sedangkan kelompok non stunting sebagian besar dalam kategori baik, secara keseluruhan terdapat perbedaan asupan energi, protein, zink, dan prestasi belajar pada kedua kelompok.
{"title":"Perbedaan Asupan Energi, Protein, Zink, dan Prestasi Belajar pada Anak Stunting dan Non-Stunting Usia Sekolah Dasar di Kecamatan Soko Kabupaten Tuban","authors":"Intan Nur Ayuni, Sri Sumarmi","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.743-752","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.743-752","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Stunting diidentifikasi sebagai salah satu masalah gizi kronis di Indonesia karena asupan gizi yang inadekuat sehingga berimplikasi terhadap kondisi kognitif anak. Stunting dapat mempengaruhi performa dan kemampuan belajar yang berdampak terhadap prestasi belajar anak di sekolah. Tujuan: Menganalisis perbedaan asupan energi, protein, zink, dan prestasi belajar pada anak stunting dan non stunting usia sekolah dasar di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Metode: Penelitian berjenis observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel anak dengan status gizi stunting sebanyak 70 orang dan non stunting sebanyak 70 orang dari 6 sekolah dasar di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban yang diambil secara acak menggunakan dengan teknik simple random sampling. Data diambil melalui pengukuran antropometri, wawancara dengan SQ-FFQ, dan nilai rapot untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan SPSS dengan uji independent sample t-test. Hasil: Terdapat perbedaan asupan energi (nilai p = 0,006), protein (nilai p = 0,001), zink (nilai p = 0,001), prestasi belajar pada mata pelajaran Matematika (nilai p = 0,000) dan Bahasa Indonesia (nilai p = 0,008) antara kelompok siswa stunting dan non stunting di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Kesimpulan: Asupan energi dan protein pada kelompok stunting mayoritas dalam kategori defisit sedang, sementara zink dalam kategori kurang. Asupan energi, protein dan zink pada kelompok non-stunting mayoritas dalam kategori cukup. Prestasi belajar untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia pada kelompok stunting sebagian besar dalam kategori cukup, sedangkan kelompok non stunting sebagian besar dalam kategori baik, secara keseluruhan terdapat perbedaan asupan energi, protein, zink, dan prestasi belajar pada kedua kelompok.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"146 ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139203768","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.988-994
Eka Zuristia Putri, Ririh Yudhastuti
Latar Belakang: Makanan merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk bertahan hidup. Cemaran makanan juga dapat berupa cemaran yang berasal dari BTP (Bahan Tambahan Pangan) dan penambahan bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan. Pengawasan terhadap bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan. Berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri RI dan Kepala BPOM RI Nomor 43 Tahun 2013 dan Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengawasan Bahan Berbahaya yang Disalahgunakan Dalam Pangan, salah satunya dilakukan terhadap jenis bahan berbahaya dengan pewarna kuning metanil (methanil yellow). Tujuan: Penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungan metanyl yellow yang digunakan dalam makanan yang beredar di pasar-pasar tradisional dan supermarket di kota Banyuwangi dengan pengambilan sampel secara acak. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pengujian kualitatif dimana peneliti dapat mengidentifikasi zat warna methanyl yellow yang terkandung pada bahan pangan dengan menggunakan pengujian dengan membandingkan warna uji dengan warna methanyl yellow. Pengujian cemaran makanan dilaksanakan di ruang laboratorium kesehatan lingkungan SIKIA Universitas Airlangga Banyuwangi pada hari Selasa, 26 Februari 2019 pukul 11.00-14.40 dengan pengambilan sampel secara acak. Hasil: Pengujian kandungan methanyl yellow dalam sampel makanan didapatkan hasil yaitu dari 15 sampel yang diuji antara lain jelly kuning di pasar Banyuwangi, kerupuk kuning di pasar Blambangan, bumbu soto di pasar Blambangan, bubuk kunyit di pasar Blambangan, kerupuk kuning di pasar Blambangan, bumbu soto di pasar blambangan, mie kuning di taman blambangan, minuman merk “Floridina”, serbuk minuman merk “Marimas Jeruk”, mie kuning basah di dekat taman Blambangan, bumbu gule dekat taman Blambangan, bumbu instan merk “racik ayam goreng”, jelly kemasan di toko kelontong, kerupuk kuning di pasar Cungking, serbuk minuman merk “Finto” di toko kelontong. Kesimpulan: Hasil pengujian sampel diperoleh hasil dari 15 sampel pengujian menjelaskan bahwa tidak terdapat satu sampel pun yang mengalami perubahan warna atau dalam arti lain adalah semua sampel bebas dari pewarna methanyl yellow.
{"title":"Analisis Cemaran Makanan dengan Kandungan Methanyl Yellow di Kota Banyuwangi","authors":"Eka Zuristia Putri, Ririh Yudhastuti","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.988-994","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.988-994","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Makanan merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk bertahan hidup. Cemaran makanan juga dapat berupa cemaran yang berasal dari BTP (Bahan Tambahan Pangan) dan penambahan bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan. Pengawasan terhadap bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan. Berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri RI dan Kepala BPOM RI Nomor 43 Tahun 2013 dan Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengawasan Bahan Berbahaya yang Disalahgunakan Dalam Pangan, salah satunya dilakukan terhadap jenis bahan berbahaya dengan pewarna kuning metanil (methanil yellow). Tujuan: Penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungan metanyl yellow yang digunakan dalam makanan yang beredar di pasar-pasar tradisional dan supermarket di kota Banyuwangi dengan pengambilan sampel secara acak. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pengujian kualitatif dimana peneliti dapat mengidentifikasi zat warna methanyl yellow yang terkandung pada bahan pangan dengan menggunakan pengujian dengan membandingkan warna uji dengan warna methanyl yellow. Pengujian cemaran makanan dilaksanakan di ruang laboratorium kesehatan lingkungan SIKIA Universitas Airlangga Banyuwangi pada hari Selasa, 26 Februari 2019 pukul 11.00-14.40 dengan pengambilan sampel secara acak. Hasil: Pengujian kandungan methanyl yellow dalam sampel makanan didapatkan hasil yaitu dari 15 sampel yang diuji antara lain jelly kuning di pasar Banyuwangi, kerupuk kuning di pasar Blambangan, bumbu soto di pasar Blambangan, bubuk kunyit di pasar Blambangan, kerupuk kuning di pasar Blambangan, bumbu soto di pasar blambangan, mie kuning di taman blambangan, minuman merk “Floridina”, serbuk minuman merk “Marimas Jeruk”, mie kuning basah di dekat taman Blambangan, bumbu gule dekat taman Blambangan, bumbu instan merk “racik ayam goreng”, jelly kemasan di toko kelontong, kerupuk kuning di pasar Cungking, serbuk minuman merk “Finto” di toko kelontong. Kesimpulan: Hasil pengujian sampel diperoleh hasil dari 15 sampel pengujian menjelaskan bahwa tidak terdapat satu sampel pun yang mengalami perubahan warna atau dalam arti lain adalah semua sampel bebas dari pewarna methanyl yellow.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"320 ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139204178","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.920-926
Septia Hilda Aisyaroh, R. Yudhastuti
Latar Belakang: Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) merupakan tempat yang digunakan sebagai produksi untuk pangan olahan siap saji mulai dari persiapan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, penyajian hingga pengangkutan yang dilakukan pengawasan termasuk pada area pelabuhan. Pelabuhan merupakan tempat bertemunya orang banyak dari berbagai daerah karena pelabuhan merupakan pintu masuk kedalam suatu wilayah, sehingga dapat berpotensi menyebarkan penyakit yang dapat mengakibatkan kedaruratan kesehatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran sanitasi TPP di wilayah perimeter Pelabuhan Tanjungwangi Banyuwangi. Metode: Rancangan penelitian ini menggunakan jenis rancangan Cross-Sectional Study. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Pengambilan sampel menggunakan total populasi di wilayah perimeter Pelabuhan Tanjungwangi yaitu sebanyak 6 TPP yang diobservasi. Penilaian variabel menggunakan perhitungan skor dari semua variabel dengan nilai minimum 80 sesuai dengan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan. Hasil: Hasil dari penelitian ini yaitu 6 warung makan yang berada di wilayah pelabuhan Tanjungwangi telah memenuhi persyaratan batas minimal Inspeksi Kesehatan Lingkungan, yaitu diatas nilai 80. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini yaitu warung makan yang ada di pelabuhan Tanjungwangi memiliki risiko rendah terjadinya penularan penyakit akibat sanitasi makanan yang mengakibatkan kedaruratan kesehatan.
{"title":"Gambaran Sanitasi Tempat Pengelolaan Pangan di Wilayah Perimeter Pelabuhan Tanjungwangi Banyuwangi 2022","authors":"Septia Hilda Aisyaroh, R. Yudhastuti","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.920-926","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.920-926","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) merupakan tempat yang digunakan sebagai produksi untuk pangan olahan siap saji mulai dari persiapan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, penyajian hingga pengangkutan yang dilakukan pengawasan termasuk pada area pelabuhan. Pelabuhan merupakan tempat bertemunya orang banyak dari berbagai daerah karena pelabuhan merupakan pintu masuk kedalam suatu wilayah, sehingga dapat berpotensi menyebarkan penyakit yang dapat mengakibatkan kedaruratan kesehatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran sanitasi TPP di wilayah perimeter Pelabuhan Tanjungwangi Banyuwangi. Metode: Rancangan penelitian ini menggunakan jenis rancangan Cross-Sectional Study. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Pengambilan sampel menggunakan total populasi di wilayah perimeter Pelabuhan Tanjungwangi yaitu sebanyak 6 TPP yang diobservasi. Penilaian variabel menggunakan perhitungan skor dari semua variabel dengan nilai minimum 80 sesuai dengan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan. Hasil: Hasil dari penelitian ini yaitu 6 warung makan yang berada di wilayah pelabuhan Tanjungwangi telah memenuhi persyaratan batas minimal Inspeksi Kesehatan Lingkungan, yaitu diatas nilai 80. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini yaitu warung makan yang ada di pelabuhan Tanjungwangi memiliki risiko rendah terjadinya penularan penyakit akibat sanitasi makanan yang mengakibatkan kedaruratan kesehatan.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"35 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139207699","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.583-588
Nely Sintia, Lucia Yovita Hendrati
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang diakibatkan oleh Virus Dengue. Indonesia ialah negara endemis demam berdarah dengue sejak tahun 1968. Berbagai faktor berperan dalam terjadinya kejadian demam berdarah dengue, salah satunya adalah faktor lingkungan sosial yaitu kepadatan penduduk. Tujuan: Menganalisis hubungan kasus demam berdarah dengue dan kepadatan penduduk di Jawa Timur Tahun 2019-2020. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Data yang digunakan berasal dari profil kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2019-2020. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk memeriksa normalitas data, kemudian uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pada uji korelasi Spearman adanya hubungan antara kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan kepadatan penduduk dengan p = 0,033 pada tahun 2019 dan p = 0,007 pada tahun 2020 dimana p<0,05. Kekuatan hubungan menunjukan kuat hubungan moderat dan arah hubungan negatif dengan nilai koefisien korelasi = -0,348 pada tahun 2019 dan nilai koefisien korelasi = -0,429 pada tahun 2020. Apabila kepadatan penduduk bertambah maka kasus demam berdarah dengue akan berkurang. Kesimpulan: Didapatkan hubungan antara kasus demam berdarah dengue dan kepadatan penduduk di Jawa Timur tahun 2019-2020.
背景:登革出血热(DHF)是一种由登革病毒引起的疾病。印度尼西亚自 1968 年以来就是登革出血热流行国。登革出血热的发生与多种因素有关,其中之一是社会环境因素,即人口密度。目的分析 2019-2020 年东爪哇登革出血热病例与人口密度之间的关系。研究方法本研究采用横断面设计。所用数据来自 2019-2020 年东爪哇省的健康概况。数据分析采用 Shapiro-Wilk 检验来检验数据的正态性,然后采用 Spearman 相关检验来检验变量之间的关系。结果显示结果显示,在斯皮尔曼相关检验中,登革热病例与人口密度之间存在关系,2019 年的 p = 0.033,2020 年的 p = 0.007,其中 p <0.05。两者之间的关系强度显示出中等关系和负相关方向,2019 年的相关系数值=-0.348,2020 年的相关系数值=-0.429。如果人口密度增加,登革出血热病例就会减少。结论2019-2020 年东爪哇登革出血热病例与人口密度之间存在一定关系。
{"title":"Hubungan Kasus Demam Berdarah Dengue dengan Kepadatan Penduduk di Jawa TimurTahun 2019-2020","authors":"Nely Sintia, Lucia Yovita Hendrati","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.583-588","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.583-588","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang diakibatkan oleh Virus Dengue. Indonesia ialah negara endemis demam berdarah dengue sejak tahun 1968. Berbagai faktor berperan dalam terjadinya kejadian demam berdarah dengue, salah satunya adalah faktor lingkungan sosial yaitu kepadatan penduduk. Tujuan: Menganalisis hubungan kasus demam berdarah dengue dan kepadatan penduduk di Jawa Timur Tahun 2019-2020. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Data yang digunakan berasal dari profil kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2019-2020. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk memeriksa normalitas data, kemudian uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pada uji korelasi Spearman adanya hubungan antara kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan kepadatan penduduk dengan p = 0,033 pada tahun 2019 dan p = 0,007 pada tahun 2020 dimana p<0,05. Kekuatan hubungan menunjukan kuat hubungan moderat dan arah hubungan negatif dengan nilai koefisien korelasi = -0,348 pada tahun 2019 dan nilai koefisien korelasi = -0,429 pada tahun 2020. Apabila kepadatan penduduk bertambah maka kasus demam berdarah dengue akan berkurang. Kesimpulan: Didapatkan hubungan antara kasus demam berdarah dengue dan kepadatan penduduk di Jawa Timur tahun 2019-2020.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":" 9","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139197552","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.790-794
Laura Nadya Damayanty Agusputri, Cornelius Youwena, L. Salim
Background: Menstruation is one of the signs that a woman is entering adolescence. Menarche is the first menstrual event in women which generally occurs at the age of 12 to 15 years. An increase in the number of adolescents who experience menarche before the age of 12 years occurs in several countries. Sexual behavior in adolescents that can be positive or negative can be the reason for the increase and development of hormones in the human body. Objectives: The study was conducted to determine the relationship between sexual behavior and the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia in 2017. Methods: The study is a quantitative descriptive study with a cross sectional research design using secondary data obtained from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) conducted in 34 provinces in Indonesia starting on July 24 and ending on December 30, 2017. The sample in this study was 1,494 adolescent girls in Indonesia with the age of 15 years, unmarried, and already experiencing menstruation. The variables involved in this study were sexual behavior and the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia in 2017. Data analysis in this study used bivariate analysis by displaying frequency distribution tables along with analysis tables with chi-square tests. Results: The majority of respondents (71.2%) in this study had high-risk sexual behavior, the incidence of early menarche in adolescents aged ≤13 years was 77.4% and the p-value <0.05 on the relationship between sexual behavior and the incidence of menarche in adolescent girls in Indonesia in 2017. Conclusions: This study shows that there is an association between sexual behavior and the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia. Education and parental supervision of sexual relationships and behavior in adolescents need to be done to minimize the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia.
{"title":"Relationship between Sexual Behavior and Early Menarche in Indonesian Adolescents","authors":"Laura Nadya Damayanty Agusputri, Cornelius Youwena, L. Salim","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.790-794","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.790-794","url":null,"abstract":"Background: Menstruation is one of the signs that a woman is entering adolescence. Menarche is the first menstrual event in women which generally occurs at the age of 12 to 15 years. An increase in the number of adolescents who experience menarche before the age of 12 years occurs in several countries. Sexual behavior in adolescents that can be positive or negative can be the reason for the increase and development of hormones in the human body. Objectives: The study was conducted to determine the relationship between sexual behavior and the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia in 2017. Methods: The study is a quantitative descriptive study with a cross sectional research design using secondary data obtained from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) conducted in 34 provinces in Indonesia starting on July 24 and ending on December 30, 2017. The sample in this study was 1,494 adolescent girls in Indonesia with the age of 15 years, unmarried, and already experiencing menstruation. The variables involved in this study were sexual behavior and the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia in 2017. Data analysis in this study used bivariate analysis by displaying frequency distribution tables along with analysis tables with chi-square tests. Results: The majority of respondents (71.2%) in this study had high-risk sexual behavior, the incidence of early menarche in adolescents aged ≤13 years was 77.4% and the p-value <0.05 on the relationship between sexual behavior and the incidence of menarche in adolescent girls in Indonesia in 2017. Conclusions: This study shows that there is an association between sexual behavior and the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia. Education and parental supervision of sexual relationships and behavior in adolescents need to be done to minimize the incidence of early menarche in adolescent girls in Indonesia.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"65 6","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139205635","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.596-601
Muhammad Riza Mahasin, Mahmudah
Latar Belakang: Pneumonia adalah salah satu pemicu kematian terbanyak pada anak di seluruh dunia. Pneumonia di Jawa Timur. berada pada peringkat ke dua dengan jumlah sebesar 93.238 kasus, sampai dengan tahun 2014. pencapaian penemuan kasus pneumonia perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak baik pemerintah maupun dinas kesehatan. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan adalah karakteristik ibu, faktor pada anak balita dan faktor lingkungan. Tujuan: Artikel ini untuk melihat faktor yang dapat menyebabkan munculmnya penyakit pneumonia di wilayah jawa timur menggunakan analisis regresi linier berganda. Metode: Populasi pada penelitian ini adalah keluarga dengan balita penderita pneumonia yang tersebar di 38 kota / kabupaten yang ada di wilayah Jawa Timur yang berhasil terdata oleh Badan Pusat Statistik per tahun 2018. Jenis data yang digunakan data sekunder yang di analisis menggunakan metode regresi linear berganda. Hasil: Kota Mojokerto merupakan kota yang memiliki persentase tertinggi jumlah balita yang terpapar pneumonia di Jawa Timur. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa tidak terdapat pengaruh tingkat pendidikan, kondisi rumah dan tingkat ekonomi terhadap tingkat pneumonia balita di kawasan Jawa Timur. Kesimpulan : Faktor yang mempengaruhi tingkat pneumonia di Jawa Timur adalah tingkat pendidikan keluarga dan kondisi rumah sehat yang berpengaruh secara signifikan terhadap pneumonia balita di wilayah Jawa Timur.
{"title":"Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Jawa Timur Menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda","authors":"Muhammad Riza Mahasin, Mahmudah","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.596-601","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.596-601","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Pneumonia adalah salah satu pemicu kematian terbanyak pada anak di seluruh dunia. Pneumonia di Jawa Timur. berada pada peringkat ke dua dengan jumlah sebesar 93.238 kasus, sampai dengan tahun 2014. pencapaian penemuan kasus pneumonia perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak baik pemerintah maupun dinas kesehatan. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan adalah karakteristik ibu, faktor pada anak balita dan faktor lingkungan. Tujuan: Artikel ini untuk melihat faktor yang dapat menyebabkan munculmnya penyakit pneumonia di wilayah jawa timur menggunakan analisis regresi linier berganda. Metode: Populasi pada penelitian ini adalah keluarga dengan balita penderita pneumonia yang tersebar di 38 kota / kabupaten yang ada di wilayah Jawa Timur yang berhasil terdata oleh Badan Pusat Statistik per tahun 2018. Jenis data yang digunakan data sekunder yang di analisis menggunakan metode regresi linear berganda. Hasil: Kota Mojokerto merupakan kota yang memiliki persentase tertinggi jumlah balita yang terpapar pneumonia di Jawa Timur. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa tidak terdapat pengaruh tingkat pendidikan, kondisi rumah dan tingkat ekonomi terhadap tingkat pneumonia balita di kawasan Jawa Timur. Kesimpulan : Faktor yang mempengaruhi tingkat pneumonia di Jawa Timur adalah tingkat pendidikan keluarga dan kondisi rumah sehat yang berpengaruh secara signifikan terhadap pneumonia balita di wilayah Jawa Timur.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"57 27","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139205940","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.1133-1144
Annisa Nur Faiqah, Nunik Puspitasari
Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses biologis normal yang terjadi pada tubuh perempuan. Namun tidak semua perempuan mendapatkan akses produk kebersihan saat mengalami menstruasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya ketidaksetaraan dalam manajemen kebersihan menstruasi di negara yang memiliki penghasilan rendah dan menengah, termasuk juga Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengulas secara mendalam mengenai period poverty atau kemiskinan menstruasi di Indonesia, mulai dari penyebab, dampak, hingga upaya penanggulangan yang bisa dilakukan. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (literature review) yang dibuat dalam bentuk deskriptif. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari artikel/jurnal, buku, dan liputan berita yang dikumpulkan melalui mesin pencarian Science Direct dan Google Scholar yang diterbitkan 10 tahun terakhir (2013-2023). Hasil: Temuan yang berdasar pada artikel yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang buruk, kurangnya pendidikan yang komprehensif mengenai manajemen kebersihan menstruasi, tempat tinggal, serta kurangnya akses terhadap air bersih, sabun, produk sanitasi, hingga tidak terpenuhinya infrastruktur yang memadai menjadikan Indonesia dan negara berkembang lainnya masih mengalami kemiskinan menstruasi. Dampak yang ditimbulkan pun bisa sangat merugikan, mulai dari pembatasan kesempatan untuk bersekolah, ketidaknyamanan saat menstruasi, penyakit-penyakit yang menyerang organ reproduksi, hingga risiko mengalami pelecehan seksual. Penyediaan manajemen kebersihan menstruasi yang memadai dan dapat diakses oleh semua perempuan dan anak perempuan merupakan salah satu langkah untuk mengatasi masalah ini. Kesimpulan: Faktor yang mempengaruhi kemiskinan menstruasi di Indonesia adalah kondisi ekonomi yang buruk, kurangnya pendidikan, tempat tinggal, kurangnya akses terhadap air bersih dan produk menstruasi. Dampak yang ditimbulkan berupa pembatasan kesempatan untuk bersekolah, ketidaknyamanan saat menstruasi, penyakit organ reproduksi, serta risiko pelecehan seksual.
背景介绍月经是女性身体的正常生理过程。然而,并非所有妇女都能在经期获得卫生用品。以往的研究表明,在包括印度尼西亚在内的中低收入国家,经期卫生管理存在不平等现象。研究目的本研究旨在从原因、影响和可采取的对策入手,对印尼的经期贫困现象进行深入研究。研究方法:采用的研究设计是描述性的文献综述。本研究使用的二手数据来自过去 10 年(2013-2023 年)通过 Science Direct 和 Google Scholar 搜索引擎收集的文章/期刊、书籍和新闻报道。研究结果根据收集到的文章得出的结果显示,经济条件差、缺乏有关经期卫生管理的全面教育、缺乏住房、无法获得清洁水、肥皂、卫生产品以及基础设施不足,使得印度尼西亚和其他发展中国家仍然存在经期贫困问题。这些影响可能是有害的,包括上学机会受限、经期不适、影响生殖器官的疾病以及性骚扰风险。为所有妇女和女童提供适当的经期卫生管理,是解决这一问题的一个步骤。结论在印度尼西亚,影响月经贫困的因素包括经济条件差、缺乏教育、住房、无法获得清洁水和月经用品。其影响包括上学机会受限、经期不适、生殖器官疾病和性骚扰风险。
{"title":"Literatur Review: Penyebab dan Dampak Period Poverty di Indonesia","authors":"Annisa Nur Faiqah, Nunik Puspitasari","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.1133-1144","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.1133-1144","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses biologis normal yang terjadi pada tubuh perempuan. Namun tidak semua perempuan mendapatkan akses produk kebersihan saat mengalami menstruasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya ketidaksetaraan dalam manajemen kebersihan menstruasi di negara yang memiliki penghasilan rendah dan menengah, termasuk juga Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengulas secara mendalam mengenai period poverty atau kemiskinan menstruasi di Indonesia, mulai dari penyebab, dampak, hingga upaya penanggulangan yang bisa dilakukan. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (literature review) yang dibuat dalam bentuk deskriptif. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari artikel/jurnal, buku, dan liputan berita yang dikumpulkan melalui mesin pencarian Science Direct dan Google Scholar yang diterbitkan 10 tahun terakhir (2013-2023). Hasil: Temuan yang berdasar pada artikel yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang buruk, kurangnya pendidikan yang komprehensif mengenai manajemen kebersihan menstruasi, tempat tinggal, serta kurangnya akses terhadap air bersih, sabun, produk sanitasi, hingga tidak terpenuhinya infrastruktur yang memadai menjadikan Indonesia dan negara berkembang lainnya masih mengalami kemiskinan menstruasi. Dampak yang ditimbulkan pun bisa sangat merugikan, mulai dari pembatasan kesempatan untuk bersekolah, ketidaknyamanan saat menstruasi, penyakit-penyakit yang menyerang organ reproduksi, hingga risiko mengalami pelecehan seksual. Penyediaan manajemen kebersihan menstruasi yang memadai dan dapat diakses oleh semua perempuan dan anak perempuan merupakan salah satu langkah untuk mengatasi masalah ini. Kesimpulan: Faktor yang mempengaruhi kemiskinan menstruasi di Indonesia adalah kondisi ekonomi yang buruk, kurangnya pendidikan, tempat tinggal, kurangnya akses terhadap air bersih dan produk menstruasi. Dampak yang ditimbulkan berupa pembatasan kesempatan untuk bersekolah, ketidaknyamanan saat menstruasi, penyakit organ reproduksi, serta risiko pelecehan seksual.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"173 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139208053","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.955-961
Armaniel Ababil, J. Mukono
Latar Belakang: PT. F merupakan perusahaan pertambangan bawah tanah yang memiliki risiko tinggi dalam pekerjaannya. PT. F menggunakan sistem pengambilan material tambang dengan kendali truck LHD (load, haul, dump) jarak jauh menggunakan sistem minegem. Pekerja operator minegem memiliki sistem kerja 1 shift 12 jam/hari dengan pendukung kerja berupa monitor >2 monitor setiap operator dan juga pengendalian minegem dengan menggunakan joystick. Kondisi tersebut membuat adany risiko untuk terjadinya computer vision syndrome pada pekerja operator minegem. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian computer vision syndrome pada pekerja operator minegem PT. F Pada Tahun 2023. Metode: Metode yang digunakan merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Metode pengambilan data dengan observasi dan juga pengisian kuisioner yang sudah divalidasi. Pengambilan sampel dengan Teknik random sampling dari kalkulasi menggunakan rumus slovin. Hasil: Dari penelitian yang dilaksanakan menunjukan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian computer vision syndrome adalah variabel kelainan rerefraksi (p-value =0,027) dan durasi istirahat di sela penggunaan komputer (p-value =0,041). Kesimpulan: Kelainan rerefraksi dan durasi istirahat di sela penggunaan komputer memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian computer vusion syndrome pada pekerja operator minegem pada tahun 2023, Perusahaan diharapkan untuk memberikan informasi mengenai ergonomic pada pekerja operator minegem dan juga membuat gerakan 20-20-20 pada pekerja untuk mengurangi kemungkinan terjadinya computer vision syndrome pada pekerja operator minegem PT. F.
背景:PT F 公司是一家地下采矿公司,工作风险很高。PT F 公司使用一套采矿材料回收系统,该系统通过 Minegem 系统对 LHD(装载、牵引、倾卸)卡车进行远程控制。Minegem 操作员的工作时间为每天 12 小时一班,工作支持形式为每个操作员配备 2 个以上的监视器,并使用操纵杆控制 Minegem。这些条件都有可能导致矿井机操作员患上计算机视觉综合症。研究目的本研究旨在找出与 2023 年 PT F 矿井机操作工电脑视觉综合症发病率相关的风险因素。研究方法:采用横断面观察分析研究法。数据收集方法包括观察和填写有效问卷。抽样采用随机抽样技术,使用斯洛文公式进行计算。结果研究结果表明,与电脑视觉综合症发病率有显著关系的变量是屈光不正(p 值 = 0.027)和使用电脑之间的休息时间(p 值 = 0.041)。结论预计公司将向矿井操作工人提供有关人体工程学的信息,并为工人制定 20-20-20 运动,以减少 PT F 矿井操作工人患计算机视觉综合症的可能性。
{"title":"Hubungan Kelainan Refraksi, Durasi Melihat Layar dan Durasi Istirahat dengan Kejadian Computer Vision Syndrome pada Pekerja Operator Minegem PT. F","authors":"Armaniel Ababil, J. Mukono","doi":"10.20473/mgk.v12i2.2023.955-961","DOIUrl":"https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.955-961","url":null,"abstract":"Latar Belakang: PT. F merupakan perusahaan pertambangan bawah tanah yang memiliki risiko tinggi dalam pekerjaannya. PT. F menggunakan sistem pengambilan material tambang dengan kendali truck LHD (load, haul, dump) jarak jauh menggunakan sistem minegem. Pekerja operator minegem memiliki sistem kerja 1 shift 12 jam/hari dengan pendukung kerja berupa monitor >2 monitor setiap operator dan juga pengendalian minegem dengan menggunakan joystick. Kondisi tersebut membuat adany risiko untuk terjadinya computer vision syndrome pada pekerja operator minegem. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian computer vision syndrome pada pekerja operator minegem PT. F Pada Tahun 2023. Metode: Metode yang digunakan merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Metode pengambilan data dengan observasi dan juga pengisian kuisioner yang sudah divalidasi. Pengambilan sampel dengan Teknik random sampling dari kalkulasi menggunakan rumus slovin. Hasil: Dari penelitian yang dilaksanakan menunjukan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian computer vision syndrome adalah variabel kelainan rerefraksi (p-value =0,027) dan durasi istirahat di sela penggunaan komputer (p-value =0,041). Kesimpulan: Kelainan rerefraksi dan durasi istirahat di sela penggunaan komputer memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian computer vusion syndrome pada pekerja operator minegem pada tahun 2023, Perusahaan diharapkan untuk memberikan informasi mengenai ergonomic pada pekerja operator minegem dan juga membuat gerakan 20-20-20 pada pekerja untuk mengurangi kemungkinan terjadinya computer vision syndrome pada pekerja operator minegem PT. F.","PeriodicalId":306707,"journal":{"name":"Media Gizi Kesmas","volume":"1905 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139198478","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}